
Verro terus mengendong Cherry. Tetapi mulut Cherry sedari tadi terus berbicara. Verro hanya mendengarkan walau telinganya lumayan terganggu dengan Cherry yang mengoceh terus.
" Verro kita akan sampai," tunjuk Cherry melihat lokasi yang terang yang berarti lokasi tenda sudah semakin dekat.
" Iya kau benar," sahut Verro membelokkan kepalanya melihat kearah Cherry yang menempelkan pipinya di pipi Verro.
" Sepertinya memang kita yang pertama. Soalnya belum ada bendera yang tertancap," tunjuk Cherry yang melihat ke arah tenda yang sudah di depan matanya.
Matanya juga melihat batang pisang di mana tempat para murid menancapkan bendera yang Meraka dapat.
" Iya. Kita yang pertama," sahut Verro.
" Ayo Cepat Sasy," teriak Toby. Cherry yang masih di gendongan Verro menoleh kebelakang dan melihat Sasy berlari yang seperti ingin mendahului mereka.
" Verro Sasy datang! turunkan aku, aku akan berlari kesana," desak Cherry yang tidak mau jika Sasy mendahuluinya.
" Cepat Sasy!" teriak Toby lagi yang juga ikut mengejar Sasy.
" Verro buruan," desak Cherry lagi. Namun Verro tetap diam.
" Hay Cherry, aku duluan ya," sapa Sasy saat melewati Cherry dan Verro. Cherry sudah kesal karena bisa di dahului Sasy.
" Mundur!" titah Verro dengan suara dingin Sasy menghentikan langkahnya. Sasy menengok kebelakang.
" Kenapa?" tanya Sasy bingung.
" Kenapa berhenti Sasy," ucap Toby sudah ngos-ngosan di dekat Sasy.
" Kalian tetap di sini. Jika aku sama Cherry sudah sampai, baru kalian boleh menyusul," ucap Verro dengan wajah seriusnya.
" Hah," pekik Sasy dan Toby serentak.
" Enak aja, mana bisa gitu," protes Toby sangat keberatan.
" Seharunya kami yang sampai duluan. Kalau kaki Cherry tidak sakit. Jadi tidak bisa berjalan. Jadi mohon pengertiannya," ucap Verro dengan alasan yang baik untuk mengelabui Sasy dan Toby.
Membuat Toby dan Sasy saling melihat. Sementara Cherry menahan tawanya dengan drama yang di lakukan Verro.
" Bagaimana? apa kalian akan tetap mendahului kami?" tanya Verro.
" Ya sudah sana," sahut Sasy mengalah. Verro tersenyum tipis mendengarnya.
" Keputusan yang baik," ucap Verro tersenyum kemenangan. Tanpa berpikir lama-lama Verro melanjutkan langkahnya dengan melempang santai tetap menggendong Cherry.
Sementara Sasy dan Toby hanya melihat dengan pasrah bagaimana Verro dan Cherry yang berjalan seenaknya. Mereka memang sangat bodoh mau aja di bohongi Verro.
Cherry menengok kebelakang dan melihat wajah ke-2 temannya yang terlihat pasrah. Cherry tertawa di gendongan Verro.
" Kenapa kau pintar sekali mengarang cerita?" ucap Cherry.
" Aku melakukannya demi mu. Agar kau selalu menjadi yang pertama," ucap Verro.
" Ishhhh, kenapa kau manis sekali berbicara," ucap Cherry dengan senyumnya. Verro hanya mendengus tersenyum.
Verro menurunkan Cherry karena sudah sampai di di depan tempat pengumpulan bendara.
Dengan cepat Cherry langsung mencucuk kan kayu bendera tersebut di di batang pisang yang menjadi tempatnya.
" Yeeeeeeeeeee, kita yang pertama," teriak Cherry mengangkat tangannya sangking senangnya. Verro hanya tersenyum melihat Cherry yang tampak bahagia.
" Ayo cepat buruan Sasy," teriak Cherry memanggil temannya dengan tangannya.
Sasy dan Toby sudah lemas. Mereka berjalan dengan langkah tidak bersemangat. Karena telah menjadi orang ke-2 bukan yang pertama.
__ADS_1
1 persatu murid-murid mulai berdatangan mengumpulkan bendera mereka. Begitu juga dengan Varell dan Nadya yang juga sudah sampai.
