DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 242 tidak bisa menjawab.


__ADS_3

" Tante," sapa Cherry yang langsung mencium punggung tangan Lina yang di susul oleh Raquel dan Sasy.


" Hmmm, kalian di sini juga?" tanya Lina tersenyum.


" Iya Tante," jawab mereka.


" Hmmm, Kalian kok bisa ada di sini?" tanya Cherry dan mata Raquel langsung melihat ke arah toko yang ternyata tempat gau pengantin.


" Kalian habis dari dalam?" tanya Raquel menatap curiga.


Azizi dan Vandy saling melihat, mereka tampaknya bingung harus menjawab apa. Dan mungkin ke-2nya tidak bisa mengelak lagi. Karena jelas mereka tertangkap ke luar dari dalam butik.


" Ya ampun pakai bertemu segala lagi," batin Sasy yang terlihat membuang napasnya perlahan.


" Apa yang harus aku jawab," batin Azizi kebingungan.


" Ehemm. Kok malah diam sih, kalian ber-2 habis dari dalam?" tanya Raquel sekali lagi yang benar-benar kepo.


" Iya," sahut Lina, " Tante habis menemani Vandy dan Azizi mencoba gaun pengantin," lanjut Lina yang berbicara langsung dan membuat, Cherry dan Raquel langsung melebarkan mata mereka bahkan sampai keluar yang tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Vandy dan Azizi terlihat pasrah. Memang sudah tidak bisa di sembunyikan lagi. Sebenarnya memang tidak ada yang di sembunyikan. Mereka hanya tidak ingin memberi tahu dan mungkin belum waktunya. Tapi sang mama sudah memberitahu. Jadi mau gimana lagi.


" Kalian mau nikah," celetuk Raquel yang tidak sabaran untuk mendengar apa yang sebenarnya tejadi.


Azizi dan Vandy kembali saling melihat mereka bahkan tidak bisa menjawab apa-apa.


" Menikah, jadi mereka dekat dan akan menikah," batin Cherry yang juga bertanya-tanya.


" Ehemmm, sudahlah, kita pulang aja yuk," sahut Sasy tiba-tiba.


" Sasy, kamu kenapa sih, setiap kali ada sesuatu sama Vandy dan Azizi. Kayaknya berusaha gitu buat alihkan," sahut Raquel yang tampak kesal.


" Nggak, apaan sih, aku cuma nggak mau kita penghalang jalan untuk orang-orang yang masuk kedalam butik ini," sahut Sasy mencari alsan.


" Tapi memang benar, kalian akan menikah," sahut Cherry yang juga penasaran.


" Apa Vandy dan Azizi tidak memberi tahu teman-temannya jika mereka akan menikah," batin Lina yang melihat dari ekspresi Azizi dan Vandy yang begitu gugup.


" Nenek perut Iqbal sudah lapar," sahut Iqbal tiba-tiba.

__ADS_1


Mendengar kata nenek kembali membuat ke-3 wanita itu kaget.


" Nenek," lirih, Sasy, Cherry, dan Raquel pelan. Sasy juga tidak percaya jika Iqbal sudah memanggil orang tua Vandy seperti itu. Karena Azizi memang tidak cerita apa-apa.


" Oh, iya sayang," sahut Lina.


" Ehemm, kita mau makan, apa kalian bertiga mau ikut?" sahut Lina yang mengalihkan kecanggungan dengan mengajak ke-3 wanita cantik itu untuk makan bersama.


" Iya kita mau makan. Kalian ikut tidak," sahut Vandy menambahi.


" Ayo nenek," rengek Iqbal yang tampaknya sudah kelaparan.


" Iya Iqbal sabar ya," sahut Lina.


" Kalian mau ikut apa tidak?" tanya Lina lagi.


" Hmmm, boleh," sahut Cherry tersenyum mengangguk-angguk.


" Hmmm, iya boleh-boleh," sahut Sasy. Raquel juga mengangguk-angguk.


" Hmmm, ya sudah ayo kasihan Iqbal sudah kelaparan," sahut Lina yang melangkah terlebih dahulu dan akhirnya mereka yang belum mendapatkan jawaban apa-apa mengikut saja.


Akhirnya mereka sudah mendapatkan tempat makan. Mereka sudah makan bersama dengan makanan yang sudah di susun di meja.


