
Raquel menangis di kamar mandi senggugukan karena baru putus dengan Aldo dan dia lah yang memutuskan Aldo. Karena kesabarannya sudah habis dan mengambil tindakan dengan cepat tanpa ingin mendengar penjelasan dari Aldo.
Dan Sasy sedari tadi di depan pintu kamar mandi mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi membujuk Raquel keluar dari dalam kamar mandi.
Hiks, hiks, hiks, hiks, Hanya suara tangisan itu yang terdengar tanpa Raquel mau membuka pintu.
" Raquel Sudak dong, jangan nangis mulu. Banyak orang nih yang negeliatin. Ayo dong keluar, jangan kayak anak kecil gini," bujuk Sasy sambil mengetuk-ngetuk pintu dengan wajahnya yang sudah lelah sedari tadi memanggil. Tetapi tidak ada hasilnya.
" Aldo, jahat. Bisa-bisanya dia membela wanita itu. Sudah ketangkep, masih ber alasan, dia pikir aku buta apa. Kalian juga melihat sendiri apa yang di lakukannya. Itu sangat tidak wajar dan masih mengatakan salah paham," ucap Raquel yang mencurahkan isi hatinya kembali.
" Iya aku tau. Aku tau Aldo memang kelewatan dan kita tidak buta kok. Kita melihat semuanya. Tetapi dengan kamu nangis kayak gitu. Nggak akan menyelesaikan masalah. Mau sampai kapan coba nangis di sana. Kan aku capek nungguin di sini," ucap Sasy yang mencoba menasehati agar temannya mau keluar dari dalam kamar mandi.
" Ayo dong, keluar Raquel. Kamu tenangi diri kamu dulu. Kalau kamu nangis. Yang ada wanita itu akan tertawa-tawa," ucap Sasy.
" Keluar ya! ayo keluar!" bujuk Sasy lagi yang sudah lelah. Lama membujuk akhirnya Raquel pun membuka pintu kamar mandi.
Sasy melihat Raquel sudah entah seperti apa wajahnya yang penuh dengan air mata dengan rambutnya berantakan dan beberapa kali Raquel menarik ingusnya.
" Kita pulang ya," bujuk Sasy memperlakukan Raquel seperti anak kecil dan Raquel pun mengangguk. Sasy terlihat membuang napasnya perlahan ke depan merasa lega akhirnya bisa membujuk Raquel.
" Ya sudah ayo!" ajak Sasy dengan memegang tangan Raquel dan membawanya keluar dark kamar mandi yang mungkin juga akan mengantarkan Raquel pulang kerumahnya.
*********
Di sisi lain Aldo mengantarkan Tari pulang. Mereka masih berada di dalam mobil dan Tari terlihat memperbaiki rambutnya yang berantakan akibat jambakan Tari.
" Maaf kan aku," ucap Aldo merasa bersalah.
" Tidak apa-apa. Ini memang salahku. Tidak seharusnya aku mengajakmu makan di tempat itu yang pada akhirnya malah bertemu dengan pacarmu," sahut Tari yang sebenarnya malu dengan kejadian tadi. Karena dia terkesan seperti pelakor di sana.
" Kejadian ini tidak akan terulang lagi," ucap Aldo.
" Iya, aku juga berharap seperti itu. Semoga kamu bisa menyelesaikan masalah kamu dengan Raquel," ucap Tari.
" Iya aku akan menyelesaikannya," sahut Aldo yang pasti memikirkan Raquel yang tiba-tiba minta putus dengannya.
" Seharusnya masalah ini tidak terjadi. Bagaimana aku mengatasi Raquel," batin Aldo sekarang baru kebingungan.
__ADS_1
Tidak lama akhirnya Aldo sampai mengantar Tari pulang dan mobil itu sudah berhenti di depan rumah Tari.
" Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarku," ucap Tari membuka sabuk pengamannya. Aldo mengangguk-anggukan kepalanya dan Tari pun akhirnya ke luar dari mobil Aldo.
Aldo pun langsung pergi. Yang mungkin akan menyelesaikan masalahnya dengan Raquel yang walau sudah putus tetapi dia sangat yakin jika itu hanya gertakan Raquel saja.
