
Varell, Verro, Vandy, Sasy, Raquel dan Aldo sedang menikmati makan malam mereka di Restauran tempat mereka biasa. Di meja mereka sudah penuh dengan beberapa. Jenis makanan yang sudah mereka pesan.
Tidak tau siapa yang menjadi tukang teraktir
Yang jelas mereka mengadakan makan malam bersama.
" Toby, tidak datang?" tanya Verro yang sedari tadi tidak melihat temannya yang absen. Sasy yang mendengar nama Toby yang tadinya ingin menyiapkan nasi kemulutnya jadi menghentikannya.
" Iya kemana dia tumben-tumbennya tidak ada di sini," sahut Vandy juga heran.
" Aku tidak mungkin memberitahu. Kalau Toby sedang ke Jerman untuk memastikan Cherry sudah meninggal atau belum. Jika aku memberitahunya Verro pasti terganggu dengan apa yang di lakukan Toby," batin Sasy yang pura-pura tidak tau apa-apa. Padahal Toby berpamitan padanya untuk pergi.
" Kau tau dia kemana Sasy?" tanya Aldo. Sasy langsung kaget mendengarnya.
" Ha aku," sahut Sasy terlihat gugup dan melihat ke arah Verro yang seperti menunggu jawaban darinya, " Aku mana tau dia kemana kenapa malah bertanya kepadaku," sahut Sasy dengan santai berusaha tenang supaya tidak terlihat menutupi sesuatu.
" Ya ampun sayang. Mana mungkin Sasy tau kan kamu tau sendiri dia dan Toby kan tidak seakrab dulu lagi, lagian mana mungkin kalau apa-apa Toby harus melapor padanya," sahut Raquel dengan nada mengejek kepada temannya.
" Ha! benar apa kata Raquel," sahut Sasy. Walau kesal dengan omongan Raquel. Tetapi lumayan jadi penyelamat untuknya.
" Siapa tau ajakan dia tau," sahut Aldo.
" Ya mana mungkin sayang," sahut Raquel lagi memperjelas.
" Mungkin aja Toby lagi ada penerbangan. Jadi makanya dia tidak bisa ngumpul kali ini bersama kita," sahut Vandy berpikiran positf.
" Mungkin aja. Lagian Toby kan sibuk banget. Jadwal penerbangannya juga sangat banyak. Mungkin dia memang lagi ada penerbangan," sahut Raquel menambahi.
" Tapi dia taukan kalau kita ada acara makan malam sama-sama?" sahut Verro bertanya.
" Hmmmm, dia tau. Kan sudah di bilang di group dan pasti dia tau. Mungkin karena nggak bisa ikut. Makanya dia tidak merespon sama sekali," ucap Sasy yang terus mencoba tenang.
" Ya mungkin lain kali dia bisa kumpul bareng sama kita lagi," sahut Aldo dengan berharap banyak.
" Amin," sahut Raquel langsung mengaminkan. Sasy terlihat mengusap dadanya. Dia juga terlihat membuang napasnya perlahan kedepan. Seakan merasa lega.
" Untung saja tidak ada yang tau kalau Toby sedang ke Jerman. Jika ada yang tau dan apa lagi Verro semuanya bisa benar-benar akan Kacau. Lagian Toby apa-apaan sih pakai ngelakuin hal yang tidak bermanfaat sama sekali. Sudah tau Cherry dan Clara orang yang berbeda. Tetapi masih tidak percaya dan mencoba membuktikan dan sekarang lihatlah sampai sekarang tidak kembali dan aku harus berpura-pura tidak mengetahui hal itu," Sasy terus bergerutu di dalam hatinya.
Sasy kesal dengan tindakan Toby. Tetapi tidak punya hak untuk melarang tindakan Toby. Walau sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam. Dia juga penasaran dengan hasil penyelidikan Toby.
" Kamu kenapa Sasy, kok tiba-tiba diam mendadak," tegur Raquel sambil menyeruput lemon tea pesannya.
" Aku memang aku kenapa," sahut Sasy tertawa pura-pura tidak ada apa-apa, " Aku tidak apa-apa kali, Seharunya bukan aku yang di tanya. Tuh Varell sedari tadi bengong terus," ucap Sasy melempar pada Varell yang memang terlihat tidak bersemangat.
Varell bahkan tidak mengeluarkan suaranya. Dan tidak memakan makanannya dan malah mengaduk-ngaduk makanan itu seperti tidak selera sama sekali.
" Kau kenapa Varell?" tanya Candy yang juga merasa temannya sedang tidak baik-baik saja.
" Aku sudah mencoba melupakannya tetapi tidak bisa. Tujuanku kembali ke Indonesia hanya untuknya. Tetapi semua sia-sia. Dia malah mengatakan. Hidupnya begitu damai selama 5 tahun tanpa ada aku dan sekarang hidupnya gelisah dan tidak pernah tenang karena aku kembali muncul," ucap Varell yang curhat dengan teman-temannya. Mencurahkan semua isi hatinya.
