
Cherry dan Verro masih berada di atas kapal. Mereka menghadap kearah lautan. Verro yang duduk dengan meluruskan kakinya kedepan membuka sedikit sementara Cherry yang duduk di depannya di antara ke-2 kaki itu dengan menyandarkan punggungnya ke dada bidang Verro.
Verro memeluknya dengan erat sampai beberapa kali Verro terus mencium rambut Cherry yang berada di depan wajahnya. Cherry juga sudah memakai jas Verro. Karena memang tempat itu sangat dingin. Jadi Verro tidak tega dengan hal itu.
" Verro terima kasih sudah menurutiku," ucap Cherry dengan memegang lengan Verro yang berada di dadanya memeluknya erat.
" Aku sangat menyesalkan hari ini Cherry. Seharusnya aku tidak mengajakmu kemari," sahut Verro merasa bersalah.
" Tidak, justru aku senang bisa kemari. Bukannya aku dari tadi mengatakan, aku sangat bahagia malam ini," sahut Cherry mengangkat kepalanya mendongak ke atas agar bisa melihat Verro.
Wajah Verro masih sama. Terlihat jelas kekhawatiran di sana. Matanya juga masih memerah banyak kekhawatiran di wajah itu.
" Aku tidak apa-apa, jangan mengkhawatirkan ku lagi," ucap Cherry mengusap pipi Verro dengan lembut.
" Kenapa tidak membawa obatmu?" tanya Verro. Cherry menggelengkan kepalanya.
" Aku lupa," jawab Verro.
" Kenapa kau sangat ceroboh?" tanya Verro.
" Maaf, aku tidak bermaksud ceroboh, aku tidak bermaksud membuatmu marah, maaf kan aku," sahut Cherry.
" Verro sekarang aku sudah tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Sudah tidak sakit," ucap Cherry yang terus menyakinkan Verro.
" Apa kondisimu menurun?" tanya Verro. Cherry menggeleng.
Walau Cherry tau. Memang benar kondisinya menurun. Karena dia sering mengalami serangan tiba-tiba yang membuatnya drop. Hanya saja memang Verry tidak tau dan jika Verro tau dia pasti sudah berada di atas ranjang rumah sakit.
" Tidak, bukankah ini biasa, kamu sudah tau bagaimana aku. Jadi jangan memikirkan hal itu lagi," ucap Cherry benar-benar tidak ingin membuat Verro semakin khawatir.
Cherry kembali mengalihkan pandangannya kedepan melihat lautan. Verro semakin memeluknya erat.
" Aku bahagia Verro. Karena bisa menyelesaikan study tour dengan lancar. Aku bahagia karena aku bisa mengikuti semua kegiatannya tanpa ada yang kurang. Aku tidak percaya kalau aku akan merasakan semuanya, aku sungguh bahagia Verro," ucap Cherry.
" Terima kasih Verro sudah memberiku kesempatan untuk semua ini. Terima kasih kamu selalu ada bersama ku. Terima kasih telah mencintaiku," ucap Cherry yang terus merasa bahagia.
__ADS_1
" Verro semua impianku akan tercapai satu-satu, dan semua berkat kamu," ucap Cherry lagi.
" Apa masih ada yang belum tercapai?" tanya Verro lembut seakan ingin mewujudkan impian Cherry. Cherry tersenyum.
" Tidak semuanya sudah tercapai jadi tidak ada lagi yang tidak aku inginkan," ucap Cherry tersenyum.
" Verro setelah kita lulus sekolah nanti kamu akan 1 kampus denganku?" tanya Cherry mengangkat kepalanya melihat Verro. Verro mengangguk. Membuat Cherry tersenyum.
" Kamu kuliah ingin mengambil jurusan apa?" tanya Cherry.
" Aku ingin menjadi Dokter, supaya bisa menjadi Dokter untukmu," jawab Verro menatap Cherry. Cherry tertawa kecil mendengarnya.
" Kenapa kamu tertawa apa ada yang lucu?" tanya Verro.
" Kamu seperti anak kecil. Jika punya cita-cita menjadi Dokter agar bisa mengobati orang terdekatnya," sahut Cherry.
" Tetapi aku serius aku ingin menjadi Dokter agar bisa memantau kesehatanmu. Aku tidak akan seperti Dokter Arif yang selalu menurutimu dan selalu mengalah kepadamu. Aku akan tegas dan benar-benar akan marah-marah jika kau mencari alasan agar tidak berobat," tegas Verro. Mendengarnya membuat Cherry mengkerutkan dahinya.
