DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 68 Fiona dan Raquel.


__ADS_3

Fiona menuang air minum di dapur umum, setelah gelasnya penuh. Viona langsung langsung meneguknya. Beberapa murid yang ada di sana melihatnya dengan sinis.


" Dia diam tapi jahat, mulutnya berbisa,"


" Bukannya memang kebanyakan orang seperti itu, diam-diam menusuk,"


" Dia menyukai Verro. Tetapi tega dengan Cherry. Memang Cherry salah apa,"


" Apa dia pikir orang mau di lahirkan dengan memiliki penyakit,"


" Mungkin dia mengira penyakit itu main-main kali, kualat baru tau rasa,"


" Benar semoga saja dia mengalaminya,"


" Wanita menyeramkan. Kasihan Cherry, gara-gara dia juga Cherry pergi,"


Fiona harus tebal kuping mendengar selintingan murid-murid yang ada di dapur tersebut. Banyak yang menyalahkannya atas kepergian Cherry. Bahkan menghinanya dan lebih parah menyumpahinya.


" Ehhmm," suara deheman Raquel membuat para murid-murid kaget. Fiona menoleh kearah Raquel sebentar.


" Simpanlah umpatan kalian untuk nanti-nanti. Telinganya bisa hilang kalau kalian keluarkan semuanya," ucap Raquel menuang minum ke dalam gelas sambil melirik sinis ke arah Fiona.


" Kita pergi saja dari sini," sahut salah satu murid lalu mengajak temannya meninggalkan dapur tersebut.


Hanya tinggal Raquel dan Fiona yang ada di sana. Raquel meneguk minumannya dan menghadap ke arah Fiona dengan tersenyum mengejek.


" Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih!" sindir Raquel dengan sinis. Fiona tidak menanggapi, meletakkan gelas dengan kuat. Lalu berbalik badan lebih baik pergi dari pada menghadapi Raquel yang ada dia tambah emosi.


" Dugaanku benar," ucap Raquel menghentikan langkah Fiona. Raquel Menyinggirkan rambut yang berada di pipinya dengan jarinya, meletakkan ke-2 tangannya di dadanya dan sedikit menyandarkan pinggang nya di tiang meja.


" Kau menyukai Verro diam-diam," lanjut Raquel membuat Fiona berbalik badan, melihat senyum Raquel yang membuatnya kesal.


" Kenapa kau ikut campur urusanku?" tanya Fiona kesal.


" Aku hanya menduga-duga saja. Lagi pula apa kau tidak sadar kalau kau sudah menjilat ludahmu sendiri. Katanya tidak suka. Tapi sukanya lebih parah. Aku harus salut denganmu. Diam-diam berani mengungkapkan perasaanmu kepada Verro," ucap Raquel.


Mendengarnya Fiona heran. Tidak mungkin Raquel tau. Jika dia menyatakan perasaannya kepada Verro.


" Tetapi keberanianmu, kelewat batas, sampai kau juga harus mengatakan itu kepada Cherry. Yang seharusnya kau sadar Cherry memiliki banyak pawang," lanjut Raquel tersenyum sinis. Sementara Fiona hanya mengepal tangannya.


" Apa yang kau ketahui?" tanya Fiona.

__ADS_1


" Kenapa, kau heran. Tadinya aku sih tidak peduli. Tetapi sangat menggangguku jadi aku harus memberikan apa yang sudah aku kerjakan. Karena sangat sia-sia juga jika hanya di simpan," ucap Raquel


" Apa maksudmu?" tanya Fiona.


" Iya benar, aku melihat dan mengambil kesempatan merekam lalu memperlihatkan kepada mereka. Bukan hanya mereka. Tetapi kepada semua orang. Bagaimana seorang Fiona menyatakan perasaannya kepada Verro. Dan bagaimana seorang Fiona menyuruh Cherry pergi dari Verro dengan kata-kata...." Raquel menghentikan kalimatnya.


" Oh My, God, sangat meyakinkan," lanjutnya geleng-geleng dengan wajah puas melihat ke adaan Fiona.


" Jadi kau yang melakukannya," ucap Fiona geram. Sebenarnya Fiona tidak tau jika semua itu ternyata ulah Raquel, dia hanya mengira Cherry mengadukan semuanya.


" Iya aku melakukannya, bagaimana apa hasilnya memuaskan," sahut Raquel dengan santai membenarkan tebakan fiona


" Apa kau puas mempermalukan ku?" tanya Fiona. Wajah Raquel berubah seakan berpikir kesal.


" Hmmm, lumayan," sahutnya menganggukkan kepalanya.


" Kau sangat berani. Hanya karena mencium kau sudah kegeeran sampai melebihi batas mu," ucap Raquel dengan sinis.


