DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 168 Perasaan yang kembali aneh


__ADS_3

Rasa kaget Clara saat bibir Verro mencium bibirnya membuat matanya terpejam dengan perlahan. Tidak tau kenapa dia seakan tidak menolak hal itu. 1 tangan Verro memegang pipinya seakan membuat wajah Clara lebih maju yang seakan ingin memperdalam ciumannya.


Verro seakan nyaman dengan apa yang di lakukannya yang mungkin Verro menganggap itu adalah Cherry. Seperti sedang melepas rindu.


Sementara debaran jantungnya semakin berdetak tidak beraturan. Dengan ciuman yang membuatnya sangat nyaman. Dan bahkan merasa ciuman itu seakan pernah terjadi padanya. Dan pasti lain dari Verro yang menganggap jika wanita yang di cium nya adalah Cherry.


Sampai saatnya Verro melepas ciuman singkat itu dan membuka matanya perlahan dan Clara juga membuka matanya. Mata meraka saling bertemu.


Bola mata Verro berkeliling melihat wajah Clara dan menatap mata yang tampak sayu itu. Tangannya pun masih mengusap pipi itu dengan lembut seakan memberikan kasih sayang dengan sentuhan kecil itu.


Tetapi seketika itu Verro melebarkan matanya. Seperti menyadari sesuatu yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan. Dengan refleksi Verro mendorong pelan Clara sehingga menjauh darinya. Membuat Clara kaget dengan tingkah Verro yang berubah secepat kilat.


Dan Verro langsung berdiri dan membelakingi Clara dengan napasnya yang naik turun. Sama dengan Clara yang masih mengatur napas dan sekarang Clara di penuhi kebingungan. Tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Verro.


" Apa ada apa ini," batin Verro terlihat mengusap wajahnya dengan 1 tangannya.


" Kembalilah ke kamarmu. Ini sudah larut malam," ucap Verro dengan suara dinginnya dan langsung pergi meninggalkan Clara yang di penuhi kebingungan.


Air mata Clara langsung jatuh saat dengan melihat kepergian Verro. Mata Clara tidak lepas melihat punggung Verro yang berjalan semakin jauh tanpa melihat dirinya sedikitpun.


" Kenapa dia menciumku, lalu meninggalkanku," batin Clara seakan merasakan yang sangat sesak di dadanya. Ada goresan di hatinya yang membuatnya seperti wanita yang tidak berarti.


Bisa-bisanya ciumannya di ambil. Tetapi langsung di tinggal tanpa berbicara apa-apa yang membuatnya kebingungan.


************


Verro langsung memasuki kamar mandi setelah melakukan hal itu pada Clara. Verro langsung mencuci wajahnya di wastafel mengangkat kepalanya dan melihat dirinya di depan cermin dengan matanya yang sudah memerah.


" Apa yang terjadi. Apa yang aku lakukan. Apa aku gila. Kenapa aku melakukan itu. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku. Verro sadarlah dia orang lain. Dia bukanlah Cherry. Ada apa denganmu," Verro bergerutu ketika menyadari apa yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan.


" Kau benar-benar gila Verro. Kau sangat gila. Bisa-bisanya kau melakukan itu," ucapnya yang mengutuk dirinya sendiri. Dia mengakui jika dia sangat bodoh.


Terbawa perasaan sampai akhirnya harus mencium wanita lain untuk yang pertama kali setelah kematian Cherry. Verro kembali membasuh wajahnya dan terus bergerutu dengan penuh penyesalan atas apa yang di lakukannya pada Clara.


Lain dengan Clara yang ternyata masih tetap berada di tempat di mana Dokter yang membuatnya penasaran menciumnya. Clara terlihat duduk melamun dengan mengusap lengannya. Ternyata air matanya masih menetes.

__ADS_1


" Tiba-tiba dia ada dalam ingatanku. Apa itu hanya kebetulan. Apa dia muncul dalam ingatanku. Karena aku memikirkannya dan menjadikan sosok orang yang ingin kulihat itu adalah dirinya,"


" Kenapa semuanya sangat aneh. Aku selalu ingin tau hal yang tidak perlu aku ketahui. Dan tadi menciumku dan bahkan meninggalkanku tanpa mengatakan 1 patah katapun. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi aku sangat terluka dengan apa yang di lakukannya," Clara terus bergerutu di dalam hatinya dengan apa yang terjadi barusan.


Masih ada rasa tidak terima di dalam dirinya saat Verro meninggalkannya sendirian dan membuatnya sekarang penuh pemikiran.


Clara sangat bingung harus menaggapi seperti apa. Apa dia harus marah atau justru bahagia. Tetapi yang jelas air matanya mewakili semua itu.


**********


Keesokan harinya. Clara masih berada di dalam ruangan perawatannya. Dan Sasy sedang memakaikan selang infus ketangan Clara yang sedang berbaring di atas ranjang


" Kau habis mencopotnya ?" tanya Sasy yang bisa melihat bekas merah di punggung tangan Clara.


" Gatal. Jadi aku mencopotnya," jawab Clara yang mencari alasan.


" Kalau gatal di garuk bukan di copot," sahut Sasy tampak ketus.


