
Aldo mengantarkan Raquel kerumah sakit seperti biasanya. Mobil mereka sudah berhenti di depan rumah sakit.
" Ya sudah sayang aku masuk dulu," ucap Raquel berpamitan pada pacarnya sambil membuka sabuk pengamannya.
" Iya kamu hati-hati ya. Bekerja yang baik," ucap Aldo.
" Oke, kamu juga. Bekerja yang baik," sahut Raquel tersenyum lebar. Tiba-tiba mata Aldo tertuju kedepannya. Di mana mobil berhenti dan melihat Bayu keluar dari mobil.
" Sayang, dia bernama Bayu?" tanya Aldo melihat Bayu kearah Bayu. Raquel juga melihat kemana arah pacarnya melihat.
" Iya, dia Bayu. Pria yang paling menyebalkan dan sok tau," jawab Raquel yang langsung menunjukkan ketidak sukaannya pada Bayu.
" Memang kenapa. Kok tumben kamu nanyain dia?" tanya Raquel heran.
" Tidak. Kasus yang aku tangani bersangkutan dengannya," jawab Aldo.
" Kasus yang mana. Apa kasus kamu dengan kematian model itu?" tanya Raquel menerka-nerka.
" Iya sayang, kamu benar dengan dia. Belakangan ini aku menyelidiki dia punya hubungan special dengan mendiang laudya. Dan aku sangat membutuhkan keterangannya," ucap Aldo memberi penjelasan pada pacarnya.
" Itu berarti kamu juga akan berbincang-bincang dengannya," sahut Raquel menebak-nebak.
" Iya," jawab Aldo.
" Kayaknya nggak akan mungkin. Dia itu cowok sombong dan aku yakin dia tidak akan mau meluangkan waktunya untuk hal itu," ucap Raquel yang sudah menebak selanjutnya.
" Ya. Aku bisa melihat dari wajahnya dan tentang penilaian kalian kepadanya. Memang bisa di tebak. Kalau dia tidak akan mudah di ajak untuk berbincang-bincang. Tapi apapun itu akan mengusahakan," ucap Aldo.
" Ya sudah deh. Terserah kamu saja yang penting kamu baik-baik dan jika kamu benar-benar bicara padanya. Jangan lupa kalau kamu harus korek-korek informasi tentang Clara," ucap Raquel mengingatkan pada kekasihnya.
" Iya kamu tenang saja. Aku juga akan menggunakan kesempatan itu. Seperti pepatah mengatakan sambil menyelam minum air dan aku akan melakukan itu," sahut Aldo.
" Bagus jika begitu," sahut Raquel dengan tersenyum lebar. " Ya sudah aku pamit Daaaaa," ucap Raquel kembali berpamitan.
" Daaaa," sahut Aldo melambaikan tangannya melihat kekasihnya memasuki rumah sakit baru dia pergi.
**************
Sasy berdiri di pinggir jalan di samping mobilnya dengan gelisah.
" Kenapa pakai mogok segala lagi. Malah bengkel susah di hubungi lagi. Sudah siang lagi," ucap Sasy dengan resah sebentar-sebentar melihat jam tangannya dan juga sambil menelpon.
Di saat yang sama. Toby yang berada di dalam. Mobilnya fokus menyetir dengan serius. Tiba-tiba dari kejauhan. Toby melihat Sasy yang tampak kebingungan.
__ADS_1
" Bukannya itu Sasy," ucapnya masih menyetir dan memastikan dengan apa yang di lihatnya.
" Ngapain dia di sana," batin Toby penasaran. Dari pada penasaran Toby pun akhirnya meminggirkan mobilnya dan Toby langsung membuka seat beltnya dan keluar dari dalam mobilnya untuk menghampiri Sasy yang masih sibuk dengan telponnya.
" Sasy," tegur Toby yang sudah berada di dekat Sasy.
" Toby, aduh ngapain lagi dia pake di sini segala," batin Sasy yang tampak tidak suka dengan keberadaan Toby. Bukan tidak suka. Dia hanya canggung. Jika harus dekat-dekat dengan Toby.
" Toby," lirih Sasy.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Toby.
" Oh, ini mobil aku tiba-tiba nggak bisa hidup," jawab Sasy dengan gugup.
" Ya sudah kalau begitu. Kamu ikut sama aku aja. Kamu mau kerumah sakit kan. Sekalian aku juga mau kesana mau menemui Verro," ucap Toby yang langsung menawarkan Sasy.
" Oh nggak usah. Aku sudah telpon bengkel kok dan sebentar lagi pasti datang," sahut Sasy bohong.
Padahal sedari tadi menelpon bengkel sama sekali tidak terhubung. Tetapi dia tidak mau menerima tawaran Toby karena pasti gugup di depan Toby. Apalagi gara-gara kemarin Varell yang menggodanya. Membuatnya masih malu dengan hal itu.
" Walaupun sudah menelpon bengkel kan tidak apa-apa. Yang penting kamu kerumah sakit. Memang kamu tidak terlambat. Urusan mobil nanti aku yang urus," ucap Toby yang sedikit memaksa.
