DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 280 Saling memaafkan.


__ADS_3

Setelah mandi dan bersih-bersih. Cherry dan Verro pun turun kebawah untuk melakukan sarapan. Ini hari ke-3 mereka di Jepang. Di meja makan di tempat biasa mereka sudah berkumpul, Dokter Arif pun juga masih ikut bergabung di sana. Tetapi suasana tidak seperti biasanya.


Suasana sangat hening, tidak biasanya yang sarapan saja akan banyak cerita. Banyak kehebohan lebih banyak cerita dari pada sarapan.


Tetapi sekarang malah diam tanpa ada pembicaraan seperti orang asing saja. Verro dan Cherry yang baru bergabung heran dengan apa yang mereka lihat. Teman-teman mereka hanya diam saja.


" Aneh, sekali kenapa mereka diam seperti ini?" batin Cherry penuh kebingungan yang melihat teman-temannya yang malah diam begitu saja.


" Ayo duduk sayang," ucap Verro. Cherry mengangguk dan duduk dengan kursi yang di tarikan Verro untuknya.


" Ehemm," Cherry berdehem untuk mencairkan suasana yang kelihatan canggung.


" Maaf ya aku sama Verro, lama tadi," sahut Cherry dengan tersenyum.


" Tidak apa-apa, Cherry, kita juga baru sarapan kok," sahut Nadya. Cherry mengangguk lega.


" Oh, nanti tujuan kita kemana lagi?" tanya Cherry yang tampaknya semangat.


" Ya kali ini aku punya tempat yang belum pernah kalian datangi," sahut Varell yang punya rekomendasi sendiri.


" Hmmm, oh iya kalau begitu kita kesana saja," sahut Cherry dengan semangat.


" Kalian saja aku tidak ikut," sahut Sasy yang tampak masih kesal yang membuat Cherry dan Verro heran.


" Kok gitu?" tanya Cherry heran.


" Aku malas aja untuk pergi," sahut Sasy.


" Bukannya kita datang kemari untuk liburan. Jadi apa yang kamu malaskan untuk liburan?" sahut Verro heran.

__ADS_1


" Sudah lah Sasy nggak usah bete-betean masalah kemarin malam," sahut Raquel membuat Cherry dan Verro semakin bingung.


" Masalah, masalah apa?" tanya Cherry heran.


" Hmmm, apa lagi kalau Azizi dan Sasy bertengkar," sahut Raquel yang bicara tanpa basa-basi.


" Berantam, kok bisa gara-gara apa?" tanya Cherry heran dan bahkan seketika wajahnya menjadi panik mendengar temannya yang bertengkar.


" Sasy, Azizi, kalian kenapa bertengkar apa yang terjadi?" tanya Cherry melihat 2 temannya dengan wajahnya yang serius.


" Sasy, aku minta maaf soal kemarin. Aku tidak bermaksud bicara seperti itu," sahut Azizi lembut yang berbesar hati yang langsung minta maaf.


" Sasy, Azizi sudah minta maaf, ayolah masalah ini jangan di besar-besarakan," sahut Varell.


" Memang masalah apaan sih kenapa kalian ribut tapi aku nggak tau," sahut Cherry yang penasaran.


" Aku juga nggak tau apa yang terjadi. Yang aku tau kemarin malam. Sasy masuk kekamar dengan nangis-nangis dan Toby mengetuk-ngetuk pintu kamar dan Nadya menenangkan Sasy. Aku juga bingung. Yang intinya dia ribut dengan Azizi," sahut Raquel yang juga memang tidak tau bagaimana kronologi yang sebenarnya.


" Gara-gara apa Vandy?" tanya Verro dengan wajahnya yang serius dan benar-benar ingin tau.


" Hmmm, masalah dengan Fiona dan terakhirnya terjadi salah paham antara Azizi dan juga Sasy," sahut Vandy menjelaskan dengan singkat.


" Fiona , memang apa yang terjadi dengan Fiona?" tanya Cherry semakin bingung.


" Ohhhh, jadi Fiona dalangnya, pantesan sampai seheboh itu," sahut Raquel yang baru tau dan tampaknya ikutan kesal.


" Raquel, sudah, jangan malah di perpanjang lagi," sahut Nadya berbicara pelan pada Raquel yang di sampingnya.


