
Selina kaget mendengar ucapan Sasy. Langkahnya menjadi terhenti.
" Jadi Sasy juga tau tentang Clara," batin Selina yang tidak percaya dengan hal itu.
Sasy yang melihat Selina berhenti langsung menghampirinya dan langsung berdiri di hadapan Selina.
" Kenapa lo bertemu Clara. Lo kenal sama dia?" tanya Sasy dengan ke-2 tangannya di masukkan kedalam saku seragam Dokter nya.
" Kamu kenal juga sama Clara?" tanya Selina yang bukannya menjawab pertanyaan Sasy malah bertanya lagi.
" Hanya tau dan tidak kenal," jawab Sasy ketus. " Kamu sendiri kenal di mana. Kenapa kelihatan sangat akrab dengannya?" tanya Sasy kepo. Meski Verro melarangnya untuk bertanya. Tetapi dia sangat kepo dan benar-benar ingin tau.
" Bukan urusanmu," sahut Selina ketus dan langsung pergi melewati Sasy. Sasy kaget dengan respon Selina dan dengan cepat menahan tangannya.
" Katakan kau kenal di mana dengannya?" tanya Sasy yang benar-benar ingin tau.
" Apaan sih. Aku tidak harus melapor padamu," ucap Selina dan langsung menjatuhkan tangan Sasy dari tangannya.
" Minggir. Nggak usah ikut campur dengan urusanku," ketus Selina langsung pergi.
" Ishhhh, dasar. Hanya bertanya langsung seperti itu. Aku yakin sih dia pasti ada sesuatu. Kalau tidak ngapain juga dia tidak memberi tahu," ucap Sasy dengan sewot melihat punggung Selina yang terus berjalan tanpa menengok kebelakang sedikit pun.
***********
Bayu masih berdebat dengan mamanya masalah Clara. Jelas Bayu akan menentang semua itu.
" Tidak ma. Bayu tetap tidak setuju.
" Bayu. Ayolah. Kita jangan seperti ini. Clara harus tau siapa dia. Kita harus mengembalikan identitasnya. Kasihan dia Bayu," ucap Karina yang berusaha membujuk putranya.
" Semuanya sudah terlanjur ma dan dulu. Bayu juga bilang sama mama. Clara adalah gadis yang lahir di usia 17 tahun sementara Cherry sudah tiada," tegas Bayu. Karina geleng-geleng dengan kata-kata putranya yang benar-benar sudah terobsesi dengan Clara sampai bertindak sejauh itu.
Sementara Selina berjalan mencari-cari ruangan Clara. Dia memang tidak tau di mana ruangannya dan tadi dia hanya bertanya pada suster.
" Memang Sasy sangat kepo. Bisa-bisanya dia menanyakan hal itu," Ocehnya sambil berjalan. Dan berhenti di depan ruangan.
" Kayaknya ini deh kamarnya," ucapnya yang seingatnya suster memberitahu nomor kamar itu. Selina memegang kenopi pintu dan membuka pintunya berlahan.
" Cukup ma jangan Cherry, Cherry lagi," tegas Bayu dengan menguatkan Volume suaranya. Mendengar nama Cherry membuat Selina yang membuka pintu langsung menghentikannya.
Selina kaget. Saat mendengar orang yang ada di ruangan itu menyebutkan nama Cherry. Selina memang salah ruangan. Dia telah memasuki ruangan mamanya Clara.
" Kenapa dia menyebut nama Cherry," batin Selina yang melihat sedikit kedalam yang melihat seorang pria yang pasti tidak di kenalnya yang berbicara marah-marah dengan wanita yang masih terbaring lemah.
" Aku sudah mengatakan cukup. Kita tidak akan melakukan hal itu. Jadi aku minta tolong sama mama untuk tidak mengatakan ini kepada Clara," tegas Bayu. Mendengar nama Clara membuat Selina tambah terkejut.
