
Setelah acara pernikahan lancar dengan baik sekarang pasangan pengantin baru Selina dan Arif berada di kamar pengantin di hotel yang telah di sediakan.
Kamar itu pun layaknya kamar pengantin yang romantis pada umumnya dengan bunga mawar love di atas tempat tidur yang berseprai putih dengan suasana yang indah dengan lilin di dalam ruangan sehingga ruangan itu tidak terlalu terang.
Selina yang sudah berganti pakaian dengan kimono Silver duduk di meja rias dengan melap wajahnya dengan tisu. Make up-nya sudah di bersihkannya pada awalnya namun dia hanya mencari-cari kesibukan saja dengan bersih-bersih pada wajahnya.
Pintu kamar mandi terbuka yang mana ternyata Arif yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe putih dan tersenyum melihat Selina yang sedang bercermin. Namun Selina jadi malu-malu karena dengan keadaannya yang sudah bersama Arif di dalam kamar. Kalau canggung itu sangat wajar lah.
Arif menghampiri istrinya dengan berdiri di belakang Selina dengan tangannya memegang ke-2 bahu Selina dan menunduk mencium pipi Selina.
" Kamu terlihat begitu gugup!" ucap Arif.
" Aneh sekali, jika aku tidak gugup," jawab Selina. Arif tersenyum mendengarnya dengan mengajak Selina berdiri sehingga Selina sudah berdiri di depannya.
Arif mencium kening Selina dengan lembut dengan Selina memejamkan matanya.
" Jika gugup dan tidak siap. Kita jangan melakukannya sekarang," ucap Arif.
" Maksudnya?" tanya Selina dengan mengangkat kepalanya melihat mata suaminya itu.
" Aku tidak ingin kamu sampai terpaksa melakukannya. Kita bisa menunggu nanti saja kalau kamu benar-benar sudah siap," ucap Arif.
" Aku tidak mengatakan apa-apa," ucap Selina tiba-tiba.
" Maksud kamu?" tanya Arif.
" Kamu bilang aku tidak siap. Padahal aku tidak bilang apa-apa dan jika aku gugup bukannya itu hal biasa. Hmmm atau jangan-jangan kamu lagi yang tidak siap," ucap Selina menatap suaminya itu dengan penuh curiga membuat Arif mendengus tersenyum.
" Kamu meragukan ku," sahut Arif dengan menaikkan alisnya.
Selina mengangkat ke-2 bahunya yang jawaban itu tidak tau mengarah ke arah mana. Arif langsung meletakkan ke-2 tangannya di pinggang Selina dan membawanya lebih dekat ke arahnya yang membuat Selina mengalungkan tangannya di leher Selina.
" Sepertinya aku yang akan mati kutu malam ini," ucap Arif.
__ADS_1
" Kenapa bisa?" tanya Selina.
" Karena aku melihat istriku yang cantik ini yang jauh lebih semangat," ucap Arif.
" Benarkah?" tanya Selina. Arif mengangguk membuat Selina tersenyum dan Arif langsung mencium lembut kening Selina lagi.
Tidak hanya itu dunia juga mencium pipi, Selina menciumi wajah itu dan berakhir kecupan di bibir Selina dan kecupan yang akhirnya menjadi ciuman dalam yang saling memberikan kenikmatan satu sama lain.
Tidak ada waktu yang mereka sia-siakan untuk malam pertama mereka yang harus mereka lakukan tanpa adanya kata menunda perkara siap atau tidak jelas mereka sudah sama-sama siap dan melakukan penyatuan di atas kelopak mawar itu dengan penuh cinta dan kasih sayang yang mereka lakukan di malam pernikahan mereka.
Kata-kata cinta beberapa kali terucap dari mulut ke-2nya yang sama-sama menikmati percintaan mereka.
************
Namun Selina dan Arif yang sedang malam pertama dan terlihat sama-sama begitu menikmati sangat berbeda dengan Cherry dan Verro yang mana malam ini terlihat terburu-buru dengan Verro yang membantu istrinya yang keluar dari rumah yang mana Cherry yang memegang perutnya yang buncit yang terlihat kesakitan.
" Sayang kamu sabar ya," ucap Verro yang sekarang membuka pintu mobil untuk Cherry dan art di rumah itu berlari membawakan tas yang sepertinya apa yang di perintahkan Verro sebelumnya.
Verro begitu panik ketika melihat istrinya yang terlihat kesakitan dengan dahi Cherry yang berkeringat dan terus menghembuskan napas dengan kasar.
" Sayang kamu sabar ya," ucap Verro.