Tetapi yang lainnya malah heran dan saling melihat. Mereka tidak mengerti dengan apa yang di katakan Varell dan siapa yang di maksudnya.
" Maksudnya apaan sih. Siapa yang kamu bicarakan?" tanya Raquel bingung.
" Benar, memang siapa yang merasa tidak damai," sambung Aldo yang juga sangat penasaran.
" Oh aku tau. Pasti Nadya kan," sahut Sasy yang menerka-nerka.
__ADS_1
" Benar Nadya?" tanya Verro melihat Varell. Bukan hanya Verro yang melihatnya. Semua mata melihatnya menunggu jawaban Varell Dan Varell mengangguk tidak bersemangat.
" Ohhhh," sahut Mereka dengan serentak.
" Tuh kan aku benar," sahut Sasy.
" Memang kamu masih punya niat untuk melanjutkan hubungan kalian?" tanya Vandy.
" Aku jelas ada niat untuk hal itu. Seperti yang aku katakan. Dia adalah alasanku. Kembali ke Indonesia. Tetapi dia tidak menyukai hal itu," jawab Varell dengan lemas.
" Memang kalian sudah bertemu?" tanya Raquel.
" Ya ampun Raquel. Kalau Varell sudah bicara ya berarti mereka memang sudah bertemu," sahut Sasy kesal.
" Ya siapa tau kan," sahut Raquel menggedikkan bahunya.
" Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Aku ingin meninggalkannya. Tetapi aku tidak bisa," ucap Varell yang tidak bisa berpikir apa-apa.
" Bukannya selama ini lo sudah ninggalin dia. Pergi tiba-tiba. Dan sekarang Lo balik lagi. Ya jelas dia nggak mau. Lagian juga mana mungkin Nadya mau melanjutkan hubungannya. Jika itu membuatnya tidak tenang," ucap Sasy.
" Varell. Seharusnya kamu sadar semuanya. Bukannya Nadya tidak mau melanjutkan hubungan kalian. Tetapi dia tau apa resikonya. Lagian aneh-aneh aja. Lo mau berhubungan dengan dia. Tetapi nyokap lo aja tidak setuju," lanjut Sasy yang terlihat menyalahkan Varell.
" Jadi Tante Arum benar-benar masih menentang hal itu?" tanya Varell.
Dia tau permasalahan Vandy dan Nadya karena mama Varell yang tidak menyetujui dan mama Varell mengirim Varell keluar Negri untuk kuliah dan belajar bisnis.
Dan mungkin Verro berpikir setelah lama dan Varell semakin dewasa. Wanita paruh baya yang cukup di kenalnya itu tidak akan mencampuri lagi urusan Varell. Dan menyerahkan apapun pilihan Varell. Makanya Verro menanyakannya.
" Aku tidak tau. Karena mama tidak tau aku menemuinya," jawab Varell.
" Kira-kira kalau tau bakalan marah atau tidak?" tanya Vandy. Varell menggedikkan bahunya. Tidak bisa menjawab apa-apa.
" Tapi kan tidak ada salahnya di kasih kesempatan," sahut Raquel yang memberi Varell semangat.
" Kesempatan apa. Kesempatan untuk Nadya menderita. Lupa. Nadya tidak pernah gabung sama kita gara-gara Varell. 1 yang di hindari semua kena sasaran," ucap Sasy kesal.
Padahal dulu Sasy tidak menyukai Nadya. Karena dia mengidolakan Varell. Eh sekarang seakan-akan dia paling mengerti perasaan Nadya dan makanya sangat membela Nadya.
" Ya walau pun begitu," sahut Raquel yang tampak tidak sependapat dengan Sasy.
" Walaupun apa," sahut Sasy yang terkesan marah.
" Sudah-sudah Kalian ini apa-apaan sih. Kenapa jadi kalian yang ribut. Yang ada kalian buat Varell tambah pusing," sahut Aldo yang selalu menjadi penengah. Ketika Sasy dan Raquel kembali berbeda argumen.
" Benar kata Aldo. Kalian jangan tambah buat Varell pusing. Kalian tidak liat dia sebgalau itu," sahut Vandy yang mencoba untuk mencairkan suasana.
" Lalu apa rencana kamu?" tanya Verro dengan serius.
" Aku tidak tau. Aku ingin memperjuangkannya. Tetapi tidak ada kesempatan yang di berikannya dan mungkin Sasy benar. Keegoisanku hanya membuatnya menderita," jawab Varell dengan wajah pastanya.
" Apa itu artinya kali ini kau akan melepasnya?" tanya Aldo memastikan.
" Jika itu yang terbaik. Mungkin kali ini. Akan aku lakukan," jawab Varell dengan keputusannya yang masih belum stabil.
" Varell. Sebaiknya kasih Nadya waktu dulu. Jika permasalahan untuk Nadya yang membuatnya terhalang adalah restu dari Tante Arum. Berarti kamu harus bicarakan hal itu dulu pada Tante Arum," ucap Verro memberi saran.
" Kalau tidak setuju juga?" sambar Sasy.
__ADS_1
" Sasy. Kita sebagai sahabat hanya mendoakan dan mendukung jika itu baik. Jadi biarkan masalah ini di tangani Varell. Karena yang menjalani semuanya adalah Varell dan juga Nadya. Kita berbicara seperti apapun itu tidak ada gunanya. Karena kita tidak tau apa yang di alami mereka sebenarnya," ucap Verro dengan bijak.
" Tuh dengarin," sambar Raquel lagi.
" Sudah," Aldo langsung mencegah pacarnya agar tidak memperkeruh suasana.
" Makasih Verro atas sarannya," sahut Varell sepertinya mendengar ucapan Verro membuatnya sedikit lega. Dan ada masukan sedikit.
" Walau Nadya mengatakan sudah tidak mencintaiku lagi," batin Varell yang mengingat kata-kata Nadya.
" Sudah ayo kita makan lagi. Jangan membahas itu lagi," ucap Verro mempersilahkan.
Yang lain mengangguk dan kembali menikmati makanan mereka. Varell juga meminum minumannya. Yang mungkin sudah memang lumayan bisa berpikir.
" Oh iya aku dengar anaknya Azizi batal operasi," sahut Varell tiba-tiba. Memang otaknya sudah bekerja lagi. Makanya tiba-tiba kepikiran dengan Azizi.
" Apa Iqbal batal operasi," batin Vandy kaget. Benar-benar tidak tau dengan berita itu dia memang tidak tau hal sebesar itu.
" Hah! serius?" sahut Aldo yang juga kaget dan memang belum mendapatkan berita itu.
" Iya sayang," sahut Raquel membenarkan.
" Kenapa tiba-tiba batal. Apa karena biaya," batin Vandy masih terkejut dan sekarang malah panik. Setaunya Azizi hanya terkendala biaya. Tetapi tidak mungkin juga karena hal itu batal. Vandy bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.
" Kok bisa batal, memang apa yang terjadi?" tanya Varell.
" Donor tulang sumsum yang di siapkan untuk Iqbal tidak cocok dan sampai sekarang rumah sakit masih berusaha mencari yang cocok," sahut Sasy.
" Berarti butuh waktu lama?" tanya Aldo.
" Iya. Padahal. Kondisi Iqbal semakin memburuk," sahut Raquel.
" Apa tidak ada cara lain?" tanya Varell.
" Kalau ayahnya masih hidup. Mungkin bisa membantunya," sahut Sasy. Vandy langsung kaget mendengarnya. Sampai dia kesulitan menelan salavinanya.
" Maksudnya?" tanya Varell.
" Tulang sumsum Azizi tidak cocok. Jika tidak cocok berarti ayahnya cocok dan jika Iqbal ada saudara juga pasti cocok. Tetapi Iqbal sudah tidak memiliki seorang ayah dan apalagi saudara," sahut Verro dengan penjelasan lengkap.
" Itu berati tidak ada yang bisa di lakukan," sahut Varell.
" Ya hanya menunggu saja," sahut Raquel.
" Jadi Iqbal akan tertolong jika mendapat donor tulang sumsum yang cocok dan aku adalah ayahnya. Aku pasti cocok dengan tukang sumsum Iqbal. Aku bicarakan ini pada Azizi. Nyawa Iqbal sangat bahaya," batin Vandy yang benar-benar panik dan wajahnya yang penuh ketakutan.
" Kamu kenapa Vandy?" tanya Sasy tiba-tiba yang melihat Vandy sangat gelisah. Vandy langsung membuyarkan lamunannya dan berpura-pura biasa.
" Aku aku tidak apa-apa," jawab Vandy dengan senyum palsunya.
" Kayak ada beban gitu aku lihat, kamu juga terlihat tidak tenang kayak nyimpan sesuatu yang aneh, " sahut Sasy merasa ada yang aneh pada Vandy.
" Kamu berlebihan Sasy. Aku tidak apa-apa. Aku hanya simpatik dengan Azizi. Pasti ini hal terberat di dalam hidupnya," ucap Vandy mengalihkan suasana hatinya yang memang tidak tenang.
" Iya kita berdoa saja semoga Iqbal cepat mendapat donor yang tepat dan operasinya berjalan lancar," sahut Verro dengan harapan yang banyak.
" Amin," sahut mereka dengan serentak.
__ADS_1
" Aku harus bicara langsung dengan Azizi. Aku tidak bisa tinggal diam dengan semua ini," batin Vandy yang benar-benar yakin dengan keputusannya.
Bersambung.....