
Tangisan di lapangan Bandara itu masih menyelimuti mereka. Dan tidak tau sampai berapa lama. Sampai akhirnya mereka sudah tiba di parkiran.
Vandy memasuki mobil dan di susul oleh Verro yang duduk di samping Vandy.
Sementara Varell, Nadya, Sasy, dan Toby menaiki mobil yang lain. Mobil Varell yang din setiri oleh Toby. Aldo dan Raquel menaiki mobil yang berbeda juga.
Akhirnya mereka meninggalkan Bandara tersebut setelah mengantarkan Cherry untuk berjuang melawan penyakitnya.
Di mobil Varell mereka semua masih sedih dan Sasy bahkan masih menangis dan terus menyeka air matanya dengan tisu yang sedari tadi di berikan Toby.
" Aku sangat berharap kamu bisa kembali dengan selamat dan kita bisa bermain sama-sama lagi Cherry, kita ke Mall bareng, kamu memarahiku, aku sangat berharap," batin Sasy dengan linangan air matanya yang memohon pada Tuhan untuk keselamatan sahabatnya itu.
" Cherry, aku ingin kamu pulang dan akan memarahiku dengan Sasy, karena kami yang bertengkar. Aku tidak mau jika kamu tidak pulang. Tidak ada lagi yang akan menegurku. Yang suka menjahili Sasy," batin Toby yang berharap sahabatnya kembali bersamanya. Toby bahkan kembali meneteskan air mata sambil menyetir.
" Cherry gadis yang baik, sangat humbel dia berhati bersih. Aku selalu menunggu kepulangan mu, kamu pasti kuat Cherry. Kamu wanita yang memiliki semangat yang tinggi," ucap Nadya di dalam hatinya melihat keluar jendela.
Varell yang berada di sampingnya melihat Nadya yang tampak murung. Varell menautkan tangannya menggenggam tangan Nadya. Nadya menoleh kesamping melihat Varell.
" Dia akan baik-baik saja," ucap Varell. Nadya mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu Varell.
Sementara di mobil Aldo. Raquel juga masih merasa sedih dengan apa yang terjadi tadi. Baru kali ini dia merasa seakan kehilangan seseorang.
" Waktu yang sangat singkat. Padahal kami baru berteman. Aku ingin dia kembali selamat dan bisa berteman kembali denganku," ucap Raquel.
" Kita doakan saja yang terbaik. Cherry pasti akan kembali bersama kita," sahut Aldo sambil menyetir.
" Amin," sahut Raquel.
" Cherry, istriku sayang, aku masih menunggu mu. Aku masih ingin kamu memasak untukku. Aku masih ingin, kita habiskan hidup kita berdua, sampai kita tua nanti, aku sangat mencintaimu. Jika sakit itu membuatmu menderita. Aku ikhlas kalau kau pergi terlebih dahulu. Tetapi aku sangat mencintaimu. Maafkan aku jika aku sangat mengharapkan mu kembali bersamaku," batin Verro masih berharap banyak.
Vandy yang menyetir fokus melihat ke arah Verro. Melihat kembali Verro meneteskan air mata.
" Kasihan Verro, aku tidak tau bagaimana jika hasilnya gagal. Apa yang akan terjadi kepadanya. Apa dia bisa kuat untuk semua ini," batin Vandy yang memikirkan nasib sahabatnya. Mendengar kemungkinan dari Dokter memang harapan untuk sembuh itu sangat tipis.
***********
Hari demi hari harus di lalui tanpa Cherry. Tidak ada kabar apa operasinya sudah selesai, apa kabarnya baik, apa operasinya lancar, apa dia sembuh. Tidak ada yang tau bagaiman keadaan Cherry yang berada di Jerman.
__ADS_1
Verro tidak bisa menghubungi Laskarta. Karena memang dia sama sangat sulit berkomunikasi. Tetapi Laskarta berjanji akan menghubungi Verro dan akan mengabari baik buruknya keadaan Cherry.
Dia meminta agar Laskarta mengatakan sejujurnya. Karena dia sudah sangat siap dengan hal itu.
Verro sekarang sedang duduk di tangga lapangan basket sambil memegang ponselnya, menatap layar ponselnya yang terdapat wallpaper Cherry, mengusap lembut foto itu dengan mata berkaca-kaca.
Baru 3 hari tetapi dia sudah merindukan istrinya itu. Setiap waktu Verro hanya berdoa untuk keselamatan Cherry.
Berdoa pada penciptanya agar Cherry di berikan kekuatan untuk bisa menyelesaikan operasinya. Agar penciptanya mengambil penyakit yang menyiksa istrinya itu.
Varell dan Vandy berdiri di belakang Verro. Mereka memang mencari Verro sedari tadi dan akhirnya menemukan temannya yang sangat suka murung belakangan ini.
Vandy dan Varell saling melihat mereka mengangguk dan langsung menghampiri Verry. Menepuk pundak Verro dan duduk di samping kita dan kanan Verro. Air mata Verro yang sempat jatuh langsung di hapus dengan cepat.
