
Setalah melaksanakan tugasnya sebagai Dokter. Verro pun mencari Sasy yang katanya mengajak makan di kantin rumah sakit. Memang sebelumnya Verro sudah menghubungkan Sasy mengatakan Sasy sedang makan bersama Cherry di kantin rumah sakit
Dan memang benar Sasy dan Cherry sedang makan bersama dan Sasy sedang mengobrol dengan Cherry tentang masa-masa mereka dulu.
" Jadi Cherry, tempat yang paling Favorite untuk kita berdua adalah Mall," ucap Sasy.
" Benarkah?" tanya Cherry.
" Hmmm, benar, bagaimana kapan-kapan kamu mau dong ke Mall bareng sama aku," ucap Sasy menawarkan Cherry.
" Boleh. Tetapi nanti aku akan tanya Verro," jawab Cherry.
" Hmmm, iya deh yang punya Verro jadi pakai harus lapor-lapor segala," ucap Sasy dengan wajah merungutnya.
" Aku hanya minta izin padanya," sahut Cherry.
" Iya, iya, aku tau. Lagian Verro pasti izinkan kamu kok," ucap Sasy. Cherry mengangguk tersenyum.
" Oh. Iya Sasy aku ingin tau kira-kira Verro suka apa ya. Soalnya. Aku tidak bisa mengingat apa-apa yang di sukainya?" tanya Cherry yang sepertinya ingin memberikan sesuatu pada Verro.
" Kamu mau tau yang paling di sukainya apa?" tanya Sasy. Cherry langsung mengangguk dengan cepat.
" Hmmm, apa yang di sukainya, aku penasaran," sahut Sasy dengan semangat.
" Kamu," jawab Sasy. Membuat Sasy melebarkan matanya.
" Hanya kamu, yang di sukainya. Kamu dan hanya kamu," ucap Sasy tersenyum lebar.
" Kamu bisa aja," sahut Cherry jadi malu. Sasy meraih tangan Cherry dan mengambil tangan itu.
" Aku serius Cherry, dia memang hanya benar-benar menyukaimu. Kamu lah yang di sukainya bukan siapa-siapa, dia sangat mencintaimu," ucap Sasy meyakinkan.
" Kamu tau tidak Cherry, saat kamu di nyatakan meninggal. Verro adalah orang yang paling hancur. Dia sangat terluka. Hidupnya sangat hampa. Dia tidak pernah bahagia dan tersenyum sangat jarang. Cherry Verro selalu berpura-pura baik-baik saja. Padahal semua orang juga tau. Jika dia tidak baik-baik saja," ucap Sasy menjelaskan pada Cherry.
" Benarkah! apa dia sangat kehilangan saat aku benar-benar tidak ada?" tanya Cherry.
" Hmmm, kamu benar, dia sangat kehilangan saat kamu tiada. Banyak wanita yang mendekatinya. Tetapi Verro benar-benar menutup hatinya. Karena baginya posisi kamu tidak akan pernah tergantikan," ucap Sasy lagi.
Cherry terdiam mendengarnya. Dia tau Verro memang sangat mencintainya dan dia pasti bisa merasakan hal itu. Merasakan cinta Verro yang sangat tulus kepadanya.
" Oh iya Sasy, bukannya aku wanita yang punya kelainan jantung dan aku di katakan meninggal karena gagal operasi. Apa itu perbuatan Bayu?" tanya Cherry yang memang belum mendapat kejelasan apa-apa mengapa dia bisa menjadi Clara.
Karena dia juga belum bertemu Karina, ingatannya juga tidak seutuhnya pulih. Pasti Cherry masih penuh kebingungan.
" Ya. Itu perbuatannya, dia membuat kamu menjadi orang lain, memberikan kamu obat yang sengaja untuk merusak saraf kamu. Agar kamu tidak mengingat apapun," ucap Sasy membenarkan tebakan Cherry.
__ADS_1
" Lalu mama Karina dan Tari. Siapa mereka. Aku menyayangi mama Karina. Jika dia bukan ibuku lalu siapa dia dan Tari dia juga adalah sahabatku. Apa mereka ber-2 juga ikut-ikutan untuk mengubah identitas ku?" tanya Cherry yang sangat penasaran.
" Apa Verro belum menceritakan kepada Cherry ya tentang keluarga barunya," batin Sasy bingung harus bercerita mulai dari mana.
" Sasy, kamu kenapa diam, ada apa?" tanya Cherry heran.
" Cherry, aku tidak tau. Jika Bu Karina dan Tari ikut-ikutan. Tetapi aku rasa mereka tidak ikut-ikutan. Apa lagi Tari. Tetapi Bayu memang orang yang membuat kamu seperti ini dan untuk mendengarkan semua penjelasannya. Kamu bisa tanya Verro. Mungkin Verro akan bawa kamu kepada Bu Karina dan mungkin dia akan menjelaskan tentang kronologi sebenarnya," ucap Sasy menjelaskan.
Karena dia juga tidak tau asal mulanya dari mana. Kenapa sahabatnya bisa sampai seperti itu.
" Begitu rupanya. Baiklah. Aku akan menemui mereka nanti. Aku dan Verro akan mempertanyakan masalah ini," sahut Cherry. Sasy tersenyum mendengarnya.
" Oh iya Sasy. Jika aku tidak mati dan kuburan yang aku lihat bukan aku lalu itu siapa?" tanya Cherry tiba-tiba.
Sasy terdiam mendengarnya. Bahkan tubuhnya bergetar dan wajahnya panik seketika. Ketika mendengar pertanyaan Cherry Karena tidak mungkin dia mengatakan jika yang di dalam kuburan itu adalah Laskarta.
Karena pasti Cherry akan bertanya lagi dan mungkin ingatannya mengenai Laskarta akan terbuka dan kemungkinan Cherry akan histeris dan pasti tidak siap menerima kenyataan yang nantinya akan di ucapkannya.
" Sasy, kamu kenapa diam. Siapa yang ada didalam kuburan itu?" tanya Cherry yang benar-benar sangat penasaran.
" Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Aduh. Kenapa juga Cherry harus bertanya sampai situ," batin Sasy yang kepanikan.
" Sasy," tegur Cherry memegang tangan Sasy. Dia heran dengan Sasy yang malah bengong.
Sasy terlihat menarik napas panjang. Membuangnya perlahan. Merasa lega dengan kehadiran Verro yang datang tepat waktu.
" Untung saja. Ada Verro. Kalau tidak bisa berantakan semuanya," batin Sasy mengusap dadanya merasa lega. Paniknya pun hilang seketika. Merasa terselamatkan dengan adanya Verro.
" Kamu sudah mengunggu lama?" tanya Verro yang sudah berdiri di samping Cherry dengan mengusap rambut Cherry lembut.
" Tidak, kamu tepat waktu," jawab Cherry. Bagaimana Operasi mu. Apa lancar?" tanya Cherry.
" Iya, semuanya lancar," jawab Verro.
" Kamu sudah makan?" tanya Cherry.
" Belum?" jawab Verro.
" Kalau begitu, makanlah bersamaku," ucap Cherry.
" Nanti saja. Aku ingin mengajakmu, ketempat sesuatu," ucap Verro.
" Kemana?" tanya Cherry penasaran.
" Nanti kamu juga akan tau," jawab Verro membuat orang semakin penasaran saja.
__ADS_1
" Begitu," sahut Cherry yang tampak tidak semangat.
" Ya sudah. Sekarang ayo kita pergi," ajak Verro. Cherry mengangguk.
" Sasy makasih ya. Kamu sudah temani Cherry," ucap Verro.
" Hmmm, iya santai aja. Masa iya pakai makasi-makasi segala," sahut Sasy tersenyum.
" Ya sudah kalau begitu. Kami pergi dulu," ucap Verro menggenggam tangan Cherry yang di letakkannya di atas meja.
" Oh. Iya. Kalian hati-hati," jawab Sasy.
" Ayo Cherry!" ajak Verro lagi. Cherry mengangguk.
" Kami duluan," ucap Cherry. Sasy mengangguk. Lalu pergi bersama Verro. Sasy kembali membuang napasnya panjang.
" Hhhhh, untung saja. Aduh gimana ya. Perasaan Cherry saat dia tau papanya sudah meninggal. Dia pasti hancur banget," batin Sasy yang tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.
" Ahhh, semoga saja. Verro dapat mengatasi masalah itu," ucapnya lagi yang penuh harapan.
********
Mobil Fiona berhenti di depan rumah sakit. Fiona menantikan mesin mobilnya.
" Semoga saja. Verro ada di dalam dan aku tidak bertemu dengan orang-orang yang super heboh itu," batin Fiona sambil membuka seat belt nya dan langsung keluar dari mobilnya.
Dia memang tidak ada kapoknya untuk menemui Verro. Beberapa kali mendapat peringatan dari Verro memang tidak membuatnya Jera dan sekarang dia masih datang bahkan tidak takut juga dengan dayang-dayang Verro.
Fiona yang begitu semangat harus menghentikan langkahnya. Bukan hanya menghentikan langkahnya wajahnya yang berubah menjadi kaget.
Dengan matanya yang melotot hampir mau keluar ketika melihat apa yang di depannya. Di mana Fiona melihat Verro yang keluar dari rumah sakit dengan bergandengan tangan bersama seorang wanita.
Jantungnya yang hampir copot melihat wanita itu yang tak lain pasti di kenalnya.
" Cherry," lirihnya dengan suara seraknya yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Apa itu Cherry," ucapnya lagi benar-benar diam dengan tubuh bergetar. Seperti orang-orang yang melihat hantu.
Hantu Cherry yang memang bergandengan pergi bersama Verro dan sekarang sudah memasuki mobil.
" Tidak mungkin itu Cherry. Aku pasti salah lihat," ucap Viona menepuk-nepuk pipinya.
" Mana ada orang yang sudah meninggal, hidup kembali. Itu tidak ada," ucapnya dengan suaranya yang begitu sesak. Seakan ada sesuatu di dadanya sehingga membuat napasnya terasa sangat sesak.
Bersambung....
__ADS_1