" Kau sangat menyeramkan. Kalau begitu aku tidak akan mau jadi pasienmu, aku akan tetap jadi pasien Dokter Arif yang lemah lembut," sahut Cherry.
" Apa aku akan hidup selama itu, sampai kau sudah menginginkanku menjadi pasienmu?" ucap Cherry pelan dengan tersenyum.
" Cherry," tegur Verro yang dapat mendengar kata-kata Cherry.
" Kalau begitu kau akan masuk fakultas kedokteran?" tanya Cherry.
" Iya," jawab Verro, " bagaimana denganmu kau akan mengambil mata kuliah apa?" tanya Verro.
" Aku ingin mengambil mata kuliah tata boga," jawab Cherry.
" Kau ingin menjadi Chef?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Tidak. Aku hanya ingin pintar memasak. Ketika aku menikah. Suami dan anak-anak ku akan terus memuji masakanku. Itu akan menjadi kebanggaan untuk ku," ucap Cherry dengan wajahnya yang penuh kebahagian.
" Kau ingin menikah?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
__ADS_1
" Hmmm, walau aku tidak tau itu akan terjadi atau tidak. Tapi aku ingin menikah muda dan menjadi istri. Aneh banget masa iya anak SMA bicaranya soal pernikahan," ucap Cherry merasa pembicaraannya semakin kacau.
Kata-kata Cherry Verro terdiam. Tidak bisa menanggapi kata-kata itu. Raut wajah Cherry sangat bahagia ketika membicarakan pernikahan.
" Verro apa kita akan pacaran sangat lama?" tanya Cherry melihat kerah Verro. Verro masih diam tidak bisa menjawab pertanyaannya.
" Memang kenapa?" tanya Verro.
" Kata orang-orang. Jika berpacaran lama maka jodohnya bukan itu. Apa kita hanya akan berpacaran. Tetapi tidak akan menikah," ucap Cherry yang memang bicara sudah kemana-mana.
" Kau ingin menikah denganku?" tanya Verro.
" Jika aku mencintaimu. Bukannya memang seharusnya aku akan menikahi orang yang aku cintai," sahut Cherry.
" Cherry kau tau sendiri bagaimana keluargaku. Kau tau itu hanya akan menjadi keuntungan besar untuk papaku. Kau sudah mengetahui hal itu," ucap Verro.
Verro memang tidak ingin memanfaatkan hubungannya dengan Cherry demi keuntungan papanya. Papanya memang tidak akan peduli bagaimana perasaannya dan juga tentang Cherry.
Menurut Verro manusia paling kejam di dunia ini adalah Papanya. Yang sanggup mengunakan penyakit orang lain demi keuntungannya.
Dan Verro tidak ingin Cherry mengalami hal itu. Sudah cukup baginya selama ini. Dia ingin menjalin hubungan dengan wanita yang di peluknya dengan hati dan tanpa ada embel-embel kebelakang.
" Hey, kenapa wajahmu serius sekali? sahut Cherry, " memang aku ada memintamu untuk menikahiku," sahut Cherry tersenyum mengembang di wajahnya.
" Lagian kita masih sekolah. Kenapa juga kita harus membicarakan pernikahan," ucap Cherry geli sendiri. Mungkin Cherry mengatakan dengan nada becandaan. Tetapi Verro menanggapi dengan serius.
" Huhhhhhhh, dunia ini sangat indah," ucap Cherry dengan senyumnya melihat lautan. Verro mempererat pelukannya sampai meletakkan kepalnya di bahu Cherry dengan pipi mereka yang menempel 1 sama lain.
" I love you," lirih Verro dengan hembusan napasnya di telinga Cherry membuat Cherry tersenyum bahagia mendengar kata-kata cinta itu. Verro juga mencium lembut pipi Cherry.
" I Love you to," jawab Cherry penuh kebahagian.
Dia memang masih merasakan sakit di dadanya. Karena kondisi jantungnya yang pasti semakin parah. Tetapi dia sengaja menutupinya agar Verro tidak khawatir. Dia ingin tetap berduaan dengan Verro. Dia takut jika ini menjadi wanita terakhirnya.
Bersambung....
__ADS_1