DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 31 Rasa gugup.


__ADS_3

Ruang praktek.


Kelas hari ini sedang melakukan praktek kimia, para murid sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian ala-ala Dokter dan sudah bergabung di ruangan praktek.


Setiap meja terdapat 4 orang yang berarti 1 kelompok. Sebelumnya guru wanita yang menjadi guru kimia sudah membagi kelompok untuk praktek yang akan mereka lakukan.


Sialnya Cherry dan Verro malah satu kelompok. Di tambah Azizi dan Vandy yang juga ikut masuk ke dalam kelompok mereka.


Dengan susunan kelompok seperti itu membuat Cherry dan Verro yang berdiri bersebelahan semakin gugup.


Bagaimana tidak mereka bahkan saling menyadari apa yang hampir terjadi tadi di ruangan V3. Dan akan terjadi jika Vandy tidak datang.


Verro, Cherry, Azizi, dan Vandy berjejer di depan meja dengan bahan praktek yang lengkap yang tersusun.


" Seperti ini Cherry," ucap Azizi yang di samping Cherry.


" Oh iya," sahut Cherry yang memang kurang fokus.


" Ambil yang warna merah," sahut Vandy menyuruh Cherry yang kebetulan warna yang di katakan Vandy ada di sampingnya.


Cherry pun langsung mengambilnya yang ternyata Verro juga ingin mengambilnya dan akhirnya tangan mereka saling menyatu di botol cairan berwarna merah itu.


Kepala keduanya serentak miring berarahan dan akhirnya saling beradu pandang. Mungkin ke-2nya mengingat ke jadian itu sama persis saat saling memegang gelas.


Azizi di samping Cherry tersenyum melihat hal itu, sementara Vandy yang melihat hal itu geleng-geleng.


" Ehemmm, entar dulu pacarannya," sahut Vandy membuat Cherry dan Vandy kaget dan serentak saling melepas dan mengalihkan pandangan masing-masing.


" Biar aku yang ambil," sahut Azizi tersenyum dan mengambil cairan yang berwarna merah itu memberikan kepada Vandy.


" Kalau kalian berdua tidak fokus, sebaiknya keluar aja," sahut Vandy mengomel.


" Apaan sih Lo," sahut Verro kesal.


" Ya apa, kita itu lagi praktek, fokus dong, nanti malam malam Minggu baru lanjutin," goda Vandy. Azizi hanya tertawa pelan melihat hal itu.


" Sialan si Vandy, mulutnya makin lama makin lemes," batin Verro kesal dengan Vandy yang terus menggodanya dan yang anehnya dia malah tidak bisa bicara banyak saat Vandy melakukan itu. Jadi dia semakin terlihat bodoh.


Cherry tersenyum tipis seakan dirinya semakin aneh. Tetapi senyum Cherry berubah ketika matanya melihat Fiona yang berada depannya 1 kelompok dengan Selina, Sasy dan Toby.


Tetapi Fiona malah menatapnya dengan sinis. Tatapan seperti tidak suka. Sontak hal itu membuat Cherry kaget. Tatapan Fiona memang biasanya seperti itu. Tetapi kali ini mengarah kepadanya. Bukan kepada Verro.


" Kenapa dia, seperti ingin menerkam ku, apa dia sedang cemburu," batin Cherry rada-rada ngeri.

__ADS_1


" Eh Fiona jangan diam mulu bantuin," protes Selina kesal dengan Fiona.


" Tau nih," sambung Sasy.


" Ya ampun kalian berdua akrab banget," ejek Toby.


" Lo, juga dari tadi bukannya bantuin asyik foto-foto," ucap Selina semakin kesal.


" Tau nih, orang nyusahin aja," sambung Sasy lagi.


" Ya ampun kalian ber-2 semakin kompak, aku sangat terhura," ejek Toby lagi.


" Issshhh, diam nggak lo," Sasy langsung menggeplak kepala Toby yang banyak bicara.


Karena berisik Fiona meninggalkan tempat itu.


" He kau mau kemana?" panggil Toby yang tidak di respon Fiona.


" Dasar aneh, punya teman 1 kelompok nggak ada yang beres," desis Sasy kesal.


Cherry melihat kepergian Fiona. Cherry hanya menggedikkan ke-2 bahunya masa bodo dengan kepergian itu.


