DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 321 melabrak Fiona.


__ADS_3

Verro terduduk lemas setelah membaca surat dari istrinya. Air matanya mengalir dengan tangannya yang sudah menjambak rambutnya sendiri. Tulisan Cherry seakan mengisaratkan sesuatu.


Di dalam bayangannya terlintas wajah Cherry, pertengkaran yang mereka hadapi belakangan ini. Kemarahan Cherry bahkan beberapa kali harus melihat air mata Cherry keluar. Perang dingin di antara pasangan itu karena kehadiran orang ke-3.


" Jaga Cherry, Verro. Dia sangat mempercayaimu, Om menitipkannya kepadamu jangan sakiti dia dan jangan pernah tinggalkan dia. Cherry hanya mempunyai kamu jadi jagalah dia," kata-kata Laskarta pun terlintas kembali. Kata yang di tulis dalam surat yang mana memberikan kepercayaan penuh kepada Verro.


" Hiks, tidak Cherry, hiks, kamu tidak bisa pergi begitu saja. Tidak Cherry," lirih Verro yang langsung berdiri. Dia tidak ingin membuang banyak waktu. Dia ingin mencari istrinya.


Wanita yang di carinya duduk halte bis. Mata itu masih tetap mengalir air mata. Tangannya yang memegang perutnya. Dengan kehancuran hati yang tidak bisa di katakannya.


" Maafkan mama sayang. Mama tidak tau harus melakukan apa. Mama mungkin egois. Tapi mama tidak bisa menerima penghiyanatan papamu. Maafkan mama. Jika kita harus berpisah. Mama tidak sanggup. Maafkan mama nak," batin Cherry yang menagis sengugukan.


Kehancuran hatinya membuatnya benar-benar putus asa. Pikirannya yang kosong yang tidak bisa berpikir jernih. Tangisannya semakin pecah. Saat mengingat masa-masa dulu.


Masa kecilnya bersama Verro. Masa SMA di mana Verro sering memarahinya. Tetapi jelas Verro melindunginya dan selalu ada untuknya di saat dia membuka mata.


Jantuh cinta untuk ke-2 kali saat lupa ingatan juga adalah anugrah terbesar dalam hidup nya. Tetapi tidak semua ingatan yang terlintas itu semakin membuatnya menderita. Itu sangat menyakitkan untuknya. Bahkan dia hanya akan semakin terluka. Luka yang akan semakin dalam.


Sakit itu hanya bisa diluapkan dengan tangisan yang tidak berarti tangisan yang begitu menyakitkan.


************


Sasy, turun dari mobil dengan buru-buru. Mobil yang berhenti di depan Yayasan dan dan keluar dari mobil dengan penuh kemarahaan yang juga di ikuti, Nadya, Varell, Azizi, Vandy, Toby dan Raquel.


" Sasy, kamu tenang dulu," ucap Nadya yang mencoba menahan temannya itu agar tidak masuk kedalam.


" Nggak ada tenang-tenangan. Wanita sialan itu harus di beri pelajaran, semua ini terjadi gara-gara dia," geram Sasy yang tidak bisa mengendalikan dirinya.


" Tetapi ini sudah malam, kalau kita masuk, hanya akan mengganggu orang lain, kasihan mereka," ucap Nadya dengan lembut mencoba bicara tenang dengan temannya itu.


" Benar Sasy, apa yang Nadya katakan, kita hanya akan membuat kekacauan," sahut Azizi setuju pendapat Nadya.


" Ishhh, nggak ada toleran untuk wanita sepertinya," geram Sasy yang melepas tangan dari Nadya dan langsung memasuki tempat itu. Toby sebagai kekasih juga tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tau Sasy begitu marah dengan Fiona yang menyebabkan Cherry pergi.


" Sasy, tunggu!" panggil Nadya yang akhirnya mereka semuanya menyusul Sasy masuk kedalam.

__ADS_1


Sasy langsung menghampiri kamar Fiona. Tanpa ampunan tangannya langsung mendobrak kamar itu.


Bruk.


Fiona duduk di depan cermin tersentak kaget melihat kedatangan Sasy.


" Sasy," lirih Fiona yang dengan wajah terkejutnya. Sasy langsung menghampiri Fiona.


Plakkkkkkk satu tamparan melayang ke pipi Fiona dan barulah teman-temannya berdatangan dan terkejut melihat tindakan Sasy yang tanpa basa-basi.


" Perempuan murahan, puas lo sekarang ngancurin rumah tangga orang," teriak Sasy menarik rambut Fiona yang ingin melempar Fiona.


" Sasy, sudah," Nadya mencegah perbuatan Sasy dalam kekerasan yang mungkin Nadya iba dengan Fiona.


" Kenapa kalian menyerangku. Kenapa masalah Cherry dan Verro harus aku yang bertanggung jawab. Aku tidak melakukan apapun. Tetapi kalian datang dengan cara mengeroyok dan bahkan main tangan," sahut Fiona masih membela diri.


