
Nadya dan Nani berjalan menuju rumah mereka. Rumah yang memang tidak terlalu jauh dari rumah Cherry. 15 menit dari rumah Cherry. Jadi dengan berjalan kaki sudah cukup.
" Aku masih penasaran deh Bu dengan orang itu," ucap Nadya.
" Kamu ini ya. Tadi ibu bilang kita periksa cctv dulu. Kamu ya malah tidak mau dan mengatakan pulang. Sekarang baru kamu penasaran," ucap Nani geram.
" Namanya juga sudah sore," ucap Nadya.
" Ya sudah besok kita lihat," ucap Nani. Nadya mengangguk.
Langkah mereka sudah berada di depan rumah mereka dan mereka di kagetkan dengan mobil yang terparkir di depan rumah itu. Membuat ke-2nya heran dan saling melihat.
" Mobil siapa ini," ucap Nani heran.
" Aku juga tidak tau," sahut Nadya yang juga benar-benar bingung.
" Itu siapa?" tunjuk Nani kedepan rumahnya yang menampilkan seorang Pria yang duduk di teras rumahnya.
" Varell," batin Nadya yang ternyata Varell yang berkunjung kerumahnya. Ngapain dia di sini," Nadya kebingungan dengan keberadaan Varell.
Nadya masih bingung dengan keberadaan Varell. Sementara Nani sudah berjalan terlebih dahulu menghampiri rumah tanpa Nadya sadari.
" Ibu," panggil Nadya yang melihat mamanya sudah di depan rumah nya dan menghampiri Varell
" Ishhh, Ibu apa-apaan sih,"
ucap Nadya yang jadi gelisah dan langsung menyusul mamanya.
Begitu melihat wanita paruh baya datang. Varell langsung berdiri dan dengan spontan menghampiri Nani dan mencium punggung tangan Nani.
" Tante," ucap Varell.
Nani heran dengan pemuda yang sama sekali tidak pernah di lihatnya. Dan memang anaknya tidak pernah membawa laki-laki kerumahnya dan Varell adalah laki-laki yang pertama kerumahnya.
" Kamu siapa ya?" tanya Nani. Nadya sudah menyusul sang mama dan sudah berada di samping mamanya.
" Saya Varell temannya Nadya," jawab Varell melihat ke arah Nadya yang tampak gelisah. Nani langsung menoleh ke arah putrinya.
" Kamu ini ya Nadya. Katanya tidak tau siapa. Rupanya teman kamu," ucap Nani memukul pelan lengan Nadya.
__ADS_1
" Varell apa-apaan sih pakai kemari segala dan malah ketemu ibu lagi," batin Nadya yang merasa resah.
" Maaf Tante, sudah membuat kaget. Saya memang tidak memberi tahu Nadya. Jika datang kemari," ucap Varell dengan sopan.
" Kita jangan bicara di sini, ayo!" ucap Nadya dengan cepat. Dia tidak ingin Varell banyak bercerita dengan mamanya.
" Nadya kamu ini apa-apaan sih. Ini sudah mau magrib. Masa iya mau bicara di sana-sini. Sudah masuk aja. Bicara di dalam saja. Tidak sopan mengajak tamu bicara di luar," ucap Nani sedikit mengoceh.
" Tapi ma," sahut Nadya yang mana mungkin Varell akan memasuki rumahnya.
" Sudah jangan banyak protes. Ayo nak masuk," ajak Nani dengan ramah. Varell jadi bingung haru menuruti yang mana. Tujuannya datang ke rumah itu memang untuk menemui Nadya. Tapi mana mungkin dia menolak ajakan calon mertuanya itu.
" Baik Tante," jawab Varell yang langsung memilih untuk masuk. Nadya jadi kesal sendiri dengan Varell yang masuk kerumahnya.
" Ishhh, ibu kenapa sih harus menyuruh Varell masuk segala. Kan jadi panjang ceritanya," batin Nadya semakin gelisah. Dan akhirnya memilih ikut memasuki rumahnya.
***********
Malam hari yang gelap. Yang hanya ada bukan dan bintang yang menerangi alam tersebut Tidak tau jam berapa. Tetapi Verro sedang berada di pemakaman. Verro berdiri di depan makam istrinya.
Matanya terus melihat mesan dan foto Cherry yang tersenyum.
" Padahal itu tidak mungkin. Kau tidak mungkin tergantikan. Oleh siapapun termasuk dia. Jangan marah Cherry. Aku mencintaimu dan akan menghiyanatimu.
Aku bisa pastikan perasaanku. Jika aku memang tidak akan pernah berpaling pada siapapun," ucap Verro air matanya yang sudah menetes.
" Aku pulang dulu. Aku datang kemari hanya ingin meyakinkan mu. Jika aku tidak akan menghiyanatimu," ucap Verro menyeka air matanya. Menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu membalikkan tubuhnya
" Ha," pekik Verro kaget saat melihat wanita di hadapannya. Wanita berbaju putih yang meneteskan air mata yang tak lain adalah Cherry istrinya. Tidak Verro sekarang tidak bisa membedakan mana Cherry dan Clara.
" Cherry," lirih Verro.
" Apa itu kamu?" tanya Verro dengan napas beratnya. Cherry mengangguk. Mengatakan jika dia adalah Cherry. Air mata Verro jatuh saat melihat Cherry. Verro melangkah untuk maju mendekati Cherry.
Cherry sama sekali tidak mundur dan tetap di tempatnya. Tetapi langkah Verro sama sekali tidak sampai kepada Cherry. Kalau di pikir-pikir hanya 2 langkah akan sampai. Tetapi tidak dia sudah melangkah. Tetapi tidak bisa mendekati Cherry.
" Cherry Kemarilah. Aku merindukanmu," ucap Verro yang sudah lelah melangkah. Tetapi tidak sampai juga. Cherry menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Bohong. Kamu tidak merindukanmu. Jika kamu merindukanku akan akan datang. Kamu akan membebaskanku. Tapi tidak kamu tidak datang dan membiarkanku seperti orang lain. Kami jahat Verro. Kamu jahat," ucap Cherry membuat Verro kebingungan dengan perkataan Cherry.
__ADS_1
" Apa yang kamu katakan Cherry. Apa yang kamu bicarakan. Aku mencintaimu jadi jangan membicarakan hal itu," ucap Verro.
" Tidak. Kamu tidak mencintaiku. Kamu tidak peduli denganku. Kamu membiarkanku. Aku sendirian," ucap Cherry yang menangis. Verro kembali melanjutkan langkahnya mendekati Cherry.
" Kamu sudah berjanji kalau kita hidup bersama-sama. Tetapi apa yang kamu lakukan. Kamu meninggalkanku. Kamu meninggalkanku sendirian. Aku kesepian Verro," lanjut Cherry lagi.
" Apa maksud kamu Cherry, apa yang kamu katakan?" tanya Verro bingung.
" Tolong aku Verro. Tolong aku. Tolong bebaskan aku. Tolong aku Verro. Tolong aku. Tolong aku," ucap Cherry lagi yang terus meminta tolong dan semakin lama wajah Cherry semakin menjauh.
" Cherry, mau kemana kamu, Cherry mau kemana kamu, Cherry, jangan pergi, Cherry, Cherry!" Verro mencoba mencegah mengulurkan tangannya untuk menghentikan Cherry. Tetapi Cherry yang terus berucap minta tolong perlahan suara dan bayangan itu menjauh dan menghilang.
" Cherry!!!!" teriak Verro langsung terduduk dari tidurnya.
Napasnya langsung tersenggal-senggal. Dengan wajahnya yang di penuhi dengan keringat.
" Ternyata mimpi," ucap Verro dengan suara beratnya. Menghapus wajahnya dengan ke-2 tangannya. Wajahnya yang di penuhi keringat.
" Kenapa tiba-tiba aku bermimpi seperti itu. Selama Cherry meninggal. Tidak sekalipun dia muncul di mimpiku dan sekarang di muncul dan mengatakan meminta tolong. Apa maksudnya," ucap Verro dengan perasaannya yang tidak menentu.
" Kenapa tiba-tiba seperti ini. Apa maksud Cherry. Apa yang terjadi," Verro terus bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Beberapa kali Verro mengusap wajahnya sampai menghapus rambutnya. Napasnya masih belum beraturan dan masih mengingat tentang mimpi yang di alaminya.
**********
Karina berjalan ketakutan di dalam hutan. Berjalan seperti ada yang mengejar-ngejar dengan napasnya yang sangat sesak. Ketakutan tanpa tau apa sebabnya.
" Ahhhh," teriak Karina saat didepannya berdiri Pria paruh baya yang tak lain adalah Laskarta.
" Kau sangat jahat Karina. Aku sudah mempercayaimu untuk segala amanah yang aku titipkan untukmu. Tapi kau malah menghancurkan hidup putriku," ucap Laskarta menangis di depan Karina.
" Tidak, aku tidak melakukan apapun. Aku tidak melakukan apapun," sahut Karina ketakutan dengan melambaikan tangannya.
" Kau jahat Karina. Aku memberikan putriku kehidupan. Agar dia bisa hidup bahagia bersama orang yang di cintainya. Tetapi kau malah menghancurkannya. Kau malah membuatnya menjadi orang lain dan membiarkan pria yang mencintainya menderita. Kau jahat Karina. Kau sungguh jahat Karina, kau benar-benar jahat," ucap Laskarta dengan derain air matanya.
" Tidak, aku tidak melakukan itu. Aku sama sekali tidak melakukan itu. Aku tidak melakukan hal itu. Bukan aku yang melakukannya. Bukan aku, jadi jangan ganggu aku. Jangan ganggu aku," teriak Karina yang menutup kupingnya dengan ke-2 tangannya.
" Kau pembohong kau jahat. Ku mengingkari janjimu. Aku ingin putriku bahagia. Bukan menderita akibat ulahmu. Kau dan anakmu harus bertanggung jawab atas putriku Kembalikan putriku, kembalikan putriku. Kembalikan Putriku. Kembalikan putriku"
Bersambung.....
__ADS_1