" Nadya kenapa?" tanya Cherry melihat Nadya yang di papah Varell dan melihat balutan luka kain di kakinya.
" Tidak apa-apa, tadi terpatuk ular," jawab Nadya masih menahan sakit. Membuat Cherry, Toby, Sasy, dan Verro kaget.
" Tidak apa-apa bagaiman, wajahmu mu sangat pucat," sahut Cherry panik.
" Apa ularnya beracun?" tanya Sasy merasa ngeri.
" Sepertinya iya, kau sangat pucat," sahut Verro, " lalu apa kau juga kena Varell?" tanya Verro melihat temannya yang juga pucat.
" Tidak aku tidak tergigit, hanya Nadya yang di gigit," jawab Varell.
" Terus kenapa wajahmu ikut pucat?" tanya Toby.
" Dia mengisap racun di kakiku dan sepertinya dia juga terkena," sahut Nadya membuat semua orang menatap kearah Verro kaget.
" Kau melakukan itu," sahut Sasy, " terlalu berlebihan," kesal Sasy.
" Sudah jangan di bahas lagi. Sekarang kita masuk ke tenda UKS. Kita harus segera obati agar racunnya tidak menyebar," ucap Verro mengambil tindakan.
" Benar kata Verro, ayo Nadya," ajak Cherry membantu memapah Nadya dan Varell di bantu Verro dan Toby. Sementara Sasy masih tinggal sendirian.
" Segitunya sampai dia rela berkorban," batin Sasy terlihat sangat kesal dengan pemandangan itu.
***********
Aldo dan Raquel pun akhirnya sampai. Tidak seperti yang lainnya jika sampai akan langsung memasuki tenda. Tetapi Aldo dan Raquel yang memang terlibat cekcok di hutan dengan banyak drama harus mendapat Omelan dari Pak Sony sang pemberi tugas.
" Kenapa kalian berdua bisa gagal dalam membawa bendera?" tanya pak Pak Sony dengan wajah serius.
" Aldo, ada apa dengan kamu. Kenapa bisa tidak menemukan benderanya dan pulang dengan tangan kosong. Vandy sama Azizi saja yang ke sasar di hutan bisa kembali dengan membawa bendera," ucap Pak Sony yang benar-benar kecewa dengan Aldo yang hanya bisa menunduk.
" Kamu Raquel," tegas Pak Sony. " apa ini semua gara-gara kamu. Selalu mencari masalah. Kamu ingin orang tua kamu menjemput kamu hah!" Ancam Pak Sony.
" Denganku dia bicara kasar dengan Aldo sangat lembut," batin Raquel yang kesal dengan tatanan perbedaan bahasa itu.
" Kamu tidak pernah jera dengan apa yang terjadi. Kamu tidak kasihan sama orang tua kamu yang harus malu. Karena kamu yang selalu bikin onar. Kamu harus ingat papa tinggal telepon orang tua kamu. Kamu sudah tidak berada di sini lagi," Ancam Pak Sony.
Raquel mengepal ke-2 tangannya sangat marah dengan Pak Sony yang sedari tadi memarahinya dindepan Aldo. Bahkan membawa-bawa orang tuanya.
Raquel mengangkat kepalanya melihat guru yang marah-marah itu dengan menatap menantang.
" Kalau begitu lakukan, bapak ingin melapor sana lakukan, laporkan saya pada orang tua saya," geram Raquel menantang gurunya. Aldo yang di sampingnya hanya melihat Raquel yang sangat marah.
" Raquel jaga sopan santun kamu. Kamu sedang bicara dengan guru," ucap Aldo pelan memperingati Raquel.
" Diam! bentak Raquel membuat Aldo dan guru kaget.
" Raquel! bentak Pak Sony.
" Kenapa bapak memarahi saya karena membela murid kesayangan iya," sahut Raquel semakin kesal.
" Sudah seperti ini. Masih cari perhatian," desis Raquel.
" Hanya karena bendara, bapak mengoceh panjang lebar, memarahiku. Bapak pikir itu adil untukku. Bapak cuma menegur Aldo sementara aku di marahi di ancam. Kau bapak ingin menelpon orang tuaku dan mengeluarkan mu dari Study tour. Bukannya bapak juga seharusnya melakukannya kepadanya," teriak Raquel yang sudah tidak menghargai gurunya.
