DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 56 Perasaan yang terucap


__ADS_3

Verro langsung membawa Cherry ke luar dari dalam Villa. Saat Verro membawa Cherry dengan buru-buru dan rasa panik. Murid-murid yang lain mulai melihat ke arah Verro dan juga Cherry.


" Cherry," pekik Sasy kaget dan langsung berlari menghampiri Cherry dan Verro yang di ikuti Azizi dan Toby.


" Kenapa Cherry?" tanya Nadya yang juga melihat kerumunan. Varell yang duduk di sampingnya langsung berdiri dan menghampiri Verro. Nadya juga ikut menyusul Vandy.


" Cherry kenapa?" tanya Sasy panik.


" Dia pingsan," jawab Verro dengan suara bergetar.


" Ayo kita bawa kerumah sakit," ujar Pak Lucky yang juga ada di lokasi.


Toby langsung membuka pintu mobi dan Verro langsung membawa Cherry masuk.


" Aku ikut," ucap Sasy yang sangat khawatir kepada sahabatnya.


" Ya sudah, yang lainnya tunggu di Villa," ucap Pak Luky yang buru-buru masuk mobil. Sasy, Verro, dan Cherry berada di belakang.


Dengan cepat Varell langsung memasuki mobil bagian depan sebelum Pak Luky menyetir. Dia juga sangat khawatir dengan Cherry yang sudah pucat. Pak Luky langsung menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.


" Semoga saja Cherry tidak apa?" ucap Azizi mengigit ujung jarinya.


" Benar, kasian sekali dia. Seharusnya dia istrirahat lebih awal," sambung Nadya yang ikut cemas.


Tiba-tiba Vandy datang dan melihat kerumunan. Vandy juga melihat mobil yang melaju kencang.


" Ada apa ini?" tanya Vandy bingung.


" Cherry pingsan dan sedang di bawa kerumah sakit," jawab Azizi.


" Apa," pekik Vandy kaget mendengarnya.


Setelah mendengar itu Vandy langsung berlari.


" Vandy mau kemana?" tanya Azizi.


" Menyusul," jawab Vandy berteriak.


" Aku ikut," sahut Toby yang yang mengejar Vandy. Nadya dan Azizi saling melihat, bergenggaman tangan dan ikut berlari mengejar Toby yang mengejar Vandy.


Padahal mereka juga tidak tau mau menaiki apa menyusul kerumah sakit. Karena memang mereka tidak punya kendaraan.


Rumah sakit.


Cherry sudah terbaring dengan selang infus ditangannya memakai pakaian rumah sakit.


Mungkin Cherry sangat kelelahan dengan beberapa kegiatan belakangan ini. Cherry memang mengikuti tanpa ada permisi untuk istirahat.


Sehingga kondisinya semakin menurun belum lagi dengan pikiran mengenai Verro dan Fiona. Jadi wajar saja jika Cherry melemah.

__ADS_1


Verro setia menunggu Cherry yang masih tidak sadarkan diri. Dokter mengatakan jika Cherry hanya perlu istrirahat. Walau seperti itu. Tetapi Verro sangat khwatir dengan Cherry.


Verro yang menggengam erat tangan Cherry terus melihat wajah Cherry yang kunjung tidak sadarkan diri.


" Kenapa kamu terus spele dengan keadaanmu," ucap Verry dengan matanya bergenang.


Sebenarnya saat Cherry masuk rumah sakit. Adalah yang menakutkan untuk Verro. Bukan karena takut di marahi papanya. Tetapi Dia benar-benar takut kehilangan Cherry dan merasa gagal tidak bisa menjaga Cherry.


Varell dan Sasy memasuki ruang perawatan Cherry. Sasy langsung mendekati Cherry dan mengusap rambut Cherry yang masih di basahi keringat.


" Kenapa kondisinya bisa menurun?" tanya Varell.


" Tadi Cherry sempat mengeluh sakit dan mau istirahat," jawab Sasy.


" Seharusnya aku tidak menghentikan Cherry saat ingin pergi," batin Verro yang menyesali berdebat dulu dengan Cherry. Padahal Cherry sedang menahan sakit.


" Sebenarnya ada apa, kenapa belakangan ini Cherry sangat aneh," ucap Varell yang juga memperhatikan perilaku Cherry.


" Kalian ada masalah?" tanya Varell pada Verro.


" Aku juga tidak tau," sahut Verro yang benar-benar tidak tau apa-apa.


" Pasti ada yang tidak beres," batin Varell yang merasa aneh.


Sementara di sisi lain. Vandy, Nadya, Toby dan Azizi berjalan di pinggir jalan menunggu kendaraan yang bisa membawa mereka ke rumah sakit.


" Vandy mau berapa lama lagi kita harus berjalan," keluh Toby yang sudah kelelahan dengan keringatan bercucuran.


" Aku juga tidak tau, sedari tadi tidak ada kendaraan," sahut Vandy.


" Memang rumah sakitnya masih jauh?" tanya Nadya yang juga kelelahan.


" Sepertinya," sahut Vandy yang juga tidak tau berapa jauh rumah sakit itu.


