
Azizi terus mendampingi sang putra yang juga tidak sadarkan diri yang mana Vandy juga ada di sampingnya yang mendampingi sang istri.
Ceklek pintu kamar ruangan terbuka yang ternyata Verro dan Cherry yang datang bersama-sama. Mereka pun langsung memasuki ruang tersebut.
" Cherry," sapa Azizi. Cherry tersenyum dan menghampiri Azizi lalu memeluknya sebentar. Kembali memberikan sahabatnya itu dukungan.
" Kamu sudah makan?" tanya Cherry lembut. Azizi mengangguk pelan.
" Kamu harus jaga makan ya," ucap Cherry memberi pesan.
" Makasih, ya, kamu sudah repot-repot datang kemari," sahut Azizi.
" Tidak apa-apa. Aku tidak repot kok, justru aku ingin menemani kamu di sini. Kita lihat perkembangan Iqbal sama-sama," ucap Cherry.
" Iya, terima kasih," sahut Azizi.
" Azizi, ada kabar baik untuk kamu," sahut Verro tiba-tiba membuat Azizi kaget dan menatap Verro serius. Mendengar kabar baik dia pasti merasa pasti ada hal yang baik.
" Apa?" tanya Azizi dengan serius.
" Iqbal akan segera kita operasi," sahut Verro membuat Azizi dan Vandy semakin kaget mendengarnya.
" Maksud kamu, apa itu artinya Iqbal mendapatkan Donor tulang sumsum belakang," sahut Azizi dengan suara beratnya yang tidak percaya dengan kata-kata Verro.
" Hmm, iya kamu benar, rumah sakit sudah mendapatkan donor untuk Iqbal," jawab Verro membenarkan.
" Alhamdulillah," sahut Azizi masih tidak percaya dan Vandy juga bernapas lega mendengar kata-kata Verro yang memang dia juga baru mengetahui kabar itu. Sementara Cherry tersenyum dengan kabar yang di berikan suaminya.
" Apa itu artinya, Iqbal akan sembuh," sahut Azizi yang langsung berharap banyak.
" Kita kembali serahkan kepada sang kuasa," sahut Verro yang tidak bisa berjanji apa-apa.
" Tetapi kamu jangan khawatir, ini adalah awal kesembuhan Iqbal dan percayalah. Iqbal pasti akan benar-benar sembuh," sahut Verro yang memiliki keyakinan.
__ADS_1
" Alhamdulillah ya Allah, aku mohon berikan Iqbal keselamatan. Lancarkan operasinya ya Allah. Angkat penyakitnya," ucap Azizi yang berdoa dengan tangan tangan bergetar yang sangat berharap banyak untuk kesembuhan Iqbal.
" Terima kasih ya Allah, engkau masih memberikan kesempatan untuk Iqbal. Terima kasih ya Allah, atas apa yang engkau berikan kepadaku. Iqbal anak yang malang. Kau mohon berikan aku waktu yang banyak untuk bertanggung jawab pada nya. Berikan aku banyak kesempatan untuk menebus kesalahan ku kepada anak itu. Aku yang salah ya Allah, jadi hukum aku. Jangan dia," batin Vandy yang bernapas lega ketika mendengar kabar bahagia dari sahabatnya. Dia juga berdoa untuk anaknya.
********
Sama dengan Iqbal yang juga sedang berjuang melawan kanker dan akan menjalani operasi dalam waktu dekat. Karena Verro sudah mendapatkan donor tulang sumsum belakang untuk Iqbal yang tidak perlu menunggu Aziz dan Vandy memiliki keturunan lagi.
Ternyata Fiona yang juga memiliki Kanker darah stadium akhir berada di rumah sakit yang sama. Fiona sedang berada di salah satu bangku duduk terduduk termenung duduk.
Cherry yang habis dari kamar mandi melihat Fiona yang duduk termenung sendirian yang membuatnya bingung dan memilih untuk menghampiri Fiona.
" Fiona," sapa Cherry yang berdiri di depan Fiona.
" Cherry," sahut Fiona mengangkat kepalanya.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Cherry heran.
" Oh, ini aku ingin menebus obatku, masih menunggu di panggil," jawab Fiona.
" Kamu sendiri ngapain. Mau menemui Verro?" tanya Fiona.
" Oh, iya. Tetapi juga sekalian mau melihat Iqbal," jawab Cherry.
" Iqbal. Iqbal siapa?" tanya Fiona yang memang tampaknya tidak tau.