" Apa kau akan seperti ini kepada pasienmu?" tanya Clara tiba-tiba membuat Sasy melihat kearah Clara.


" Apa maksudmu?" tanya Sasy melihat Clara serius.


" Apa aku terlalu galak kepadanya. Sampai dia berbicara seperti itu," batin Sasy yang merasa dia juga kelewatan.


" Kayaknya aku biasa saja. Kau saja yang berlebihan menanggapinya," sahut Sasy yang masih berwajah ketus.


" Aku tidak berlebihan. Tetapi aku bisa merasakannya. Jika kalian tidak menyukaiku. Aku tidak tau apa salahku. Apa karena Mas Bayu membuat onar makanya kalian juga ikut membenciku. Atau justru kalian tidak menyukaiku. Karena aku mirip dengan teman kalian," ucap Clara. Membuat Sasy kaget dengan kata-kata Clara.


" Apa yang di katakannya. Kenapa dia bicara seperti itu. Apa dia tau jika dia mirip dengan Cherry," batin Sasy penuh kebingungan.


" Sudahlah, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Sebaiknya kau istirahat dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh lagi dan soal penilaian mu kepadaku. Itu terserahmu," ucap Sasy yang langsung pergi.


" Dia memang seperti itu kepadaku. Kapan dia akan baik kepadaku," ucap Clara yang tiba-tiba merasa sedih.


" Semenjak kejadian tadi malam. Dia bahkan tidak terlihat. Apa benar dia akan menghindariku. Setelah kejadian itu," ucap Clara yang tiba-tiba teringat dengan Verro.

__ADS_1


" Apa itu salahku. Dia yang berbuat. Tetapi aku yang seperti salah," Kiara tampak bergerutu kesal dengan apa yang terjadi.


**********


Malam hari Taxi berhenti di depan rumah sakit yang ternyata Selina yang turun dari dalam Taxi. Setelah pulang dari pekerjaannya dia memang langsung menuju rumah sakit


" Kenapa dia menyuruhku datang kerumah sakit. Apa tidak bisa menemuiku saja. Wanita itu benar-benar sangat merepotkan," Selina tampak mengoceh dengan Clara.


Clara menelponnya dan memohon untuk menemuinya di rumah sakit karena tidak mungkin dia keluar lagi. Selina pasti sudah menolak mentah-mentah.


Tetapi Selina akhirnya luluh dan akhirnya harus menuruti Clara dan dengan terpaksa dia datang kerumah sakit. Untuk menemui Clara yang baginya sangat merepotkan.


Sementara Clara berada di dalam kamarnya. Sudah sangat gelisah.


" Aku tidak bisa berbicara padanya di dalam kamar ini. Bagaimana jika tiba-tiba mas Bayu datang. Dia pasti bertanya-tanya mengenai Selina. Sebaiknya aku menemuinya di luar. Tapi bagaimana caranya," Clara mengoceh terus kebingungan harus melakukan apa lagi.


Sampai akhirnya. Clara kembali mencabut infusnya. Dia benar-benar sangat tidak peduli. Tetapi kali ini dia melakukan sangat pelan. Sampai tidak membekas sama sekali dan dia tidak mendapat ocehan lagi dari Dokter.


Clara juga terlihat memanipulasi ranjanganya dengan menumpuk bantal seakan-akan ada yang tertidur di sana. Clara langsung mengambil ponselnya dan keluar pelan-pelan dari dalam kamar itu.


Sebelum membuka pintu. Clara mengintip dulu seakan mengawasi di luar. Melihat apakah ada orang-orang yang di takutinya. Setelah merasa aman. Clara akhirnya keluar dari dalam ruangannya.


Clara berjalan di koridor rumah sakit sambil memegang ponselnya dan melihat-lihat di sekelilingnya. Dia benar-benar sangat hati-hati.


" Di mana dia, bukannya di katakannya dua sudah sampai," gerutu Kiara yang melihat layar ponselnya.


Dari arah yang berlawanan. Verro berjalan dan Fokus dengan kertas yang di lengket kan di papan ujian sampai tidak melihat Clara sedang berjalan di depannya. Begitu juga dengan Clara yang sama-sama tidak melihat Verro.


Langkah ke-2nya semakin mendekat dan sama sekali tidak ada yang menyadari. Sampai akhirnya bahu itu bertabarakan dan membuat ke-2nya kaget.


" Auhhhhh," ucap Clara melotot yang hampir jatuh dengan cepat Verro menahan pingganya sampai akhirnya Clara berada di dalam pelukannya.


Hhhhh, suara napas Clara terdengar tidak beraturan saat dia hampir jatuh dan merasa lega. Yang sekarang wajahnya berada di dada bidang Verro. Sampai dan dengan perlahan Clara mengangkat kepalanya mendongak melihat siapa yang memeluknya.


Debaran jantungnya semakin tidak menentu saat Pria yang kemarin malam menciumnya dan sama sekali tidak pernah di lihatnya sudah memeluknya.

__ADS_1


Mata mereka yang bertemu sama-sama berkeliling seakan menelusuri wajah itu. Tidak Clara dan tidak Verro mereka sama-sama memandang. Dengan pemikiran mereka masing-masing.


Bersambung


__ADS_2