DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 361 Sakit hati yang sesungguhnya.


__ADS_3

Cherry dan yang lainnya yang masih tetap berada di Restaurant itu yang makan bersama dengan saling romantis-romantisan dengan pasangan masing-masing. Ternyata tidak tau sejak kapan Sasy ada di sana.


Di mana Sasy berada di luar Restaurant yang di lapisi dingding kaca melihat teman-temannya yang tampak bahagia tanpa ada dirinya. Yang bisa happy-happy tanpa ada dirinya. Apa yang di lihat Sasy membuat Sasy meneteskan air matanya.


Apa yang di lihatnya mungkin membuatnya pasti merasa iri. Namu lebih tepatnya merasa jika sahabat-sahabatnya meninggalkan dirinya.


Cherry yang makan tidak sengaja melihat ke arah luar dan melihat Sasy. Namun Sasy langsung dengan cepat membalikkan tubuhnya dan langsung pergi yang membuat Cherry heran.


" Sasy!" lirih Cherry..


" Ada apa sayang?" tanya Verro yang melihat istrinya tampak heran dengan pandangan Cherry ke arah luar.


" Aku seperti melihat Sasy," ucap Cherry.


" Sasy, masa sih di mana?" tanya Raquel yang melihat-lihat keluar, yang mencari-cari Sasy. Yang lain juga melakukan hal yang sama kepala mereka berkeliling mencari Sasy yang di katakan Cherry.


" Nggak ada Sasy, di mana dia," sahut Nadya yang juga melihat-lihat di sekitarnya.


" Kamu salah lihat kali Cherry," sahut Azizi.


" Aku tidak salah lihat, aku benar-benar melihat Sasy ada di sana!" tunjuk Cherry dengan yakin.


" Biar aku cek," sahut Verro langsung berdiri dan mengajak dari tempat duduknya dan langsung pergi keluar Restaurant untuk mengecek apakah ada Sasy atau tidak.


Verro melihat di sekelilingnya dengan kepalanya yang berkeliling. Namun tidak menemukan Sasy sama sekali.


" Tidak ada, Cherry pasti salah lihat," gumam Verro yang memilih kembali untuk masuk.


Yang mana ternyata Sasy bersembunyi di balik bunga yang yang rindang agar tidak di temukan Verro. Sasy mengusap air matanya dan langsung pergi dari tempat itu sebelum yang melihatnya ada di sana.


Verro kembali ke meja di mana istri dan teman-temannya berada di sana.


" Ada Sasy?" tanya Aldo.


" Tidak ada sama sekali. Aku rasa kamu cuma salah lihat," jawab Verro.


" Benar Cherry, lagian Sasy mana mungkin ada. Tadi dia bilang jelas-jelas tidak bisa datang," sahut Raquel.


" Lagian kalau Sasy datang pasti akan nyamperin kita lah, mana mungkin di sana," sahut Azizi.


" Benar kata Azizi, lagian ngapain juga dia ada di sana dan tidak menghampiri kita," sahut Nadya menambahi.


" Sayang, kamu pasti salah lihat, aku sudah mengeceknya betul-betul dan sama sekali tidak ada Sasy," sahut Verro membenarkan.


" Mana mungkin aku salah lihat, aku jelas melihatnya, dia memang ada. Tetapi kenapa Sasy tidak menghampiri kami dan kenapa dia malah diam tanpa datang kemari," batin Cherry yang masih tetap yakin dengan penglihatannya yang nyata yang benar-benar bertemu dengan Sasy.


" Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Sasy," batin Cherry yang terus kepikaran temannya itu.


" Sayang!" tegur Verro yang melihat istrinya bengong.


" Iya," sahut Cherry dengan suara sendunya.


" Kamu kenapa wajahnya di tekuk kayak gitu?" tanya Verro dengan mengusap-usap rambut Cherry.


" Tidak apa-apa," sahut Cherry dengan mengeluarkan senyum tipisnya.


" Ya sudah kamu makan lagi ya. Nanti makanannya tidak enak kalau sudah dingin," ucap Verro.


" Iya," sahut Cherry. Walaupun makan dengan teman-temannya yang lengkap tetap saja Cherry merasa tidak nyaman. Apa lagi pikirannya yang sudah terbagi dengan Sasy.


