DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Epiosede 304 keputusan yang tepat.


__ADS_3

Verro dan Cherry sedang berada di dalam kamar di mana mereka sudah berada di atas ranjang dengan Verro menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan yang sedang membaca buku dan Cherry berada di pelukannya di mana Verro merangkul istrinya. Pipi mereka saling bersentuhan dengan Cherry yang bermanja dan ikut membaca apa yang di baca suaminya dengan lengan Cherry memeluk pinggang Verro dengan erat


Walau saling romantis seperti itu. Tetapi tampaknya Cherry tidak tenang dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu pada Verro, dia bahkan melihat wajah Verro sedari tadi yang mana Verro tetap fokus pada apa yang di bacanya.


" Sayang!" tegur Cherry, Verro menoleh kearahnya.


" Ada apa?" tanya Verro.


" Aku ingin bicara serius dengan kamu," ucap Cherry tampak ragu dengan kata-katanya.


" Hmmm, memang ingin bicara apa?" tanya Verro yang menutup bukunya lalu melihat istrinya dengan serius.


" Kamu ingin bicara apa?" tanya Verro.


" Aku ingin membahas sesuatu penting denganmu," ucap Cherry. Verro mengangguk.


" Katakan apa yang ingin kamu bahas?" tanya Verro.


" Masalah Fiona," ucap Cherry pelan. Membuat Verro menatapnya heran.


" Fiona?" tanya Verro memastikan. Cherry mengangguk.


" Hmmmm, kalau begitu ada apa dengan Fiona. Sampai kamu ingin membahasnya?" tanya Verro lagi.


" Aku ingin kamu berhenti menjadi Dokter Fiona," ucap Cherry dengan satu tarikan napas kata-kata yang sulit di ucapkannya. Dan Verro terlihat terkejut mendengarnya.


" Kenapa? apa ada yang salah. Bukannya kamu yang memintaku untuk menjadi Dokternya dan juga menanganinya. Lalu kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" tanya Verro yang tidak mengerti maksud istrinya.


" Verro, aku merasa sudah cukup kamu menjadi Dokter nya. Aku hanya ingin lebih tenang dan ini hanya untuk mencegah keributan di antara kita berdua," jelas Cherry.


" Cherry, kamu sedang tidak berpikiran. Jika aku dan Fiona ada sesuatu?" tanya Verro.


" Aku tidak memikirkan hal itu. Aku mempercayaimu sepenuhnya. Tetapi aku tidak tau jika ada kesempatan. Karena kesempatan membuat semuanya berubah. Jadi lebih baik mencegahnya," sahut Cherry menjelaskan.


" Cherry, aku sudah berkali-kali mengatakan kepadamu. Aku hanya bekerja profesional," ucap Verro memegang tangan istrinya.


" Aku bisa menerimanya. Kamu profesional dengan siapapun wanita yang manapun karena kamu Dokter. Tapi tidak Fiona. Aku tidak bisa melihatnya yang awalnya aku mengira baik-baik saja. Tapi aku semakin takut dan ketamutanmu ketika Fiona mengatakan dia mencintaimu," ucap Cherry dengan matanya berkaca-kaca.


" Fiona mengatakan itu kepadamu?" tanya Verro. Cherry mengangguk.


" Bukannya hal itu yang biasa di katakannya?" tanya Verro.


" Aku tau Verro, kamu juga akan mengatakan. Kalau kamu tidak mungkin mencintainya. Tetapi Verro aku juga pernah sakit dan pernah merasa akan mati dan melakukan banyak hal sebelum mati. Aku ingin mendapatkan semuanya, menikmati semuanya sebelum mati. Bagaimana jika pada akhirnya Fiona menginginkan kamu di hari terakhirnya," ucap Cherry dengan bibirnya bergetar yang ketakutan.

__ADS_1


" Shutttt," sahut Verro mengusap punggung tangan Cherry.


" Aku mengerti apa yang kamu takuti. Dan percaya lah padaku. Aku tidak mungkin melakukan itu," ucap Verro menyakinkan istrinya.


" Aku tau Verro. Tapi untuk mencegahnya apa salahnya kamu tidak menjadi Dokternya," sahut Cherry. Verro menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.


" Baiklah Cherry. Anggap aku tidak menjadi Dokternya. Lalu siapa. Bukannya kamu mengatakan Fiona tidak ada biaya. Lalu apakah dia akan kita biarakan kembali seperti awal," ucap Verro.


" Aku akan mencari Dokter untuknya dan aku rasa itu jalan yang terbaik asal kamu mau saja berhenti jadi dokternya," ucap Cherry yang sudah memikirkan itu dengan matang-matang.


" Lalu apa itu akan cocok?" tanya Verro.


" Pasti cocok," sahut Cherry yakin. Verro tersenyum mendengarnya.


" Baiklah sayang, aku akan menurutimu. Aku akan berhenti menjadi Dokternya. Demi kebaikan kita bersama," ucap Verro memutuskan. Cherry tersenyum tipis merasa lega dengan Verro yang berhenti menjadi dokter Fiona.


