DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Part 27 merasa malu.


__ADS_3

Siska heran kapan Pria itu berada di belakangnya. Pria tampan yang pernah di lihatnya bersama Cherry. Pria itu menatapnya dengan dingin.


" Hay.." sapa Siska dengan manis berusaha sok akrab.


" Aku menyuruhmu menunggu di mobil. Bukan mengobrol di sini," ucap Verro dengan dingin.


" Iya maaf, aku hanya..." sahut Cherry terbata-bata tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


" Bukannya kamu pria yang pernah kulihat ya. Iya kita pernah bertemu. Perkenalkan aku Siska," ucap Siska menjulurkan tangannya.


" Ayo!" Verro mengacuhkan tangan Siska melewati Siska dan menggandeng tangan Cherry membawanya pergi dari Siska.


Cherry yang reflex mengikut, menengok kebelakang ke arah Siska sambil berjalan. Melambaikan tangannya.


" Daaaaa, nanti aku mengabari mu," ucap Cherry berteriak sedikit.


" Iya," sahut Siska membalas lambaian tangan itu. Tetapi heran dengan Cherry.


" Sombong sekali Pria itu. Memang dia siapanya Cherry. Cherry juga katanya tidak mempunyai pacar. Tetapi Pria itu selalu bersamanya," desis Siska kesal dengan Pria dingin yang bersama Cherry.


Bagaimana tidak kesal. Tangannya di acuhkan Verro. Padahal dia hanya ingin berkenalan dengan Verro.


Cherry dan Verro kembali berjalan berdampingan menuju mobil. Tangannya masih di gandeng Verro. Cherry menurunkan matanya dan melihat tangan itu.


" Sampai kapan?" ucap Cherry pelan, membuat Verro melihat ke arahnya.


" Apa?" tanya Verro. Cherry menjawab dengan menurunkan matanya ke arah tangan itu. Membuat Verro mengikuti arah tangan itu dan refleks melepas cepat dan bersikap biasa saja. Pura-pura tenang.


" Kenapa buru-buru sekali?" tanya Cherry.


" Apanya, aku tidak sengaja memegangnya," sahut Verro dengan menggass.


" Aku tidak mengatakan itu," jawab Cherry.


" Lalu?" tanya Verro bingung.


" Kau mengajakku pulang, padahal aku masih berbicara dengan Siska, aku belum sempat berpamitan kan, aku tidak enak," ucap Cherry. Verro jadi salah tingkah. Dia mengira Cherry mempermasalahkan dia memegang tangannya.


" Ini sudah malam, waktunya pulang," tegas Kevin.


" Tetapi apa Verro, mendengarkan apa kata Siska ya," batin Cherry yang merasa sangat gugup dia masih memikirkan perkataan Siska yang takut di dengar Verro.


Setelah sampai di depan mobil. Verro membukakan pintu mobil untuk Cherry. Ya memang Verro seperti itu.


Pria aneh yang tidak bisa di mengerti kadang baik kadang entah seperti apa. Tetapi memang tidak ada yang bisa menebak kepribadian Verro.


" Makasih!" ucap Cherry pelan. Jujur dia masih memikirkan kejadian barusan.


Verro mengitari mobil dan memasuki mobil. Duduk di kursi pengemudi. Verro dan Cherry sama-sama memakai Seat belt.


Setelah memeriksa ke amanan. Verro menghidupkan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan santai.


Di tengah perjalanan ke-2 nya masih saja diam tanpa ada pembahasan apa-apa.


Bahkan suara musik tidak di pasang di ruangan itu. Cherry melihat-lihat bagian depan mobil mencari-cari kesibukan dengan menatap-natap tidak jelas.Asal jangan melihat ke arah Verro. Matanya berhenti ketika melihat di depan Verro ada susu stauberry kesukaannya.


" Itu untukku?" tanya Cherry dengan pedenya. Ya jika tidak untuknya siapa lagi. Karena Verro tidak menyukai minuman itu.


" Tidak," jawab Verro dingin yang sampai menusuk ke hati Cherry.


Membuat wajah Cherry langsung lesu. Verro melirik kesampingnya melihat wajah Cherry yang ditekuk.


" Jika mau ambillah, aku juga ingin membuangnya," sahut Verro membuat Cherry langsung tersenyum dan mengambil susu tersebut.


" Kenapa harus di buang," lirih Cherry bingung.


Sebenarnya Verro memang membelikannya untuk Cherry. Sewaktu dia ketoilet dia mampir ke minimarket yang ada di rumah sakit awalnya untuk membeli minuman.


Tetapi Verro melihat minuman itu dan sengaja membelikannya kepada Cherry hanya saja dia belum memberinya.

__ADS_1


" Siapa wanita itu?" tanya Verro tanpa melihat ke arah Cherry yang sudah meminum minuman itu dengan sedotan. Cherry terdiam seketika.


" Hmmmmm, dia Siska, temanku. Kami bertemu di rumah sakit. Dia memiliki penyakit kanker hati," jawab Cherry dengan pelan.


" Ohhhh," sahut Verro biasa saja membuat Cherry menarik ujung bibirnya.


Sangat monoton hanya menjawab Oh, apa salahnya bertanya lebih jauh agar bisa mengobrol sampai rumah.


" Kau sudah lama berteman dengannya?" tanya Verro penasaran.


" Tidak hanya beberapa bulan belakangan ini?" jawab Cherry.


" Siska itu sangat baik, dia selalu ceria. Dia sering bercerita masalah pacarnya, kami juga sering membahas hal-hal yang menarik dan dia memiliki pacar yang baik. Dan sepertinya pacarnya sangat selalu mengistimewakannya, Dan..."


" Dan dia yang membuatmu aneh belakangan ini," sahut Verro memotong pembicaraan Cherry.


" Maksudnya?" tanya Cherry melihat ke arah Verro.


" Dia yang mengajarimu dalam segala hal. Membuat heboh belakangan ini, bersikap aneh seakan tidak membutuhkanku. Mencari kteria pria agar kau dan dia sama bisa berkencan bersama dan heboh membahas masalah ciuman di sekolah," Cerocos Verro dengan marah membuat Cherry kaget.


Uhuk-uhuk-uhuk-


Cherry akhirnya tersedak karena sangking kagetnya mendengar ucap Verro.


" Kau mendengarnya?" tanya Cherry gugup melirik ke arah Verro.


" Kau juga mengetahuinya?" tanya Cherry yang tidak percaya. Jika belakangan ini apa yang di kerjakannya di ketahui Verro.


" Jadi karena itu?" tanya Verro.


" Tapi apa yang kau dengar tidak seperti apa yang kau pikirkan," sahut Cherry yang sudah sangat malu di depannya.


" Terus bagaimana dengan apa yang aku ketahui," sahut Kevin menoleh ke arah Cherry.


" Verro, ya itu hanya_ hanya_ hanya," Cherry benar-benar tidak punya jawaban untuk itu.


" Hanya apa?" tanya Verro dengan wajah seriusnya.


" Verro jangan membahas itu," lirih Cherry.


" Sudahlah Aku tidak memikirkan apa-apa, apa yang ingin kau lakukan itu terserahmu. Bukan urusanku," sahut Verro dengan suara dingin.


" Hmmmm, iya aku tau, kau memang tidak akan memikirkan, hal lain," sahut Cherry kembali fokus kedepan.


" Apa segitu pentingnya ciuman pertama untuknya. Atau memang dia sudah melakukan itu. Tapi dengan siapa?" batin Verro yang penasaran dengan Cherry.


Verro memang aneh. Seakan takut jika ada berani menyentuh Cherry. Seakan menganggap Cherry adalah miliknya.


" Aissss kenapa Verro bisa tau tentang masalah itu," batin Cherry merasa bodoh.


*********


Hari berganti hari seperti biasa pagi hari aktivitas akan mulai di sekolah. Dengan hari yang pasti itu-itu saja tidak akan ada yang berubah.


Cherry yang baru sampai sekolah. Melewati koridor-Koridor sekolahnya dan langsung memasuki kelasnya. Cherry duduk meletakkan tasnya di bangkunya.


" Toby, kau benar-benar, itu lipstik baruku," teriak Sasy memasuki kelas Mengejar Toby yang terus mencari masalah kepadanya.


" Isssss, kebiasaan," desis Cherry mulai kehilangan semangat melihat ke-2 temannya yang terus saja bertengkar.


" Kembalikan tidak," Sasy berhasil menarik rambut Toby dari belakang dan menjambak ya dengan kuat.


" Kembalikan," pekik Sasy tanpa ampunan. Sehingga membuat kepala Toby mendongak ke belakang.


