
Aldo juga sangat terbiasa dengan Raquel yang terus ribut dengan Sasy. Jadi dia sudah sangat paham dengan hal itu.
" Sayang sudah ya, jangan di ladeni, bagaimana kalau kita makan siang. Ini sudah waktunya jam makan siang," ucap Aldo mengalihkan keributan kecil pacarnya dengan mengajak makan siang.
" Ya sudah tapi kita berdua saja, jangan ikut mereka, entar mereka kepanasan liat kita. Merekakan jomblo akut," sahut Raquel dengan manja. Dengan mengejek Verro dan Sasy.
" Nggak ada juga yang mau ikut sama kalian. Lagian juga ikut hanya bikin darah naik," sahut Sasy geram.
" Syukur deh kalau begitu, aku bisa saling romantis dengan kekasihku tersayang," sahut Raquel dengan nada mengejek. Bahkan sampai menjulurkan lidahnya dan semakin menempel dengan Aldo.
" Ishhhhh najis," sahut Sasy sewot.
" Sudahlah sayang. Kita makan bareng mereka. Kita harus makan sama-sama. Lagian aku juga sekalian pengen bicara dengan Verro," sahut Aldo memberi penjelasan.
" Tapi sayang," rengek Raquel manja. Aldo menganggukkan matanya.
" Ya sudah deh," sahut Raquel tidak ikhlas.
" Ayo Sasy, ayo Verro," ajak Aldo.
" Oke," sahut Verro yang tanpa menolak. Begitupun dengan Sasy meski kesal dengan Raquel. Tetapi dia tetap ikut. Namanya juga makan gratisan ya ikut-ikutan aja.
Biasanya di antara mereka siapa yang mengajak makan itu yang meneraktir. Jadi Sasy hanya mengejar teraktir an ya saja dan melupakan kekesalannya kepada Raquel.
Maklumlah gajinya sebagai Dokter belum seberapa. Karena masih sebagai pendamping saja. Jadi dia harus banyak-banyak berhemat.
Pasti berbeda dengan Verro yang sudah menjadi Dokter ahli dalam bidang apapun. Jadi gajinya lebih banyak
Bahkan Verro punya rumah sakit kecil yang khusus untuk penderita kanker. Itu juga rumah sakit yang dulu di inginkan Cherry berdiri. Jadi dia baru bisa mewujudkan setahun belakangan ini.
Kalau Sasy dan Raquel jangan tanya dari zaman sekolah saja tidak ada serius-seriusnya dalam belajar. jadi Dokter pun hanya ikut-ikutan saja.
Dan kebiasaan itu akhirnya kebawa-bawa. Bahkan sudah menjadi Dokter tetap tidak ada seriusnya. Hanya ada Verro saja yang sabar dengan mereka. Jika tidak, mereka sudah di depak dari rumah sakit. Uang orang tua mereka hanya habis saja untuk sekolah ke Dokteran.
*********
Mereka sudah mulai makan di Restauran yang pasti sering mereka kunjungi dan sudah menjadi langganan meraka. Restauran tersebut hanya 10 menit dari rumah sakit jadi memang tidak memakan banyak waktu.
Meja itu juga sudah penuh dengan makanan. Terkadang jika ada yang meneraktir rasa tidak tau diri akan timbul. Yang di teraktir akan memesan seenak jidatnya tanpa melihat harga. Karena bukan dia yang membayar jadi asal pesan saja.
Itu bukan berlaku untuk Sasy saja. Verro juga seperti itu. Meski cuek dan dingin. Tetapi Verro tidak meninggalkan kalau ada yang namanya gratisan dia juga tidak peduli harga dan memesan sesukanya. Walau banyak uang kalau gratisan harus di manfaatkan.
Dan pemandangan suap saling suap sudah menjadi tontonan untuk Verro maupun Sasy. Aldo dan Raquel memang kadang suka berlebihan membuat mereka ingin muntah melihat pasangan bucin itu.
Tidak munafik Verro maupun Sasy terkadang pasti menyumpahi di dalam hatinya. Agar pasangan itu putus. Biar tidak melihat tontonan yang membosankan itu lagi.
__ADS_1
" Kamu harus makan banyak sayang, supaya tidak kurusan," ucap Raquel yang terus menyuapi Aldo.
" Dia itu jurusan kebanyakan mikirin lo," celetuk Sasy yang jika tidak protes tidak akan puas.
" Mending ada yang mikirin. Dari pada lo nggak ada yang mikirin," sahut Raquel dengan nada mengejek.
" Sudah lah, jangan ribut terus. Paling tidak kalian aku saat makan," sahut Aldo.
" Iya sayang," sahut Raquel.
" Oh, iya Vandy mana ya?" tanya Aldo yang juga sedang menunggu Vandy.
" Tuh," tunjuk Sasy. Baru di bicarakan mereka sudah melihat Vandy yang keluar dari mobil dan berlari memasuki Restaurant.
" Sorry, Sory, gue telat," sahut Vandy dengan kacamata putihnya masih memakai seragam Dokternya datang dengan napas tersenggal-senggal.
" Santai aja, kita baru makan kok, pesan aja dulu," sahut Aldo. Dengan napasnya yang belum stabil Vandy menarik kursi di samping Verro.
" Mau pesan apa, biar gue pesani?" tanya Sasy.
" Minum aja dulu," sahut Vandy yang langsung meminum punya Verro.
" Pesan-pesan. Tapi jangan punya gue. Jangan di embat," sahut Verro kesal.
" Iya-iya sory, kebablasan," sahut Vandy.
