
Varell dan Nadya membantu Helena menaiki ranjang untuk beristirahat. Helena yang sudah berbaring, Nadya langsung menarik selimut sampai dadanya.
" Mama istirahat ya," ucap Nadya. Helena menganggukkan kepalanya.
" Varell kapan mama akan pulang?" tanya Helena.
" Mama bersabar ya Verro bilang mama akan secepatnya pulang," jawab Varell.
" Iya mah, mama harus bersabar. Semua juga demi kesembuhan mama. Lagian Nadya sama Varell kan di sini terus buat jagain mama. Jadi bersabarlah ma," ucap Nadya yang menambahi.
" Mama hanya hanya bosan saja di rumah sakit, mama juga kangen sama rumah," ucap Helena dengan wajahnya yang terlihat bosan.
" Mama sabar dong, paling sebentar lagi mama juga pulang," sahut Verro.
" Ya sudah lah," sahut Helena. Nadya dan Varell sama-sama melihat dengan tersenyum.
" Ya sudah mama istirahat ya, jangan banyak berpikir. Karena tidak baik untuk kesehatan mama," ucap Nadya yang memberikan saran pada Helena.
" Iya Nadya," sahut Helena. " Oh, iya kalian berdua ini tinggal di mana sekarang?" tanya Helena tiba-tiba.
" Kita tinggal di rumah Cherry yang lama," sahut Varell.
" Sebelum mama pulang, kalian kemasin barang-barang kalian dan pindah ke rumah. Punya rumah besar. Tetapi anak dan menantu tidak ada di sana, sama aja menyebalkan," ucap Helena yang membuat Nadya dan Varell sama-sama saling melihat dengan tersenyum lebar.
" Mama mau menyuruh kami untuk tinggal sama mama?" tanya Varell memastikan.
" Ya iyalah, kamu mau mama tinggal sendirian tanpa ada temannya," sahut Helena.
" Hmmm, tapi Nadya mau tidak ya," sahut Varell. Helena langsung menatap horor Nadya.
" Kamu tidak mau. Kamu hanya mau sama anaknya saja. Tanpa ingin orang tuanya," sahut Helena yang langsung sensitif.
" Tidak mah, Nadya tidak jawab apa-apa," sahut Nadya panik.
" Lalu kenapa kayak lama gitu mikirnya," sahut Helena. Dan Varell tertawa kecil mendengarnya
" Kamu sih," sahut Nadya kesal. " Mama Nadya tidak mikir apa-apa. Justru Nadya senang bisa tinggal sama mama," sahut Nadya.
__ADS_1
" Jadi kalian mau kan tinggal sama mama," sahut Helena memastikan.
" Iya mama ku sayang kita mau kok. Jadi santai saja," sahut Varell.
" Awas aja kalau bohong," sahut Helena yang memberi ancaman yang membuat Nadya dan Varell jadi ngeri-ngeri sedap.
" Hmmm, Nadya mau bilang sesuatu sama mama dan juga Varell," ucap Nadya.
" Apa?" tanya Helena yang heran.
" Ada apa sayang?" tanya Varell yang juga heran dengan apa yang ingin di katakan istrinya.
Nadya berjalan menuju sofa mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan masih di simpan di tangannya. Lalu langsung mengahampiri suaminya dan juga mertuanya kembali.
" Kamu bilang apa sayang?" tanya Varell yang penasaran.
" Nadya tidak menyangka jika hari ini adalah paling bahagia untuk Nadya dan di hari bahagia ini sangat tepat untuk menunjukkan ini pada mama dan juga suami Nadya," ucap Nadya.
" Memang mau menunjukkan apa?" tanya Varell. Nadya pun membuka tangannya dan memberikan kertas kecil yang di pegangnya pada Varell dan Varell langsung mengambilnya dan betapa terkejutnya Varell melihat apa yang di berikan istrinya.
" Sayang, kamu!" lirih Varell yang tampak schock. Nadya mengangguk.
" Hamil, kamu sedang mengandung?" tanya Helena yang juga terkejut.
" Iya mah. Nadya sedang hamil. Nadya mengandung cucu mama," ucap Nadya dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Alhamdulillah," sahut Helena yang terlihat bahagia.
" Sayang," sahut Varell yang langsung memeluk istrinya dengan erat yang merasakan kebahagian yang berlipat ganda.