***********
Pagi hari menjelang. Seperti biasa Verro akan berangkat bekerja dan sebelum pergi dia akan melakukan rutinitas biasa sarapan bersama istrinya.
" Sayang, kamu tau tidak tentang Vandy?" sahut Cherry tiba-tiba. Verro melihat istrinya yang duduk di depannya sambil mengunyah makanannya.
" Memang kenapa dia. Baru semalam. Masalah Aldo. Apa Vandy ada masalah lagi?" tanya Verro heran
" Nggak masalah sih. Hanya kabar baik saja," sahut Cherry. Membuat Verro semakin penasaran.
" Kabar baik! kabar baik apa?" tanya Verro.
" Kalau Azizi dan Vandy akan menikah," jawab Cherry.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
" Sayang, pelan-pelan dong," ucap Cherry geleng-geleng.
" Dia akan menikah," sahut Verro dengan wajah kagetnya. Cherry mengangguk.
" Kok bisa," sahut Verro benar-benar schok.
" Kamu apa-apaan sih. Kok malah bilang kok bisa. Ya bisalah. Vandy normal, ya jelas bisa kalau dia mau menikah," sahut Cherry heran.
" Aku tau dia laki-laki. Tapi kok tiba-tiba gitu dan bisa-bisanya kamu tau dan aku tidak," sahut Verro yang tampaknya kecewa belakangan mendapat kabar itu.
Dia pun saat mendengar kabar itu dari Vandy dan Azizi kaget apalagi Verro sabatanya yang tiba-tiba tau dan tanya dari istrinya yang pasti lebih kaget dan tidak percaya dengan hal itu.
" Ya aku mana tau. Aku aja kemarin juga sama Sasy, dan Raquel kalau tidak sengaja bertemu di Mall. Tidak akan tau. Kita itu berpapasan dengan Vandy, Azizi, Iqbal dan Tante Lina saat mereka keluar dari butik. Karena kita banyak tanya baru deh mereka memberi tahu kalau mereka akan menikah," jelas Cherry dengan detail.
" Jadi menurutku sih tidak tiba-tiba, mereka juga bilang tidak ada maksud untuk tidak memberi tahu," lanjut Cherry menjelaskan lagi.
__ADS_1
" Tapi tetap aja. Dia tiba-tiba menikah. Jelas dia mau main rahasia-rahasiaan," sahut Verro tampak kesal sampai makan pun sudah tidak berlanjut lagi.
" Ya aku mana tau. Orang dia bilang gitu kok dan kita nggak tanya lagi," sahut Cherry.
" Memang kapan dia akan menikah?" tanya Verro. Walau kesal. Tetapi penasaran juga.
" Dalam Minggu ini katanya," jawab Cherry.
" Secepat itu," sahut Verro masih keget.
" Iya secepat itu," sahut Cherry apa adanya.
" Lalu Varell tau?" tanya Verro.
" Kayaknya nggak. Katanya memang belum kasih tau siapa-siapa," sahut Cherry.
" Benar-benar Vandy. Dia sekarang main rahasia-rahasiaan," kesal Verro yang tampaknya masih belum terima denga Vandy yang tidak memberitahunya masalah besar itu.
Verro meneguk air putih lalu berdiri meninggalkan sarapannya.
" Sayang mau kemana, sarapannya belum selesai juga?" tanya Cherry heran.
" Mau ketemu Varell," jawab Verro.
" Ngapain?" tanya Cherry heran.
" Kamu mau ikut?" tanya Verro.
" Mau. Tapi kamu bukannya nanti mau anterin aku tempat Tari?" sahut Cherry mengingat janji suaminya nanti malam.
" Setelah dari tempat Varell. Kita langsung menemui Tari," jawab Verro.
" Memang ngapain sih ketempat Varell. Yang nikah siapa yang di datangi siapa," sahut Cherry heran.
" Sudahlah sayang ayo ikut saja," sahut Verro. Cherry menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Ya sudah deh," sahut Cherry yang langsung ikut dengan suaminya. Karena dia juga malas di rumah sendirian jadi mending ikut suami dari pada bosan.
__ADS_1
Mungkin aja Verro menghampiri Varell. Karena ingin menggibahi Vandy yang sepertinya tidak menganggap sahabat dekatnya itu sampai pernikahan itu tidak di beritahu.
Bersambung