" Tapi," ucap Sasy yang masih Ragu.
" Ya sudah deh. Kalau begitu. Aku ambil tas dulu," ucap Sasy yang akhirnya menerima tawaran Toby. Toby mengangguk dengan tersenyum.
Setelah mengambil tasnya dari dalam mobilnya. Sasy dan Toby langsung memasuki mobil. Sasy berusaha tenang dengan memakai seat beltnya. Setelah sekian lama. Baru ini dia dan Toby satu mobil.
Kalau mengingat dulu masa SMA. Sasy dan Toby seperti kucing dan anjing yang jika bertemu akan ribut dan terlebih lagi dengan Toby yang terus Mengintili Sasy dan terus mengatakan dia menyukai Sasy dan pasti Sasy menolak semua itu mentah-mentah.
Dan sekarang semua sudah berubah. Mereka semakin dewasa dan Toby juga berubah menjadi pria tampan yang berhati dingin. Jadi wajar Sasy sangat canggung setiap kali bertemu Toby. Tetapi Toby tampaknya selalu biasa saja.
Di dalam mobil mereka hanya diam saja. Toby fokus menyetir, sementara Sasy fokus dengan pemikirannya yang terus berdoa kapan sampai.
" Oh iya, kamu sudah sarapan?" tanya Toby yang membuka obrolan dengan basa-basi.
" Hmm, oh. Biasa aku sarapan di rumah sakit. Karena kalau dari rumah selalu tidak sempat," jawab Sasy.
" Kamu buru-buru?" tanya Toby.
" Sebenarnya pagi ada operasi pasien. Tetapi karena tadi mobil aku mogok jadi tidak terkejar dan Raquel bilang sudah di wakilkan," jawab Sasy menjelaskan.
" Begitu rupanya. Kalau kamu tidak keberatan. Kita sarapan sebentar bagaimana," ucap Toby melihat ke arah Sasy menarwarkan sarapan. membuat Sasy menelan salavinanya dengan tawaran itu.
__ADS_1
" Apa dia mengajakku untuk sarapan," batin Sasy shock mendengarkan hal itu.
" Kamu tidak keberatan kan Sasy?" tanya Toby memastikan.
" Hmmm, Hmmm," Sasy tampak gugup dan bahkan tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan Toby.
" Ya sudah kalau kamu tidak mau," sahut Toby yang tampak kecewa.
" Aku belum menjawab apa-apa," sahut Sasy.
" Apa itu berarti kamu mau?" tanya Toby memastikan.
" Ya sudah," sahut Sasy pelan. Membuat Toby tersenyum.
Sasy hanya merasa tidak enak harus menolak tawaran Toby. Padahal pasti dia sangat canggung dengan Toby. 1 mobil saja dia sudah kepanasan apa lagi makan berdua.
Sasy tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya berdoa. Semoga saja dia tidak membuat ulah atau menunjukkan rasa kegugupannya.
**********
Clara berada di dalam kamarnya berdiri dengan mondar-mandir di sekitar ranjangnya. Sepertinya ada yang memasuki pikirannya. Sampai dia segelisah itu.
" Aku harus menemui Selina. Tapi bagaimana caranya, bagaiman jika Dokter wanita itu mengetahui ku pergi lagi. Nanti bisa-bisa dia akan mengatakan lagi kepada mas Bayu dan semuanya bisa berantakan," batinnya yang terus mondar-mandir seperti setrikaan.
" Aku harus cari cara, keluar dari rumah sakit. Tanpa ada yang mengetahui," batin Clara yang terus memikirkan cara untuk menemui Selina.
Karena dia sangat ingin mendengar tentang Cherry lagi. Kepalanya sudah tidak sakit dan mungkin dia bisa mendengarkan cerita itu lagi.
Ceklek. Pintu terbuka membuat Clara tersentak kaget sampai mengusap dadanya yang ternyata Verro yang ada di depan pintu.
Clara jadi bingung harus bersikap seperti apa ketika sudah di depan Verro. Dia memang akan sangat gugup berhadapan dengan Dokter yang membuatnya di lema itu.
" Kamu sedang apa?" tanya Verro bingung.
" Oh, aku, aku sedang bosan saja di atas tempat tidur," jawab Clara dengan terbata-bata.
" Begitu rupanya. Ya sudah, duduk lah. Aku ingin mengganti perban mu, sekalian memeriksa jaitannya," ucap Verro menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke ruangan Clara.
" Oh, ya sudah kalau begitu," sahut Clara yang langsung duduk tanpa banyak protes. Verro pun langsung duduk di depan Clara. Duduk berhadapan sangat jelas terlihat di antara ke-2nya ada rasa kecanggungan.
" Maaf," ucap Verro yang sudah memegang perban Clara dan perlahan Verro membuka lilitan perban di kepala Clara. Sementara Clara yang terlihat sangat gugup. Berusaha untuk tenang saat berada di depan Verro.
Bersambung
__ADS_1