
Setelah mobil yang di kendarai Varell sampai. Verro langsung berlari memasuki rumah sakit. Varell memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia menyusul Verro masuk kedalam. Begitu juga dengan Vandy yang juga sudah tiba.
Verro yang penuh kepanikan mencari di mana ruangan perawatan Cherry. Setelah bertanya dengan Suter. Akhirnya Verro menemukan di mana keberadaan Cherry.
Dari ujung koridor rumah sakit. Verro melihat Laskarta yang berdiri di depan ruang rumah sakit. Pria ayah dari pacarnya itu terlihat panik. Verro pun langsung menghampiri Laskarta.
" Om, bagaimana Cherry?" tanya Verro langsung pada intinya.
" Cherry mengalami kritis. Kondisinya memburuk," jawab Laskarta dengan air matanya yang jatuh kembali.
Verro yang hanya mendengar kalimat singkat itu juga memejamkan matanya sebentar. Air matanya juga akhirnya menetes.
" Memang apa yang terjadi?" tanya Verro.
" Om dan Cherry pergi kemakam mamanya. Makan bersama. Ke Mall, menonton bioskop, main game dan yang lainnya. Saat itu Cherry baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kondisinya memburuk. Walau bicaranya suka melantur. Tapi dia sangat terlihat seperti tidak sakit,"
" Cherry pamit ketoilet dan dia pingsan di sana. Om langsung membawanya kerumah sakit. Dokter mengatakan sejak siang jantung Cherry sudah mulai kumat. Om tidak tau kenapa dia harus terus menahannya," jelas Laskarta dengan lengkap.
Laskarta bicara bahkan kesulitan. Karena memang ini kondisi terburuk putrinya. Sampai Cherry harus kembali keritis.
" Seharusnya Om peka dengan kondisinya. Kalau saja Om tau dia tidak akan seperti ini," ucap Laskarta merasa bersalah.
Verro langsung memeluk Laskarta. Dia sangat tau apa yang di rasakan Laskarta. Perasaan mereka sama saat-saat harus ikhlas itu sudah semakin dekat.
Mereka berdua adalah Pria yang di cintai Cherry dan pasti ke-2 laki-laki hebat itu juga sangat mencintai Cherry.
" Tidak ada yang salah. Om jangan menyalahkan diri sendiri. Kita berdoa saja. Semoga dia baik-baik saja," ucap Verro penuh harapan walau harapan itu tipis.
" Pak Laskarta," tegur Dokter Arif yang menghampiri Verro dan Laskarta. Verro pun melepas pelukannya dari Laskarta.
" Iya Dokter," sahut Laskarta.
" Mari bicara sebentar," ucap Dokter Arif.
" Baik Dok," sahut Laskarta.
Sebelum pergi Dokter Arif juga menepuk bahu Verro sebagai penguat untuk Verro. Verro mengangguk dan harus berpura-pura tegar.
Setelah kepergian Dokter Arif. Verro mendekati ruangan Cherry. Memang belum di izinkan masuk. Verro harus melihat Cherry dari jendela yang sangat kecil.
Dia melihat kekasihnya terbaring dengan lemah. Pakaian kekasihnya sudah memakai seragam rumah sakit. Selang infus sudah terpasang.
Alat pernapasan juga terpasang di mulut Cherry. Meski dari luar Verro dapat mendengar mesin jantung yang berdetak kencang.
" Apa aku akan menjadi egois. Jika menyuruh kamu bertahan. Cherry aku bisa menerima jika kamu pergi sekarang. Aku mohon jangan sekarang," batin Verro dengan air matanya yang terus menetes.
Ditengah kesedihannya rangkulan tangan dari ke-2 temannya hinggap di pundaknya. Varell dan Vandy langsung menghampiri Verro dan memberinya kekuatan.
__ADS_1
" Dia akan baik-baik saja," ucap Varell menguatkan sahabatnya.
" Besok juga Cherry akan sekolah lagi," sambung Vandy yang jelas berharap banyak.
Verro mengangguk dan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Apa yang di katakan temannya adalah harapannya. Dia juga ingin Cherry kembali kesekolah besok.
Dia ingin menjemput Cherry kerumahnya. Berjalan sambil menggenggam tangannya menuju kelas. Verro masih berharap besok bisa melakukan itu.
***********
" Buka pintunya siapa di luar. Buka, buka pintunya," teriak Raquel dari dalam kamar mandi ruang ganti menggedor-gedor pintu yang terkunci dari luar.
" Siapa di luar, di dalam ada orang," teriak Raquel yang sudah berteriak-teriak memanggil orang-orang untuk membukakan pintu.
" Sial siapa yang mengunciku," desis Raquel kesal. Dia juga ingin menelpon. Tetapi ponselnya masih ada di dalam lokernya.
" Bagiamana aku mau keluar. Mana mungkin ada yang masuk lagi. Semua anak-anak yang mengikuti ekskul sudah pulang," batin Raquel yang tidak tau lagi apa yang harus di lakukannya.
" Raquel kamu di dalam," tiba-tiba terdengar suara Pria menggedor-gedor pintu kamar mandi. Membuat Raquel kaget.
" Aldo," pekik Raquel yang hafal suara Aldo.
" Iya aku ada di dalam," sahut Raquel berteriak.