" Ohhhh, pasti dong," jawab Vandy membuka tas Dokter nya dan mengeluarkan map biru dari dalam tasnya. " Nih," Vandy langsung memberikan pada Aldo.
" Ada bekas luka di bagian bawah kakinya seperti pukulan benda runcing. Itu masih otopsi awal. Belum seluruhnya," ucap Vandy menjelaskan dengan singkat.
Aldo langsung membuka map kuning itu dan dengan serius melihat hasil otopsi yang di perlukannya untuk bahannya di pengadilan.
" Memang ada kasus apaan?" tanya Verro sambil makan.
" pembunuhan. Klienku ingin mengungkap kematian sepupunya. Soalnya dia merasa sangat ganjal dengan kematian itu," jawab Aldo.
" Lalu sudah sampai mana prosesnya?" tanya Sasy.
" Baru proses awal. Tetapi kematian sepupunya bulan lalu," jawan Aldo yang terus melihat hasil otopsi dari Vandy.bRaquel yang melihat Aldo serius dengan pekerjaannya. Raquel langsung menutup map itu.
" Sayang kita lagi makan, jadi jangan membahas pekerjaan saat makan. Nanti aja ini waktunya makan siang. Kan kamu tadi yang ngajak makan," sahut Raquel.
" Mending ngurusin pekerjaan dari pada ngurusin lo," sambar Sasy sambil mengunyah makanannya. Bukan Sasy namanya kalau nggak ngurusin orang. Jadi mohon di maklumi.
" Ikutan aja," sahut Raquel kesal.
__ADS_1
" Sayang sudah ya, kita makan dulu, bentar lagi aku juga bakal ada operasi. Kamu juga baru pulang. Jadi jangan bahas kerjaan ya," ucap Raquel dengan nada manjanya memegang lengan Aldo.
" Ya sudah, maaf ya, sudah buat kamu kesal. Aku hanya mengejar kasus ku agar cepat selesai," sahut Aldo.
" Iya, aku mengerti. tapi nanti saja ya," sahut Raquel dengan lembut.
" Oke," sahut Aldo menutup kembali map itu dan melanjutkan makan.
Aldo memang berprofesi sebagai pengacara hebat dan sekarang Aldo sedang menangani kasus pembunuhan. Makanya membutuhkan Vandy yang juga berprofesi sebagai Dokter. Dokter ahli forensik.
Pesanan Vandy pun sudah datang dan mereka kembali menikmati makan siang bersama.
" Oh iya besokan libur. Bagaimana kalau kita jalan-jalan kepuncak. Kita bikin camping bareng. Reflesing biar nggak jenuh. Soalnya stress mikir kerjaan mulu," sahut Sasy tiba-tiba mendapatkan ide buat santai-santai langsung muncul.
" Setuju sih, ikut ya sayang," sahut Raquel yang soal begituan pasti memiliki semangat 45.
" Hmmmm, ya sudah. Tetapi seharian aja ya. Paginya kita langsung pulang. Soalnya aku banyak pekerjaan," ucap Aldo yang memang tidak akan pernah menolak permintaan Raquel.
" Iya sayang hanya sehari saja. Makasih sayang sudah mau ikut," sahut Raquel kesenangan meletakkan kepalanya di pundak Aldo. Membuat para jomblo mangap aja.
" Kamu juga ikut kan Vandy?" tanya Sasy.
" Boleh, kalau cuma sehari aja," sahut Vandy tidak masalah.
" Kamu gimana Verro?" tanya Aldo melihat Verro yang masih santai makan.
" Kalian pergi saja. Aku tidak ikut. Besok aku harus kemakam Cherry. Jadi tidak bisa ikut," jawab Verro besok dia harus kembali kemakam istrinya.
Mendengar nama Cherry membuat mereka merinding dan terdiam tanpa bisa berbicara apa-apa lagi.
" Oh, ya sudah kalau begitu," sahut Sasy pelan.
" Hmmmm, ya sudah kalian lanjutin makannya. Aku duluan kerumah sakit. Happy ya buat liburan kalian," sahut Verro tiba-tiba menghentikan makannya. Lalu Verro berdiri, " thanks ya Aldo teraktiran ya. Aku duluan," ujar Verro langsung pamit. Verro menepuk bahu Vandy lalu pergi.
" Apa aku salah ngajak ya," ucap Sasy yang merasa bersalah. Jika Verro hanya sedih karena mengajaknya.
" Verro memang belum bisa melupakan Cherry, kasihan dia. Dia selalu seperti itu. Hidup seperti tidak terjadi apa-apa.Tetapi sebenarnya dia memendam luka yang sangat dalam," ucap Raquel yang berkaca-kaca.
" Ya dia sangat mencintai Cherry. Kita juga tau itu. Meski sudah lama. Verro tidak pernah berubah masih sama dengan 7 tahun lalu. Masih sangat kehilangan," ucap Vandy
" Benar. Jadi wajar dia memang tidak akan bisa melupakan Cherry. Tidak akan pernah bisa move-on. Kita berdoa saja semoga kelak Verro bisa menemukan wanita pengganti Cherry. Walau itu tidak mungkin," sahut Aldo.
" Amin," sahut mereka serentak. Berdoa dengan tulus meminta harapan yang sangat banyak atas teman mereka yang dari dulu sampai sekarang masih terus berduka.
Untuk yang lainnya memang tidak pernah meninggalkan Verro. Karena mereka sudah berjanji kepada almarhum sahabat mereka akan menjaga Verro sampai kapanpun.
__ADS_1
Bersambung