
Cherry kembali berjalan dengan lesu. Entah kenapa saat melihat Verro dan Fiona seperti itu membuat Cherry tambah tidak bersemangat.
" Kenapa juga aku memikirkan hal itu. Itukan urusannya," batin Cherry yang merasa ada sesuatu di perasaannya yang seperti marah jika Verro bersama orang lain. Tetapi perasaan itu sama sekali tidak dapat di mengerti Cherry.
Lamunan Cherry berhenti ketika tangan melingkar di pundaknya.
" Cherry," sapa Sasy dengan wajah cerianya. Cherry menoleh ke arah Sasy tersenyum tipis.
" Kenapa wajahmu?" tanya Sasy melihat wajah Cherry yang tampak lesu.
" Tidak apa-apa, aku hanya kurang tidur," jawab Cherry bohong. Dia juga tidak tau sebenarnya ada apa dengan dirinya.
" Benarkah, kok bisa, kamu belajar terlalu berlebihan pasti," tebak Sasy.
" Hhhhhh, mungkinlah," sahut Cherry dengan hembusan napasnya kedepan.
" Ya sudah, bagaimana kalau kamu istirahat di UKS saja," sahut Sasy memberi saran.
" Tidak perlu, aku tidak mengantuk," jawab Cherry masih dengan suara lemasnya.
" Oke, baik jika begitu, kita kekelas saja. Biar aku ada teman mengobrol," sahut Sasy yang juga bingung harus melakukan apa untuk sahabatnya itu.
************
Cherry dan Sasy memasuki kelas. Seperti biasa kelas itu kembali ricuh. Tingkah murid-murid seperti biasa pasti ada-ada saja.
Saling mengobrol, bermain ponsel, saling pamer sana-sini, seperti yang di lakukan geng Raquel.
" Hay Cherry," sapa Toby.
" Hay," sahut Cherry dengan wajah murungnya. Duduk dengan menopang pipi kirinya dengan telapak tangannya
" Aku tidak kau sapa?" tanya Sasy pada Toby.
" Hay, Sasy tapi bohong," sahut Toby mengejek.
" Ishhhh," desis Sasy kesal.
Cherry yang duduk di denga wajah lesunya. melihat ke arah Fiona yang seperti biasa diam dengan menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ke 2 tangan di silangkan di dadanya dan pasti earphone di telinganya.
" Dia bahkan tidak pernah berbicara. Tetapi saat bersama Verro mulutnya malah sangat lincah berbicara," batin Cherry yang tiba-tiba merasa apa yang di lihatnya tadi sungguh menganggu pikirannya.
Cherry juga tidak mengerti. Melihat Fiona dan Verro yang seperti itu. Membuatnya sangat terganggu. Seperti ada rasa kesal.
Tiba-tiba Fiona melihat ke arah Cherry. membuat Cherry kaget saat mata mereka saling beradu. Dengan cepat Cherry langsung mengalihkan pandangannya, kedepan.
Cherry membuang napasnya perlahan.
" Kenapa juga aku harus terus memikirkannya," batin Cherry yang terus membuang napasnya perlahan fokusnya benar-benar hilang hanya karena gangguan penglihatannya.
" Cherry," tegur Sasy membalikkan tubuhnya menghadap Cherry.
" Iya," jawab Cherry.
" Nanti sore pulang sekolah temani aku ya ke Mall," ucap Sasy.
" Ke Mall," sahut Cherry.
" Iya ke Mall, aku ingin membeli baju baru. Untuk study Tour Minggu depan," jawab Sasy yang mengingat jadwal study tour di akhir semester.
" Study Tour," sahut Cherry yang melupakan hari itu.
" Iya, kamu bagaimana sudah mempersiapkannya?" tanya Sasy.
" Hhhhhhh, entahlah. Aku pasti tidak boleh ikut," sahut Cherry lemas.
Mengingat tahun sebelumnya Cherry yang pernah ikut kemping. Tetapi jantungnya malah kumat dan membuatnya di rumah sakit. Semenjak hari itu. Papanya tidak pernah mengijinkannya untuk berpergian.
" Ya ampun sayang sekali. Study Tour. Hanya sekali selama SMA, kalau kamu tidak ikut. Kamu nggak akan pernah ngerasain dong," sahut Sasy dengan lemas menyayangkan hal itu.
" Sasy kamu kan tau sendiri. Bagaimana aku. Papa pasti tidak mengijinkan. Sedangkan kemping sehari 2 hari saja papa melarang. Apa lagi study Tour untuk sebulan. Mana mungkim di kasih," jelas Cherry tidak bersemangat.
__ADS_1
SMA Internasional memang mempunya rutinitas study tour untuk setiap murid kelas 2. Yang di laksanakan bergantian. Dan Minggu depan adalah giliran untuk kelas Cherry. Stduy tour di adakan selama 1 bulan penuh.
" Benar juga sih, berarti kamu tidak akan ikut," sahut Sasy dengan semangat yang hilang mendadak.
" Entahlah," sahut Cherry tidak bersemangat.
" Kalau kamu tidak ikut, siapa yang akan menjadi temanku," ucap Sasy.
" Ihhhhh, Sasy jangan lebay, banyak kok temanmu, aku pusing tau," ucap Cherry mendengar rengekan Sasy membuatnya semakin frustasi.
" Aku memang tidak akan pernah bisa bahagia. Untuk study tour saja tidak akan pernah kunikmati. Apa lagi mencari pacar seperti kata Siska," batin Cherry yang mulai putus asa.
Cherry menempelkan sebelah pipinya di atas meja. Miring kekanan yang berarti Cherry bisa melihat Verro.