" Apa maksudnya. Kenapa dia juga menyebut nama Clara. Apa mereka mengenal Clara dan Cherry makanya bicara sangat serius seperti itu," batin Selina dengan jantungnya berdetak kencan yang tidak mengerti dengan pembahasan yang ada di dalam sana.
" Bayu. Mama mohon. Kembalikan hidup Clara. Dia bukan Clara. Dia adalah Cherry jadi jangan seperti ini. Mama mohon sama kamu. Kembalikan Cherry seperti dulu,"
Mendengarnya Selina bertambah kaget. Sampai Selina menutup mulutnya dengan matanya yang melotot hampir keluar.
" Apa Clara adalah Cherry. Apa Clara yang mereka maksud adalah wanita aku tau," batin Selina dengan dadanya yang sesak. Bahkan napasnya mulai tidak stabil.
__ADS_1
" Mbak!" tegur Suster membuat Selina tersentak kaget dan refleks menutup pintu dengan kuat.
Sehingga membuat Bayu dan Karina juga kaget.
" Siapa itu?" tanya Bayu panik melihat kearah pintu. Tanpa berpikir panjang Bayu langsung melihat ke luar dan Selina yang di luar masih dek-dekan.
" Mbak mau masuk!" tanya Suster Selina jadi panik dan malah takut.
" Tidak! saya mau pergi," ucap Selina langsung lari. Dia takut ketauan. Membuat suster heran.
" Aneh," ucap suster geleng-geleng. Dan Bayu pun langsung keluar begitu Selina pergi dan melihat suster berdiri.
" Suster," ucap Bayu. Kepalanya juga berkeliling melihat di sekitar apa ada orang selain Suster.
" Permisi Pak, saya mau memeriksa Karina," ucap Suster.
" Oh, silahkan," ucap Bayu yang kelihatan tidak tenang.
" Apa hanya Suster yang ada si sini. Apa memang tidak ada orang lain," batin Bayu yang resah.
" Tapi memang sepertinya hanya suster," ucap Bayu yakin dan kembali masuk kedalam ruangan perawatan mamanya. Dia yakin jika memang Suster yang ada di depan pintu dan merasa tidak perlu bertanya lagi pada Suster ala kah ada orang lain atau tidak.
*********
Sementara Selina berlari dengan kencang dan akhirnya berhenti dengan memegang dadanya yang sangat sesak. Napasnya sangat tidak stabil.
Dia terlihat ngos-ngosan seperti di kejar setan bagaimana tidak ngos-ngosan dia takut ketahuan dan telinganya yang mendengar perkataan itu membuatnya sangat shock.
" Apa yang terjadi. Siapa mereka. Kenapa mereka mengatakan hal itu. Cherry adalah Clara. Apa itu benar," ucapnya dengan napas tersenggal-senggal. Seperti begitu kelelahan.
" Pasti dia memang Cherry. Apa mungkin Cherry hilang ingatan sampai dia tidak tau apa-apa. Iya benar itu benar. Aku yakin itu benar," batinnya menarik kesimpulan sendiri.
" Aku harus mencari tau siapa 2 orang itu. Aku mendekati Clara dan harus memastikan dia memang Cherry yang amnesia," batin Selina mengambil keputusan.
**********
Bayu keluar dari ruangan mamanya. Karena suster sedang mengecek kondisi mamanya. Wajah bayi terlihat tidak tenang. Karena mungkin tenang dengan keputusan sang mama yang sama sekali membuatnya steres.
" Aku haru melakukan sesuatu. Aku tidak bisa membiarkan semuanya seperti ini. Mama tidak boleh membongkar identitas Clara," batinnya yang terus bergerutu di dalam hatinya sambil berjalan dengan wajah penuh pikiran.
" Pak Bayu!" langkah Bayu terhenti. Ketika mendengar seseorang memanggilnya. Bayu pun membalikkan tubuhnya dan melihat yang memanggilnya seorang Pria yang tidak di kenalnya yang ternyata adalah Aldo. Aldo pun langsung menghampiri Bayu.