*************


Sasy berjalan sendirian di pinggir jalan yang juga banyak pejalan kaki yang melakukan hal yang sama dengannya berjalan-jalan.


" Aku benar-benar sendiri," ucap Sasy dengan hembusan napas beratnya, Sasy tiba-tiba tersenyum miring.


" Semuanya benar-benar berubah, mereka secara tidak langsung benar-benar sudah menganggapku tidak ada. Apa mereka lupa jika tidak ada aku apa mereka bisa seperti itu, Verro kamu begitu bahagia dengan hubungan kamu dan Cherry, seakan kamu melupakan aku yang sudah matian-matian menyatukan kalian, dari hilang Cherry hilang ingatan sampai kalian ribut dengan Fiona aku berkorban untuk semua itu. Tapi apa kalian ber-2 seakan melupakanku,"

__ADS_1


" Sama saja kamu Vandy. Aku berusaha menyatukan mu dengan Azizi. Aku yang menolong Azizi, tinggal di rumahku dan membujuknya agar menerimamu dan memaafkanmu. Tapi apa setelah kalian bersatu. Dengan entengnya kata-kata pedas itu keluar dari mulutmu. Apa kamu pikir aku tidak sakit hati apa,"


" Raquel saat kamu ribut dengan Aldo. Atau kamu menjadi jomblo sendirian. Aku malah berusaha mendekatkanmu dengan orang lain. Agar kamu tidak kesepian. Aku selalu menghiburku dan kata-kata memberimu semangat. Tetapi apa yang kamu lakukan. Mulutmu lebih pedas. Seakan kau merasa sudah paling sempurna yang hanya mengejekku,"


" Sama saja dengan Nadya dan Varell. Kalian juga tidak berterima kasih dan lupa pada daratan. Sementara aku hubungan ku yang berantakan dengan Toby. Tidak satupun kalian ada di sisiku. Sekedar bertanya ada apa. Kalian tidak peduli kepadaku. Kalian malah menambahi lukaku. Kalian benar-benar jahat,". Sasy terus bergerutu mengeluarkan semua isi hatinya.


Dengan langkahnya yang terus berjalan. Sasy benar-benar begitu kecewa dengan teman-temannya yang lupa daratan. Air matanya harus menetes lagi yang merasa benar-benar sendirian.


" Auhhhh," tiba-tiba Sasy berteriak saat ada yang menabraknya dengan kuat.


" Auhhhh, sakit," keluh Selina yang ternyata menabrak Sasy. Tetapi malah Selina yang terjatuh dan terduduk di lantai.


" Selina kamu ini benar-benar ya," ucap Sasy kesal sembari memegang bahubta.


" Ishhh, malah memarahiku lagi, kamu tuh yang salah, di jalanan melamun," sambar Selina yang tidak ingin di salahkan.


" Enak aja main salah-salahan. Jelas-jelas kamu yang salah," sahut Sasy yang tidak mau kalah.


" Apaan sih, ya kamu lah, lihat apa yang terjadi hah!" sahut Selina yang tidak mau di salahin.


" Enak aja kamu yang salah," sahut Sasy.


" Sudah-sudah, bantuin aku, aku yang terjatuh. Jadi kamu bantuin aku," sahut Selina mengulurkan tangannya.


" Isssss, menyebalkan," sahut Sasy yang kesal dan terpaksa membantu Selina untuk berdiri. Selina membersih- bersihkan pantatnya yang kotor.


" Gara-gara kamu nih," ucap Selina sewot. Sasy hanya berdesis dengan menarik ujung bibirnya.


" Makanya jalan jangan cepat-cepqt," ucap Sasy.


" Jalan itu memang harus cepat. Kalau tidak cepat kapan sampainya. Kamu seharusnya jalan tidak melamun," sahut Selina yang tidak mau kalah.


2 orang itu memang kalau di pertemukan akan seperti itu, sama-sama tidak mau kalah, sama-sama keras kepala dan pasti ujung-ujungnya ribut.


*********


" Hmmm, kamu kok tumben ngajak aku," sahut Selina yang ternyata Sasy yang mengajaknya.


