
Rumah sakit
Cherry akhirnya mengunjungi rumah sakit untuk memeriksakan keadaanya. Debaran jantung yang tidak normal membuatnya khawatir.
" Saya tidak kenapa-napa?" pekik Cherry kaget langsung duduk ketika Dokter Arif memeriksanya.
" Normal saja," sahut Dokter Arif beralih ke kursinya.
Cherry pun turun dari ranjang dan menghampiri Arif duduk di depan Arif.
" Tidak Dokter, tidak mungkin tadi Alaram ku berbunyi terus dan aku sudah menanyakan kepada pegawai mereka bilang itu tidak rusak. Berarti ada masalah dengan jantungku," oceh Cherry terus menerus.
" Tetapi Cherry tidak ada masalah, justru kesehatan kamu membaik," tegas Dokter Arif.
" Aisss, kenapa bisa seperti itu," sahut Cherry frustasi. Arif hanya membuang napasnya perlahan ke depan melihat Cherry yang tampak aneh.
tok-tok-tok-tok
" Masuk!" sahut Dokter Arif ketika ada yang mengetuk pintu. Ternyata Vandy yang datang. Vandy langsung menghampiri kakanya dan Cherry yang terlihat lesu.
" Kau di sini juga Cherry?" tanya Vandy. Cherry mengangguk lesu.
" Ada apa Vandy?" tanya Arif.
" Ini kak, mengantar makanan, mama menyuruh aku mengantarkannya," jawab Vandy meletakkan paper bag di atas meja.
" Oke," sahut Arif.
" Kenapa kau Cherry?" tanya Vandy bingung yang melihat wajah Cherry di tekuk.
" Cherry datang periksa, katanya jantungnya berdebar tidak stabil, tapi kakak periksa dia baik-baik saja," jelas Arif.
" Tapi aku serius Dokter, jantung ku berdebar tidak menentu," sahut Cherry yang tetap yakin.
" Kalau Dokter tidak percaya, tanya Verro!" sahut Cherry.
" Kenapa Verro?" tanya Vandy.
" Karena Verro ada di sana, Dia mendengarkan sendiri. Alaram ku berbunyi saat dia menatapku," jelas Cherry dengan polosnya membuat Vandy dan Arif saling melihat dan menyimpan senyum.
" Memang kenapa dia menatapmu, bukannya biasa, coba jelaskan secara rinci,"sahut Vandy yang sengaja mengerjai Cherry.
" Kau ingat makanan punyamu yang ku makan?" tanya Cherry. Vandy mengangguk.
" Saat aku makan, tiba-tiba dia mengusap bibirku dengan jarinya, dan aku kaget di situ dan refleks kita berdua saling memandang dan di saat itu debaran jantungku semakin kencang," jelas Cherry yang benar-benar polos membuat Vandy menahan tawanya.
" Lalu," ucap Vandy lagi.
" Lalu...." Cherry menghentikan kalimatnya ketika melihat Vandy dan Arif tertawa kecil. Cherry merapatkan giginya sadar akan kebodohannya yang menceritakan hal yang seharusnya tidak perlu di dengar siapa-siapa.
" Ishhhhh, kalian berdua," geram Cherry dengan wajahnya cemberut. Vandy pun sudah bisa melepas tawanya.
__ADS_1
" Cherry-Cherry, jadi karena itu kau permasalahkan jantungmu," sahut Vandy yang masih tertawa puas. Sementara Arif geleng-geleng dengan tersenyum.
" Vandy, kau ini," desis Cherry geram.
" Apa itu awal dari kejadian tadi siang, kalian berdua hampir....." sahut Vandy menyipitkan matanya mengejek Cherry.
" Vandy," pekik Cherry benar-benar kesal. Wajahnya bahkan sudah memerah karena malu dengan dokter aktif.
" Sudahlah Vandy, kamu ini, jangan menggoda Cherry terus," ucap Arif yang kasihan dengan Cherry yang begitu polos dan Vandy mengejeknya.
" Kak Arif, sebagai ahli jantung coba jelaskan gejolak batin yang di alami Cherry," ucap Vandy sambil tertawa.
" Sudahlah, hentikan, kasian Cherry," sahut Arif yang melihat wajah Cherry cemberut.
" Cherry tidak ada masalah, kondisi kamu sangat membaik dan kamu jangan khawatir kamu. Kamu akan baik-baik saja saat mengikuti Study tour," jelas Dokter Arif meyakinkan.
" Benarkah Dokter!" tanya Cherry dengan pelan. Arif tersenyum dan mengangguk sementara Vandy masih dalam tawanya memegang perutnya yang memang Vandy sangat puas menertawakannya.