Lina terlihat menyuapi Iqbal dan benar-benar seperti memperlakukan Iqbal sebagai cucunya dan ya memang benar Iqbal adalah cucunya. Dan wajar dia memanjakan cucunya itu.


Tetapi apa yang di lakukan Lina justru mencuri perhatian, Cherry, Raquel yang semakin bertanya-tanya. Untuk Sasy pasti paham. Tetapi tetap dia juga tidak menyangkan dengan apa yang dilihatnya.


" Pasti Cherry, dan Raquel bertanya-tanya. Apa yang harus aku lakukan. Aku juga tidak enak jika membuat mereka penasaran, nanti di pikir mereka aku sama Vandy sembunyi-sembunyi dalam melaksanakan pernikahan," batin Azizi yang dengan gelisah.


Bagaimana tidak gelisah melihat wajah teman-temannya yang tampak penasaran dengan dirinya. Dan dia juga tidak tau harus melakukan apa-apa. Dia hanya takut jika memberi tahu sekarang akan banyak di cecar pertanyaan yang mungkin bisa mengarah pada masa lalunya.


" Aku harus mulai dari mana menceritakan semuanya," batin Vandy bingung.


" Pelit banget sih Azizi main rahasia-rahasiaan segala. Jelas mereka punya hubungan. Iqbal bahkan memanggil Tante Lina dengan sebutan nenek dan bahkan mereka akan menikah. Tetapi tetap bungkam dengan hubungan mereka. Memang dasar ya Azizi pelit," batin Raquel yang tampak semakin kesal. Bahkan makanannya sampai di tekan-tekan.


" Jika memang mereka punya hubungan dekat. Masa iya Vandy tidak cerita apa-apa sama Verro. Atau Vandy sudah cerita dan Verro sudah tau. Tetapi Verro juga belum sempat gitu cerita kepadaku," Batin Cherry yang juga penasaran dan hanya menerka-nerka saja.


" Sudah kenyang Iqbal?" tanya Lina. Iqbal mengangguk karena memang perutnya sudah penuh.

__ADS_1


" Baiklah sayang," sahut Lina mengacak-acak rambut Iqbal.


" Oh, iya ma, Iqbal ngantuk dan juga capek, sudah temani mama dan Dokter mencoba baju pengantin," sahut Iqbal. Azizi tersenyum memegang pipi putranya.


" Iqbal boleh tidak pulang, mau tidur," sahut Iqbal.


" Iya boleh, kamu pulang sama nenek ya. Biar mama dan Dokter melanjutkan makannya bersama teman-teman nya. Iqbal sama nenek," sahut Lina yang tampaknya ingin memberi Vandy dan Azizi waktu bicara pada 3 wanita yang di landa rasa penasaran itu.


" Baik nenek. Tapi nanti mama akan jemputkan? tanya Iqbal.


" Iya nak. Nanti mama akan jemput," jawab Azizi.


" Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Lina.


" Iya nek," Iqbal memeluk mamanya sebelum pergi. Azizi memeluknya dan mencium pucuk kepala Iqbal.


" Kami duluan ya, kalian lanjutkan makannya," ucap Lina pamitan.


" Iya Tante," makasih Tante," sahut Cherry.


" Sama-sama," sahut Lina. " Ayo Iqbal!" ajak Lina. Iqbal mengangguk.


" Daaa, Tante Sasy," ucap Iqbal melambaikan tangannya.


" Daaaaa," sahut Sasy yang juga melambaikan tangannya dan Iqbal dan Lina pun akhirnya pergi meninggalkan tempat makan itu.


" Hati-hati sayang," sahut Azizi saat putranya pergi.


Setelah kepergian Lina dan Iqbal. Cherry, Raquel langsung menatap Vandy dan Azizi dengan tatapan mengintimidasi dan Sasy sementara santai dengan meneguk minumannya.


Azizi dan Vandy kembali saling melihat dan mereka semakin gugup.


" Kalian kenapa diam saja dari tadi. Apa sariawan atau bagaimana," sahut Cherry tampak menyindir.


" Hmmm, tidak, tidak kok," sahut Azizi.


" Lalu kenapa diam. Memang tidak ada yang ingin kalian sampaikan," sahut Cherry lagi yang tampak tidak suka basa-basi.


Vandy terlihat menarik napas panjang dan membuangnya perlahan melihat 1 per 1 temannya itu dan sepertinya akan siap untuk mengatakan hubungannya yang sebenarnya dengan Azizi kepada teman-temannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2