
Azizi dan Vandy setelah mengantarkan Iqbal kesekolah, mereka pun melanjutkan dengan sarapan bersama-sama di mana mereka sarapan di Restaurant yang tidak jauh dari rumah sakit. Mereka ber-2 sudah memilih tempat duduk
" Kamu pesan apa?" tanya Vandy.
" Bubur ayam saja," jawab Azizi.
" Ya sudah, sebentar!" sahut Vandy. Azizi mengangguk dan Vandy langsung memesankan sarapan untuk Azizi dan pastinya untuk dirinya juga.
" Kamu yakin hanya pesan itu saja?" tanya Vandy memastikan.
" Iya, kan hanya sarapan saja," sahut Azizi.
" Hmmm, benar sih," sahut Vandy.
Dratt Dratttt Dratt.
Ponsel Vandy tiba-tiba berdering yang di letakkan Vandy di atas meja. Yang ternyata yang menelpon adalah Silvi. Azizi langsung melihat ke arah panggilan itu. Azizi terlihat membuang napasnya kasar saat telpon itu ada.
" Hmmm," Vandy terlihat bingung sendiri, ketika melihat istrinya sudah merengut.
" Pasti hanya membenarkan Iqbal saja," sahut Vandy.
" Aku tidak tanya," sahut Azizi dengan raut wajahnya yang masam.
Vandy pun langsung mematikan telpon itu. Karena tidak ingin mengganggu moment special mereka. Tidak lama akhirnya sarapan yang mereka pesan pun datang.
" Silahkan di nikmati!" ucap pelayan dengan ramah.
" Terima kasih," sahut Azizi dengan berusaha tersenyum pada pelayan. Padahal hatinya sedang kesal.
" Azizi, ayo di makan," ucap Vandy dengan lembut.
" Kenapa kamu tidak angkat telponnya?" tanya Azizi dengan matanya yang menatap Vandy horor.
" Nggak penting juga, kenapa harus di angkat," sahut Vandy.
" Siapa tau mau mengajak ketemuan," sahut Azizi dengan ketus. Vandy mendengus tersenyum mendengar kecemburuan yang menggemaskan itu.
" Siapa yang menyuruhmu tersenyum?" tanya Azizi kesal.
" Kamu lucu jadi bukan hal yang lumrah untuk tidak tersenyum," sahut Vandy dengan entengnya.
" Kamu itu ya," geram Azizi.
" Sudahlah Azizi jangan marah ngambek-ngambekkan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Silvi. Bukannya dia hanya guru Iqbal saja," sahut Vandy.
" Ya kamu tau dia hanya guru Iqbal. Tapi pada kenyataannya apa. Kamu sama dia main telpon-telponan. Aneh banget tau. Bagaiman kalau aku juga main telpon-telponan sama cowok lain. Mau kamu," sahut Azizi yang langsung mengomel. Dan Vandy semakin tersenyum mendengar ocehan Azizi.
Vandy meraih tangan Azizi mendekatkan dirinya pada Azizi.
__ADS_1
" Mungkin jika kamu melakukan itu. Aku akan lebih cemburu dari padamu," sahut Vandy dengan lembut.
" Aku sangat bahagia Azizi bisa mendengar kata-kata kamu tadi. Apa yang kamu katakan tadi sudah membuktikan satu hal untukku," ucap Vandy.
" Apa maksud kamu?" tanya Azizi heran.
" Jika kamu sudah menerima pernikahan kita," ucap Vandy.
" Sok tau kamu," sahut Azizi. Vandy mendekatkan lagi wajahnya dan mencium kening Azizi lembut.
" Jangan galak-galak kamu sangat jelek, jika seperti itu," ucap Vandy.
" Ishhhh, kamu apa-apaan sih, main-main cium aja di sini!" geram Azizi.
" Atau kamu di cium yang lebih?" tanya Vandy.
" Sudah lupakan!" geram Azizi yang langsung melepas tangannya dari Vandy dan langsung memakan sarapannya. Vandy tersenyum mendengarnya. Dan dia pun akhirnya menikmati sarapannya juga. Di tengah sarapannya Azizi juga menyimpan senyum tipis di wajahnya yang tampaknya kelihatan nyaman dengan pertengkaran kecil yang begitu menggemaskan itu.
*********
Azizi dan Vandy sedang ribut kecil yang sangat manis. Ternyata Raquel sungguhan untuk menuntut hadiah dari Aldo. Di mana Aldo memang membawanya ke Mall, menemani Raquel belanja. Selain menemani pasti juga meneraktirnya.
Lihatlah wajahnya begitu bahagia yang sedari tadi mencoba pakaian dari yang mereka pilih bersama. Aldo hanya menunggu saja. Setiap Raquel mencoba pakaian dan menunjukkannya pada Aldo.
Aldo hanya mengangguk dengan mengacungkan 2 jempolnya yang setuju-setuju saja dengan apa yang di pilih Raquel.
Hampir satu jam mereka ada di toko yang pakaian itu. Dan pasti masih berlanjut ke toko sepatu. Lagi dan lagi Raquel memang sangat hobi berbelanja. Jadi harap di maklumi jika dia seribet itu.