" Memang apa yang terjadi sebenarnya, ada apa dengan Fiona dan kenapa Sasy dan Azizi yang malah ribut apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Verro.

__ADS_1


" Begini Cherry, Verro. Ini hanya sebuah kesalah pahaman saja. Kemarin Fiona datang untuk mengambil obat dengan saya. Tetapi terjadi cekcok dan terakhirnya...."


" Aku berbicara kelewatan," sahut Azizi yang memotong pembicaraan Dokter Arif." Aku sudah menyinggung perasaan Sasy. Aku hanya terbawa suasana. Maaf kan aku. Aku yang sudah menyebabkan semuanya seperti ini," lanjut Azizi yang mengakui kesalahannya.


" Sasy, aku tidak bermaksud untuk bicara seperti itu kemarin. Aku juga tidak membela Fiona. Karena dia sakit kanker. Aku juga tidak bermaksud apa-apa. Aku adalah seorang ibu. Aku tau bagaimana rasanya jika orang yang paling kita sayangi sedang berjuang dalam sakitnya. Sama seperti yang kamu katakan kemarin malam. Aku tau perasaan kamu. Karena kamu ada dan yang lainnya saat hal yang sama terjadi. Saat kalian bersama-sama ada sisi Cherry di saat masa-masa kritisnya," lanjut Azizi dengan air matanya yang menetes yang bicara pada Sasy.


Sasy mendengarnya juga meneteskan air mata. Dan Cherry malah semakin bingung yang dia malah di bawa-bawa.


" Aku tau kamu sangat menyayangi Cherry. Makanya kamu takut jika terjadi sesuatu padanya. Dan kamu mewanti-wanti Fiona agar tidak ada kesempatan untuk mengganggu Cherry. Aku tau Sasy kamu orang yang sangat peduli. Aku tidak membelanya sama sekali. Tetapi aku juga tidak mungkin memusuhinya dan menutup pintu maaf untuknya," lanjut Azizi dengan bijaksana.


" Sasy, Azizi sudah menyesali apa yang di katakannya tadi malam. Dan seperti yang di katakan Azizi. Kita semua paham maksud kamu. Tetapi kembali lagi kita ini manusia yang punya hati. Seburuk apapun Fiona atau sejahat apapun dia di masa lalu, dia juga manusia yang pasti ingin berubah dan terlebih lagi kita juga manusia yang hatinya lebih besar untuk memaafkan dan melupakan apa yang di lakukannya untuk membuat dia tenang dan di masa-masa terakhirnya," sahut Nadya Vandy menambahi.


" Lagian, kita adalah Dokter, bukannya kita memahami masalah itu. Pasien kita saja yang kita tangani menderita kita bisa merasakannya. Jadi kenapa kita harus membesarkan ego karena urusan masa yang sudah lalu," lanjut Vandy lagi yang bicara lembut dengan temannya agar temannya mengerti dan tenang.


" Sasy, sudahlah ayo berbaikan, tidak enak hanya ribut hanya gara-gara masalah tidak penting," sahut Nadya membujuk lembut.


" Benar Sasy. Kamu dan Azizi adalah teman. Jadi jangan ribut-ribut untuk masalah ini," sahut Aditya dengan jelas.


" Sasy sudah ya, jangan ngambek-ngambek lagi. Azizi sudah minta maaf," ucap Toby pelan memegang tangan Sasy. Sasy mencoba berpikir tenang dan melihat ke arah Azizi yang juga berlinang air mata dan masih penuh harapan untuk di maafkan.


Sasy langsung berdiri dan langsung mendekati tempat duduk Azizi dan berdiri di samping Azizi dengan menjulurkan tangannya.


" Aku minta maaf," ucap Sasy. Azizi tersenyum dan langsung berdiri dan memeluk Sasy yang membuat semua orang tersenyum melihat indahnya pelukan itu.


" Aku tidak bermaksud mengatakan itu tadi malam. Maafkan aku," ucap Azizi lagi.


" Aku yang minta maaf, aku bicara kelewatan. Maafkan aku," sahut Sasy yang juga saling meminta maaf dan memeluk Azizi dengan erat yang mana ke-2 nya saling menyadari kesalahan masing-masing dan saling meminta maaf.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2