" Memang kenapa kalau aku mengajakmu tidak boleh," sahut Sasy.


" Ya nggak apa-apa sih, kan hanya heran aja," sahut Selina, " Nggak biasanya kamu seperti itu. Kamu itu seperti seorang wanita yang kesepian. Makanya mengajakku kemari. jangan-jangan benar lagi. Kamu itu tidak punya teman dan mengajakku kemari supaya kamu ada temannya," ucap Selina yang menatap Sasy curiga.


" Sok tau kamu," sahut Sasy yang meneguk kopi hangat itu.


" Hmmm, kamu kok ada di sini. Kenapa tidak gabung sama Cherry dan sama yang lainnya?" tanya Selina membuat Sasy melihat serius ke arah Selina.


" Maksud kamu?" tanya Sasy.


" Aku tadi tidak moll dan aku tidak sengaja melihat Cherry dan yang lainnya dan kamu tidak ada di sana. Kamu kenapa, aku tau kamu pasti di musuhi ya," ucap Selina lagi yang mengejek Sasy.


" Nggak, aku tidak di musuhi. Hanya saja mereka sudah punya suami dan istri masing-masing dan aku belum. Jadi apa yang mereka bahas sudah berbeda denganku dan pasti tidak menyambung denganku. Jadi aku memilih untuk tidak bersama dengan mereka," jawab Sasy apa adanya.


" Apa nama lainnya kamu menghindari mereka?" tanya Sasy menebak-nebak.


" Tidak, aku tidak menghindar. Hanya saja sadar diri," sahut Sasy yang masih mengelak.


" Ya ampun Sasy itu sama aja kali. Lagian ya memang benar. Kalau kamu gabung sama mereka ya pasti tidak akan menyambung ya tapikan kamu tidak mungkin juga harus memisahkan diri dari mereka. Masa iya dalam pertemanan seperti itu bukannya selama ini kalian itu sangat dekat," ucap Selina yang mengeluarkan pendapatnya.


" Sahabat itu tidak ada. Aku juga dulu berpikir seperti itu. Ketika bersahabat sejak SMA dan sampai sudah semakin dewasa bertahun-tahun bersahabat. Ternyata ketika sudah menikah makan persahabatan akan luntur dengan sendirinya. Karena sudah mulai sibuk dengan pasangan masing-masing," ucap Sasy dengan suara sendunya.


" Nggak ah, banyak kok yang bersabar sampai tua," sahut Selina.


" Itu hanya untuk orang lain. Tidak dalam sirklus persahabatan mu," sahut Sasy.


" Sasy kenapa sih, dia kayak aneh gitu ya. Kayak terjadi sesuatu gitu," batin Selina.


" Hmmm, sudahlah nggak usah di bahas, aku malah jika membahas persabatan, sama sekali tidak guna," sahut Sasy.

__ADS_1


" Oke," sahut Selina yang kelihatan tidak mau juga ikut campur terlalu dalam.


Tetapi Selina bisa melihat jelas. Jika Sasy memang sedang bermasalah dengan sahabat-sahabatnya yang lainnya. Walau Selina sebenarnya sangat kepo. Tetapi dia juga tau batasannya dan bisa-bisa Sasy marah lagi nanti dan Selina tidak akan mendapatkan traktiran. Dia tidak ingin hal itu terjadi.


**********


Rumah sakit.


Cherry hari ini ikut kerumah sakit untuk memeriksakan kandungannya yang sudah memasuki bukan Ke-6. Tidak terasa memang kandungan Cherry sudah mulai membesar.


" Sayang kamu tunggu sini ya, aku panggil Dokter Anggi duku!" ucap Verro memegang bahu istrinya.


" Iya jangan lama-lama ya," sahut Cherry. Verro hanya mengangguk dan langsung pergi. Cherry yang memegang perutnya mencari tempat duduk. Maklumlah kalau hamil tua. Kakinya akan sakit jika berdiri lama-lama. Saat ingin duduk Cherry tidak sengaja melihat Sasy.


" Sasy!" panggil Cherry yang langsung menghampiri Sasy. Sasy mau tidak mau menghentikan langkahnya. Karen tidak ingin Cherry yang hamil harus lari-larian.


