DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 171 mengakui anak.


__ADS_3

Azizi berjalan dengan cepat di koridor rumah sakit. Dia memang terlihat sangat buru-buru. Tidak tau apa yang di kejarnya. Tetapi dia terlihat sangat buru-buru.


" Vandy!" panggil Azizi sedikit keras ketika melihat yang berbicara dengan salah seorang suster.


Vandy yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke belakang dan melihat yang memanggilnya ternyata Azizi.


" Azizi," gumam Vandy yang melihat wajah Azizi tampak marah dan tidak tau apa sebabnya.


" Kamu selesaikan saja semuanya, nanti saya temui kamu lagi," ucap Vandy pada Suster yang sedari tadi bicara dengannya.


" Baik Dok," jawab Suster dan langsung pergi. Ketika melihat suster sudah pergi. Azizi langsung menghampiri Vandy.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Azizi yang langsung marah dengan Vandy. Membuat Vandy mengkerutkan dahinya tidak mengerti apa yang di maksud Azizi.


" Lakukan. Apa maksud kamu. Memang apa yang aku lakukan?" tanya Vandy yang kebingungan dengan Azizi.


" Kenapa kamu membayar operasi anakku. Lantang sekali kamu melakukan itu," ucap Azizi yabg ternyata itu menjadi bahan permasalahannya.


Dia benar-benar kaget. Ketika Suster mengatakan semua biaya pengobatan anaknya sudah di lunasi dan semua itu atas nama Vandy.


" Seharusnya kamu tidak melakukan itu. Aku sudah mengatakan kepadamu. Jauhi anakku dan jangan coba-coba untuk mendekat dengannya. Ikut campur dengan semua urusan ku apa kamu tidak mengerti," ucap Azizi yang terus marah-marah.


" Aku tidak pernah ikut campur urusanmu," ucap Vandy.


" Jika tidak ikut campur apa namanya. Siapa kamu yang harus membayar pengobatan Iqbal. Kamu ingin aku berhutang budi padamu. Itu yang kamu inginkan," teriak Azizi yang benar-benar sangat marah dengan tindakan Vandy.


" Azizi. Kamu sedang kesulitan biaya dan Iqbal harus di operasi. Aku hanya ingin membantumu. Tanpa mengharapkan kamu akan membalasnya atau mengucapkan terima kasih," tegas Vandy memberi alasannya.


" Lagi pula aku melakukan itu bukan karena kamu atau pun Iqbal. Tetapi aku melakukan Utuk orang yang membutuhkan dan termasuk kamu," lanjut Vandy menjelaskan pada Azizi.


" Kamu pikir. Aku tidak mampu membiayai anakku. Aku mampu," sahut Azizi menekan suaranya.

__ADS_1


" Mana buktinya. Kamu belum biasa membayar operasinya. Jadi jangan berlebihan. Aku melakukannya sebagai Dokter dan kamu tidak perlu marah-marah karena masalah itu," ucap Vandy menegaskan. Azizi menanggapinya dengan tersenyum.


" Tetap saja. Aku tidak bisa menerima apa yang kamu berikan. Karena aku tidak mau punya hutang Budi dengan mu. Jadi aku tegaskan kepadamu. Untuk mencabut semua biaya itu. Karena aku masih bisa mengatasi Iqbal," sahut Azizi penuh penekanan dan penegasan. Dia benar-benar menolak bantuan dari Vandy. Karena merasa akan sangat terhina. Ketika menerima bantuan itu.


" Kamu dengar ya Vandy berhenti sok baik denganku. Karena aku tidak mau punya urusan denganmu. Jadi cabut kembali semua biaya itu," tegas Azizi menunjuk tepat di wajah Vandy dan langsung melangkah pergi.


" Apa Iqbal anakku?" tanya Vandy tiba-tiba membuat Azizi mengehentikan langkahnya. Azizi menelan salavinanya saat Vandy mengatakan kalimat itu.


Vandy melangkah dan langsung berdiri di depan Azizi. Melihat wajah Azizi yang k


seketika menjadi panik.


" Katakan apa Iqbal anakku?" tanya Vandy sekali lagi. Azizi mengepal tangannya dan memberanikan diri menatap Vandy.


Plakkkkk


Azizi langsung melayangkan pukulan keras pada Vandy membuat wajah Vandy miring kesamping dan di pipinya langsung terlihat merah. Bahkan ada bekas 5 jari.


" Anak katamu. Anak yang mana. Apa aku pernah mengandung anakmu?" tanya Azizi benar-benar geram.


Vandy menelan salavinanya. Dulu Azizi mendatanginya dan meminta pertanggung jawaban padanya. Dan dia tidak mengakui hal itu dengan alasan yang membuat Azizi benar-benar terluka.


Dan pasti sampai detik ini luka itu masih membekas. Di mana Vandy yang benar-benar tidak mengakui janin yang tumbuh dari rahimnya. Dia seperti wanita murahan yang sudah di pakai lalu di campakkan begitu saja.


" Kau berani sekali mengatakan itu kepadaku Vandy. Apa kau lupa kejadian 7 tahun lalu di mana kau benar-benar membuangku dan apa yang kau ingat. Kau hanya mengingat bagaimana malam saat kita bersama. Apa itu yang kau ingat," teriak Azizi.


" Pelankan suaramu," ucap Vandy.


" Kenapa kau takut wibawamu sebagai Dokter yang berhati mulia dan sangat dermawan akan tercoret. Orang-orang memang menganggap mu Dokter yang seperti itu. Tetapi aku hanya mengganggap mu laki-laki biadap yang tidak bertanggung jawab," tegas Azizi menunjuk tepat di wajah Vandy.


Vandy memang tidak bisa menyangkal apa-apa yang di katakan Azizi. Karena memang itu adalah kebenarannya. Dia adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


" Dan sekarang," Azizi menjeda bicaranya. Kau mengatakan dia anakmu. Kapan aku menikah denganmu?" tanya Azizi sinis.


" Azizi cukup. Aku hanya bertanya kepadamu. Apa Iqbal anakku. Itu saja. Kau tidak perlu berbicara panjang lebar seperti ini," ucap Vandy.


" Kau benar-benar laki-laki yang tidak punya otak. Lalu bagaimana aku mengatakan iya atau aku mengatakan tidak. Apa yang akan kau lakukan. Aku sama sekali tidak pernah mengandung anakmu. Karena aku wanita yang tidur dengan siapa saja. Seperti apa yang kamu katakan dulu. Jadi jangan punya pikiran jika Iqbal anakmu. Karena aku tidak sudi mengandungnya," tegar Azizi dengan kata-kata nya yang sangat tajam.


" Jadi jangan pernah mencampuri urusan ku lagi," tegas Azizi sekali lagi. Lalu langsung pergi dengan penuh emosi. Tetapi terlihat Azizi menyeka air matanya yang jatuh.


Vandy terus melihat punggung Azizi yang berjalan semakin jauh.


" Aku tau. Apa yang aku dulu memang kelewatan. Tetapi aku merasa sangat dengan anak itu. Aku merasa dia adalah anakku Azizi," batin Vandy yang memang sudah lama mempunyai firasat seperti itu.


**********


Clara duduk di kursi roda. Kesehatan Clara sangat menurun dan bahkan membuatnya lemas untuk berjalan. Sehingga dia harus duduk di kursi roda.


Saat ingin mencari udara segar. Bagaimana tidak kondisnya yang menurun. Beban pikirannya yang terus bertambah.


Tari sedang mendorong kursi roda Clara. Dia memang mengambil alih dalam perawatan Clara. Karena memang di Jakarta Clara tidak punya siapa-siapa.


Sang mama sedang koma dan Bayu sendiri jelas banyak pekerjaan. Lagian Clara akan lebih nyaman jika bersama Tari ketimbang Bayu.


" Kiara kamu mau makan sesuatu?" tanya Tari.


" Tidak. Aku tidak lapar," jawab Tari yang memang tidak bernafsu untuk makan.


" Okelah kalau begitu," jawab Tari dan kembali mendorong kursi roda Clara.


Tiba-tiba mata Tari melihat Verro yang berbicara dengan Dokter wanita yang tak lain adalah Raquel.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2