
Verro mengantarkan Cherry ke dalam kamarnya. Mendudukkan Cherry di atas tempat tidur. Sementara Verro duduk di bawah dengan menopang 1 lututnya di lantai.
Verro yang masih mencemaskan Cherry Mengusap rambut Cherry dengan lembut. Menatap dalam-dalam wajah itu.
" Verro aku tidak apa-apa. Kamu jangan berlebihan, justru Raquel yang sudah menolong ku. Kamu sampai mendorongnya. Dia pasti sangat marah dengan perbuatanmu yang menuduhnya dan melukainya," ucap Cherry malu dengan kejadian tadi. Dia sangat tidak enak dengan Raquel.
" Aku tau dia memang akan marah. Aku melakukannya karena aku mengkhawatirkan mu. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa," ucap Verro dengan wajahnya yang masih khawatir.
" Tapi tetap saja kamu terlalu berlebihan. Padahal aku memang tidak apa-apa. Verro kenapa semenjak kita jadian kamu lebih sensitif, kamu lebih takut. Padahal kan aku dari dulu seperti ini dan kamu sudah biasa menghadapi aku yang seperti ini," ucap Cherry dengan wajahnya yang merengut mengeluhkan sifat Verro yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
" Cherry aku hanya mengkhawatirkan mu. Itu saja," jelas Verro. Cherry tersenyum dan mengusap pipi Verro.
" Jangan terlalu khawatir. Aku tidak mau hubungan kita hanya di warnai dengan rasa khawatir saja. Aku ingin kita menjalankan hubungan dengan warna yang bahagia. Jika ada yang harus di tertawa kan maka kita harus tertawa. Jika kamu ingin marah kepadaku maka kamu juga harus marah kepadaku, jangan seperti ini. Ini berlebihan," jelas Cherry.
" Iya kamu benar. Aku memang berlebihan. Rasa berlebihan itu hanya membuat ku tidak merasakan kebahagian bersamamu. Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Verro. Cherry tersenyum mendengarnya.
" Ya sudah nanti kamu minta maaf lagi ya sama Raquel," ucap Cherry.
" Iya aku akan minta kepadanya. Aku akan terus minta maaf. Sampai dia memaafkanku," ucap Verro berbesar hati. Cherry mengangguk-angguk senyum.
" Bagaimana paket-paket ku, apa sudah selesai di bongkar?" tanya Cherry mengingat apa yang di tinggalkannya.
" Hmmm, sudah! Itu!" tunjuk Verro melihat paketan Cherry sudah di susun Verro. Senyum Cherry semakin mengembang melihat hal itu.
" Makasih," ucapnya dengan wajahnya yang ceria. Verro mengangguk.
***********
" Dasar si Verro seenaknya dorong-dorong gue. Apa dia pikir tidak sakit," oceh Raquel yang berada di dapur mencuci tangannya di wastafel pencucian piring.
" Tadi si Cherry kok ngeri benget ya. Cherry apa dia selalu seperti itu kalau lagi kumat. Apa rasanya ya. Kayaknya sakit banget. Sampai dia tidak bisa ngomong," Raquel menggedikkan bahunya mengingat kembali dengan apa yang di lihatnya.
Pertama kali dalam hidupnya dan jelas itu membuatnya juga takut. Bingung, panik bercampur menjadi satu.
" Pantesan dia sering masuk UKS. Sudah gitu sering masuk rumah sakit. Ya ampun kasihan banget dia. Tetapi dia jauh lebih beruntung di bandingkan aku. Dia banyak yang sayang dengannya peduli kepadanya. Sementara aku tidak mendapatkan hal itu," Raquel terus mencuci tangannya dengan mulutnya komat-kamit membandingkan dirinya dengan Cherry.
" Kalau di pilih. Mending kayak dia walah hidup dengan rasa sakit. Tetapi pasti bahagia," Raquel mendengus tersenyum seakan ingin dunia mengubah takdirnya membalikkan posisinya bertukaran dengan Cherry.
" Ada-ada saja kamu Raquel," Raquel malah geleng-geleng dengan pemikirannya yang aneh-aneh.
***********
25 Hari Kegiatan Study tour.
Mitha dan Selina yang berada di belakang Villa berdiri dengan wajah yang penuh kemarahan. Sepertinya ada sesuatu yang membuat ke-2 wanita itu marah dan ingin meluapkan emosinya.
