
" Itu memang hobinya mengadukan semuanya," batin Verro sinis.
" Iya om," sahut Cherry pelan.
" Ya sudah, Cherry masuk dulu," ucap Cherry pamit mencium papanya. Punggung tangan Hariyanto dan Farah.
" Iya sayang, kamu baik-baik ya," ucap Laskarta untuk yang terakhir kalinya. Cherry mengangguk lalu pergi.
" Saya juga pamit dulu Om," sahut Verro yang hanya mencium punggung tangan Laskarta.
" Titip Cherry ya," ucap Laskarta. Verro mengangguk dan menyeret kopernya dan mengekor di belakang Cherry.
Dengan sigap Verro meraih koper Cherry dan mendorongnya berjalan sejajar dengan Cherry membuat Cherry kaget.
" Apa karena masih ada orang tuanya dia melakukannya," batin Cherry menoleh kebelakang melihat ke arah papanya dan ke-2 orangtuanya.
" Jalan yang benar," ucap Verro dengan ketus.
" Mereka memang saling melengkapi," ucap Farah tersenyum bahagia.
" Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," sahut Laskarta yang pasti lebih mementingkan kebahagian putrinya di bandingkan hal lainnya.
" Hmmm, kalau begitu, mas Hariyanto, saya harus pamit dulu, soalnya penerbangan saya juga sebentar lagi," ucap Laskarta melihat arloji di tangannya.
" Oh, iya mas," sahut Hari Yanto.
" Permisi!" ucap Laskarta yang berpamitan.
Farah dan Hariyanto tersenyum, mengangguk dan menundukkan kepalanya.
Setelah memastikan putrinya berada bersama teman-temannya Laskarta pun pergi. Farah dan Hariyanto masih melihat kepergian Laskarta.
" Hampir saja semuanya berjalan dengan lancar," desis Hariyanto kesal.
" Sudah lah mas, ayo kita pergi, nanti pasti ada waktu yang lebih tepat lagi," ucap Farah. Hari Yanto mengangguk dan memasuki mobil langsung meninggalkan lokasi tersebut. Mereka sudah cukup bersandiwara walau tidak sempurna.
Verro dan Cherry berjalan menuju teman-temannya yang sedari tadi menunggunya.
" Cherry, foto dulu," ucap Toby yang langsung memoto Cherry dan Verro yang berdiri berjalan menghampiri mereka. Tetapi Cherry dan Verro belum siap untuk di foto. Ya paling foto asal lagi yang di dapatkan Toby.
" Ahhhh, Verro kau senyum sedikit apa salahnya," oceh Toby kesal.
" Berisik!" sahut Verro kesal.
Sementara di sisi lain. Fiona berada di sudut dengan yang terlihat jutek. Dia juga pasti menyaksikan bagaimana kedekatan Cherry dengan orang tua Verro. Begitu juga dengan Verro pada papa Cherry.
" Cherry, kau juga tidak memakai topi mu?" tanya Sasy.
" Di koper," jawab Cherry.
" Kenapa kalian tidak memakainya, aku sudah katakan kita couplean," ucap Sasy dengan wajah lesu.
" Sasy lagi pula kita hanya naik bis, ngapain juga haru sibuk-sibuknya pakai topi segala," ucap Cherry.
" Tau nih lebay," sambar Toby.
" Bisa nggak, nggak usah ikut-ikutan," ucap Sasy yang semakin kesal.
" Bisa nggak kalian diam, jangan berisik," ucap Verro yang terlihat kesal.
Di tengah perbincangan mereka. Tiba-tiba mobil biru tua memasuki halaman sekolah. Mobil mewah itu cukup menarik perhatian.
" Siapa itu?" tanya Raquel yang juga matanya fokus pada mobil itu.
" Entah lah, sepertinya tidak ada murid SMA sini yang memakai mobil itu," sahut Selina.
" Benar," sambung Mitha.
Di tengah rasa penasaran, semua murid-murid sang pengendara menginjakkan kaki di tanah sekolah itu.
Yang ternyata adalah Vandy, tetapi bukan Vandy yang mencuri perhatian orang-orang. Tetapi Pria yang yang berdiri di samping Vandy.
" Woww," Semua murid menganga melihat ketampanan Pria yang mirip dengan Vandy itu.
" Siapa itu?" tanya Sasy dengan matanya yang tidak berkedip. Apa lagi Vandy dan Pria itu berjalan menghampiri mereka.
" Hey, Sasy matamu awas keluar," ucap Toby.