Sementara di kelompok Aldo ada Raquel, Nadya dan Varell.


Sangat terlihat Nadya dan Varell begitu dekat, mereka memang berdiri samping-sampingan dan terlihat kompak dalam mencampur-campur cairan itu.


" Tidak tau malu, apa dia sudah merasa hebat sekarang," batin Raquel menarik ujung bibirnya kesamping kesal dengan Nadya.


Bagaimana tidak semakin kesal punya tim yang sangat membosankan. Selain Si Nadya si tukang caper, si Varell yang belakangan ini sering ikut campur urusannya dan si Aldo yang sok pahlawan.


" Apa Varell menyukai cewek kampungan ini. Apa sekarang Varell sudah tidak punya harga diri lagi," batin Raquel yang benar-benar penasaran dengan kedekatan Nadya dan Varell.


" Dasar... nih anak selalu cari perhatian, memang kalau nggak caper nggak akan bisa sekolah apa," Yang lain sibuk menyelesaikan tugas yang di berikan guru. Tetapi Raquel sibuk bergerutu tentang Nadya dan Varell di dalam hatinya.


Sementara Aldo fokus dengan pekerjaannya. Aldo melirik Raquel yang diam tanpa melakukan apa-apa.


" Berdiri Lo!" tegur Aldo sinis pada Raquel yang duduk di sampingnya.


" Siapa lo nyuruh-nyuruh gue," sahut Raquel tambah kesal. Varell dan Nadya sama-sama melihat ke arah Raquel yang sedang di tegur.


" Kalau lo nggak mau, nggak usah di sini, enak aja, orang yang mikir, lo yang enak-enakan dapat nilai," sahut Aldo sinis.


" Sialan banget sih lo," sahut Raquel kesal. Karena guru yang melihat ke arah kelompok mereka. Raquel langsung berdiri.

__ADS_1


" Bukannya tobat, malah betingkah," desis Aldo pelan. Membuat Raquel tambah naik pitam.


" Maksud lo apaan?" tanya Raquel pelan menekan suaranya.


" Kerjain itu!" tegas Aldo yang malas bicara dengan Raquel yang tampak malas-malasan.


" Ishhhhh," desis Raquel mengepal tangannya dia benar-benar ingin menerkam Aldo. Tetapi Aldo tidak pernah takut dengannya.


Varell dan Nadya mendengar kegaduhan itu hanya melirik saja dan tidak mau ikut-ikutan.


" Ambil yang itu!" suruh Varell. Nadya mengangguk dan mengambilnya dan memberikan pada Varell.


" Tuangkan!" perintah Varell lagi. Nadya pun melakukannya, tetapi dengan usil Raquel yang melihat itu, mengambil sesuatu di samping Nadya dan dengan sengaja menggeser tangan Nadya agar apa yang di tuangnya tidak tepat sasaran.


" Ahhhhhh," lirih Nadya saat cairan yang panas itu mengenai tangannya.


" Nggak sengaja," ucap Raquel tersenyum miring.


" Kamu nggak apa-apa?" tanya Varell panik mengambil tisu dengan cepat dan langsung melap tangan Nadya.


Saat menoleh kearah Aldo. Raquel sudah mendapat tatapan sinis dari Aldo seakan tau Raquel sengaja melakukannya.


" Aku tidak sengaja," sahut Raquel tanpa di tanya


" Sekali lagi kamu bertingkah, cari kelompok lain," tegas Aldo mengancam.


" Emang lo siapa?" sahut Raquel seakan tidak peduli.


" Bu," panggil Aldo mengangkat tangannya membuat guru menoleh dan Raquel panik.


" Ada apa Aldo?" tanya guru.


" Apaan sih, lo Aldo," desis Raquel rada takut-takut. Aldo menoleh ke arah Raquel yang terlihat takut.


" Saya boleh mengganti tabungnya?" tanya Aldo membuat Raquel bernapas lega.


Dia memang lumayan takut jika Aldo melaporkan ke lakukannya. Karena barusan dia skor dan jika dia ditegur lagi. Dia benar-benar berakhir di tangan orang tuanya.


" Iya silahkan," sahut guru tersebut.


" Sialan lo," desis Raquel.


💝💝Bersambung

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya


__ADS_2