
7 Tahun kemudian
Pemakaman mewah
Pria gagah tampan berjas hitam senada dengan celana hitam dengan kacamata yang yang terpasang di matanya.
Berdiri di depan pemakaman dengan memegang boucket bunga mawar pink. Makam yang indah dengan tanaman bunga mawar tumbuh di atas pemakaman itu.
Verro membuka kaca matanya. Melihat tulisan nama yang ada di mesan itu. Cherry Casandra Laskarta. Verro menatap nama tulisan. Menatap nama itu dalam-dalam dengan matanya yang bergenang.
Verro berjongkok di samping makam itu meletakkan Boucket yang di atas pusaran makam itu. Makam yang selalu cantik dan bunga-bunga yang tidak pernah layu. Karena dia selalu mengunjungi makam itu.
Tangannya mengusap lembut foto yang tersenyum lebar berada yang di dalam bingkai itu. Cherry istrinya yang sudah meninggal 7 tahun silam.
" Hay sayang kamu apa kabar," ucap Verro. Jika di tanya ingin menangis pasti.
Tetapi selama ini dia masih menepati janjinya kepada istrinya itu. Jika dia datang berkunjung tidak boleh menangis. Karena Cherry mengatakan tidak akan menemui Verro kalau Verro masih menangis.
Jadi Verro harus menahan air matanya. Karena dia ingin istrinya menemuinya. Dan tidak kecewa dengannya.
" Aku sangat merindukanmu, sangat merindukanmu. Kamu juga pastikan," ucap Verro dengan suara seraknya
" Apa kamu merindukanku?" tanya Verro.
" Aku tau kamu juga merindukanku. Kamu tetap tenang di sana. Aku akan secepatnya menemuimu. Kamu harus tetap setia menungguku. Aku akan datang kerumahmu," ucap Verro yang mungkin setiap mengunjungi makam Cherry dia akan tetap mengatakan hal yang sama.
Verro memang sangat lemah semenjak kematian Cherry. Dia selalu ingin tuhan mencabut nyawanya agar bisa cepat menemui Cherry. Tetapi sampai sekarang dia masih hidup dan terus menerus merindukan wanita yang merupakan cinta pertamanya itu.
Sampai detik ini Verro tidak pernah melupakan Cherry. Verro juga tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, jangankan pacaran. Jatuh cinta saja Verro tidak pernah karena tidak ada yang akan mampu menggantikan posisi Cherry di hatinya dan tidak membuka hatinya untuk siapapun.
Wanita satu-satunya yang tidak akan pernah tergantikan. Meski sudah 7 tahun. Sehelai ujung kuku pun perasaannya tidak berkurang sedikitpun. Cherry adalah sahabat, cinta pertamanya, kekasihnya dan istrinya yang tidak akan pernah tergantikan orang lain.
Dia juga selalu mengunjungi makam itu. Bukan di waktu senggang tetapi akan selalu mempunyai waktu mengunjungi makam wanita belahan jiwanya.
Makanya makam itu selalu cantik. Selain mawar yang benar-benar tumbuh dengan indah. Selain itu makam itu di penuh bunga mawar yang segar. Karena memang Verro tidak akan membiarkan bunga-bunga itu layu.
Matanya yang bergenang terus melihat wajah Cherry. Dia juga tersenyum seakan melihat Cherry yang duduk tersenyum di depannya.
Drett-drett-drettt. Ponsel Verro berdering membuatnya menyeka air matanya dan mengeluarkan dari sakunya.
" Dokter operasinya di mulai 15 menit lagi," sahutan telpon memberi tahu kepada Verro.
" Baiklah, saya akan segera kerumah sakit," sahut Verro dalam telponnya. Verro langsung mematikan telponnya.
" Aku pergi dulu, hari ini aku ada operasi. Aku harus menyelamatkannya," ucap Verro berpamitan.
" I love you," ucap Verro yang tidak akan pernah lupa mengucapkan cinta.
Verro mengukir senyum lalu berdiri setelah selesai mengunjungi istrinya.
__ADS_1
*********
Rumah sakit.
Ruang operasi.
Operasi hari ini adalah operasi pengangkatan tumor pada ibu yang berusia 35 tahun. Verro dan 2 Dokter wanita yang memakai masker membantu Verro dalam operasinya. Ada juga beberapa suster yang ikut membantu operasi besar itu.
" Gunting," ucap Verro menjulurkan tangannya meminta gunting.
Dokter wanita itu langsung memberikan apa yang di minta Verro. Verro memang menjadi Dokter utama. Semetara 2 wanita dengan yang wajahnya tidak terlihat jelas. Karena memakai masker hanya sebagai pendamping.
" Periksa kecepatan jantungnya!" perintah Verro dengan serius. Dokter wanita itu mengangguk.
" Normal," jawabnya.
Verro dan rekan-rekannya melanjutkan operasi. Setelah 3 jam akhirnya operasi selesai. Dokter wanita itu langsung menggunting benang jaitannya yang terakhir.
" Berhasil," ucap Verro bernapas lega. Lampu operasi langsung hijau tandanya operasinya berhasil.