" Iqbal anak Azizi," jawab Cherry. Fiona terlihat bingung mendengarnya. Yang Setaunya Azizi dan Vandy baru menikah. Lalu kenapa tiba-tiba punya anak.
" Hmm, maksud aku Iqbal anak Azizi dari almarhum suaminya pertama," sahut Cherry menjelaskan yang tau jika itu Fiona bingung.
" Ohhh, begitu rupanya. Aku baru tau kalau dia sudah pernah menikah sebelumnya," sahut Fiona.
" Hmmm, sudah pernah memang," sahut Azizi.
__ADS_1
" Lalu sakit apa anaknya?" tanya Fiona.
" Dia mengalami kanker tulang sumsum belakang," jawab Cherry membuat Fiona kaget.
" Jadi dia terkena kanker juga," sahut Fiona yang dengan wajah terkejutnya. Cherry mengangguk.
" Hmmm, memang penderita kanker itu sangat banyak. Dia masih kecil. Pasti sulit untuknya," sahut Fiona terlihat sedih.
Cherry yang berdiri di depannya duduk di samping Fiona dengan mengusap pundak Fiona seakan memberikan kekuatan.
" Kamu yang sabar ya. Kamu sama Iqbal itu sedang di uji. Kalian pasti manusi yang special sehingga mendapat ujian seberat itu dan pasti kalian bisa melewatinya percaya padaku," ucap Cherry memberikan dukungan pada Azizi.
" Lalu apa Verro adalah Dokternya?" tanya Fiona. Cherry mengangguk. Fiona tersenyum tipis.
" Aku mendengar Verro adalah Dokter kanker yang hebat dan pasti beruntung jika pasien ditangani olehnya," sahut Fiona tampak begitu sendu.
" Kenapa kamu bicara seperti itu. Bukannya Dokter kamu adalah Dokter Arif dan Dokter Arif juga Dokter sangat hebat. Bahkan dia lebih dulu menjadi Dokter di bandingkan Verro dan dulu aku adalah pasiennya," ucap Cherry.
" Tidak Cherry, aku tidak memakai Dokter pribadi. Aku pasien random yang di pegang oleh siapapun. Jadi Dokter Arif bukan Dokter ku," sahut Fiona menjelaskan dengan tersenyum tipis.
" Lalu jika dia bukan Dokter mu, kenapa kamu sering bertemu dengannya, meminta obat kepadanya dan juga menemui Dokter di Jepang dan dan bahkan Dokter Arif sangat tau kondisi mu," sahut Cherry yang kebingungan.
" Tidak Cherry, Dokter Arif hanya membantuku saja dan beberapa kali memeriksa ku dan memberiku saran. Cuma hanya untuk serius di tangani olehnya tidak," sahut Fiona menjelaskan.
" Kenapa?" tanya Cherry.
" Karena Dokter Arif menangani banyak pasien di Luar Negri dan tidak bisa serius untuk menangani ku. Tetapi aku bersyukur jika Dokter Arif masih mau memantau dan mengontrol diriku, tapi aku jelas bukan pasiennya," jelas Fiona.
" Lalu kalau begitu kenapa tidak mengambil Dokter lain. Atau yang seperti kamu bilang Verro banyak menangani kanker, lalu kenapa bukan dia," sahut Cherry heran. Fiona tersenyum tipis mendengarnya.
" Verro adalah Dokter terkenal dan sangat mahal biayanya untuk menjadikannya Dokter pribadi. Dan aku mana ada uang untuk menjadi pasiennya. Makanya aku hanya memasrahkan dengan Dokter siapapun yang menanganiku. Lagian aku sudah stadium akhir untuk apa lagi. Harus manja-manja berobat sana sini. Aku hanya mengikuti alur nya saja," ucap Fiona yang bercerita dengan sendu dengan air matanya yang menetes.
" Ya Allah, kasihan sekali Fiona. Dia putus asa hanya karena ke adaannya. Aku tidak tau jika orang-orang sudah menderita. Masih saja di berikan penderitaan yang banyak lagi. Dia pasti ingin banyak harapan untuk sembuh. Tetapi kembali lagi. Terkadang usaha yang di lakukannya seakan-akan sia-sia," batin Cherry yang prihatin dengan keadaan Fiona.
__ADS_1
" Tapi seperti yang aku bilang itu tidak ada gunanya. Karena aku juga sudah mengikhlaskan keadaanku," sahut Fiona yang pasrah dengan keadaannya. Dan Cherry hanya sedih mendengar kata-kata Fiona.
Bersambung