__ADS_1
" Diam lah, Toby jangan berisik, kau tidak melihat apa ada Dewa yang mengunjungi sekolah kita," ucapnya yang terus melihat Pria itu. Cherry hanya tersenyum saat Pria yang datang bersama Vandy semakin mendekati mereka.
" Cherry," ucap Dokter Arif sudah berada di depan Cherry.
" Dokter Arif," Cherry langsung memeluk Dokter pribadinya itu.
" Apa semua Pria harus di peluknya," batin Verro yang terlihat sangat kesal.
" Dokter datang mengantarkan Vandy?" tanya Cherry melepas pelukannya.
" Siapa bilang, Dokter datang untuk mengantarnya, Dokter datang untuk mengantar kepergian mu," jawab Arif.
" Benarkah," sahut Cherry tidak percaya. Arif mengangguk tersenyum.
Sasy langsung menyenggol Cherry dan berdiri di hadapan Arif.
" Hay, aku Sasy temannya Cherry," ucap Sasy menjulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.
" Apaan sih Sasy," desis Cherry kesal yang hampir jatuh.
" Arif," jawab Arif menyambut uluran tangan Sasy.
" Nice to meet you," ucap Sasy dengan suara mendayu. Toby langsung menyinggirkan tangan Sasy yang belum di lepas sama sekali.
" Sudah nggak usah lama-lama, belom mukhirm," sahut Toby kesal.
" Ganggu aja lo," ucap Cherry kesal, Arif hanya tersenyum melihat kelucuan teman-teman Cherry.
" Vandy siapa Orang tampan bersamamu ini?" tanya Sasy yang benar-benar kepo.
" Eh, dasar ya matamu, bukannya kau menyukai Varell, sekarang dengan cepat berpindah," sahut Toby lagi. Membuat Sasy menoleh ke arahnya dengan geram.
" Diamlah, Varell sedang tidak ada di sini," desis Sasy, Toby benar-benar hanya merusak momentnya saja.
" Sudah lah, kalian tidak perlu ribut. Ini itu kakakku namanya Arif. Dokternya Cherry dan Kemari khusus untuk Cherry bukan untuk mengantarku," jelas Vandy. Walau dia juga kesal kakaknya menjadi pusat perhatian sekarang.
" Hmmm, Oh iya Cherry, ini untuk kamu," Arif memberikan Cherry paper bag. Cherry melihat isinya. Matanya langsung berbinar melihat susu stauberry.
" Ya ampun, Dokter tau saja," sahut Cherry kesenangan.
" Sama aku sama Cherry memang menyukai minuman itu," sahut Sasy tidak mau ketinggalan.
" Issshhh, biasa aja dong, kalian mempermalukan ku saja," lirih Sasy merasa malu. Membuat Arif hanya tertawa.
" Ya sudahlah, Cherry Dokter pulang dulu, Dokter hanya mengantarkan itu saja, kamu jaga kesehatan, jangan aneh-aneh, jangan sampai kelelahan dan minum obat jangan sampai telat," ujar Arif mengingat Cherry.
" Iya Dokter, makasih buat ini dan buat kedatangannya, Cherry janji tidak akan mengecewakan Dokter. Cherry akan baik-baik saja," ucap Cherry meyakinkan Dokter nya.
" Iya Dokter percaya sama kamu," ucap Arif mengusap pucuk kepala Cherry.
" Kak Arif tenang saja, Sasy akan menjaga Cherry sepenuhnya. Sasy tidak akan meninggalkan Cherry sedetikpun," ucap Sasy yang tidak mau ketinggalan dan terus mencari perhatian.
" Kalau begitu Dokter titip Cherry ya Sasy," ucap Arif. Hal itu membuat wajah Sasy bersemangat dan langsung tersenyum lebar.
" Pasti! kak Arif, pasti," sahut Sasy yang tidak percaya dengan Arif yang memanggil namanya.
" Sudah lah kak Arif, sana buruan pulang!" usir Vandy yang kesal melihat kakaknya lama-lama di sekolahnya.
" Iya kamu ini bawel sekali," ucap Arif yang kesal dengan adiknya.
" Saya permisi semuanya, Verro," Arif berpamitan juga pada Verro.
" Iya kak," sahut Verro.
" Mari semuanya," ucap Arif berpamitan. Yang lain mengangguk. Arif pun pergi. Cherry melambaikan tangannya pasti Sasy juga ikut-ikutan.
" Sepertinya aku jatuh cinta," ucap Sasy melihat punggung Arif yang kekar melangkah dengan cool.
" Cinta dari Hongkong," celetuk Toby geram dengan Sasy yang banyak tingkah.
" Kau itu kenapa sih tidak bisa apa liat orang senang sebentar," protes Sasy kesal.