Suster memebereskan peralatan operasi, mencuci dan lain sebagainya. 3 dokter yang tadi mengoperasi itu sama-sama membuka masker mereka dengan serentak.
Saling menghembuskan napas dengan dengan serentak. Dengan saling melihat wajah yang tersenyum penuh kebahagian karena berhasil menyelesaikan operasi dan pasien selamat.
Ternyata 2 Dokter wanita yang mendampingi Verro adalah. Raquel dan Sasy mereka bertiga sama-sama bernapas lega. Kembali berhasil menyelamatkan nyawa pasien mereka.
*************
" Akhirnya aku kembali bisa menjait dengan benar," sahut Raquel yang merasa lega. Karena bisa menyelesaikan pekerjaannya.
" He Raquel aku yang menjaitnya kau hanya melanjutkannya di 2 sisa jaitan terakhir,"
sahut Sasy tidak terima.
Enak saja Raquel mengatakan jika dia yang menjait padahal tangannya yang bekerja keras dan Raquel memang kebiasaan akan mengambil alih jika sudah selesai.
" Aku yang melakukannya," sahut Raquel yang kekeh jika dia yang melakukannya.
" Enak saja, aku yang melakukannya," sahut Sasy tidak mau kalah.
Mereka memang akan sering bertengkar jika operasi selesai. Yang pasti Verro sudah hafal dengan 2 rekannya itu.
" Sampai kapan kalian akan ribut?" tanya Verro dengan suara dingin. Dia setiap hari harus menahan emosi dengan rekannya yang tidak pernah damai.
Sasy dan Raquel akan diam ketika Verro sudah mulai mengeluarkan suara dingin yang menusuk itu.
" Kalau kalian ribut terus. Kapan pasien kalian bisa nyaman bersama kalian yang ada pasien akan terganggu karena takut dengan kalian," ucap Verro yang pasti sudah mengatakan itu berkali-kali.
" Raquel yang duluan, emang ada Dokter memulai menjait luka saja tidak bisa," sambar Sasy menunjuk.
__ADS_1
" Heyy, semua butuh proses," sahut Raquel bertahan dengan alasannya yang sudah ribuan kali didengar Verro dan Sasy.
" Proses juga ada waktunya. 2 tahun jadi Dokter masih aja nggak ada perubahan," sahut Sasy kesal.
" Sasy ngaca. Apa kabar dengan kamu. 2 tahun jadi Dokter masih tetap jadi asisten Dokter," sahut Raquel mengejek kembali.
" Kalian berdua itu sama," sahut Verro menekankan.
" Iyalah Dokter Verro yang paling the best," ucap Raquel.
" Raquel," terdengar suara Pria yang membuat Raquel tidak mengoceh lagi.
Ke -3 pasang mata itu sama-sama membalikkan tubuh mereka melihat orang yang memanggil Raquel. Terlihat pria tampan dengan memakai stelan jas hitam dan membawa boucket mawar merah.
" Aldo," gumam Raquel dengan senyumnya yang sumringah.
" Lihatlah betapa tampannya pangeran ku," gumam Raquel saat melihat Aldo mulai menghampirinya.
" Mulai deh lebay,"'sahut Sasy sewot melihat pasangan bucin itu.
" Kamu apa kabar sayang," ucap Aldo langsung memeluk Raquel ketika sudah didepannya.
" Baik, bukannya tadi juga menanyakan saat di telpon," sahut Raquel memeluk erat.
" Aku tidak puas jika tidak bertanya langsung," sahut Aldo melepas pelukannya mengusap pipi Raquel.
" Kamu sosweet banget," sahut Raquel dengan suara manjanya.
" Eeeggg," Sasy semakin ingin muntah melihat pasangan yang sering pamer kemesraan.
Sementara Verro yang juga sudah biasa melihatnya hanya geleng-geleng. Walau dia juga sebenarnya kadang ingin mau muntah seperti Sasy. Hanya dia menahan karena kewibawaannya.
" Ini untukmu," Aldo memberikan boucket yang tadi di pegangnya.
" Ya ampun makasih, ini pasti susah di cari," sahut Raquel memang suka melebih-lebihkan.
" Banyak di pinggir jalan," sambar Sasy dengan wajah kesalnya. Verro hanya diam dengan tersenyum tipis.
" Syirik aja lo," sahut Raquel kesal.
" Verro, Sasy, kalian apa kabar?" tanya Aldo.
" Baik," Jawa Verro.
" Ya elah, baru juga 1 Minggu nggak ketemu sudah nanyak kabar. Eh Aldo nggak usah samain kita kayak cewek lo. Yang dikit-dikit nanya kabar," sahut Sasy semakin sewot.
" Eh, sudah syukur pacar gue nanyain kabar lo, kalau bukan dia siapa yang nanyain elo, emang ada. Lo kan jomblo akut," sahut Raquel kesempatan mengejek.
" Mending jomblo dari pada pacaran alay, entar ribut ngadu nya ke gue, mewek nangis-nangis dah tu," sahut Sasy sekalian menyindir.
__ADS_1
" Ishhhh," desis Raquel.
Bersambung