
Acara pemakaman pun selesai. Masalah Karina dan Cherry pun selesai. Tidak ada dendam dan kemarahan sama sekali yang di keluarkan Cherry. Karena dia sudah ikhlas dengan takdir yang di berikan tuhan kepadanya.
Dia hanya mengambil hikmah dan bersyukur dengan semua yang di terimanya. Tinggal dia dan Verro yang sekarang akan menjalankan hidup dengan saling melengkapi dengan rencana-rencana mereka yang dulu sempat tertunda.
Tari dan Karina dan Cherry masih berbicara-bicara. Di salah satu gajebo yang ada di pemakan. Verro memang memberinya waktu untuk berbicara dengan keluarga yang semalam ini bersama Cherry. Di saat Cherry menjadi Clara.
Sementara Verro berbincang-bincang dengan Varell, Toby dan Aldo tidak jauh dari tempat mereka.
" Toby kamu kapan berangkat ke Itali?" tanya Varell pada Toby.
" Minggu depan," jawab Toby.
" Memang Toby mau kemana?" tanya Raquel heran yang memang tidak tau kemana Toby pergi.
" Aku mau ke Itali," jawab Toby.
" Ohhh," sahut Raquel.
" Seharusnya aku berangkat semalam. Hanya saja aku ingin melihat pemakamannya Om Laskarta," ucap Toby.
" Thanks, ya, sudah batalakan jadwal kepergian lo," ucap Verro merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa, aku hanya ingin melakukannya saja," sahut Toby.
" Jadi gimana kamu akan balik ke Indonesia kan?" tanya Aldo.
" Kayaknya tidak?" jawab Toby. Aldo, Varell, dan Verro kaget mendengarnya.
" Jadi kau akan menetap di Itali ?" tebak Varell.
" Hmmm, Orang tuaku ada di sana dan masalah profesi jelas tidak ada masalah. Aku juga ingin melanjutkan sekolah di sana," ucap Toby menjelaskan.
Yang mereka tidak tau kalau Toby benar-benar akan pergi dan tidak kembali ke Indonesia.
" Ini seriusan," sahut Raquel. Toby mengangguk tersenyum.
" Gawat dong, kalau Toby benar-benar akan menetap di Indonesia. Bagaimana dengan hubungannya dengan Sasy," batin Raquel yang malah khawatir.
Mungkin dia bisa melihat Toby masih menyukai Sasy. Makanya Toby masih menjomblo sekarang. Dan Sasy juga sepertinya menyukai Toby.
__ADS_1
Makanya saat bertemu dengan Toby. Sasy suka diam dan menjadi grogi pasti karena ada sesuatu hal yang di hatinya. Jadi kalau Toby akan menetap di luar Negri. Hubungannya dan Sasy tidak akan berlanjut padahal belum selesai.
" Kamu yakin tidak balik lagi?" tanya Raquel.
" Itu sudah keputusan," jawab Toby santai. Yang lainnya menganguk-angguk. Karena mana mungkin mereka akan melarang Toby. Karena pasti Toby yang tau apa yang terbaik untuk dirinya.
" Di mana Sasy, aku berharap bisa bicara dengannya sebelum aku pergi," batin Toby yang mencari-cari Sasy dengan kepalanya yang berkeliling.
" Hmmm, aku pergi sebentar ya, mau cari toilet dulu," ucap Toby yang pamit.
" Oh iya," sahut Verro. Toby tersenyum tipis dan langsung pergi. Dia sepertinya akan mencari Sasy yang mungkin ingin banyak bicara pada Sasy.
*********
Ternyata Vandy sedang menarik tangan Sasy dan membawanya di sekitar parkiran.
" Apaan sih Vandy," ucap Sasy yang heran dengan Vandy yang sedari tadi menarik-nariknga.
" Sakit tau," keluh Sasy saat Vandy sudah melepaskan pergelangan tangan Sasy dan Sasy mengusap-usapnya.
" Sorry, gue nggak maksud," ucap Vandy yang berdiri di depan Vandy.
" Memang ada apaan, sampai harus kemari segala?" tanya Sasy yang kesal dengan Vandy.
" Apaan?" tanya Sasy heran.
" Sasy ini masalah Azizi," sahut Vandy. Sasy mengkerutkan dahinya mendengar masalah wanita itu.
" Memang kenapa Azizi?" tanya Sasy heran.
Vandy pun menceritakan kepada Sasy dengan apa yang terjadi pada Azizi. Masalah kesulitan Azizi yang pasti berhubungan dengan keuangan Azizi.