" Dasar perempuan gila," sambar Fiona. membuat Raquel mendengus lalu tertawa.


" Apa katamu perempuan gila. He, ngaca, yang gila itu siapa. Lo yang sakit jiwa. Lo sadar tidak perbuatan lo sangat hina. Iya kalau Verro suka sama lo. Tapi sayangnya dia tidak tertarik sama lo. Jadi yang gila itu lo," tegas Raquel menyadarkan Fiona.


Fiona merapatkan giginya semakin mengepal kuat tangannya. Wajahnya penuh kemarahan dengan Raquel yang sudah mempermalukannya.


" Sorry ya gue nggak kekurangan teman. Teman gue ada. Nggak kayak lo. Nggak punya teman, makanya sampai seperti ini," sahut Raquel dengan senyumnya membanggakan dirinya.


" Teman, bukannya kau sudah tidak se frekuensi dengan mereka. Makanya mencari teman agar tidak sendirian," ucap Fiona sinis membuat Raquel terdiam.


" Tapi percuma kayaknya mereka nggak akan mau ngajak lo jadi teman mereka," lanjutnya lagi.


" He Fiona, gue sudah bilang sama lo, gue nggak kekurangan teman kayak lo, jadi lo jangan banyak bacot," tegas Raquel langsung pergi.


Lama-lama dia akan semakin kesal dengan Fiona si manusia diam.


" Sudahlah, malas banget harus bicara dengan wanita seperti mu, sangat membosankan," sahut Raquel langsung pergi melewati Fiona dan pasti dia menyenggol bahu Fiona.


" Biar aku kasih tau, satu hal," ucap Fiona menghentikan langkah Raquel.


" Apa lagi yang di inginkannya," batin Raquel.


" Kau sudah tau bagaimana rasanya di permalukan lewat sebuah rekaman," lanjut Fiona membuat Raquel menoleh kembali kebelakang.

__ADS_1


" Apa maksudmu?" tanya Raquel.


" Tetapi kau belum tau, bagaimana rasanya jika kita tau dalang dari membuat kita malu. Pasti sangat menyebalkan karena gara-gara dia kita kehilangan banyak hal. Kau sudah tau rasanya. Di skors dan pasti di marahi orang tua," ucap Fiona membuat Raquel bingung.


" Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan?" tanya Raquel terpancing emosi.


" Aku di permalukan. Aku sangat marah. Tetapi aku lebih marah ketika tau siapa orang yang membuat ku sangat malu. Tetapi kau akan merasakannya. Saat kau tau siapa yang merekam saat kau dan 2 temanmu itu menganiaya Nadya," ucap Fiona membuat Raquel kaget dan penasaran.


" Apa maksudmu, apa kau yang merekamnya?" tanya Raquel geram.


Gara-gara hal itu. Hukumannya sampai detik ini belum selesai dari orangtuanya. Namun Fiona tersenyum miring.


" Aku tidak punya kerjaan melakukannya," sahut Fiona. Raquel mendekati Fiona dengan geram.


" Katakan siapa," bentak Raquel yang ingin menerkam Fiona.


" Belum tau saja orangnya kau sangat marah. Apalagi sudah tau," ucap Fiona yang mempermainkan rasa penasaran Raquel.


" Aku bilang katakan," geram Raquel dengan matanya memerah.


" Orang yang berusaha kau dekati. Bukan tetapi dia yang membuatmu nyaman belakangan ini. Sampai kau menjaga jarak dari 2 temanmu," jawab Fiona.


" Siapa maksudmu, bicara yang jelas," tekan Raquel.


" Aldo," jawab Fiona dengan santai.


Mata Raquel membulat sempurna dengan mata yang memerah. Tangannya mengepal kuat dengan. Emosinya seakan naik. Saat mendengar ucapan Fiona.


" Kau kaget. Jika dia melakukannya. Merekam perbuatanmu dan menyebar kepada anak-anak," lanjut Fiona memperjelas.


" Kita impas. Kau dan aku sama-sama pernah di permalukan. Barusan aku merasakan betapa marahnya aku saat tau kau pelaku dari semuanya. Dan sekarang kau juga bisa merasakan apa yang aku rasakan. Dari wajahmu kau sangat marah kepada orang yang melakukannya," lanjut Fiona lagi.


" Cherry sudah pulang itu mereka," teriak murid-murid dari luar ketika melihat Cherry dan yang lainnya kembali.


" Sepertinya orang itu sudah datang," ucap Fiona sinis lalu pergi meninggalkan Raquel dengan penuh kemarahan.


" Aldo, jadi dia yang merekam semua itu dan bahkan menyebarkan," batin Raquel dengan mata memerah. Sangat geram ketika baru mengetahui hal itu.


💝💝Bersambung


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.

__ADS_1


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2