" Ya sudahlah Dokter makasih, Cherry pulang dulu," ucap Cherry berdiri.
" Iya hati-hati," sahut Dokter Arif.
Saat mau keluar Cherry berdiri di hadapan Vandy, menatap Vandy horor dan dengan spontan memukul pundak Vandy kuat.
" Auhhh," keluh Vandy memegang pundaknya. Cherry langsung pergi dengan kesal.
" He, Cherry tunggu! panggil Vandy.
" Dasar anak sekarang," gumam Arif.
********
" Cherry tunggu!" teriak Vandy mengejar Cherry sampai ke halaman rumah sakit. Cherry menengok kebelakang melihat Vandy terus mengejarnya. Tetapi Cherry terus berjalan.
" Cherry jangan jalan cepat-cepat," ucap Vandy yang sudah berada di samping Cherry mengikuti langkah Cherry.
" Ishhhh, kau itu jahat sekali, memuakkan," ucap Cherry masih kesal.
" Cherry dari apa yang kamu ceritakan tadi menurutku itu sangat normal," ucap Vandy.
" Maksudnya?" tanya Cherry.
" Ya wajar saja kamu jantung kamu berdetak kencang saat berdekatan dengan Verro," jawab Vandy.
" Iya tapi kenapa?" tanyanya.
" Sekarang aku tanya bagaimana perasaanmu dengan Verro?" tanya Vandy membuat Cherry bingung.
" Biasa saja," jawab Cherry.
" Apa kau tidak menyukainya?" tanya Vandy. Cherry menggeleng.
__ADS_1
" Bohong, jika kau tidak menyukainya tidak mungkin jantung berdebar seperti apa yang kau jelaskan tadi," sahut Vandy yang tidak percaya.
" Aku serius aku tidak menyukainya," bantah Cherry yang meyakinkan dirinya. Vandy tersenyum mendengarnya.
" Kenapa kau tersenyum. Kau terus mengejekku dari tadi," sahut Cherry kesal.
" Tapi wajahmu memerah," goda Vandy menghentikan langkahnya menunjuk wajah Cherry. Reflek Cherry memegang ke-2 wajahnya dengan tangannya.
" Kau selalu mengerjaiku," pekik Cherry kesal.
" Aku tidak mengerjaimu, dengar ya Cherry, aku bisa melihat kalau kau dan Verro itu sama-sama memiliki perasaan yang lain. Tapi kalian berdua masih malu-malu," ucap Vandy menyimpulkan.
" Ahhhhhh, sok tau," sahut Cherry.
" Hey, dia itu diam-diam selalu khawatir denganmu," jelas Vandy lagi.
" Kau tidak tau aja dia melakukan itu karena di suruh papanya," batin Cherry.
" Jadi tidak mungkin jika dia tidak menyukaimu," lanjut Vandy lagi membuat hati Cherry semakin bergejolak karena ucapan Vandy.
" Aku benar tidak?" tanya Vandy menoleh ke arah Cherry. Tetapi Cherry menghentikan langkahnya dan bengong.
" Ada apa Cherry?" tanya Vandy heran.
" Dia ada di sini," jawab Cherry.
" Siapa?" tanya Vandy bingung dan melihat arah pandang Cherry. Yang ternyata Verro yang berdiri sekitar 7 meter dari mereka.
" Jangan mengatakan apa-apa lagi," ucap Cherry mulai dek-dekan saat Verro sudah mulai melangkahkan kakinya.
" Apa aku bilang Cherry, dia juga menyukaimu, lihatlah dia langsung ada di saat kau memikirkannya," ucap Vandy pelan.
" Kapan aku memikirkannya," sahut Cherry pelan.
" Buktinya," sahut Vandy lagi.
" Sudah tutup mulutmu," tegas Cherry menekan suaranya saat Verro semakin dekat. Vandy langsung terdiam.
" Apa yang kalian lakukan?" tanya Verro dengan suara dingin yang sudah berdiri di depan Cherry dan Vandy.
" Malam mingguan," jawab Vandy dengan santai sengaja membuat Verro kesal. Verro langsung mengarahkan tatapannya pada Cherry.
" Tidak, aku habis periksa," sahut Cherry dengan cepat melambaikan tangannya.
" Takut aja di marahi yayang," goda Vandy menyenggol pundak Cherry.
" Ishhh diam," desis Cherry semakin kesal dengan Vandy. Verro semakin menatapnya horor seakan ingin menerkamnya.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya