DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 348 Varell dan Nadya.


__ADS_3

Varell membawa Nadya keluar dari tempat pesta itu, menuju mobil Varell yang terparkir.


" Kita mau kemana?" tanya Nadya saat Varell membuka pintu mobil.


" Masuklah!" ucap Varell dengan suara rendahnya.


" Kita mau kemana dulu?" tanya Nadya lagi yang masih berderai air mata.


" Nadya masuklah!" jawab Varell yang kembali menyuruh Nadya masuk dengan menekan suaranya.


" Aku tidak mau pergi sebelum kamu mengatakan kita mau kemana. Kita tidak mungkin pergi begitu saja setelah apa yang terjadi," ucap Nadya dengan tangisnya.


" Masuklah Nadya!" bentak Varell yang tidak dapat mengontrol dirinya. Nadya tersentak dengan air matanya yang menangis lebih deras.


" Nadya aku harus apa. Jika kamu saja tidak ingin memperjuangkan semuanya aku harus apa lagi. Apa mencintaimu sesulit itu. Aku akan mengorbankan semuanya untukmu. Tapi jika kamu sendiri tidak menginginkan itu. Bagaimana usahaku bisa berjalan. Aku sudah melepas semuanya Nadya. Aku capek hidup di bawah tangan mama. Aku capek Nadya dengan semua peraturan mama. Aku capek dengan larangan mama yang ini itu. 5 tahun aku mengalah untuk semua ini. Aku mencoba untuk melupakan mu untuk membuka hati dekat dengan orang lain. Tapi aku tidak bisa Nadya. Aku berusaha semampuku sampai detik ini Nadya," ucap Varell dengan volume suaranya yang lumayan keras.


Varell begitu lelah dengan hidupnya yang sama sekali begitu hambar. Varell mengusap wajahnya kasar yang tidak di sadarinya, air matanya menetes. Nadya hanya menangis sengugukan yang melihat Varell.


Dengan cepat Nadya memeluk Varell membuat Varell takut.


" Aku tidak bilang Varell untuk tidak ikut denganmu. Aku hanya bertanya. Karena aku takut akan meninggalkan ibu," ucap Nadya yang menangis sengugukan di pelukan Varell.


Varell memejamkan matanya dengan memeluk erat Nadya yang juga menangis.


" Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan aku, aku tidak bermaksud marah-marah atau mengeluh di depanmu. Maafkan aku Nadya," ucap Varell merasa bersalah.


" Nadya, ibu tidak apa-apa. Dia bersama Cherry dan yang lainnya. Kamu jangan khawatir," ucap Varell. Varell melepas pelukan itu dan mengusap air mata Nadya.


" Kita pergi ya," ucap Varell dengan lembut. Nadya mengangguk setuju. Dia juga begitu lelah dan ingin menenangkan dirinya. Nadya pun masuk kedalam mobil dan Varell menyusul masuk dan tidak menunggu lama Varell menyetir sebelum anak buah mamanya mengejarnya.


Nadya memang ikut dengan Varell. Karena dia juga cukup mengalah selama bertahun-tahun. Namun pada nyatanya cintanya untuk Varell tidak tergantikan dan dia tidak akan membiarkan Varell berjuang sendirian lagi.


***********


Sementara untuk ibu Nadya berada di dalam kamar yang tersedia di tempat resepsi Raquel dan Aldo. Cherry mengambil air putih dan memberikannya pada ibu Nadya yang terlihat sendu yang duduk di pinggir ranjang. Di dalam kamar juga ada Sasy dan Azizi.


" Ibu minum dulu ya," ucap Cherry dengan lembut.


" Makasih ya nak Cherry," sahut ibu Nadya.


" Ibu jangan khawatir semua masalah akan baik-baik saja," sahut Azizi.

__ADS_1


" Lalu di mana Nadya?" tanya Ibu Nadya.


" Nadya baik-baik saja. Varell dan Nadya sedang menenangkan diri," sahut Sasy.


" Apa dia akan aman, apa orangtuanya Varell tidak akan macam-macam kepadanya?" tanya ibu Nadya begitu khawatir dengan anaknya


" Ibu jangan khawatir, Nadya tidak apa-apa sama sekali. Dan Tante Helena tidak akan berani mengganggunya," sahut Sasy meyakinkan ibu Nadya.


" Syukurlah kalau begitu. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah baik kepada saya dan Nadya," sahut ibu Nadya yang merasa terharu dengan kebaikan teman-teman putrinya.


" Ibu sudah seperti orang tua kami sendiri. Jadi sangat wajar kami seperti ini," sahut Cherry. Ibu Nadya hanya mengangguk yang sudah merasa lega dengan ada yang membantu dia dan putrinya.


" Ya sudah sebaiknya ibu istirahat di sini saja ya," ucap Sasy.


" Benar Bu, ibu jangan takut. Kami tetap di sini untuk menjaga ibu dan memastikan tidak akan ada yang terjadi," sahut Azizi.


" Iya, jika ada kalian ibu memang akan merasa jauh lebih baik," sahut ibu Nadya. Mereka tersenyum tipis dan membantu ibu Nadya untuk beristirahat agar pikiran ibu Nadya tidak apa-apa sama sekali.


*********


Acara pesta Raquel tidak sesempurna yang di impikan Raquel. Sudah capek-capek mempersiapkan pada nyatanya tidak sesuai expetasi. Para tamu banyak yang pergi begitu saja yang tidak nyaman dengan suasana heboh di pesta itu.


Namun kesedihan itu harus di bawa Raquel kedalam kamar pengantin mereka. Kamar yang begitu indah di dekor layaknya kamar pengantin membawa kesedihan.


Di mana Raquel yang sudah membuka gaun pengantinnya dan menggantinya dengan gaun tidur kimono yang berwana pink muda. Raquel berbaring miring di atas tempat tidur yang ternyata dia sedang menangis pestanya yang kacau.


Tidak lama Aldo keluar dari kamar mandi yang sedari tadi dia berada di kamar mandi. Membersihkan dirinya yang juga terasa lengket dan supaya beristirahat dengan santai.


Aldo keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Aldo melihat Raquel yang membelakanginya membuat Aldo membuang napasnya perlahan.


Aldo meletakkan handuk pada tempatnya dan beralih menaiki ranjang dengan memegang bahu Raquel yang sedikit miring dan Aldo jelas begitu dekat melihat istrinya yang menangis.


" Sayang!" ucap Aldo lembut mengusap-usap lengan Raquel.


" Semuanya berantakan," ucap Raquel dengan suara berat yang terlihat begitu kecewa.


" Sayang, kita tidak tau jika akan terjadi seperti ini," ucap Aldo.


" Tante Helena jahat sekali. Apa salahku kepadanya. Kenapa dia dengan enaknya mengacau di pestaku," ucap Raquel yang sangat kesal dengan Helena.


" Sayang sudah, jangan memikirkan itu lagi. Pesta kita tidak kacau," ucap Aldo.

__ADS_1


" Tidak kacau bagaimana. Banyak tamu yang tidak puas dan pergi begitu saja dan seharusnya acaranya masih berlanjut dan sudah selesai di tengah jalan. Jadi dari mana ceritanya pestanya tidak kacau," ucap Raquel yang merasa begitu kecewa.


" Shuttt, sudah sayang. Aku tau itu adalah pesta impian kita. Tapi bagiku menikahimu secara sah, itu sudah impian yang paling indah yang sudah menjadi nyata," ucap Aldo yang membujuk Raquel.


" Kamu jangan memikirkan pesta itu lagi ya, yang penting, apa yang menjadi intinya sudah terjalankan," ucap Aldo lagi. Raquel pun meluruskan tubuhnya sehingga wajahnya dan Aldo berhadapan.


" Jangan menangis lagi," ucap Aldo mengusap air mata Raquel.


" Lalu bagaimana dengan Nadya?" tanya Raquel yang walau kecewa dengan pestanya yang kacau. Dia masih memikirkan temannya itu.


" Nadya dan ibunya sudah di urus anak-anak. Jadi kamu jangan khawatir. Semoga saja Varell dan Nadya bisa melewati semua ini," ucap Aldo. Raquel mengangguk.


" Kamu jangan nangis lagi ya. Masa iya di malam pernikahan kita kamu menangis seperti ini. Aku merasa seperti pria yang menikahi kamu secara paksa," ucap Aldo dengan bercanda sedikit membuat wajah Raquel cemberut.


" Kamu jangan bilang seperti itu. Aku jadi tambah sedih," ucap Raquel.


" Iya, sayang maaf," ucap Aldo lembut dengan mengusap-usap pipi Raquel.


" Oh, iya Aldo, aku boleh tidak minta sesuatu?" tanya Raquel.


" Hmmm, pasti apa itu. Ini akan menjadi permintaan pertamamu setelah menjadi istriku," ucap Aldo.


" Ini lumayan berat sih," ucap Raquel membuat Aldo mengkerutkan dahinya.


" Katakan sayang ada ala?" tanya Aldo.


" Kita kan sudah menikah, kita sudah sah menjadi suami istri dan seharusnya..." ucap Raquel tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


" Iya seharusnya kenapa?" tanya Aldo menunggu lanjutan kalimat itu.


" Ini malam pertama kita. Boleh tidak kalau besok saja," ucap Raquel dengan suara pelan yang ragu mengatakannya. Aldo menaikkan 1 alisnya mendengar kata-kata Raquel.


" Aldo, suasana hatiku sedang tidak baik. Aku tidak mau malam indah dalam pernikahan kita menjadi tidak berkesan," ucap Raquel dengan wajahnya yang merengut. Aldo tersenyum dengan mencium lembut kening Raquel.


" Ya sudah, tidak apa-apa. Lagian aku juga capek, aku juga tidak mau melakukan yang yang paling penting untuk pernikahan kitasaat kamu ataupun aku sedang tidak baik-baik saja. Jadi hal itu bisa di lakukan kapan saja," ucap Aldo dengan tersenyum.


" Makasih," ucap Raquel tersenyum.


" Sama-sama, ya sudah kita sebaiknya istirahat," ucap Aldo. Raquel menganggu, Aldo merebahkan dirinya dan menarik Raquel kedalam pelukannya. Raquel memeluk erat yang merasa jauh lebih tenang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2