
Cherry, Sasy, Azizi, Toby, dan Nadya, berdiri membentuk lingkaran ketika kertas yang berisi nomor itu belum di buka.
" Semoga di antara kita ada yang sama," ucap Sasy penuh harapan.
" Ayo kita buka," ucap Toby memberi arahan. Setelah Toby menghitung 1 sampai 3 mereka serentak membukanya masih dengan mata terpejam. Saat sudah dibuka dengan serentak mata itu juga terbuka bersamaan.
" Kalian sama," celetuk Azizi melihat Angka 3 milik Sasy sama dengan milik Toby.
" Yes," sahut Toby melompat kegirangan sementara Sasy langsung lemas.
" Kita memang ditakdirkan Sasy untuk bersama," sahut Toby kesenangan di atas penderitaan Sasy.
" Kenapa harus kau?" protes Sasy benar-benar muak yang terus bersama Toby.
" Seperti yang aku katakan itu sudah takdir," sahut Toby dengan entengnya membuat Cherry, Azizi dan Nadya tertawa lepas.
" Aku tidak Sudi menjadi takdirmu," sahut Sasy merasa amit-amit dengan Toby.
" Ada yang no 9," sahut Vandy yang datang bersama Verro dan Varell.
" Aku," sahut Azizi mengangkat tangannya.
" Kita satu tim, kita sama," sahut Vandy memperlihatkan nomornya.
" Benarkah!" sahut Azizi Vandy mengangguk.
" Kau nomor berapa Cherry?" tanya Vandy.
" 5," jawab Cherry.
" Verro juga 5," jawab Vandy. Verro melihat nomornya ya memang 5. Cherry tersenyum bisa 1 tim dengan Verro.
" Itu baru namanya di takdirkan," celetuk Sasy.
" Sudahlah terima aja," sahut Toby, " Ayo buruan, supaya kita yang menang," tanpa basa-basi Toby langsung menarik tangan Sasy membawanya pergi.
Cherry dan yang lainnya melihat geleng-geleng. Terkadang kasian dengan Sasy yang termakan batin dengan kelakuan Toby. Tetapi mereka memang cocok sama-sama bobrok..
" Ayo Azizi," ajak Vandy, Azizi mengangguk dan mengikuti Vandy memulai misi mereka.
" Kau nomor berapa?" tanya Varell pada Nadya.
" 11," jawab Nadya.
" Ayo," ajak Varell dengan dingin yang berjalan duluan.
" Dia nomor 11?" tanya Nadya melihat Verro. Verro mengangguk.
" Kalau begitu aku duluan," ucap Nadya pamit mengejar Varell. Sekarang tinggal Cherry dan Verro yang belum bergerak.
" Kita belum pergi?" tanya Cherry melihat ke arah hutan yang anak-anak yang lain sudah masuk kesana.
__ADS_1
" Sebentar!" ucap Verro mengeluarkan sesuatu dari saku sweater nya.
Cherry hanya melihat saja. Verro meraih tangan Cherry dan memasangkan jam tangan Cherry di tangan kecil itu.
" Jangan membuangnya lagi!" ucap Verro yang masih memakaikan pada Cherry.
" Dari mana kamu mendapatnya?" tanya Cherry bingung. Dia bahkan tidak mengingat jam itu lagi.
" Varell yang menemukannya, jadi jangan membuangnya," jawab Verro selesai memakaikan jam itu.
" Kamu bisakan tidak membuangnya?" tanya Verro memastikan. Cherry mengangguk cepat. Verro mengusap pucuk kepala Cherry dengan acak.
" Ya sudah, ayo kita pergi!" ucap Verro meraih tangan Cherry. Cherry pun mengangguk tersenyum.
*********
" Aku tidak mau satu tim dengannya," protes Raquel pada Pak Sony saat mendapat 1 tim dengan Aldo. Sementara Aldo disamping Raquel hanya mendengus mendengar Raquel yang memprotes.
" Raquel sudah tidak bisa di ganti lagi. Lagian semua orang sudah pergi. Jadi kamu terima saja apa yang kamu dapatkan," jawab Pak Sony.
" Tapi saya tidak mau sama dia Pak," ucap Raquel sekali lagi dengan tegas. Aldo pasrah dengan geleng-geleng.
" Ya sudah kalau kamu tidak mau. Pak saya sendiri saja," sahut Aldo, " permisi!" ucap Aldo pamit masuk kedalam hutan.
