
Raquel keluar dari kamar mandi dengan pakaian mandi berwarna putih dengan rambutnya yang masih basah. Raquel melihat ke arah tempat tidur di mana Aldo masih tertidur dengan tertutup selimut. Aldo telanjang dada yang seperti tadi malam melakukan malam pengantin yang sekian kalinya.
Raquel tersenyum dan menghampiri Aldo yang masih nyetak tertidur. Raquel duduk di samping Aldo dengan tangan Raquel mengusap lembut pipi Aldo. Raquel menundukkan kepalanya dan mencium kening Aldo dan juga mencium pipi Aldo dengan lembut.
" Sayang bangun," ucap Raquel dengan lembut berbisik di telinga Aldo. Mendengar suara lembut itu Aldo membuka matanya perlahan dan sudah menampilkan wajah cantik istrinya yang baru 4 hari di nikahinya.
" Morning," lirih Aldo dengan suara serak khas bangun tidur.
" Morning," sahut Raquel tersenyum simpul. Aldo mengusap-usap pipi Raquel sekalian membelai-belai rambut Raquel yang masih basah.
" Kamu hari ini kerumah sakit?" tanya Aldo.
" Aku belum selesai cuti masih ada satu hari lagi. Hanya saja aku dan anak-anak mau bantuin Cherry menyiapkan pernikahan Nadya dan juga Varell," ucap Raquel.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah aku akan mengantarmu hari ini," ucap Aldo. Raquel tersenyum mengangguk.
" Kamu sendiri bagaimana apa sudah selesai cuti?" tanya Raquel.
" Aku ada klien penting hari ini. Jadi mau tidak mau aku harus menemuinya, tapi agak siangan. Makanya aku akan mengantarmu dulu," ucap Aldo.
" Kliennya cowok apa cewek?" tanya Raquel dengan menyipitkan matanya. Aldo menarik tangan Raquel sampai Raquel jatuh ke dada Aldo dengan wajah mereka yang saling berdekatan.
" Memang kenapa kalau kliennya cewek?" tanya Aldo dengan memebelai-belai rambut Raquel. Wajah Raquel langsung cemberut mendengar kata-kata Aldo.
" Bagaimana jika kasusnya panjang dan kamu akan bertemu dengan klien kamu terus dan pasti kamu akan dengannya," ucap Raquel dengan posesifnya pada Aldo.
" Benarkah begitu?" tanya Aldo. Raquel mengangguk. Masalah Tari dia belum bisa melupakan hal itu dan pasti takut jika hal itu terulang lagi dan sekarang posisinya sudah berbeda mereka sudah menikah.
" Sayang klien aku cewek. Seorang ibu yang anaknya berusia 30 tahun yang sedang dalam masalah hukum," sahut Aldo.
" Anaknya 30 tahun yang artinya klien kamu usianya bisa 50 am lebih?" tanya Raquel menerka-nerka. Aldo mengangguk. Raquel tersenyum mendengarnya.
" Hmmmm, begitu, ya udah deh terserah," sahut Raquel.
" Terserah apanya," sahut Aldo.
" Ya terserah kalau kamu mau lama sama ibu itu," sahut Raquel.
" Oh, jadi kamu mau nih, suami kamu dekat-dekat sama ibu-ibu," sahut Aldo dengan menaikkan alisnya. Raquel mengangguk dengan tersenyum membuat Aldo mencubit hidung Raquel.
" Kamu itu nakal sekali," ucap Aldo.
" Biarin," sahut Raquel tersenyum. Aldo menatap dalam-dalam Raquel dengan mengusap-usap pipi Raquel dan mencium kening Raquel dengan lembut.
" Aku mencintaimu Raquel," ucap Aldo.
" Aku juga mencintaimu," sahut Raquel tersenyum lebar. Mata Aldo turun pada bibir Raquel dan mencium dengan lembut bibir itu. Raquel memejamkan matanya dan saling berbalas, saling menikmati dalam ciuman di pagi hari yang indah itu.
**********
Cherry membantu Verro untuk siap-siap ke rumah sakit Cherry membantu suaminya itu untuk memakaikan kemeja Verro.
" Kamu jadi pergi bareng anak-anak hari ini?" tanya Verro.
__ADS_1
" Iya, mungkin 2 jam lagi," jawab Cherry.
" Memang kalian siapa aja?" tanya Verro.
" Aku, Raquel, Nadya, Azizi dan Sasy," jawab Cherry.
" Kamu jangan menyetir ya," ucap Verro mengingatkan istrinya.
" Siap sayang," sahut Cherry. Verro tersenyum mendengarnya.
" Nanti pulang jam berapa?" tanya Verro.
" Paling sorean, kalau semuanya sudah selesai. Lagi tidak ada waktu lagi. Karena udah mepet. Jadi harus di selesain hari ini," jawab Cherry.
" Ya sudah nanti kalau aku pulang dari rumah sakit aku jemput kamu ya," ucap Verro.
" Oke. Oh iya sayang bagaimana dengan Tante Helena. Apa ada sesuatu yang di lakukannya?" tanya Cherry.
" Untuk sekarang sih tidak ada. Lagian Varell juga aman-aman aja tinggal sama Toby. Walaupun Toby sedang ada penerbangan," jawab Verro.