" Berani sekali dia," geram Mitha yang sudah mengepal tangannya.
" Aku tidak menyangka jika dia ada di balik semua ini. Wajahnya tidak meyakinkan. Tetapi perbuatannya sungguh sangat bersih," sahut Selina yang tidak kalah geramnya dengan ke-2 tangannya di dadanya.
" Kita kasih tau Raquel semua ini. Supaya kita beri dia pelajaran?" ucap Mitha yang sudah tidak sabaran ingin membalaskan dendamnya.
Tiba-tiba Selina melihat Azizi yang berjalan ke luar dari Villa dengan membawa tong sampah.
" Itu dia!" ucap Selina mengatakan kepalanya ke arah Azizi. Mitha langsung menoleh wanita yang menjadi topik pembicaraan mereka.
Ternyata Azizi orang yang membuat ke-2 nya kesetanan. Membuat wajah itu yang berubah menjadi monster dan ingin segera menerkam Azizi.
" Nanti saja kita beritahu Raquel. Aku tidak sabar ingin memberinya pelajaran," desis Mitha yang melihat Azizi dengan penuh dendam.
__ADS_1
" Aku setuju. Dia sudah lama sekali merasa hidup tenang. Ini sudah waktunya," ucap Selina.
" Ayo!" ajak Mitha berjalan terlebih dahulu menghampiri Azizi yang di ikuti oleh Selina.
Mitha dan Selina sudah berada di depan Azizi. Azizi heran dengan 2 wanita yang menghalangi jalannya.
" Ada apa?" tanya Azizi heran.
Plakkk
tidak menjawab Mitha langsung menampar Azizi dengan keras sampai kaca mata Azizi terjatuh dan tong sampah yang di pegangnya.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Azizi memegang pipinya.
Azizi berjongkok dan mengambil kaca matanya. Tetapi Selina langsung menginjak kaca mata itu sampai pecah.
" Selina apa yang kamu lakukan, hentikan!" Azizi memegang kaki Selina yang menginjak kaca matanya. Azizi seperti berlutut di kaki ke-2 manusia itu.
Mitha berjongkok dan langsung menarik rambut Azizi kebelakang sampai Azizi mendongak ke atas.
" Lepas sakit!" keluh Azizi memegang tangan Mitha yang menjambak rambutnya.
" Sakit kau bilang. Itu belum seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan," geram Mitha.
" Apa maksud kamu, aku tidak mengerti?" tanya Azizi yang sudah dengan matanya berkaca-kaca menahan sakit.
" Jangan sok polos kamu. Penampilan cupu ternyata suhu," sahut Selina yang masih berdiri muak dengan akting Azizi.
" Sungguh aku benar-benar tidak tau apa yang kalian katakan. Apa kesalahanku sampai kalian melakukan ini kepadaku," ucap Azizi dengan bibirnya bergetar menahan sakit.
" Kesalahan kamu karena berani ikut campur dengan urusan kami. Kamu baru menjadi anak baru di sekolah tetapi sangat lancang," bentak Mitha.
" Kamu masih berpura-pura dengan perbuatan kamu. Wanita cupu seperti kamu. Berani merekam perbuatan kami saat membully Nadya dan kamu juga berani menyebar Vidio itu bukan hanya di gruop sekolah. Tetapi sosial media dengan akun yang tidak di kenal," teriak Mitha.
Sontak hal itu membuat Azizi kaget.
" Kamu masih mau mengelak dengan semua perbuatan kamu yang kampungan itu. Kamu lancang melakukan semua itu kepada kita," sahut Selina.
" Bagaimana mereka bisa tau semuanya. Siapa yang memberi tahu mereka," batin Azizi yang ketakutan.
Bagaiman tidak ketakutan. Selama ini semua tenang-tenang saja. Bahkan masalah perekam dan penyebarannya sudah terlupakan. Pihak sekolah bahkan tidak melanjutkan untuk mencari tau siapa yang merekam video itu.
Tetapi hari ini. Mitha dan Selina malah mengetahuinya membuatnya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
" Kenapa kamu diam. Kamu sudah tidak tau mau bicara apa lagi ha!" desis Selina.
" Kamu sengaja ingin jadi sok pahlawan. Atau merasa paling pintar sehingga mau menjatuhkan kita iya," teriak Mitha semakin menguatkan jambakan nya.
" Iya aku memang melakukannya!" ucap Azizi sedikit berteriak mengakui. Jika dia memang melakukan hal itu.
" Wouu, kamu ingin menjadi pusat perhatian iya," sahut Selina geleng-geleng.
" Aku hanya ingin kalian jera dengan apa yang kalian lakukan. Perbuatan kalian sangat keterlaluan. Aku hanya ingin kalian dapat balasan atas kejahatan yang lakukan," ucap Azizi dengan geram.
Plakkk
Mitha kembali menamparnya di pipi yang sama.
" Kalau begitu kau sudah salah telah mencampuri urusan kita. Apa yang kau lakukan melewati batas mu sebagai murid baru. Wanita yang terlihat cupu. Tetapi sangat menakutkan," desis Mitha semakin emosi.
__ADS_1
Azizi hanya bisa menangis. Dia tau akibat dari perbuatannya berurusan dengan orang-orang jahat itu pasti akan seperti ini. Di belakang Villa tidak ada satupun orang. Jadi mau lari pun dia tidak bisa.
" Kita harus beri dia pelajaran. Agar dia juga jera dengan apa yang di lakukannya. Agar lain kali dia harus berpikir panjang jika berani mencampuri urusan kita," sahut Selina.
" Iya ayo!" sahut Mitha memberi kode pada Selina.
Selina berjongkok dan menarik tangan Azizi sebelah kiri dan Mitha sebelah kanan.
" Apa yang kalian lakukan, kalian mau bawa aku kemana?" tanya Azizi dengan gemetaran.
Mitha dan Selina tidak menjawab. Mereka menyeret paksa Azizi menjauh dari Villa. Sementara Azizi hanya terus memberontak dia semakin takut entah kemana 2 wanita yang penuh kemarahan itu membawanya pergi.
" lepas! lepaskan aku lepas!" berontak Azizi yang benar-benar di seret paksa oleh ke-2 orang itu.
" Diam kamu perempuan sialan," umpat Mita semakin naik pitam mendengar teriakan Azizi.
**********
Vandy keluar dari Villa sambil memegang ponselnya. Matanya sangat fokus pada ponsel yang mencuri perhatiannya.
Tiba-tiba langkahnya harus terhenti ketika tapak sepatunya menginjak sesuatu. Vandy menoleh kebawah mengangkat kakinya melihat apa yang di injaknya.
Vandy berjongkok mengambil benda itu yang ternyata kacamata.
" Bukannya ini punya Azizi," gumamnya yang seakan hafal benda itu milik Azizi. Vandy melihat dengan teliti benda itu. Memastikan tebakannya benar atau tidak.
" Iya ini miliknya. Kok ada di sini dan kenapa pecah?" batin Vandy bingung dengan kacamata Azizi yang terlihat rusak.
Vandy juga melihat keranjang sampah yang masih menumpuk sampah di dalamnya di dekat tempat itu.
" Siapa yang meletakkannya di sini. Bukannya langsung di buang malah main letak aja," oceh Vandy yang mengambil keranjang sampah dan kaca mata itu.
Setelah Vandy membuang sampah tersebut. Vandy kembali memasuki Villa. Vandy langsung menuju kamar di mana Azizi tidur.
tok-tok-tok.
Tidak berapa lama mengetuk pintu. Pintu di buka dari dalam. Cherry yang membuka pintu.
" Vandy, ada apa?" tanya Cherry.
" Azizi mana?" tanya Vandy.
" Tadi kayaknya lagi buang sampah," jawab Cherry.
" Buang sampah," sahut Vandy mengingat tong sampah yang di temukan nya. Cherry mengangguk.
" Memang ada apa?" tanya Cherry melihat Vandy yang seperti memikirkan sesuatu.
" Bukannya ini punya Azizi?" tanya Cherry yang melihat kaca mata yang di pegang Vandy.
" Iya kamu benar. Ini milik Azizi. Apa dia sudah lama pergi?" tanya Vandy.
" Lumayan, kayaknya hampir setengah jam deh," jawab Cherry, melihat arloji di tangannya.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.