" Selamat malam Pak Bayu," sapa Aldo dengan ramah membuat Bayu heran.
" Maaf kamu siapa ya?" tanya Bayu heran.
" Hmmm, perkenalkan Saya Aldo pengacara dari Bu Tari yang menangani kasus sepupunya Laudya yang tak lain teman dekat anda," jawab Bayu memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya. Tetapi Bayu sama sekali diam dan tidak menjabat tangan itu. Sampai Aldo haru menarik tangannya sendiri.
" Lalu kenapa harus menemuiku?" tanya Bayu dengan wajah tegang.
" Bisa kita bicara sebentar. Banyak yang ingin saya tanyakan mengenai mendiang Laudya," ucap Aldo.
" Apa mau pengacara ini. Kenapa dia harus mengintrogasiku," batin Bayu yang merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
" Pak Bayu!" tegur Aldo lagi.
" Maaf tapi saya banyak pekerjaan dan tidak punya waktu untuk hal itu," jawab Bayu yang langsung menolak.
" Kalau begitu kapan kita bisa bicara?" tanya Aldo dengan tersenyum.
" Ini kartu nama saya. Silahkan hubungi saya jika sudah memiliki waktu," ucap Aldo dengan memberi kartu namanya.
" Tidak perlu. Karena saya tidak akan pernah menemui Anda. Anda hanya berurusan dengan Tari bukan saya. Jadi jangan menemui saya," tegas Bayu.
" Tetapi saya hanya ingin bertanya mengenai mendiang Laudya," ucap Aldo.
" Saya tidak punya urusan dengannya. Jadi saya tegaskan jangan melibat kan saya dengannya. Jadi berhenti untuk menemuiku. Karena aku tidak akan berbicara apa-apa," tegas Bayu dan langsung membalikkan badannya dan langsung pergi.
" Anda bersama nona Laudya sebelum dia di temukan tewas," ucap Aldo membuat langkah Bayu terhenti.
" Sial," batin Bayu.
Aldo berjalan menghampiri Bayu dan berdiri di depan Bayu.
" Jadi tolong kerja samanya. Saya pengacara dan ini sangat penting untuk klien saya," tegas Aldo.
" Pengacara benar-benar tidak bisa di anggap remeh," batin Bayu tersenyum tipis.
" Maaf Pak Aldo. Tetapi belakangan saya memang sangat sibuk. Jadi saya tidak punya waktu luang. Tapi baiklah jika memang keterangan saya di butuhkan saya akan menemui bapak," ucap Bayu yang langsung berubah 180 derajat menjadi manis.
" Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Bayu menepuk bahu Aldo. Aldo mendengus tersenyum melihat kelakuan Bayu yang tampak mencurigakan.
" Sayang," panggil Raquel yang melihat pacarnya. Raquel langsung menghampiri pacarnya.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Raquel heran.
" Aku menemui Bayu untuk bicara," jawab Aldo.
" Lalu sudah bicara?" tanya Raquel
" Belum. Malah kelihatan dia menghindar," jawab Aldo. Membuat Raquel mengkerutkan dahinya.
" Kalau menghindar pasti ada sesuatu dong" ucap Rachel.
" Hmmmmm, ya kamu benar," ucap Aldo.
" Ahhhhh, sudah lah mumpung kamu di sini. Kita pergi bareng aja," ucap Raquel.
" Mau kemana?" tanya Aldo bingung.
" Kamu lupa ya kita ada janji makan malam sama anak-anak," jawab Rachel mengingat.
" Astaga, aku sampai lupa. Apa malam ini?" tanya Aldo mastikan.
" Hmmm, malam ini," jawab Raquel.
" Ya sudah ayo kita pergi," ucap Aldo. Raquel mengangguk senyum dan menggandeng manja lengan pacarnya.
__ADS_1
Bersambung