" Makasih ya," sahut Cherry. Verro mencium lembut kening Cherry.


" Kamu tidak perlu berterima kasih. Mulai sekarang kamu jangan Khawatir lagi. Jika Fiona sangat mengganggumu maka aku akan berhenti menanganinya," ucap Verro. Cherry mengangguk.


" Kamu ini sekarang benar-benar posesif," ucap Verro mencubit lembut pipi istrinya. Cherry hanya tersenyum dan memeluk suaminya erat.


" Aku rasa ini keputusan yang baik. Aku akan mencari Dokter untuk Fiona, agar Verro tidak terus bersamanya," batin Cherry yang merasa jauh lebih lega karena menyampaikan keberatannya kepada suaminya.


Fiona berada di dalam kamarnya dan terlihat begitu gelisah dengan tangannya yang memegang ponselnya. Ternyata beberapa kali dia menelpon Verro. Namun tidak ada jawaban dari Verro sama sekali.


" Kenapa tidak di angkat apa Verro sibuk," ucap Fiona yang tampak begitu gelisah.


" Tidak mungkin. Kalaupun dia sibuk. Dia pasti akan mengangkatnya. Aku adalah pritasnya. Aku yakin dia akan mengangkatnya secepatnya," ucap Fiona dengan percaya dirinya.


Tok-tok-tok.pintu kamarnya di ketuk.


" Itu pasti Verro," ucapnya dengan wajahnya tersenyum dan langsung buru-buru membuka pintu kamarnya dan wajah Fiona langsung berubah ketika pintu kamarnya di buka yang ternyata bukan Verro melainkan seorang Pria yang lengkap berpakaian Dokter..


" Siapa dia?" batin Fiona heran melihat Pria yang sekitar 40 tahunan itu.


" Dengan Bu Fiona," ucap wanita itu dengan tersenyum. Fiona mengangguk-angguk dengan penuh pertanyaan siapa wanita yang di hadapannya.


" Kamu siapa?" tanya Fiona.


" Hmmm, perkenalkan saya Roby, saya Dokter Roby yang akan menangani, memantau dan mengurus kamu," ucap Toby dengan tersenyum. Namun membuat Fiona kaget mendengarnya.


" Apa maksud kamu?" tanya Fiona heran.

__ADS_1


" Iya saya Roby, apa yang saya katakan kurang jelas," sahut Dokter Roby.


" Saya punya Dokter pribadi, kamu pasti salah orang," sahut Fiona.


" Tidak Bu, saya Menag Dokter yang akan menangani ibu," sahut Dokter itu menegaskan.


" Maaf ya Dok, tapi saya punya Dokter pribadi dan Dokter saya adalah Dokter Verro. Dia yang menangani saya selama ini," tegas Willo.


" Tapi Dokter Verro yang menyuruh saya menggantikan dirinya," sahut Dokter Roby membuat Fiona kaget dengan matanya terbuka lebar.


" Apa kamu bilang," sahut Fiona tidak percaya.


" Iya, saya yang menggantikan Dokter Verro," ucapnya menjelaskan dengan detail.


" Sementara," sahut Fiona yang merasa mungkin Verro sedang ada kesibukan lain.


" Tidak sementara tetapi selamanya," sahut Pria itu menegaskan membuat Fiona kaget.


" Tidak mungkin!" ucap Fiona yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Dokter itu.


" Kalau ibu tidak percaya bisa tanyakan pada Dokter Verro," sahut Dokter Roby.


" Apa-apaan ini kenapa Verro menggantikan dirinya dengan orang lain. Ini tidak bisa terjadi. Semuanya bisa sia-sia. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi," batin Fiona yang tampak frustasi.


" Bu, Fiona, mari saya cek kondisi ibu dulu," ucap Dokter Roby dan hal itu membuat Fiona kaget mendengarnya.


" Tidak! aku tidak mau di cek olehnya. Aku tidak mau. Bisa-bisanya rencanaku berantakan semuanya," batin Fiona yang kelihatan panik.


" Bu Fiona," tegur Dokter Roby.


" Kamu bukan Dokter ku. Jadi aku tidak mau," sahut Fiona yang langsung menutup pintu kamarnya membuat Dokter Roby heran.


" Aneh sekali. Kenapa dia tidak mau di periksa," batin Dokter Roby. geleng-geleng.


Sementara Fiona di dalam mengatur napasnya dengan tenang.


" Tidak, Verro tidak boleh berhenti menjadi Dokter ku. Hanya Verro satu-satunya menjadi harapan ku. Dia tidak boleh pergi begitu saja. Apa yang terjadi kenapa tiba-tiba seperti ini," ucapnya yang tampak sangat panik.


" Aku harus tanya sama Verro. Iya aku harus bertanya kepadanya kenapa dia melakukan itu kepadaku," batin Fiona yang seperti kebakaran jenggot hanya gara-gara dokternya di gantikan.


Bersambung


,

__ADS_1


__ADS_2