" Lalu kau tidak bisa apa hah! tidak usah kegatelan sama cowok," sambar Toby mengoceh.
" Terserahku, bukan urusanmu," ceruk Sasy berkacak pinggang.
" Jelas menjadi urusanku," sahut Toby.
__ADS_1
" Kok jadi kalian yang ribut sih," ucap Azizi bingung.
" Tau nih berdua, nih buat mu satu, buatmu," sahut Cherry membagi-bagikan susu stauberry untuk teman-temannya.
" Aku nggak suka," tolak Sasy.
" Tadi katanya minuman favorite," celetuk Azizi.
" Oke karena kak Arif yang berikan jadi harus aku minum. Agar hatinya dan hati ku menyatu," ucapnya langsung mengambil dan meneguknya. Membuat yang lainnya merasa geli dengan tingkah Sasy.
" Verro, Varell mana?" tanya Vandy.
" Mana gue tau," jawab Vandy ketus dan memilih duduk karena lelah berdiri sedari tadi.
" Tuh Varell," tunjuk Azizi.
Varell juga yang di antar supirnya langsung melangkahkan kakinya menghampiri Vandy dan Verro dengan menyeret kopernya.
" Lama amat sampainya," protes Vandy saat Verro sudah berada di hadapannya.
" Belum juga berangkat," jawab Varell santai dan duduk di samping Verro. Kepalanya berkeliling seperti mencari seseorang dan siapa lagi jika bukan Nadya. Setelah memastikan Nadya ada barulah dia mengeluarkan ponselnya untuk membuang kejenuhan.
Setelah menunggu Hampir 1 jam akhirnya bus yang akan mereka tumpangi tiba.
" Kita berangkat," teriak murid-murid.
" Yeeee," seluruhnya bersorak bahagia.
" Anak-anak berkumpul sebentar!" perintah Pak Sony yang akan memberi arahan sebelum berangkat.
Para murid-murid mulai berkumpul dengan rapi agar mendengarkan arahan dari Pak Sony.
" Selamat pagi anak-anak," ucap Arif yang menggunakan toa.
" Pagi Pak," sahut semua murid-murid dengan semangat.
" Kita akan berangkat untuk memenuhi Study tour selama 1 bulan penuh di desa A. Perjalanan menuju kesana kurang lebih 8 jam, Bapak meminta kalian semua untuk ketertibannya, jangan ada yang nakal. Sebelum berangkat, koper kalian di buat di pinggir dulu," ucap Sony membuat murid-murid bingung.
" Untuk apa pa?" tanya murid-murid bingung.
" Aldo, kamu periksa semua koper laki-laki, apa kah ada membawa rokok, minuman keras dan hal-hal yang tidak pantas lainnya.
" Baik Pak," sahut Aldo.
" Huuuu," sorak murid-murid.
Aldo pun memeriksa semua koper-koper apa kah ada membawa barang-barang yang tidak penting itu. Dalam memeriksa koper cukup menyita waktu yang sangat lama.
Bahkan sudah jam 11 siang. Aldo sendiri yang memeriksa. Sementara yang lainnya mengipas-ngipas dengan 5 jari mereka karena sudah mulai kepanasan. Karena trik matahari mulai tinggi.
Verro melihat Cherry yang berkeringat langsung mendekatinya dan menarik tangannya.
" Ada apa?" tanya Cherry bingung tetapi mengikut saja langkah Verro.
" Duduk!" ujar Verro saat berada di depan kursi.
" Tapi,"
" Sudah cepat, guru juga akan maklum, lagi pula dari sini juga kedengaran apa yang di umumkan," tegas Verro.
Cherry mengangguk dan duduk di tempat yang lumayan adem itu. Verro juga duduk di sampingnya. Lagi dan lagi mata Cherry tidak sengaja bertemu dengan Fiona. Tetapi Cherry jutek dan tidak mempedulikannya.
" Berikan itu?" tunjuk Verro pada paper bag pemberian ibu tirinya.
" Untuk apa?" tanya Cherry bingung. Verro tidak menjawab dan mengambilnya dan membuangnya ke tong sampah yang ada di dekat mereka.
" Verro!" pekik Cherry kaget.
" Itu ada racunnya, aku akan menggantinya yang baru," sahut Verro.
" Oh," jawab Cherry.
" Tumben dia tidak menggila aku membuang minuman kesukaannya. Bahkan bukan hanya satu tapi banyak," batin Verro heran dengan reaksi Cherry yang tidak biasanya.
Cherry juga sebenarnya malas meminumnya karena. Sudah tau ibu tiri Verro memiliki hati yang seperti apa.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya