
Mereka kembali saling memandang dengan wajah yang berdekatan. Hembusan napas ke-2nya mungkin saling bisa merasakan.
" Ada apa ini, kenapa jantungku berdetak kencang. Apa alram ku sedang rusak," batin Cherry mendengar suara alarmnya terus berbunyi.
Alarm jam itu memang akan hidup ketika detak jantung Cherry tidak normal. Tidak normal bukan berarti tentang penurunan kesehatannya saja.
Bisa saja seperti apa yang terjadi. Dia merasa baik-baik saja. Tetapi debaran jantungnya terus saling memburu.
" Kenapa perasaan ku seperti ini, ini tidak biasanya, ada apa denganku," batin Verro juga merasakan hal yang aneh pada perasaannya.
Ke-2 manusia itu sedang mengalami perang batin yang begitu hebat. Mata keduanya tidak lepas dari saling memandang ya pasti mengalami gejolak hati yang berbeda.
Bahkan Verro beberapa kali terlihat kesulitan menelan salavinanya. Selai suara napas yang saling bertautan detak jantung masing-masing sudah mulai terdengar Sehingga masih membuat ke-2 nya masih menikmati 2 bola indah itu.
Vandy menaiki anak tangga menuju tempat peristirahatannya.
" Ahhhhh, perutku lapar sekali, apa aku kekantin dulu," gumamnya mengusap-usap perutnya dan berhenti di anak tangga.
" Aku lupa, aku tadi sudah membeli makanan, aku meletakkannya di ruangan, Syukurlah aku tidak perlu kekantin lagi," ucapnya tersenyum mengingat bahwa dia memiliki makanan yang tadi sudah di belinya.
Vandy melanjutkan langkahnya menuju ruangan pribadi dia dan teman-temannya.
Sementara Verro dan Cherry masih tetap saling tatap-tatapan. Seketika mata Verro turun pada bibir Cherry. Bibir yang basah karena habis minum.
Tidak tau apa yang di pikirkan Verro. Verro malah semakin mendekatkan wajahnya kepada Cherry. Bahkan memiringkan kepalanya.
" Apa ini," batin Cherry yang mulai cemas. Tidak bisa di bohongi jika Cherry seakan tau apa yang akan di lakukan Verro.
" Bagaimana ini," batin Cherry yang terus merasa was-was. Dia bahkan mengepal tangannya Saat Verro ingin menempelkan bibirnya.
Hampir saja Verro melakukan kegilaannya jika Vandy sang pengganggu tidak datang sebagai pengacau.
Suara bukaan pintu yang lumayan kuat membuat Verro dan Cherry kaget. Tetapi bukan hanya Cherry dan Verro yang kaget.
Tetapi Vandy juga kaget karena pemandangan yang di lihatnya. Matanya membulat sempurna seakan melihat Verro dan Cherry yang nyaris berciuman.
" Vandy," lirih Cherry yang justru bernapas lega.
Melihat kedatangan Vandy dengan cepat Verro melepas tangannya dari Cherry dan menjauh dari Cherry seketika ke-2 nya menjadi salah tingkah.
" Apa yang kalian lakukan?" tanya Vandy masih dengan wajah kagetnya.
" Nggak ada apa-apa," jawab Cherry dengan cepat melambaikan tangannya.
" Bohong," sahut Vandy masih berdiri di depan pintu menatap curiga.
" Aku tidak bodoh, aku tidak buta, aku melihat sendiri," sahut Vandy masih dengan wajah Schok nya.
" Apa yang kau katakan, nggak usah mikir aneh-aneh," sahut Verro kesal berusaha santai. Tidak tau kesal kenapa.
Mungkin karena tidak jadi melancarkan aksinya dan terakhir jadi salah tingkah di depan Cherry. Sama dengan Cherry yang sekarang wajahnya sudah memerah.
__ADS_1
Vandy tersenyum penuh arti melangkahkan kakinya mendekati 2 anak remaja yang hampir berciuman itu.
" Ehmmmm, pantesan di cari-cari tidak ada, ternyata pacaran di sini," goda Vandy yang terus tersenyum.
" Eh, jaga tu mulut," sahut Verro kesal.
Cherry menenangkan dirinya dengan meminum air putih. Napasnya memang kurang stabil. Tetapi lumayan debaran jantungnya sudah normal kemari.
Setelah ini Cherry harus menemui Dokter Arif karena masalah jantungnya. Agar kesehatannya tidak memburuk karena dia akan mengikuti Study tour. Tidak mau keberangkatannya gagal hanya karena masalah jantungnya.
" Ngapain lo di sini?" tanya Kevin ketus.
" Tenang aja, gue bakal balik lagi, gue cuma ambil...." Perkataan Vandy berhenti matanya turun ke bawah di atas meja dan melihat makanan miliknya sudah terbuka dan sudah termakan separuh.
" Siapa yang memakannya?" tanya Vandy menatap Cherry dan Verro dengan serius.
" Aku," jawab Cherry apa adanya. Wajah Vandy langsung berubah menjadi geram.
" Cherry, kenapa di makan, ini punya ku," sahut Vandy kesal menekan suaranya dengan napasnya yang sesak seakan kehilangan sesuatu. Bagaimana tidak sesak perutnya sudah memberontak di bawah sana.
" Mana aku tau, Verro mengatakan itu miliknya, jadi aku memintanya dan dia memberikannya," jawab Cherry apa adanya.
Mata Vandy mengarahkan pandangannya ke pada Verro yang pura-pura tidak tau apa-apa.
" Sejak kapan itu punyamu," ucap Vandy dengan serius menatap wajah Verro tajam seakan ingin menerkamnya.
Cherry juga kaget baru pertama kali melihat wajah Vandy yang biasanya manis sekarang seperti monster. Orang kelaparan memang mirip dengan monster.
" Apa, aku mana tau itu punya siapa yang penting ada di situ, lagi pula hanya mie, aku akan ganti," jawab Verro ketus.
" Ini bukan masalah di gantinya, perutku sudah lapar, kau malah memberikannya kepada Cherry," Vandy malah mengomeli Verro.
" Maaf Vandy, aku tidak tau jika itu makananmu, bagaimana biar aku saja yang menggantinya. Aku tadi lapar, jadi aku pikir itu milik Verro dan Verro juga mengatakan iya," jelas Cherry sekali lagi dengan wajah yang merasa bersalah.
" Nih anak kenapa sih, malah memperkeruh suasana, malah di ulang-ulang lagi," batin Verro kesal dengan Cherry. Apa yang di katakan Cherry justru membuat Verro turun harga diri di mata Vandy.
" Baik aku akan menggantinya," sahut Cherry berdiri dan langsung buru-buru pergi.
Dia juga sekalian biar bisa tenang dengan apa yang barusan terjadi. Tidak tau kenapa dia merasa canggung saat berduaan dengan Verro. Dia juga tidak tau apa lagi yang akan terjadi setelah itu.
" Kau mengakui itu makananmu, demi Cherry," ucap Vandy setelah kepergian Cherry menatap Verro penuh curiga.
" Jadi kau sudah benar-benar menyukainya," sahut Vandy lagi yang sekarang malah menggoda Verro. Wajah Verro memerah dia benar-benar menjadi orang bodoh di depan Vandy.
" Jaga bicaramu, hanya makanan kau sampai seperti itu," sahut Verro menutupi rasa salah tingkahnya. Membuat Vandy tersenyum.
" Kenapa kau tersenyum?" tanya Verro kesal.
" Wajahmu, memerah, kau terlihat sangat kesal. Kau kesal karena aku menggagalkan aksimu," tebak Vandy terus menggoda Verro dengan senyum nakalnya.
" Kau bahkan memberinya makanan yang bukan milikmu. Kau se perhatian itu kepadanya. Sehingga kau tidak bisa melihatnya kelaparan," Vandy terus-menerus beropini kepada Verro yang membuat Verro semakin kesal.
__ADS_1
" Bahkan kau sangat marah saat aku datang tiba-tiba," lanjut Vandy yang semakin menjadi-jadi.
" Apa maksudmu," sahut Verro geram.
" Kau ingin menciumnya kan, kau pikir aku tidak tau kau ingin melakukan itu," sahut Vandy tersenyum mengejek.
" Isshhhh, sial, jaga otak kotormu itu," Verro berdiri dan memilih pergi.
Dia tidak mau berlama-lama di dekat Vandy yang terus menggodanya dan membuatnya semakin bodoh.
Kepergian Verro membuat Vandy terkekeh dia benar-benar tidak menyangka jika di beri kesempatan melihat ke uwuuwuan temannya yang memiliki gengsi level atas.
" Verro, dasar. Tetapi okelah caramu lumayan juga," gumamnya geleng-geleng sambil tersenyum puas.
" Aissas, tapi bagaimana makanan ku, perutku sudah tidak bisa di kondisikan lagi," rengeknya yang mengelus perutnya. Nasibnya sangat malang demi cinta makanannya harus di korbankan Verro sahabatnya.
*********
Cherry memasuki kamar mandi mencuci wajahnya di wastafel. Cherry menatap dirinya di cermin. Tangannya mengusap dadanya. Merasakan kembali debaran jantungnya. Matanya turun melihat arloji di tangannya.
" Apa ini benar-benar sudah rusak," gumamnya melihat arlojinya.
" Aku tidak merasa sakit, lelah, atau apapun, tetapi kenapa debaran jantungku tidak normal, kenapa debarannya begitu kuat," batin Cherry yang terus mengusap dadanya.
" Siska.... Apa....Arghhhh, tidak mungkin," Cherry mengacak rambutnya frustasi ketika mengingat Siska yang pernah mengatakan.
Ketika 2 pasang Manusia saat bertemu dan sangat dekat ketika debaran jantung tidak normal. Itu berarti ada yang tidak beres. Ke-2 nya memiliki perasaan yang lain.
" Pasti ada kesalahan, aku harus menemui Dokter Arif, haru," ucapnya yakin kembali mencuci wajahnya.
***********
Ternyata Verro juga melakukan hal yang sama. Berada di dalam kamar mandi mencuci wajahnya. rambutnya ikut basah Verro menenagkan dirinya sebentar dan melihat dirinya di cermin.
" Apa yang aku lakukan, apa aku gila, yang benar saja aku ingin melakukan itu, ada apa denganku, aku terbiasa bersamanya. Tetapi kenapa tadi semuanya berbeda. Kenapa aneh sekali," Verro terus bergerutu di dalam hatinya.
Dia tidak mengerti dengan perasaannya kepada Cherry. Aneh pasti aneh. Tetapi dia tidak tau mengapa semua bisa seperti itu.
Apa lagi dia sangat bodoh di depan Cherry. Sewaktu Vandy menggodanya. Tetapi dari pemikiran itu tiba-tiba Verro tersenyum miring. Entahlah hanya Verro yang tau bagaimana isi hatinya.
Verro pun meninggalkan kamar mandi saat keluar dari kamar mandi Verro bertemu dengan Cherry yang juga habis keluar dari kamar mandi wanita. Ke-2nya mematung seketika. Membisu dan seperti orang bodoh.
" Kenapa dia ada di sini?" batin Verro kembali gugup.
" Astaga, apa aku tidak bisa berlama-lama sebentar tadi di dalam, agar tidak bertemu dengannya," batin Cherry yang menjadi gugup di depan Verro.
" Aku_aku_ mau kekelas," ucap Cherry terbata-bata. Verro mengangguk berusaha tenang. Dengan langkah cepat Cherry pun meninggalkan Verro.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.