DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 215 perasaan yang tersampaikan.


__ADS_3

Raquel hanya melihat kepergian temannya yang buru-buru itu.


" Ya semoga saja dia benar-benar menyadari perasaannya dan hubungannya dengan Toby bukan hanya sekedar sahabat. Tetapi lebih dari sahabat," batin Raquel yang penuh harapan mendoakan temannya itu.


Sasy yang berlari buru-buru melewati koridor rumah sakit. Sampai Sasy menabrak Vandy.


" Sorry, sorry," ucap Sasy yang langsung berlari.


" Aneh, kenapa sih dia lari-lari kayak gitu," gumam Vandy geleng-geleng dengan melakukan Sasy.


Sasy memasuki mobilnya dengan cepat dengan terburu-buru. Dengan debaran jantungnya yang berdetak kencang, matanya yang bergenang. Perasaannya yang campur Aduk. Duduk di kursi pengemudi dengan dan langsung menarik gas mobil dengan kecepatan tinggi.


Sementara Toby sudah berada di dalam mobil duduk di kursi belakang dengan supir yang mengemudi. Wajahnya tampak lesu dan tidak ada semangat sama sekali.


Toby terus melihat ponselnya dengan jarinya jempolnya yang menggeser- geser kekiri yang ternyata melihat foto Sasy yang berbagai macam gaya yang di ambilnya sembarangan.


" Hey, kau itu mimpi saja. Karena sampai kapanpun aku tidak akan menyukaimu,"


Kata-kata itu teringat di dalam otak Toby dan membuatnya tersenyum miring.


" Tobyyyyyyy," teriak Sasy.


Teriakan Sasy dengan suara cemprengnya teringat kembali. Toby terus melihat foto-foto yang masih disimpannya itu.


" Aku tidak tau Sasy, apa aku bisa melupakanmu," batin Toby dengan perasaannya yang bergetar.


Di sisi lain Sasy berada di tengah-tengah macet dan beberapa kali Sasy membunyikan klakson.


" Ayo dong, cepat!" ucap Sasy yang terus melihat arloji di tangannya.


" Cepat! cepat! dong," ucap Sasy yang benar-benar pasrah. Air matanya sudah ingin jatuh. Tetapi masih tertahan.

__ADS_1


" Aku tidak mungkin di sini terus," ucap Sasy yang keluar dari mobilnya. Dia sudah tidak peduli dengan apapun.


Sasy berlari kelimpungan di tengah-tengah macet, dia mengambil keputusan sendiri. Sasy tidak pernah sepanik itu. Tetapi kali ini dia benar-benar sangat panik.


Bandara.


Toby sudah sampai Bandara dan sudah mengurus semuanya, dari paspor dan lainnya, dia benar-benar mantap dengan keputusannya yang akan pergi dan tidak mengabari Sasy lagi. Karena memang tidak ada kesempatan dan mungkin Sasy juga tidak akan peduli.


Dengan langkah yang berat Toby menyeret kopernya, menuju pintu pemerikasaan. Sementara Sasy baru tiba di Bandara. Sasy turun dari ojek dan langsung berlari memasuki Bandara.


" Toby, please kamu tidak bisa pergi begitu saja, please Toby, jangan secepat itu, please Toby," ucap Sasy yang berkeliling di Bandara dengan kepalanya yang mencari-cari Toby. Kakinya bahkan tidak kenal lelah untuk mencari kesana-kemari Toby.


" Aku mohon Toby, jangan pergi," ucap Sasy yang sekarang sudah meneteskan air matanya.


Sementara Toby sedang berada di antrian untuk memasuki pemeriksaan yang mungkin langsung menuju ke pesawat.


" Ini yang terbaik," ucap Toby dengan membuang napasnya perlahan.


Betapa terkejutnya Toby saat melihat Sasy yang berdiri dengan napasnya yang naik turun. Toby tidak percaya dengan wanita yang di lihatnya. Membuat Toby melangkah mendekati Sasy dan Sasy juga melangkah mendekatinya.


" Sasy," lirih Toby dengan napas beratnya.


