
Fiona yang batuk-batuk di biarkan Verro saja. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Fiona. Batuknya Fiona yang mengeluarkan darah membuat orang-orang yang melihatnya langsung menghampiri.
" Ya ampun kamu kenapa?" tanya salah seorang Wanita.
" Tolong saya, dada saya sakit," sahut Fiona yang terus batuk dan mengeluarkan darah dengan dadanya yang benar-benar sakit.
Orang-orang di sana hanya mengkerumuninya saja. Tampak kebingungan yang tidak tau harus melakukan apa.
" Tolong! tolong saya," ucap Fiona yang mulai kesulitan bernapas dan akhirnya Fiona pingsan.
" Bagaimana ini, bagaimana ini?" tanya orang-orang yang mulai kepanikan.
Sasy yang tiba-tiba lewat, melihat banyaknya orang-orang yang berkerumun. Hal itu membuat Sasy langsung menghampiri karena penasaran.
" Ada apa ini?" tanya Sasy.
" Dokter tolong ada yang pingsan," sahut salah seorang Wanita.
" Tolong minggir kasih ruang untuk saya," sahut Sasy seketika panik dan langsung melihat siapa yang pingsan dan saat warga sudah minggir. Sasy melihat wanita yang tergelatak itu adalah Fiona yang bersimbah dari mulutnya. Bukannya cemas Sasy malah membuang napasnya panjang.
" Ternyata dia. Ngapain coba akting di sini, pasti mau cari simpati Verro," batin Sasy yang menyesal karena sudah panik.
" Dok apa dia baik-baik saja?" tanya seseorang yang kelihatan sangat panik.
" Oh, sudah-sudah. Mendingan kalian semua bubar. Dia tidak apa-apa. Dia hanya berlatih untuk menjadi orang sakit. Jadi jangan mengganggunya," sahut Sasy yang memang tidak perlu memeriksa Fiona. Karena dia sudah yakin. Fiona pasti hanya berpura-pura saja.
" Maksud Dokter apa?" tanya seseorang wanita.
" Iya. Dia tidak apa-apa. Sudah-sudah kalian bubar saja," ucap Sasy meyakinkan orang-orang yang ada di sana.
Orang-orang itu terlihat saling melihat dengan penuh kebingungan. Namun karena yang bicara adalah Dokter. Jadi mereka percaya-percaya saja. Dan akhirnya pun bubar meninggalkan Fiona dan Sasy.
" Hhhhh, sungguh acting memang bagus. Kenapa nggak jadi artis aja sekalian. Dasar bikin susah. Percuma Fiona kau berbuat seperti ini. Nggak akan ada yang simpatik dengan mu. Karena semua orang tau siapa kamu," ucap Sasy yang berkacak pinggang yang mengajak Fiona bercerita.
" Huhhhhh, menyusahkan," ucap Sasy geleng-geleng dan Sasy pun langsung pergi meninggalkan Fiona dalam pingsannya. Sasy hanya beranggapan saja. Jika Fiona memang hanya pura-pura saja dan itu bukan salahnya. Jika tidak mau menolong Fiona. Karena memang Fiona hanya bermain drama menurutnya.
***********
__ADS_1
Verro berjongkok di depan Cherry yang masih duduk di atas kursi roda. Di mana Verro yang melap tangan istrinya yang terkena kotoran dari minyak spageti.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Verro yang khawatir pada istrinya.
" Aku tidak apa-apa. Untung saja kamu datang. Kalau tidak aku tidak tau apa yang akan di lakukannya kepadaku," ucap Cherry yang wajahnya masih terlihat takut.
" Maafkan aku ya sayang. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu," ucap Verro merasa bersalah.
" Tidak apa-apa Verry yang penting tidak terjadi apa-apa," sahut Cherry.
" Apa yang di katakan Fiona kepadamu?" tanya Verro yang begitu khawatir ada kata-kata yang membuat istrinya itu sakit hati.
" Hmmm, dia membahas masalah kemarin saat kamu dan dia di Yayasan. Aku juga kaget dengan Fiona yang sudah menipu kita. Dan akhirnya terbongkar. Tetapi masih berani untuk menemuiku dan mengatai segalanya. Dan aku kehilangan kendali langsung melemparkan kotak makanan itu padanya dan dia marah lalu ingin memukulku," ucap Cherry menjelaskan dengan singkat.
" Cherry apa kamu mempercayai apa yang di katakannya?" tanya Verro dengan memegang pipi istrinya.