" Sakit sekali," keluh Cherry. Verro melihat di paha Cherry sudah mengalir air yang mungkin ketuban Cherry sudah pecah dan ya Cherry pasti melahirkan hari ini.
Prediksi sebelumnya Cherry melahirkannya akhir bulan kalau tidak bulan. Tetapi lari dari prediksi dan sekarang Cherry sudah pecah ketuban.
" Kita akan segera sampai, kamu bersabar ya sayang," ucap Verro yang sudah mengendarai mobilnya dengan cepat. Walau panik tetapi Verro berhati-hati dan fokus menyetir yang tidak ingin terjadi sesuatu nanti pada istrinya dan juga calon anaknya.
Cherry dan Verro yang sama-sama tidak memiliki keluarga dekat harus mandiri. Walau Dokter mana mungkin Verro menangani istrinya sendiri di rumah itu sungguh ada-ada saja.
Cherry juga hanya banyak-banyak berdoa di dalam mobil yang berusaha tenang dengan mengatur napasnya baik-baik seperti apa yang sudah pernah di ajarkan sebelumnya kepadanya. Dia juga harus tenang agar suaminya tidak panik.
Tidak butuh lama dari rumah mereka sampai kerumah sakit dan akhirnya sudah tiba di rumah sakit dengan lincah Verro langsung memerintah beberapa suster dan mengatur segalanya untuk mempersiapkan persalinan istrinya dan semuanya di laksanakan dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Namun walau tergesa-gesa cepat terlaksana dengan baik dan Cherry sudah ada di ruang persalinan dan menekan pakaian yang di sediakan.
Ada 3 orang suster yang ada di sana, ada Verro dan ada 2 Dokter kandungan yang mana semua sudah memakai APD hijau.
" Bagaimana apa sudah siap?" tanya Dokter.
" Sudah Dokter mari kita laksanakan," sahut Verro yang berada di bagian kepala istrinya dengan menggenggam tangan istrinya kuat sambil mengusap-usap kepala Cherry.
" Sayang kamu bersabar ya, bersabar ya sayang, semuanya akan baik-baik aja," ucap Verro yang terus menenangkan istrinya. Cherry mengangguk dengan mencoba menenangkan dirinya.
" Ayo Bu Cherry tarik napas dalam-dalam buang perlahan kedepan. Tarik lagi!" ucap Dokter memberikan arahan pada Cherry dan Cherry melakukan apa yang di katakan Dokter.
" Ahhhhh, Ahhhhh, ahhhh," Cherry terus berteriak dengan sekuat-kuat tenaganya. Dengan Verro yang terus menengakannya dan pasti sangat kasihan pada istrinya yang melahirkan anak mereka, sampai-sampai mata Verro berkaca-kaca dengan perjuangan Cherry.
" Lagi Bu Cherry, kepalanya sudah terlihat," ucap Dokter lagi.
" Aaaaaaa!" teriak Cherry lagi yang terus berteriak dengan menahan rasa sakit. Pasti sakit mana ada melahirkan yang tidak sakit.
" Ya Allah hilangkan rasa sakit pada istriku, lancarkan prosesnya ya Allah. Aku mohon ya Allah," batin Verro yang benar-benar panik dengan kondisi Cherry yang tidak tega melihat istrinya seperti itu.
Owe owe owe owe owe owe owe.
Akhirnya suara bayi itu terdengar membuat Cherry meneteskan air mata dengan hembusan napasnya yang naik turun Verro juga melihat bayi merah yang penuh darah itu dengan air matanya yang menetes dan langsung mencium Cherry dengan menangis di wajah Cherry yang di peluknya rasa haru menyelimuti ruangan persalinan itu dengan tangisan bayi mereka. Buah hati pertama mereka.
" Alhamdulillah bayinya selamat dan lahir tanpa cacat dengan jenis kelamin perempuan," ucap Dokter yang langsung menelungkupkan bayi itu di atas dada Cherry dan Verro pun terus mengusap-usap kepala Cherry yang masih begitu terharu.
" Terima kasih sudah melahirkannya," ucap Verro.
Cherry mengangguk karena tidak sanggup lagi untuk bicara. Dia juga tidak percaya bisa menjadi seorang ibu dan anak yang di kandungannya selama ini sungguh banyak perjuangannya dari hamil mendapat banyak musibah sampai dia koma karena kecelakaan dan masih diberi keselamatan.
Kelak bayi itu akan menjadi wanita yang kuat sama seperti dirinya. Kehadirannya memberi banyak kebahagian untuk Verro dan juga Cherry sebagai orang tua baru.
Bersambung
__ADS_1