" Mundurlah aku akan mendobraknya," ucap Aldo.
" Oke," sahut Raquel.
" Ayo!" Aldo langsung meraih tangan Raquel membawanya keluar dari tempat itu.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Aldo dengan wajah khawatirnya. Setelah sekian lama. Baru ini Aldo berbicara dengan Raquel
" Tidak. Aku tidak apa-apa. Makasih ya. Kamu sudah nolongin aku. Aku nggak tau jika tidak ada kamu. Mungkin aku sampai pagi di sini," ucap Raquel merasa lega bisa keluar.
" Sama-sama, ayo kita keluar!" ajak Aldo. Raquel mengangguk. Sebelum keluar. Raquel mengambil tas dan ponselnya dari dalam tas. Lalu keluar dari ruang ganti bersama Aldo.
**********
Raquel dan Aldo berjalan dengan langkah seirama menuju parkiran ke-2nya terlihat canggung tanpa ada obrolan.
" Kamu kok tau. Aku ada di sana?" tanya Raquel memulai pembicaraan.
" Aku tidak melihatmu keluar dari sekolah. Awalnya aku tau. Jika kamu ada di ruang ganti dan sedang terlibat cekcok dengan Mitha dan Selina. Tetapi saat aku ingin pulang dan masuk mobil. Aku melihat Selina dan Mitha sudah keluar dari sekolah dan kamu tidak ada. Aku menunggu lama. Dan kamu tidak keluar juga akhirnya aku ketempat ruang ganti. Dugaan ku benar kamu terjebak di sana," jelas Aldo dengan lengkap.
" Apa Selina dan Mitha yang mengunciku?" tanya Raquel pelan. Aldo mengangkat ke-2 bahunya.
" Aku juga tidak tau. Karena aku tidak melihatnya," jawab Aldo. Meski yakin itu perbuatan Selina dan Mitha. Tetapi dia tidak ingin menuduh. Karena tidak ada bukti.
__ADS_1
" Jika memang iya. Mereka sangat keterlaluan. Tetapi ya sudahlah. Mungkin mereka marah dan kesal. Jadi mereka ber-2 melampiaskannya dengan itu," sahut Raquel yang seperti tidak mempermasalahkan.
Aldo tersenyum tipis. Melihat Raquel yang sama sekali tidak marah dan bahkan tidak punya keinginan untuk membalasnya.
" Makasih ya sekali lagi," ucap Raquel lagi.
" Sama-sama," sahut Aldo. Menghadap Raquel.
" Kamu pulang naik apa?" tanya Aldo.
" Aku sudah suruh supir jemput. Paling 5 menit lagi juga sampai," jawab Raquel.
" Kamu pulang aja duluan," ucap Raquel yang tidak ingin Aldo repot.
" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Aldo.
" Hmmm, tidak apa-apa," sahut Raquel.
" Ya sudah. Aku pulang duluan," ucap Aldo membalikkan tubuhnya.
" Aldo!" panggil Raquel membuat Aldo mengehentikan langkahnya. Aldo pun kembali membalikkan tubuhnya.
" Ada apa?" tanya Aldo.
" Maaf," ucap Raquel pelan, membuat Aldo menaikkan 1alisnya.
" Aku minta maaf atas semuanya. Aku minta maaf sudah menuduh kamu yang tidak-tidak. Marah-marah sama kamu. Dan melakukan hal bodoh yang membuat kamu kehilangan nilai dan mendapat hukuman. Padahal kamu tidak salah,"
" Aku yang bodoh yang melakukan segala sesuatu tanpa berpikir dan mencari tahu dulu. Aku sangat malu dengan semua kelakuanku. Aku tidak tau caranya bagaimana untuk minta maaf dan mungkin ini waktunya aku juga tidak tau apa itu masih berlaku," ucap Raquel mengakui kesalahannya. Meminta maaf dengan tulus kepada Aldo dengan mengatakan semua kesalahannya.
" Apa ada lagi kesalahan yang belum kamu sebutkan," sahut Aldo tersenyum melihat Raquel yang benar-benar minta maaf. Menurutnya mengakui kesalahan itu adalah nila plus.
" Kesalahan ku sangat banyak. Sampai aku tidak tau apa aja. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku," sahut Raquel.
" Karena kesalahan kamu sangat banyak. Jadi tidak mudah mendapatkan maaf. Aku sangat di rugikan dalam hal ini," ucap Aldo.
" Lalu apa yang harus aku lakukan. Agar kamu memaafkanku?" tanya Raquel benar-benar akan melakukan apa agar mendapat maaf dari Aldo.
" Jadi lah pacarku," jawab Aldo to the point.
" Ha," pekik Raquel kaget. Apa telinganya tidak salah dengar.
" Supirmu sudah tiba. Pulanglah!" ucap Aldo mengarahkan kepalanya kearah mobil yang terparkir.
Aldo juga langsung pergi memasuki mobilnya membiarkan Raquel dalam kebingungan.
" Apa yang di katakannya tadi. Menjadi pacar. Apa aku tidak salah dengar. Iya aku pasti salah dengar," gerutu Raquel seperti orang linglung gara-gara tembakan Aldo yang mendadak.
__ADS_1
" Lalu kalau aku salah dengar. Lalu apa yang di katakannya tadi," ucap Raquel menggaruk-garuk kepalanya.
Bersambung