" Santai aja, air mata memang terkadang membuat kita lega," ucap Varell.
" Ada kabar dari Dokter Arif?" tanya Verro pada Vandy.
" Belum ada. Kak Arif juga masih menunggu kabar dari rumah sakit Jerman," jawab Vandy membuat Verro membuang napasnya yang berat.
Selain Laskarta. Dokter Arif juga satu-satunya komunikasi yang mereka andalkan. Karena Arif yang langsung berkomunikasi dengan Dokter yang ada di Jerman.
" Sabarlah Verro semua akan baik-baik saja," ucap Varell memberi semangat kepada temannya.
" Bagaimana jika tidak baik-baik saja," sahut Verro yang terus mempunyai Firasat buruk terhadap Cherry.
" Verro, apapun hasilnya, kau harus siapa. Ingat kata Cherry jangan terlalu sedih," sahut Vandy.
" Aku siap. Jika itu demi kebaikan Cherry. Aku selalu siap. Tetapi aku juga manusia. Apa salah jika aku berharap banyak. Apa salah?" tanya Verro dengan tatapan matanya yang kosong.
Varell dan Vandy sangat mengerti perasaan Verro. Terkadang Verro mengatakan dia ikhlas apapun hasil operasinya walau dia kehilangan Cherry.
Tetapi terkadang. Verro menyesal menyuruh Cherry operasi. Dia tidak ingin kehilangan Cherry. Dan sangat menyesal membiarkan Cherry pergi ke Jerman yang hanya akan menghilangkan waktu untuk bersama dengan Cherry.
Verro dan Vandy sebagai sabat tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendoakan yang terbaik. Selain berdoa untuk keselamatan Cherry.
Mereka juga berdoa untuk Verro harus di berikan kekuatan. Karena mereka memang hanya bisa melakukan hal itu saja, kepada Verro sahabat mereka.
__ADS_1
*********
Si sisi lain di taman sekolah. Sasy, Nadya, Raquel duduk di bangku yang ada di taman. Sementara Toby duduk bersilah kaki di atas rumput.
Wajah mereka beberapa hari ini juga sangat lesu, sedih, tidak bersemangat. Perasaan mereka campur aduk, banyak ketakutan di sana saat menunggu sahabat mereka.
Mereka lebih takut jika tiba-tiba mendapat kabar dari Jerman. Yang mereka takuti kabar itu adalah kabar buruk. Dan masalah mereka siap atau tidak. Mereka tidak tau kata siap itu seperti apa. Yang ada di pikiran mereka. Hanya menginginkan Cherry pulang dengan selamat.
" Apa operasinya sudah di mulai?" tanya Toby dengan wajah lesunya.
" Entahlah, kasian Cherry, dia pasti sedang berjuang di meja operasi," sahut Nadya yang bicara tidak bersemangat.
" Dia sangat takut operasi. Karena ingin hidup lebih lama. Cherry sangat trauma dengan operasi. Tetapi dia harus menjalaninya. Ini tidak Adil untuk Cherry dia sangat baik. Tetapi tuhan harus menyiksanya," sahut Sasy menyeka air matanya.
" Sasy, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Tuhan lebih sayang kepada Cherry. Sakit itu adalah anugerah dan Tuhan sangat menyayanginya makanya dia memberikan ujian sakit untuk Cherry," ucap Nadya dengan bijak.
" Tetapi paling tidak sebelum Cherry ke Jerman. Tuhan memberikannya kesempatan untuk bangun biar kita bisa mendengar suaranya. Tapi tidak Cherry pergi dengan menutup matanya. Bahkan kita tidak bisa melihatnya dengan jelas," sahut Sasy menjadi mewek.
Mereka memang hanya melihat sahabat mereka detik-detik di bawa ke Jerman dari kaca pintu ruang UGD yang sangat kecil. Hal itu sangat di sesalkan oleh mereka.
" Kita doakan saja, semoga semuanya lancar dan kita bisa kembali bersama Cherry," sahut Raquel dengan bijak.
" Memang hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita berdoa. Agar Cherry bisa pulang dan bersama dengan kita," sambung Toby.
" Raquel," panggil Aldo yang tiba-tiba datang.
" Kenapa?" tanya Raquel.
" Ayo bantu aku sebentar," jawab Aldo.
" Baiklah!" jawab Raquel. " Aku pergi sebentar. Jika dapat kabar dari Cherry. Jangan lupa langsung panggil aku,' ucap Raquel berdiri. Nadya, Sasy dan Toby mengangguk.
" Ayo," ajak Aldo.
" Bagaimana jika kita ke mushollah, kita berdoa untuk Cherry," ucap Nadya tiba-tiba mendapat ide.
" Iya ide bagus. Biar hati kita juga tenang," sahut Sasy setuju.
__ADS_1
" Aku akan ajak, Varell, Verro, dan Vandy," sahut Toby langsung berdiri. Nadya dan Sasy saling mengangguk.
Bersambung......