Cherry melihat Verro sibuk dengan ponselnya. Cherry melihat ujung bibir Verro yang luka. Luka seperti yang pernah di obatinya.
" Ada apa dengannya?" batin Cherry penasaran. Sekaan khawatir dengan Verro. Dia memang sangat aneh belakangan ini. Cherry terus melihat Verro.
Sampai akhirnya Verro melihat ke arah Cherry. 2 bola mata itu saling bertemu dan beradu pandang tanpa ada yang mengalihkan pandangan masing-masing.
Entahlah hanya Verro dan Cherry yang tau apa yang mereka bicarakan dalam bahasa isyarat mereka masing.
Pandangan mereka berhenti ketika guru memasuki kelas. Pak Arif guru sejarah memasuki kelas.
Kedatangan Pak arif Membuat murid - murid berhamburan kembali duduk ke tempat masing-masing.
Baik Cherry dan Verro mengalihkan pandangan masing-masing. Cherry kembali normal duduk dan menghadap kedepan.
" Berdiri!" Aldo sang ketua kelas mulai memberi aba-aba memberi hormat pada guru bahasa.
" Selamat pagi Pak," ujar murid-murid dengan serentak.
Dengan suara tidak bersemangat. Maklumlah mendengar kata sejarah jiwa mengantuk mereka sudah meronta-ronta.
" Selamat Pagi," sahut Pak Arif dengan senyumnya. Pak Arif memang di kenal guru sejarah yang rajin senyum.
" Duduk!" perintah Aldo.
" Anak-anak, kalian akan membuat rangkuman tentang sejarah manusia purba," ujar Pak Arif.
" Huuuuuu," sorak murid-murid yang langsung tidak terima. Biasalah para murid memang tidak mudah menerima apa yang di katakan guru.
" Kalian akan di bagi kelompok. Tetapi untuk tugas ini. Bapak memberi keringannan. Akan di bentuk kelompok. 1 kelompok terdiri dari 6 Orang.
" Kita satu kelompok oke," ujar Mitha langsung menoleh kebelakang melihat Raquel, dan melihat ke sebelahnya Selina.
" Sip," sahut Selina mengajukan jempolnya.
" 3 lagi siapa?" tanya Raquel.
" V3 aja," sahut Mita menoleh kebelakang melihat V3 yang asyik sendiri.
" Hahh bukannya kemarin Varell memarahi kita akibat ulahnya," sahut Selina menyindir melirik ke arah Nadya. Seperti biasa Nadya hanya tahan kuping saja.
" Hahhh, sudaah, jangan dipikirkan," sahut Raque kesal.
Jika mengingat hal itu. Di permalukan Varell di depan Nadya yang di anggapnya rendahan.
" Baik anak-anak untuk, kelompoknya bapak yang akan memilih," sahut Arif menegaskan.
" Nggak bisa dong Pak kita sudah janjian nih," sahut Selina dengan suara cemprengnya.
" Iya benar," tambah murid-murid lain yang kurang setuju.
" Sudah diam, bapak akan pilihkan, tidak ada yng boleh protes," tegas Pak Arif.
Kelempok 1.
Raka. Nadin, Astri , Selina, Aryo, dan Azizi
__ADS_1
" Pak, Raquel sama Mitha masuk kelompok saya dong pak," sahut Selina mengangkat tangannya langsung protes.
" Kenapa bukan kamu saja gurunya," sahut pak Arif.
" Issssh, satu kelompok laginsama si cupu," desisnya kesal.
Mitha, Aldo, Raquel, Nadya, Yogi dan Fiona.
" Kita satu kelompo," Mitha langsung tos dengan Raquel.
" Tetapi tetap saja, kelompok kita pada kaku," sahut Raquel.
" Paling tidak ada Aldo yang pintar dan ada dia bisa jadi kacung," sahut Mitha melirik Nadya yang duduk di depan.
Nadya bisa mendengar suara Mitha yang mengejeknya. Mitha dan Raquel tersenyum sinis.
" Kalian mah enak gabung, sementara aku," keluh Selina yang bernasib sial. Mitha dan Raquel saling melihat dan tersenyum.
Kelompok
Yogi, beben, Aris, Sofyan, Danu, dan Rio,"
" Kok cowok semua pak," protes Beben.
" Nggak seru dong Pak, nggak ada cuci mata," sambung Yogi yang terus memprotes.
" Sudah jangan banyak protes," Sahut Pak Arif dengan tegas.
Kelompok 4.
Pak Arif melanjutkan dengan melihat murid-murid yang akan di satukannya jadi kelompok.
" Pak, kita pas be-6," sahut Sasy mengangkat tangannya,
memutarkan jarinya ke arah orang-orang di sekelilingnya. Termasuk Cherry, Toby dan geng V3.
" Cherry kamu mau masuk kelompok itu?" tanya Pak Arif.
Cherry yang masih belum fokus bingung. Kemudian Cherry mengangguk setelah mata Sasy berkedip sebelah.
" Baiklah kalian satu kelompok," ujar Pak Arif tanpa berpikir panjang.
" Yeee," sahut Sasy dengan senangnya.
" Huuuu nggak adil. Masa bisa milih sendiri," sorak murid-murid tidak terima.
" Apaan sih pak, saya aja tidak boleh," protes Selina tidak terima.
" Syirik aja lo," sahut Sasy.
" Pilih kasih,"
" Pilih kasih,"
" V3 bagi-bagi,"
" Emang lo kira barang," celetuk Sasy. Dia harus melawan murid-murid yang protes kepadanya.
💝💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya