
Mobil Verro baru berhenti di rumah sakit setelah pukul 9 malam dan Verro langsung memasuki rumah sakit dengan buru-buru.
" Semoga saja Cherry belum pulang," ucap Verro yang berlari untuk mencari keberadaan Cherry menyusul istrinya. Verro sudah berada di depan ruangan Dokter Anggi. Saat ingin masuk. Dokter Anggi sudah langsung keluar.
" Dokter Verro!" ucap Dokter Anggi.
" Dok, apa istri saya masih ada di dalam?" tanya Verro.
" Bu Cherry sudah pulang tadi," jawab Dokter Anggi.
" Cherry sudah pulang," sahut Verro.
" Benar Dok," jawab Dokter Anggi.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Makasih ya Dok," sahut Verro yang langsung buru-buru pergi.
Dia tau dia salah, karena sudah tidak datang tepat waktu dan tau Cherry pasti kecewa dan akhirnya Verro pun menyusul Cherry pulang.
**********
Tidak lama akhirnya Verro sampai di rumah. Verro langsung masuk dengan buru-buru menuju kamar. Bahkan mengabaikan pembantu yang baru ingin mengeluarkan suara mungkin bertanya. Tetapi Verro masa bodo dan langsung menuju kamar mereka di mana ada Cherry di sana.
Saat Verro membuka pintu kamar. Verro melihat Cherry sudah tidur terbaring miring. Dan Verro yang ngos-ngosan dengan napas tersenggal-senggal masih berdiri di depan pintu kamar. Dengan tangan yang masih memegang kenopi pintu.
Verro mengatur napasnya pelan-pelan. Lalu dengan perlahan menutup pintu kamar dan akhirnya masuk kedalam kamar dengan melangkah pelan.
Verro menghampiri sang istri dan menaiki ranjang berada di belang sang istri dengan mengusap lembut rambut Cherry.
" Maafkan aku Cherry," ucap Verro mengecup pipi Cherry.
" Aku tau aku salah, aku tidak bermaksud membuatmu sendirian, maafkan aku, kamu harus USG sendirian," ucap Verro dengan memeluk Cherry erat dari belakang.
Dia menyadari kesalahannya. Makanya langsung meminta maaf pada istrinya. Walau istrinya sedang tidur. Tetapi Cherry tidak tidur Cherry membuka matanya perlahan dan pasti mendengar kata-kata Verro. Tetapi dia yang sangat kecewa memilih untuk diam dan tidak merespon apapun.
__ADS_1
*************
Mentari pagi telah tiba. Cherry sudah bangun dan berada di kamar mandi dengan mual-mual. Sepertinya dia mengalami mual-mual saat kandungannya memasuki bulan ke-3.
Eeeghk Eeeghk Eeeghk Eeeghk
Suara Cherry yang muntah di kamar mandi membangun kan Verro yang masih tertidur. Verro mengerjap-ngerjapkan matanya degan memijat kepalanya.
Kepalanya menoleh ke arah kamar mandi dan mendengar suara muntahan Cherry yang semakin parah. Verro langsung menyibakkan selimut dan langsung berdiri melangkah mendekati kamar mandi.
Tok-tok-tok-tok.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Verro dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
" Sayang!" Panggil Verro memegang kenopi pintu dan ternyata di kunci dari dalam.
" Sayang buka pintunya, kamu kenapa?" tanya Verro tampak khawatir. Tidak lama akhirnya pintupun di buka Cherry dari dalam.
" Aku tidak apa-apa," sahut Cherry yang langsung pergi dari hadapan Verro dan membuat Verro heran dengan sikap dingin istrinya.
" Cherry ada apa?" tanya Verro.
" Aku sudah siapkan bajumu. Aku membuat sarapan dulu," sahut Cherry jutek yang malas menanggapi Verro dan memilih untuk keluar dari kamar. Sementara Verro harus pusing dengan melihat istrinya yang seperti itu.
" Apa dia marah dengan kejadian tadi malam?" tanya Verro dalam hatinya. Dengan wajah Verro yang begitu Khawatir.
************
Selesai beres-beres dan rapi-rapi. Verro keluar dari kamar dan langsung menghampiri istrinya ada di dapur yang sekarang sudah menghidangkan sarapan di atas meja.