" Terima kasih sayang, kamu telah menjadikan ku sebagai seorang ayah. Terima kasih sayang," ucap Varell yang begitu bahagia.
" Nadya, makasih ya, kamu telah menjadikan saya sebagai seorang nenek dan sebentar lagi saya akan menggendong cucu," ucap Helena yang terlihat begitu bahagia.
" Nadya yang berterima kasih sama mama. Karena sudah menerima Nadya di keluarga ini. Nadya begitu bahagia dan mungkin janin yang di kandungan Nadya adalah kado terindah untuk kita semua," sahut Nadya.
" Iya kamu benar, dia janin yang memberikan kebahagian untuk kita semua," sahut Helena yang begitu terharu. Dan Varell juga terus memeluk istrinya dengan penuh rasa haru yang luar biasa yang dirinya sebentar lagi menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Nadya melepas pelukan dari suaminya dan langsung memeluk ibu mertuanya itu.
" Terima kasih menantuku. Kamu wanita yang baik, makasih menantuku," ucap Helena yang terus mengucapkan terima kasih kepada Nadya. Nadya mengangguk dengan mengusap-usap punggung mamanya itu yang penuh dengan rasa haru.
" Ya Allah terima kasih untuk kebahagian yang sangat besar ini. Terima kasih engkau juga mempercayakan aku dan istriku untuk memiliki momongan, terima kasih ya Allah. Terima kasih," batin Varell yang begitu terharu.
**********
Setelah Helena beristirahat di kamar dengan tenang. Nadya dan Varell ternyata menghabiskan waktu dengan makan di luar. Mereka sudah lama tidak bermesraan dan tidak ada salahnya kali ini mereka bermesraan dulu.
Di mana mereka makan dengan saling berhadapan dengan makanan yang ada di meja Meraka.
" Kapan kamu periksa kandungan?" tanya Varell.
" Hmmm, baru 3 hari lalu. Sebenarnya dari Minggu kemari aku merasa mual-mual dan enak badan gitu. Aku punya firasat hamil dan aku coba tespeck dan positif. Aku tidak yakin sih dan ingin memberi tahumu. Tetapi masih ragu. Selagi di rumah sakit aku coba cek. Ternyata benar aku sedang hamil," jawab Nadya dengan memberikan penjelasan pada suaminya.
" Lalu tidak langsung memberitahu nya padaku?" tanya Varell.
" Kan momennya belum tepat. Mama masih marah-marah saat itu dan masih sensitif padaku. Jadi aku belum memberi tahu. Karena merasa waktunya tidak cocok dan tadi waktunya sangat cocok ya sudah aku langsung beri tahu kamu sekalian sama mama juga," ucap Nadya yang tersenyum lebar.
" Kamu tidak marahkan aku memberitahunya telat sedikit?" tanya Nadya yang wajahnya terlihat panik. Namun Varell tersenyum melihat kepanikan istrinya itu.
" Tidak Nadya. Aku tidak marah sama sekali. Aku tidak peduli mau kamu memberitahunya kapanpun itu yang penting istriku sedang mengandung," ucap Varell dengan tersenyum.
" Jadi kamu bahagia?" tanya Nadya. Varell mengangguk.
" Aku jelas bahagia. Kamu tau kebahagian ku berlipat ganda yang pertama mama telah menerima pernikahan kita dan yang kedua kamu telah menjadikanku seorang ayah dan semua itu berkat kesabaran kamu kebesaran hati kamu," ucap Varell meraih ke-2 tangan Nadya dan menggenggamnya dengan erat.
" Sayang, terima kasih kamu menunggu ku selama ini. Kamu sudah memberiku banyak kebahagian. Kamu menjadi istriku dan sabar dengan semuanya. Aku sangat beruntung memiliki kamu," ucap Varrel dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Sama-sama sayang. Aku juga bahagia yang telah memiliki kamu. Bukan aku yang sabar. Tetapi kita berdua yang sabar dalam menghadapi rumah tangga kita," ucap Nadya. Varell mengangguk.
" I love you," ucap Nadya
" I love you to," sahut Nadya.
" Ayo makan lagi," ucap Nadya," Varell mengangguk dan langsung menyuapi istrinya dan mereka makan dengan romantis yang sama-sama saling menyuapi.
__ADS_1
Bersambung.