" Aldo!" panggil Pak Sony tetapi Aldo tidak merespon. Dia tidak punya waktu untuk membujuk Raquel.
" Kamu lihat Aldo sudah pergi. Kamu mau satu tim sendirian juga, terserah kamu Raquel mau berbuat apa. Semua kegiatan dalam Study tour ada penilaiannya dan kamu dan laporan pada orang tua. Jadi semua tergantung di tangan kamu," ucap Pak Sony dengan tegas.
" Sialan!" teriak Raquel.
" Dasar laki-laki bermuka dua. Apa lagi yang akan di lakukannya. Dia sudah membuatku di skors, di permalukan dan sekarang dia dengan entengnya pergi, biar apa. Biar aku tidak mendapatkan nilai dan akan dapat laporan orang tua," geram Raquel mengumpat kesal dengan matanya yang memerah.
" Aldo sialan?" teriak Raquel melihat di sekelilingnya yang sudah tidak ada orang.
*************
Cherry dan Verro berjalan dengan langkah yang pelan. Tangan Cherry terus memegang jaket Verro. Sementara Verro menyenter-nyenter jalan.
" Apa kita tidak kesasar?" tanya Cherry melihat sekilingnya.
" Tidak, jalannya sudah benar," jawab Verro, " itu," tunjuk Verro dengan mengarahkan cahaya senter menunjukkan petunjuk jalan.
" Tetapi kenapa sepi?" tanya Cherry merasa takut.
" Namanya hutan, pasti sepi," jawab Verro menyenter ke atas-ata pohon, Cherry juga mengikuti arah cahaya itu.
" Verro jangan menyenter yang lain, fokus kedepan aja," sahut Cherry merinding. Verro mendengus tersenyum.
" Iya, tenang tidak akan ada apa-apa," ucap Verro meyakinkan.
" Kau mau minum?" tanya Verro menoleh ke arah Cherry yang mengangguk. Verro berhenti. Membuka botol minum yang memang sengaja di bawa dan memberikan pada Cherry.
__ADS_1
" Minumlah!" ucap Verro. Cherry mengangguk dan meminumnya.
" Apa kita masih lama mendapatkan bendera itu?" tanya Cherry merasa sudah lemas.
" Kau capek?" tanya Verro melihat Cherry kelelahan. Cherry mengangguk. dia memang lumayan lelah.
" Ya sudah kita kembali saja, jangan mengikuti tugas ini," ucap Verro yang memang lebih mempedulikan kesehatan Cherry. Tetapi Cherry langsung menggeleng.
" Jangan, aku tidak mau. Aku ingin dapat nilai dari sini," sahut Cherry menolak dengan cepat.
" Tapi kamu tidak baik-baik saja," sahut Verro mulai cemas.
" Aku baik kok," ucap Cherry yakin dengan penuh semangat.
Verro pun berjongkok membelakangi Cherry, membuat Cherry heran.
" Naiklah!" ucap Verro menengok kebelakang.
" Hah! aku," tunjuk Cherry pada dirinya.
" Memang ada orang lain di sini," sahut Verro.
" Tapi!" Cherry gugup merasa tidak yakin.
" Sudahlah cepat, kita harus mencari benderanya. Biar kita bisa pulang," ucap Verro dengan yakin. Cherry masih ragu. Verro meraih tangan Cherry untuk memegang pundaknya.
" Buruan!" suruh Verro lagi.
Cherry tersenyum dan langsung naik ke punggung Verro di gendong belakang oleh Verro. Setelah Cherry naik Verro langsung berdiri.
" Apa aku berat?" tanya Cherry yang berada di gendongan Verro.
" Tidak terlalu?" jawab Verro yang sudah mulai berjalan. Cherry yang berada di gendongan Verro merasa senang.
" Verro apa kita akan mendapatkan benderanya?" tanya Cherry berbicara di telinga Verro dengan pipinya yang menempel pada Verro.
" Hmmm, kita akan mendapatkannya," jawab Verro.
" Bukannya akan lama, jika kamu menggendongku seperti ini. Pasti kamu jalan kesusahan," ucap Cherry.
" Aku lebih kesusahan, kalau kamu banyak mengoceh terus," sahut Verro. Cherry sampai menarik ujung bibirnya.
" Oke aku diam!" sahut Cherry menutup mulutnya rapat. Verro hanya tersenyum dan terus menggendong Cherry.
Cherry dan Verro terus berjalan menelusuri hutan dengan keadaan yang sama. Cherry yang berada di dalam gendongannya.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1