Verro menarik kursi, lalu duduk dan melihat Cherry yang sama sekali tidak mempedulikannya. Wajah Cherry juga tampak begitu kesal dan cemberut terus.
" Cherry, mari bicara sebentar," ucap Verro.
__ADS_1
" Sarapan lah!" sahut Cherry yang tidak mau mendengarkan Verro.
" Lalu kamu mau kemana. Kamu meninggalkan ku sarapan sendiri?" tanya Verro melihat Cherry yang ingin pergi.
" Aku tidak bernafsu untuk sarapan. Aku mual. Jadi aku mau kekamar," jawab Cherry yang melanjutkan langkahnya dan Verro langsung dengan cepat berdiri menahan tangan Cherry berdiri di hadapannya.
" Lepaskan aku!" ucap Cherry yang langsung melepas tangannya dan tidak ingin melihat wajah Verro.
" Cherry jangan seperti ini. Aku tau kamu marah masalah tadi malam. Aku minta maaf," ucap Verro dengan lembut. Cherry langsung melihat wajah Verro dengan kesal.
" Enak banget ya kamu bilang minta maaf, aku nungguin kamu dari siang sampai malam. Aku udah ngulur-ngulur waktu bicara dengan anak-anak. Supaya aku tidak bosan menunggu kamu. Aku juga sudah mengulur waktu dengan Dokter Anggi hanya untuk menunggu kamu. Tapi apa yang kamu lakukan. Dengan mudahnya kamu bilang maaf. Kalau kamu tidak bisa dari awal bilang tidak bisa," ucap Cherry yang tidak bisa menahan amarnya mengeluarkan semua isi hatinya.
" Aku tau Cherry aku salah. Aku sudah memberi kamu kabar. Aku sedang di Yayasan. Aku ke sana mendesak. Karena Fiona. Aku sudah memberi tahu sebelumnya," sahut Verro mencari pembelaan membuat Cherry mendengus kasar.
" Kamu memberitahu aku atau memberikan aku harapan. Seharusnya kamu bilang langsung tidak bisa. Jangan banyak cerita yang membuatku akhirnya menunggu dan tiba di telpon malah mati," ucap Cherry geram.
" Aku tidak tau kejadiannya akan seperti ini. Masalah handphone ku ketinggalan di mobil dan aku tidak tau kamu sedang menelpon atau tidak. Cherry aku salah. Aku tidak menepati janji dan membuat kamu marah. Tapi kamu juga harus tau ini sesuai rencana. Aku adalah Dokter dan hal yang kemarin sangat mendesak. Di mana aku harus siap untuk pasienku," jelas Verro.
" Oh, gitu. Iya aku lupa jika kamu Dokter. Kalau begitu aku tidak perlu lagi. Harus memberi tau apa-apa kepadamu. Karena bisa saja kita berjanji. Namun kamu ada keperluan mendesak. Jadi aku tidak perlu memberi tahumu," tegas Cherry yang langsung pergi dan Verro menahannya kembali.
" Cherry apa maksud kamu. Kamu tidak bisa seperti ini. Ini hanya masalah kecil. Jangan di besar-besarakan," sahut Verro membuat Cherry geram dengan melepas tangannya dari Verro.
" Apa katamu. Masalah kecil. Kamu mengatakan USG adalah masalah kecil. Kamu tidak tau perasaanku. Saat USG ku di mana seharusnya ada kamu. Tapi kamu tidak ada dan sibuk dengan urusan kamu dan kamu mengatakan masalah kecil. Tega kamu ya," geram Felly dengan matanya berkaca-kaca.
" Bukan itu maksud ku Cherry," sahut Verro merendahkan suaranya. Agar Cherry juga tenang.
" Sudah cukup. Aku malas ribut sama kamu. Jika kamu sibuk dengan urusan ke Dokter kamu. Sana kamu urus. Karena aku juga pasien yang membutuhkan Dokter untuk kandunganku," tegas Cherry yang langsung pergi.
" Cherry, tunggu, jangan pergi. Kita harus selesaikan semuanya!" panggil Verro. Namun Cherry tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya.
" Cherry!" panggil Verro berkali-kali.
Bersambung
__ADS_1