" Cherry, kamu ngapain di sini?" tanya Sasy berusaha untuk santai.


" Aku lagi periksa kandungan. Oh iya kamu kemarin malam lagi di Mall ya?" tanya Cherry.


" Mall. Tidak, aku tidak ke Mall," jawab Sasy bohong. Namun wajah Cherry sangat tidak percaya dengan kata-kata Sasy.


" Are you oke?" tanya Cherry tiba-tiba. Sasy tersenyum terpaksa mendengar ucapan Cherry.


" Memang aku kenapa. Ya aku baik-baik ajalah. Kamu ini aneh," sahut Sasy.


" Sasy kamu tidak lagi menyembunyikan sesuatukan?" tanya Cherry yang memang merasa sahabatnya itu sudah lain.


" Apa yang aku sembunyikan. Dahlan Cherry kamu itu aneh-aneh aja, aku baik-baik aja," sahut Sasy membenarkan.


" Syukurlah, kalau kamu memang baik-baik saja. Sasy kita ini berteman. Aku tidak mau kalau kamu harus menyembunyikan sesuatu," ucap Cherry.


" Aku bahkan menghubungi kalian di saat aku sedang hancur. Tapi kalian semua dengan mudahnya membawa-bawa nama pernikahan. Jadi seharusnya aku menyembunyikan atau tidak itu bukan urusan kalian," batin Sasy yang masih punya rasa kecewa yang sangat besar.


" Sasy, Cherry," sahut Raquel tiba-tiba dan langsung meletakkan tangannya di pundak Sasy merangkul Sasy. Sasy yang kesal langsung melepas tangan itu dari pundaknya.


" Kalian pada ngobrolin apa sih," sahut Raquel. Sasy sepertinya lebih marah pada Raquel sampai melihat Raquel yang berdiri di sampingnya pun seperti tidak sudi.


" Sasy kamu nggak ikut kemarin kemarin bareng-bareng kita. Kamu tau tidak kita semua itu seru-seruan bersama. Kamu sih malah absen. Seharusnya kamu ada di sana," ucap Raquel yang malah pamer yang membuat Sasy semakin dongkol.


" Aku permisi dulu," sahut Sasy dengan ketus yang langsung pergi.


" Heh, Sasy mau kemana?" panggil Raquel heran dengan Sasy yang asal pergi aja. Cherry pun bertambah heran.


" Kenapa sih Sasy belakangan ini aneh banget," ucap Raquel.


" Aku juga tidak tau Raquel. Oh iya Raquel apa Sasy pernah menelponmu?" tanya Cherry.


" Hmmm," Raquel tampak berpikir mengingat-ingat. Kapan Sasy menelponnya.


" Oh, iya waktu selesai nikahan Nadya dan Varell. Bukannya dia menelpon dan bahkan juga menelpon Vandy," sahut Raquel mengingat.


" Sasy bilang apa sama kamu?" tanya Cherry.


" Dia bilang mau cerita. Cuma saat itu Aldo lagi biasa minta jatah. Jadi aku bilang besok aja," jawab Raquel.


" Malam itu juga Sasy juga menelponku dan Verro yang mengangkat. Dia bukan hanya menelpon Raquel, tetapi aku dan juga menelpon Vandy. Kenapa ya dia malam-malam menelpon. Tapi paginya aku tanyanya lagi, dia mengatakan tidak apa-apa. Ada apa sebenarnya dengannya," batin Cherry semakin merasa ada yang tidak beres.


" Cherry!" tegur Raquel yang melihat Cherry bengong.


" Raquel kamu merasa tidak. Kalau Sasy seperti menyembunyikan sesuatu dari kita," ucap Cherry.


" Menyembunyikan apa?" tanya Raquel.


" Aku juga tidak tau. Tapi sudahlah, nanti aku coba tanyakan Toby. Mungkin saja Toby tau sesuatu pada Sasy," sahut Cherry. Raquel hanya mengangguk-angguk saja.


" Ya semoga saja memang dia tidak menyembunyikan apa-apa. Karena memang biasanya dia bukan orang yang seperti itu," ucap Raquel. Cherry hanya mengangguk yang pasti berharap sama dengan Raquel.

__ADS_1


__ADS_2