Sementara Aldo malah gelisah, ingin mencegah Raquel agar menjaga sikapnya tetapi tidak bisa.
" Kalau bapak hanya akan melakukannya kepadaku. Tetapi tidak Aldo. Jangan salahkan aku kalau bapak juga tidak akan menjadi guru lagi di SMA High Internasional. Karena di keluarkan karena tidak adil," tegas Raquel yang tidak main-main. Raquel dengan kemarahannya langsung pergi.
" Raquel!" panggil Aldo. Tetapi Raquel tidak merespon dan tetap melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
" Anak-anak sekarang memang tidak memiliki sopan santun," gumam Pak Sony geleng-geleng melihat kelakuan Raquel yang terlihat suka-suka.
" Dia memang tidak bisa pernah mengendalikan dirinya. Aku yakin itu pasti karena tuduhannya kepadaku," batin Aldo yang masih melihat punggung Raquel yang berjalan semakin jauh.
*************
" Nih minum dulu," ucap Cherry memberikan Nadya air.
" Makasih," sahut Nadya meraih tempat minum itu dan langsung meneguk minuman pemberian Cherry.
" Ini obatnya," Cherry memberi obat yang di berikan Bu Asri.
Nadya memang sudah di obati. Dan untungnya dia tidak apa-apa dan hanya merasa lemas saja. Sama halnya dengan Verro yang juga seperti itu tidak apa-apa.
Nadya sudah di tenda bersama Cherry, Azizi, dan Sasy.
" Setelah itu langsung rebahan," ucap Cherry lagi yang terlihat sangat bawel.
" Makasih Cherry, kamu sudah membantuku," sahut Nadya merasa lega.
" Lagian kenapa bisa kenak, serangan ular sih?" tanya Azizi.
" Ya pasti nggak hati-hatilah lah, ceroboh," Celetuk Sasy.
" Sasy," tekan Cherry.
" Ishhh, emang benar kok," sahut Sasy sibuk dengan ponselnya.
" Benar kata Sasy, aku memang ceroboh, makanya sampai seperti itu," sahut Nadya membenarkan.
" Tu dengar sendiri," sahut Sasy.
" Sudahlah sekarang sebaiknya kita tidur, ini sudah larut malam. Besok kita akan kembali ke Villa," sahut Azizi.
" Iya kalian duluan aja aku mau kedapur umum sebentar," ucap Cherry.
" Hmmmm, ya sudah," sahut Sasy. Cherry mengangguk dan langsung ke luar dari kamar tenda.
*********
Raquel berbaring miring di dalam tenda membelakangi Selina dan Mitha.
" Kenapa sih Raquel kok bisa-bisanya nggak dapat benderanya?" tanya Selina sambil memakai handbody di tangannya.
" Pasti gara-gara Aldo lah, dia pasti sengaja tidak cari dengan serius. Dia kan memang tidak suka melihat kita senang," sahut Mitha langsung menyalahkan Aldo.
" Dasar laki-laki banci. Bisanya cuma tanggung jawab sama Nadya. Giliran punya tugas kelompok malah nggak di tanggung jawabi," oceh Selina lagi.
" Kalian bisa diam nggak," sahut Raquel. Telinganya panas dengan Selina dan Mitha yang membicarakan Aldo. Mitha dan Selina saling melihat dan memilih diam.
" Kenapa Aldo tidak mengatakan kepada Pak Sony. Jika semua yang terjadi karena aku,"
" Aldo tidak mau mengakui kesalahannya, apa memang benar bukan dia pelakunya. Tetapi Fiona tidak mungkin bohongkan. Tetapi apa juga alasannya untuk tidak bohong,"
" Apa itu hanya trik Aldo saja. Supaya memang terlihat jika dia tidak melakukan apa-apa. Aku yakin itu hanya triknya saja supaya aku mempercayainya kembali,"
Raquel terus bergerutu di dalam hatinya. Ada rasa di hatinya paling dalam. Mempercayai Aldo dan merasa tidak mungkin Aldo melakukan hal itu. Apa lagi dia melihat Aldo yang bicara terlihat serius.
Tetapi si satu sisi apa yang di katakan Fiona memang mengarah kepada Aldo. Raquel benar-benar bingung dengan hatinya yang tidak tau ingin berpikir seperti apa.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.