" Kamu itu jahat sekali," ucap Sasy memukul dada Toby dengan ke-2 tangannya dengan air matanya yang menetes, " Kenapa kamu pergi begitu saja, kamu tidak peduli kepadaku. Kenapa kamu tidak adil. Kenapa tidak memberi tahuku jika kamu pergi dan kamu memberitahu yang lain dan aku tidak. Apa aku orang asing," ucap Sasy yang terus memukul-mukul Toby dengan menangis senggugukan. Toby diam saja mendengarnya dan membiarkan Sasy memukulnya.


" Apa salah ku. Kenapa kamu menganggapku asing. Kamu benar-benar tidak adil padaku. Kamu benar-benar jahat. Kamu sungguh jahat," ucap Sasy lagi yang mengeluarkan isi hatinya. Toby menangkap tangan Sasy dan langsung membawa Sasy kedalam pelukannya.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk tidak memberi tahumu. Aku hanya tidak ingin mengganggumu. Maafkan aku," ucap Toby dengan memeluk Sasy yang menangis terisak-isak.


" Kamu bohong, kamu memang sengaja tidak ingin memberitahuku. Karena kamu menganggapku orang asing," ucap Sasy dengan tangisannya yang tiada henti. Toby melepas pelukannya dari Sasy, memegang ke-2 pipi Saay yang sudah memerah dengan banjiran air mata.


" Tidak Sasy, aku tidak pernah menganggapmu orang asing, kamu tetap Sasy yang sama seperti dulu. Aku memang hanya tidak sempat memberi tahumu," ucap Toby menjelaskan dengan menatap mata Sasy dengan penuh arti.

__ADS_1


" Lalu kenapa kamu pergi buru-buru. Bukannya seharusnya kamu belum saatnya pergi?" tanya Sasy yang sebelumnya mendengar dari Raquel.


" Karena aku tidak ada alasan untuk memperlama di sini. Lagian orang tuaku, sudah menunggu di sana. Jadi aku harus pergi," ucap Toby memberikan alasannya.


" Dan apa kamu memang benar, tidak akan kembali lagi," tanya Sasy memastikan dengan napasnya yang tersenggal-senggal yang tidak beraturan. Toby tersenyum mendengar pertanyaan Sasy.


" Iya. Aku tidak akan kembali. Aku menetap di sana," jawab Toby.


" Apa tidak akan bisa di cansel lagi, kenapa semuanya buru-buru sekali." ucap Sasy yang ingin Toby tidak pergi.


Sasy pasti ingin membicarakan hatinya pada Toby. Tetapi waktu sangat mepet dan berharap Toby mengubah keberangkatannya. Agar ada kejelasan di antara mereka sebelum Toby benar-benar pergi.


" Kenapa diam Toby, jawablah, apa memang akan pergi secepat ini," ucap Sasy yang membutuhkan kepastian. Toby tersenyum menahan kesedihannya dan mengusap air mata Sasy.


" Iya aku akan pergi, ini sudah waktunya.


Penerbangan Indonesia Itali 5 menit lagi.


Pengumuman itu terdengar dan membuat Sasy semakin panik.


" Aku pergi dulu! kamu jaga diri baik-baik. Semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Toby yang benar-benar tidak akan mengubah keputusannya.


Toby tersenyum dengan menurunkan tangannya dari pipi Sasy dan tidak banyak bicara lagi. Toby langsung membalikkan tubuhnya menyeret kopernya. Dengan berat hati langkahnya meninggalkan Sasy yang banyak harapan untuk Toby mengubah keputusannya.


" Benar apa kata Raquel, semuanya hanya akan sia-sia, kenapa kamu begitu bodoh Sasy. Apa kamu tidak bisa mengungkap isi hatimu. Saat ini kepadanya. Apa kamu tidak bisa bicara sekarang. Paling tidak dia tau kalau kamu menyukainya," batin Sasy yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Dia seakan membiarkan semuanya. Perasaannya pun akan seperti itu yang tidak terucap sama sekali. Dia hanya bisa menangisi penyesalannya dengan melihat punggung Toby yang semakin jauh.


Toby yang melangkah terus seketika menghentikan langkahnya dan berbalik badan melangkah cepat mendekati Sasy dan sampai tiba di depan Sasy yang menangis dengan napas yang naik turun.


Toby memegang ke-2 pipi Sasy dan langsung mencium bibir Sasy tanpa permisi. Dan Sasy yang seakan tidak menolaknya memejamkan matanya seakan menerima ciuman dari Toby.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2