" Syukurlah kalau begitu semoga saja semuanya di beri kelancaran tanpa hambatan sampai hari pernikahan Nadya dan Varell," ucap Cherry dengan penuh doa dan harapannya.
" Amin, kita doakan saja yang terbaik," sahut Verro. Cherry mengangguk dan kembali membantu suaminya untuk bersiap-siap.
*********
Cherry, Raquel, Azizi, Sasy, dan Nadya sekarang sedang mencoba gaun pengantin. Mereka semua benar-benar sibuk dalam persiapan pernikahan Nadya. Mereka ikut mengambil alih dalam pemilihan gaun pengantin itu.
" Iya coba aja, kelihatan cocok," sahut Raquel. Nadya mengangguk dan kembali keruang ganti untuk mencoba gaun yang sudah entah keberapa.
Karena selera orang beda-beda. Yang ini di coba ada yang tidak suka, yang ini di coba yang satunya tidak. Makanya harus beberapa kali mencoba gaun pengantin sampai sudah beberapa kali.
Nadya hanya pasrah saja. Dia juga sebenarnya tidak mau merepotkan teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi teman-temannya hatinya pada kelewatan baik-baiknya.
" Semoga gaun kali ini cocok," sahut Sasy.
" Iya kasian Nadya sudah berapa kali ganti-ganti," sahut Azizi.
" Ya sudah kita tunggu aja dulu," sahut Raquel.
Tidak lama akhirnya Nadya pun muncul dengan gaun pengantin berwarna putih. Gaun simple yang volume di bagian bawahnya tidak terlalu kembang. Gaun tersendiri berlengan panjang yang memang begitu cantik dan anggun di pakai di tubuh Nadya.
" Ya ampun Nadya, kamu cantik banget," sahut Raquel yang langsung memuji.
" Gaun, ini sangat cocok untuk Nadya," sahut Azizi yang juga begitu pangling dengan Nadya.
" Nadya kamu benar-benar sangat cantik," sahut Cherry yang tidak kalah memuji.
" Ya sudah kalau semuanya setuju yang ini berarti ini aja," sahut Sasy yang lain mengangguk-angguk kepalanya.
" Kamu sendiri bagaimana Nadya kamu suka?" tanya Cherry.
" Aku yang mana aja suka. Kalau kalian maunya yang ini aku ikut aja. Karena menurutku semuanya bagus dan cantik," sahut Nadya yang engge-engge aja. Yang memang Nadya sangat mudah aturan.
__ADS_1
" Ya sudah kita deal yang ini saja," sahut Raquel yang lain kembali mengangguk setuju.
Setelah menentukan mana gaun yang mereka pilih. Akhirnya mereka pergi dari butik tersebut.
" Akhirnya masalah gaun selesai. Bagaiman kalau kita makan siang bareng," sahut Sasy.
" Boleh juga tuh. Kita naik Taxi dong, mobilnya Sasy sudah di bawa sama bengkel tadi," sahut Cherry.
" Iya, kita naik Taxi aja," sahut Raquel.
Tin-tin-tin-tin.
Tiba tiba terdengar suara klakson mobil yang berhenti di depan mereka. Yang ternyata Verro keluar dari dalam mobilnya. Bukan hanya Verro ternyata mobil Aldo juga ada dan mobil Vandy yang keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Varell dan ke-4 pria itu sudah berdiri di depan 5 wanita itu.
" Kalian sudah selesai?" tanya Vandy.
" Sudah, kita mau makan siang," sahut Azizi.
" Ya sudah kebetulan. Aku juga tadi mau jemput Raquel mau makan," sahut Aldo.
" Mentang pengantin baru, jadi mau berduan terus," sahut Vandy.
" Ishhhh, kayak nggak pernah aja," sahut Aldo.
" Ya sudah, kita makan sama-sama aja," sahut Varell memutuskan.
" Hmmm, boleh, ngapain pisah-pisah," sahut Cherry.
" Ayo!" ajak Vandy.
" Hmmm, kalian aja ya," sahut Sasy tiba-tiba membuat semua orang heran.
" Kok, gitu?" tanya Cherry.
" Tadi kamu yang ngajakin," sahut Raquel.
" Kalian aja, aku lupa harus kembali kerumah sakit," sahut Sasy yang tiba-tiba merasa minder dengan teman-temannya yang sudah memiliki pasangan halal.
" Begitu, kamu naik apa, kita anterin aja ya," sahut Azizi.
" Nggak usah, aku naik Taxi aja. Kalian pergi aja. Ya sudah aku pergi ya itu ada Taxi," sahut Sasy yang terlihat buru-buru dan langsung pergi menaiki Taxi membuat teman-temannya bingung.
" Kok, tumben Sasy layak gitu. Biasanya paling lancar kalau soal makan," sahut Raquel heran.
" Ya mungkin dia memang sibuk," sahut Aldo.
" Ya sudah ayo kita pergi!" ajak Vandy yang lain mengangguk dan memasuki mobil masing-masing.
Sementara Sasy di dalam Taxi merenung dengan matanya yang bergenang. Dia merasa sangat asing berada di antara teman-temannya.
" Benar kata Vandy, setelah menikah semua orang akan punya kehidupan masing-masing. Dan aku mana bisa bersama dengan mereka yang sudah punya keluarga," batin Sasy yang mendadak menjauh dari teman-temannya karena posisinya yang sudah berbeda.
Bersambung.
__ADS_1