Raquel yang memilih-milih sepatu. Raquel mengambil 2 pilihan sepatu dan Raquel melihat ke arah Aldo yang duduk santai. Raquel pun langsung menghampiri Aldo.
" Yang mana yang cantik?" tanya Raquel yang memberikan Aldo pilihan.
Aldo melihat apa yang di tunjukkan Raquel secara bergantian.
" Itu lebih cantik," ucap Aldo memilih di sebelah kanan Raquel.
" Oke, aku akan mengambil yang ini," sahut Raquel yang langsung memilih apa yang di pilihkan Aldo. Aldo hanya tersenyum.
Mereka benar-benar menghabis kan waktu untuk seharian seperti layaknya pacaran. Dari belanja sana sini makan siang sampai makan malam. Mereka menghabiskan waktu ber-2an. Sampai akhirnya Aldo mengantarkan Raquel pulang. Karena sudah larut malam.
Saat turun dari mobil tangan Raquel sudah penuh belanjaan yang di teraktir Aldo. Aldo mengantarnya sampai depan pintu.
" Kamu tidak akan miskin kan membelikan ku semua ini?" tanya Raquel.
" Hmmmm, bagaimana ya," sahut Aldo tampak berpikir.
" Apa akan miskin?" tanya Raquel.
" Kalau hanya seperti ini tidak akan miskin," sahut Aldo. Raquel langsung tersenyum mengembang.
__ADS_1
" Kalau begitu terima kasih, kamu sudah memberikanku hadiah sebanyak ini dan menemaniku seharian. Aku sangat bahagia," ucap Raquel.
" Sama-sama. Ini hari specialmu dan memang yang ulang tahun akan di jadikan raja," sahut Aldo.
" Begitukah, kalau tau begitu aku akan meminta lebih banyak lagi," sahut Raquel dengan nada bercanda. Aldo hanya menggedikkan bahunya saja.
" Ya sudah Aldo, aku sebaiknya masuk dulu, soalnya sudah malam. Kamu pulanglah!" ucap Raquel pamit.
" Raquel tunggu sebentar!" tiba-tiba Aldo menahan tangan Raquel.
" Ada apa?" tanya Raquel heran. Aldo terlihat mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Aldo mengambil kotak kecil berwarna biru tua. Raquel hanya bingung dengan apa yang di ambil Aldo. Aldo membuka kotak itu dan terlihat sepasang anting yabg cantik.
Aldo mendekati Raquel. Tanpa permisi langsung memakaikan anting itu di telinga Raquel. Yang kebetulan telinga Raquel memang kosong.
" Aldo apa ini?" tanya Raquel terlihat gugup dengan jari Aldo yang menyentuh telinganya membuatnya merinding.
" Ini hadiah ulang tahun dariku," ucap Aldo yang telah selesai memasangkan anting itu.
" Jadi ini untukku?" tanya Raquel. Aldo mengangguk.
" Tapikan. Kamu sudah memberiku banyak hadiah. Kenapa memberi lagi?" tanya Raquel heran.
" Itu hadiah yang kamu minta. Namun yang aku berikan adalah hadiah yang aku pilih. Aku berharap kamu menyukainya," ucap Aldo yang berbicara lembut di depan Raquel.
" Hmmm, aku menerimanya. Tapi ini bukan sogokan," sahut Raquel.
" Maksudnya?" tanya Aldo heran.
" Ya siapa tau saja. Kamu menyogokku. Supaya aku balikan kepadamu," sahut Raquel menatap Aldo cemburu. Aldo mendengus kasar mendengarnya.
" Aku tidak perlu menyogokmu. Kamu singgel dan aku singgel, kalau balikan pun. Seharusnya tidak ada masalahkan," sahut Aldo. Raquel mendadak diam mendengarnya.
" Iya kan Raquel?" tanya Aldo memastikan.
" Apaan sih. Itu kalau aku masih menyukaimu. Ahhhhhh sudahlah jangan membahas itu. Aku mengangantuk sebaiknya kamu pulang terima kasih untuk semua ini," ucap Raquel yang menjadi salah tingkah makanya mengusir Aldo.
" Baiklah kalau begitu," sahut Aldo yang tidak ingin menggoda Raquel lagi.
" Aku pulang dulu selamat malam!" ucap Aldo pamit.
" Malam!" sahut Raquel.
Aldo membalikkan tubuhnya berpamitan pulang. Raquel tersenyum simpul melihat kepergian Aldo. Hatinya tampak begitu bahagia hari ini.
" Aldo!" panggil Raquel.
Aldo membalikkan tubuhnya dan Raquel berlari mengejar Aldo. Tiba di hadapan Aldo Raquel berjinjit dan mencium pipi Aldo dengan cepat. Aldo kaget menerima ciuman itu. Namun Raquel setelah melakukan itu langsung lari memasuki rumahnya membiarkan Aldo bengong dengan wajahnya masih kaget.
Setelah beberapa detik. Aldo pun tersadar memegang pipinya dengan tersenyum simpul. Raquel sudah memberi kode. Tinggal dia yang benar-benar harus serius untuk mengarahkan hubungan mereka.
__ADS_1
Bersambung