Vandy bercerita dengan serius, sementara Sasy benar-benar kaget mendengarnya. Dengan tangannya yang menutup mulutnya, saking soknya dengan apa yang di ceritakan Vandy.
" Jadi aku minta tolong sama kamu, bawa dia kerumahmu," ucap Vandy.
" Ya nggak masalah sih. Tetapi kenapa coba, Azizi tidak pernah cerita masalah ini. Kenapa dia harus diam dan membiarkan semua ini terjadi," sahut Sasy yang benar-benar sangat kaget.
" Mungkin dia tidak mau merepotkan orang lain," sahut Vandy.
__ADS_1
" Ya kan tetap saja. Azizi tidak bisa menghadapi masalah ini sendirian. Apa lagi rumahnya sudah di sita, ananknya di rumah sakit, semua asetnya di jual ya mana mungkin dia bisa menjalani semuanya sendirian," ucap Sasy geleng-geleng dengan kehidupan Azizi yang benar-benar prihatin.
" Makanya. Hanya kamu yang bisa membantunya. Kamu bisa ajak dia tinggal di rumahmu dan untuk yang lainnya aku akan mengurusnya," ucap Vandy yang sudah menyusun banyak hal untuk Azizi.
" Lalu kamu sendiri bagaiman. Kenapa minta tolong pada ku. Kenapa kamu tidak bilang aja sama Azizi langsung. Apa bedanya," sahut Sasy heran.
" Dia tidak akan mau menerima bantuanku, makanya aku meminta tolong kepadamu," ucap Vandy.
" Kayak ada sesuatu saja. Makanya dia tidak mau menerima bantuanmu," sahut Sasy merasa curiga.
" Sudah deh, nggak usah mikir yang aneh-aneh, lakukan saja apa yang aku katakan. Nggak susah-susah amat," ucap Vandy kesal.
" Ya sudah, nanti aku akan coba bicara padanya. Tapi ingat kamu yang harus bayarin semuanya. Aku tidak mau keluarin duit," ucap Azizi. Vandy langsung menarik hidung Sasy.
" Dasar sama teman aja perhitungan," geram Vandy masih menarik hidung itu.
" Ihhhh, Vandy sakit, apaan sih, sakit tau," keluh Sasy mengusap-usapnya hidungnya yang memerah akibat ulah Vandy.
" Makanya, jadi orang jangan perhitungan," ucap Vandy kesal.
" Iya tapi tidak perlu pakai main tangan," kesal Sasy yang langsung membalas dengan memukul lengan Vandy.
" Issshhh, ampun sakit, ampun sakit, ampun!" ucap Vandy yang kesakitan dengan pukulan Sasy yang terus menerus.
" sukurin makanya jangan jahil," ucap Sasy yang terus memukul tanpa ampunan. Sampai akhirnya Vandy menangkap ke-2 lengannya dengan napas ke-2 nya yang naik turun karena kelelahan yang satu memukul yang satu menerima pukulan.
" Minta maaf cepat," ucap Sasy melebarkan matanya dengan ke-2 lengannya yang masih di pegang Vandy.
" Maaf puas," sahut Vandy.
" Gitu dong," sahut dengan tertawa. Dan juga di sambut Vandy yang ikut tertawa. Mereka tertawa lepas dengan kebodohan mereka yang sudah dewasa tetapi masih kayak anak kecil yang saling pukul-pukulan.
Dengan tawa mereka yang saling berhadapan dan lengan Sasy yang masih di pegang Vandy. Harus di saksikan Toby yang sekitar 7 meter dari mereka.
Toby yang akhirnya menemukan Sasy dan tidak menyangka melihat Sasy seperti itu. Hatinya seakan teriris saat mencari wanita yang ingn di ajaknya bicara. Namun harus melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak.
" Mungkin memang bukan dia yang tepat. Dia terlihat bahagia dengan Vandy yang mungkin mereka memang mempunyai hubungan yang special," batin Toby dengan sesaknya dadanya.
Memang bukan sekali dia melihat kedekatan Vandy dan juga Sasy. Dari apa yang di lihatnya bisa di tebaknya. Jika ke-2 temannya itu memiliki hubungan.
__ADS_1
Dan sekarang Toby harus pergi dengan kekecewaannya yang benar-benar mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Sasy dan pergi dengan langkah yang tidak bersemangat yang tidak ingin mengganggu Sasy dan Vandy.
Bersambung...