" Aku tidak ada alasan untuk mempercainya. Lagian Vandy sudah menjelaskan semuanya. Kamu datang kesana untuk mengakhiri segalanya dengan Fiona. Bukan hanya untuk berhenti menjadi Dokternya. Tetapi juga kamu menyuruhnya pergi dari Yayasan. Bahkan saat bertemu. Kamu sengaja tidak ingin masuk kekamarnya untuk menghindari segalanya. Tapi semua di luar dugaan. Fiona terlalu licik dan berhasil membuatmu masuk kekamarnya," ucap Cherry menjeda sejenak bicaranya.
" Pada saat aku masuk. Apa yang aku lihat memang tidak terjadi. Kamu masih terperdaya oleh sakitnya. Bahkan aku marah-marah. Dan kamu yang begitu simpatik dengannya sampai mengabaikanku dan mendorongku. Semua itu hanya permainan yang mengalir begitu saja karena situasi yang panas yang sudah di ciptakan Fiona dan pada saat aku pergi kamu ingin mengejarku. Tetapi kamu pingsan. Jadi Verro aku tidak percaya apapun yang di katakannya. Aku lebih memperyaimu," ucap Cherry. Verro tersenyum mendengarnya.
" Cherry maafkan aku ya. Aku juga terbawa suasana sehingga kita berdua membiarkan hal itu terjadi," ucap Verro merasa bersalah.
" Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kamu lagi," ucap Verro.
" Hmmm, aku tau itu," sahut Cherry yang juga erat memeluk suaminya itu.
**********
Sasy, Raquel dan Vandy sedang makan siang di kantin rumah sakit.
" Verro sama Cherry jadi pulang hari ini?" tanya Raquel.
" Iya, Cherry sudah mendesak ingin pulang. Lagian Verro juga sudah sembuh. Jadi biarkan sajalah," sahut Sasy dengan mengunyah makanannya.
" Ya mungkin. Kalau Cherry di rawat di rumah dia akan lebih cepat sembuh. Lagian rawatan suami jauh lebih mempan," sahut Vandy.
" Ya iya sih. Hmmm enak benget ya punya suami Dokter," sahut Sasy senyum-senyum.
__ADS_1
" Ishhh, apaan sih lo, ada rencana ya mau selingkuh dari Toby," sahut Raquel menatap curiga.
" Ishhhh, amit-amit," sahut Sasy langsung mengetuk meja.
" Ya abisnya tiba-tiba mau punya suami jadi Dokter kan aneh," sahut Raquel.
" Kalian ber-2 ini ya. Kalian juga adalah seorang Dokter. Pada heboh mau suami Dokter," sahut Vandy geleng-geleng.
" Dia nih," sahut Raquel menunjuk Sasy.
" Becanda kali," sahut Sasy. Vandy hanya geleng-geleng dengan 2 temannya yang memang jauh-jauh dari kata-kata damai.
" Hmmm, bye the way. Fiona di rawat di sini ya," sahut Raquel tiba-tiba.
" Fiona, maksud kamu pelakor itu," sahut Sasy.
" Iya," sahut Raquel.
" Kok di rawat. Memang dia sakit?" tanya Vandy heran.
" Ya paling pura-pura," sahut Sasy yang sudah tau semuanya.
" Nggak tau Sasy. Kemarin di itu pingsan di rumah sakit ini dan Dokter Karin memeriksanya kebetulan aku juga ada di sana dan memang benar dia itu sakit. Terkena kanker darah stadium awal," jelas Raquel.
" Serius?" tanya Sasy tidak percaya.
" Iya. Dan aku nggak tau sih. Sekarang dia sudah sadar atau tidak. Ya masa bodo juga," sahut Raquel menggedikkan bahunya.
" Astaga berarti semalam dia benar-benar pingsan," lirih Sasy.
" Memang ada apa?" tanya Vandy.
" Ya semalam tidak sengaja ada aku melihat kerumunan dan ternyata Fiona pingsan dengan ke luar darah dari mulutnya. Ya aku pikir dia mau mendalami peran jadi aku tinggal aja, eh ternyata memang benar-benar pingsan," jelas Sasy dengan santai.
" Ya udahlah. Sudah terlanjur juga. Lagian itu bukan salah kamu. Sekarang aja kita tidak tau dia sakit atau pura-pura," sahut Raquel yang jauh lebih santai.
" Semoga benaran ya," celetuk Sasy. Raquel dan Vandy saling melihat. Lalu geleng-geleng dengan Sasy yang menyumpahi. Walau mereka ber-2 juga ya tidak munafik juga berpikiran yang sama dengan Sasy. Supaya Fiona mendapat karmanya.
__ADS_1
Bersambung.