" Iya-iya ampun," Toby yang merasa kesakitan akhirnya mengalah dengan Sasy yang sangat kejam kepadanya.


" Cepat sini!" suruh Sasy terus menarik kuat.


" Nih," Toby pun memberikan lipstik Sasy dengan membuat tangannya kebelakang. Karena dia tidak bisa membalikkan tubuhnya karena masih di tarik Sasy.

__ADS_1


" Ishhhh," desis Sasy kesal melepas jambakan nya setelah mendapatkan lipstiknya.


Cherry hanya geleng-geleng dengan ke-2 temannya yang tidak pernah berubah.


Toby memegang-megang kepalanya yang sakit akibat jambakan dari Sasy.


" Lipstik murahan aja bangga," cicit Toby.


" Murahan juga lo nggak mampu beli," sahut Sasy kesal mgusap-ngusap lipstik nya ke seragamnya.


" Kalian ber-2 ya bisa nggak sih, nggak usah ribut sehari saja," ucap Cherry dengan wajah seriusnya.


" Tidak!" sahut Toby dan Sasy serentak. Membuat Cherry hanya membuang napas kasar.


" Oh iya Cherry!" Sasy yang mengingat sesuatu langsung duduk di bangkunya tubuhnya mengarah kepada Cherry.


" Ada apa?" tanya Cherry was-was.


" Kau mengatakan tidak ikut Study tour, tetapi kenapa namamu terdaftar di keberangkatan para siswa," sahut Sasy membuat Cherry bingung.


" Aku?" tanya Cherry tidak percaya. Sasy langsung mengangguk.


" Mana mungkin," sahutnya masih tidak percaya.


" Benar Cherry, kau ikut, aku baru saja melihatnya," sambung Toby.


" Tapi...." Cherry masih tidak yakin.


" Lihat ini," Toby memberikan ponselnya dan memperlihatkan kepada Cherry.


Cherry dengan teliti melihat daftar nama murid yang mengikuti Study tour dan memang benar namanya terpampang nyata. Sangking tidak percayanya Cherry menutup mulutnya yang mengaga kaget.


" Benarkan?" tanya Sasy.


" Kok bisa, apa ini tidak salah," gumanya masih kurang yakin.


Cherry yang tidak percaya langsung berdiri.


" Mau kemana Cherry?" tanya Sasy melihat Cherry langsung pergi.


" Mau, ketemu Pak kepala sekolah," sahut Cherry sambil berjalan dengan cepat.


Dia harus memastikan dia benar-benar ikut atau tidak. Karena dia tau papanya pasti tidak mengijinkannya. Karena penyakit jantung yang di alaminya.


Cherry terus berjalan buru-buru sampai akhirnya bahu Cherry dan bahu Fiona saling bertabrakan.


" Auhhhh," lirih ke-2nya sama-sama jatuh ke lantai.


" Sorry-sorry aku tidak sengaja," ucap Cherry memegang bahunya yang lumayan sakit.


" Kenapa juga aku harus bertabarakan dengannya," batin Cherry berdiri.


" Maaf aku tidak sengaja," tanpa mempedulikan Fiona, Cherry melanjutkan langkahnya dan membiarkan Fiona masih terduduk di lantai.


" Apa dia tidak bisa melihat jalan," desis Fiona kesal dan menoleh kebelakang melihat Cherry yang terus berlari.


Fiona masih saja duduk membersihkan roknya. Tiba-tiba Verro melewatinya dengan santai.


" Kau tidak bisa membantuku," ucap Fiona mengadahkan kepalanya melihat Verro yang melewatinya dan Verro harus berhenti. Karena ucapan Fiona.


" Kau bicara denganku," sahut Verro dengan suara dinginnya.


" Memang ada orang lain, ayo bantu aku, aku kesulitan berdiri," sahut Fiona memberikan tangannya agar di sambut Verro.


" Cepat! Pekik Fiona. Verro berdesis dengan terpaksa mengulurkan tangannya pada Fiona dan membantu Fiona berdiri. Saat melakukan itu. Cherry yang sudah jauh di sana tiba-tiba membalikkan badan dan melihat Verro membantu Fiona berdiri.


" Apa mereka sedekat itu?" batinya dengan sudut bibirnya berkerut. Tetapi dia tidak mempedulikan dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan kepala sekolah untuk tujuannya.


💝💝💝Bersambung

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya


__ADS_2