************


Malam hari tiba, Cherry masih berada di rumah sakit dan Verro tertidur dalam menjaga Cherry. Verro berbaring di sofa dengan meletakkan ke-2 tangannya di dadanya. Tetapi suara mengigau Verro membuat Cherry terbangun.


" Jangan, aku mohon jangan pergi. Bangunlah mah, bangun, jangan tinggalkan Verro, bangun mah, Verro mohon ma," ucap Verro yang bermimpi buruk dengan menggeleng-geleng kan kepalanya, kekiri dan kekanan dengan kata yang berulang-ulang.


Keringat dingin bahkan sudah membasahi wajah Verro. Verro seperti ketakutan di dalam mimpinya.


Cherry yang terbaring di ranjang, melihat heran ke arah Verro yang bermimpi buruk. Bahkan Cherry melihat Verro mengeluarkan air mata.


" Kenapa Verro seperti itu, apa dia memimpikan mamanya," tebak Cherry yang mendengar Verro terus menyebut nama mamanya.


" Aneh sekali, aku baru pertama kali melihat Verro sangat lemah. Dia pasti merindukan mamanya, sampai terbawa mimpi dan bahkan Verro menangis," Cherry terus bergerutu melihat air mata yang menetes dari kelopak mata Verro.


Ini memang pertama kali Cherry melihat Verro menangis dan bahkan sangat lemah. Di balik sikaf Verro yang cuek. Sebenarnya dia sangat lemah apalagi soal kehilangan mamanya.

__ADS_1


" Mama," teriak Verro yang langsung terduduk.


Cherry yang melihat Verro bangun. Langsung pura-pura tertidur.


" Ha-ha-ha-ha-ha," Deru napas Verro yang naik turun. Verro mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya saat merasa sangat lelah.


" Ma," lirih Verro yang benar-benar teringat mamanya yang meninggal di depan matanya di rumah sakit dalam ke adaan sekarat.


" Maafkan Verro, Verro tidak sempat memberikan mama kebahagian," ucap Verro dengan suara serak penuh penyesalan.


Verro melihat ke arah Cherry yang masih tertidur. Verro langsung berdiri dan mendekati Cherry. Verro memperbaiki selimut Cherry yang sudah terbuka.


" Jangan pergi Cherry, aku mohon tetap berada di sisi ku," gumam Verro. Cherry yang berpura-pura tidur benar-benar kaget mendengar ucapan Verro. Dia tidak menyangka jika Verro mengatakan itu.


Verro menundukkan kepalanya dan mencium kening Cherry. Sontak membuat Cherry semakin terkejut dengan perlakuan Verro yang membuat debaran jantungnya bergetar hebat.


Hangat di keningnya membuat hatinya bergejolak, tanda tanya dan ingin membuka mata bertanya apa yang terjadi.


" Aku tidak ingin kehilanganmu, tetap bersamaku," gumam Verro lagi yang memang berbicara tanpa memikirkan apa-apa. Tidak tau kenapa kata-kata itu sangat enteng di keluarkannya.


Setelah menatap Cherry sebentar. Verro yang merasa masih lemas dengan suara berteriak akhirnya pergi memasuki kamar mandi.


Kepergian Verro membuat Cherry meneteskan air mata. Perlahan membuka matanya. Cherry mengusap air mata itu. Lalu tangannya berpindah pada dadanya merasakan debaran jantungnya.


Cherry benar-benar bingung dengan perasaannya. Jika di tanya sayang pasti Cherry menyayangi Verro. Karena Verro sahabatnya sejak kecil. Tetapi bagaimana dengan perasaan yang berlebih. Cherry tidak bisa menentukannya.


****************


Raquel yang merasa tebggoroknnya kering memilih turun kedapur mengambil air minum. Karena air di kamar mereka kosong.


Matanya masih mengantuk berjalan menuju dapur yang gelap. Ternyata Aldo juga ada di dapur yang juga sedang mengambil minum dari dalam kulkas.


Aldo menyadari kedatangan Raquel yang seperti wanita tidur berjalan. Aldo diam tidak menegur dan hanya melihat apa yang di lakukan Raquel yang tidak menyadari keberadaannya. Mungkin juga karena gelap.


Aldo melihat Raquel mengambil gelas dan menuang air dari despenser. Tetapi Aldo heran Raquel mengambil air panas. Setelah gelas itu penuh Raquel langsung meminumnya dan Aldo ingin mencegah tetapi Raquel sudah meminumnya


" Auhhhh," lirih Raquel yang lidahnya kepanasan. Aldo hanya mendelik melihat Raquel.


" Kok panas," protes Raquel mengipas-ngipal lidahnya. Saat Raquel ingin meletakkan gelas malah gelas tergelincir dan akhirnya airnya mengenai tangan Raquel.


" Auhhhh," lirih Raquel kepanasan. Aldo yang sedari tadi menonton langsung menghampiri Raquel.


" Kau tidak apa-apa?" tanya Aldo panik dan refleks memegang tangan Raquel.


" Kau, kenapa kau ada di sini?" tanya Raquel langsung menarik tangannya dari Aldo.


" Aku memang sedari tadi di sini," jawab Aldo. Sementara Raquel menggoyang-goyangkan tangannya yang kepanasan.


💝💝Bersambung

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2