" Kamu masih bertanya," teriak Sasy ingin menghajar kembali Fiona. Namun kali ini Toby mencegah perbuatan pacarnya, jangan sampai pacarnya berurusan dengan hukum.


" Kamu wanita sakit jiwa. Kamu sengaja menghubungi Verro, agar Verro datang kemari. Dan kamu juga memberi tahu Cherry, kamu berlaga sok kumat. Tapi apa. Kamu hanya bersandiwara. Kamu ingin menjebak Verro dan sampai memberikannya obat," ucap Sasy dengan marah-marah.


" Apa yang kamu bicarakan Sasy. Kamu terus menuduhku. Aku tidak menghubungi Verro. Verro yang datang senditi. Aku tidak melakukan appaun. Aku tidak salahku, aku sakit dan hanya butuh Dokter, apa itu salahku," sahut Fiona dengan wajah menyedihkannya bahkan mengeluarkan air mata buaya.


" Apa maksudnya Raquel?" tanya Varell.


" Mengarang cerita sakit, sok-sokan minta maaf, butuh Dokter yang harus suami orang. Menuduh orang lain memperkosa mu, ketika di periksa tidak mau di periksa. Apa yang sakit Fiona. Memberikan data medis orang lain pada Verro, kamu yang sakit, atau kakau," ucap Raquel dengan tegas.


" Apa yang kamu bicarakan Raquel, jangan mengarang cerita sembarangan. Kamu sekarang malah menuduhku yang tidak-tidak sahut Fiona yang tidak bisa mengelak lagi.


" Aku tidak mengarang cerita. Aku tau semua kebusukanmu. Kamu melakukan semua ini hanya untuk mengecoh rumah tangga Cherry dan Verro kan," sahut Raquel.


" Jadi selama ini kamu bohong Fiona," sahut Azizi yang tidak percaya.


" Pantasan banyak keganjalan. Ternyata kamu hanya pura-pura," teriak Sasy yang semakin emosi.


" Keterlaluan ya kamu, Fiona, kamu pikir penyakit kanker itu main-main apa?" sahut Vandy.

__ADS_1


" Kamu melakukan semua ini hanya untuk cinta butamu. Kamu itu benar-benar murahan," sahut Toby yang tidak habis pikir.


" Fiona, kamu kok bisa melakukan ini. Kamu tau di luar sana. Banyak orang yang sakit. Menderita karena penyakit. Tapi kamu malah mengarang cerita hanya demi suatu hal yang sangat memalukan," ucap Nadya yang juga tidak habis pikir.


" Keterlaluan kamu, kamu itu benar-benar sangat kejam," sahut Varell.


" Apa yang kalian bicarakan. Kenapa sekarang kalian jadi menuduhku yang tidak-tidak," sahut Fiona yang masih berusaha mengelak. Sudah ketahuan masih saja mengelak.


" Kamu masih tidak mengakui. Hhh!" sahut Raquel geram sampai mendengus kasar melihat wanita munafik di depannya, " semoga aja ya Fiona kamu itu benar-benar sakit kanker supaya kamu tau bagaimana rasanya menderita kanker," geram Raquel menunjuk Fiona.


" Benar-benar wanita ini," geram Sasy yang ingin kembali menghajar Fiona namun tidak jadi karena ponselnya yang berdering.


" Ishhh, siapa sih," lirihnya kesal yang melihat panggilan masuk dari Selina.


" Ngapain lagi nih anak telpon-telponan, sok akrab," geram Sasy yang akhirnya mengangkat juga.


📞" Ada apa?" tanya Sasy kesal.


📞" Nggak, usah marah-marah juga, aku lihat Cherry di jalanan sendirian nangis-nangis. Kenapa coba dia. Kalian musuhi Cherry ya," ucap Selina yang memberikan informasi.


📞" Apah, kamu melihat Cherry," sahut Sasy kaget dan yang lainnya mendengar nama Cherry juga terkejut.


📞" Iya, aku melihatnya. Aku mau nyamperin tapi aku masih kerja," jawab Selina.


📞" Ya sudah sekarang share lokasinya," ucap Sasy panik.


📞" Iya, biasa aja dong ngomongnya," sahut Selian dan Sasy langsung mematikan telpon.


" Cherry ketemu?" tanya Toby.


" Iya Selina melihat Cherry," sahut Sasy dengan panik.


" Ya sudah sekarang kita mending kesana," ucap Varell.


" Ayo," sahut Sasy dan melihat sinis Fiona, " urusan kita belum selesai," tegas Sasy dan langsung pergi. Yang lain juga menyusul dan juga menatap sinis Fiona.

__ADS_1


" Ishhh, sial, kenapa semuanya berantakan. Dan Raquel kenapa dia tau semuanya. Benar-benar berantakan," desis Fiona dengan rencananya yang kacau balau.


Bersambung


__ADS_2