
Kerena istrinya yang niat membantu Fiona. Verro pun akhirnya bertemu dengan Fiona yang di kantin rumah sakit dengan Verro yang serius membaca lembaran hasil tes rumah sakit Fiona.
" Jadi kamu selama ini tidak tau kalau kamu sakit?" tanya Verro tanpa melihat Fiona.
" Iya, aku baru mengetahui setelah merasa hal yang biasa aku alami semakin parah," jawab Fiona dengan suara lemasnya dan wajah yang pucat.
" Memang apa yang kamu alami, sampai kamu memutuskan untuk cek darah?" tanya Verro.
" Kepala ku sering sakit, Tetapi 2 bulan lalu kepalaku sakitnya sangat parah dan aku mimisan berlebihan. Papa membawaku Kerumah sakit dan ternyata aku di Vonis kanker darah stadium akhir. Aku tidak percaya. Jika hal itu terjadi padaku," sahut Fiona menundukkan kepalanya terlihat menangis.
" Lalu kamu sudah melakukan perobatan apa saja?" tanya Verro.
" Aku sudah sering, cuci darah, aku sering cemo. Tetapi tidak dapat hasilnya dan ini yang terjadi. Sampai pada akhir ku pasrah dengan kondisiku," sahut Fiona.
" Ya sudah, maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Seperti yang di katakan Cherry dia akan menanggung semua pengobatan mu dan juga aku sendiri yang akan menanganimu," sahut Verro menyampaikan amanah istrinya. Fiona langsung mengangkat kepalanya.
" Tidak Verro!" tolak Fiona.
" Kamu sudah sangat baik, bahkan kamu terlalu baik, kamu dan Cherry tidak pantas menolongku," sahut Fiona yang menolak dengan alasannya.
" Apa yang kamu katakan. Aku sama Cherry, memalukannya dengan ikhlas, masalah pantas dan tidak. Itu tidak ada urusannya yang penting kami akan membantumu," sahut Verro menjelaskan.
" Aku tau, kalian ber-2 sangat baik. Tetapi aku tidak ingin merepotkan kamu termasuk Cherry. Aku sangat sakit dengan kanker yang aku terima dan itu pelajaran untukku. Ini adalah masa-masa terakhirku. Aku merasa aku tidak perlu di rawat di rumah sakit yang membuatku tidak melakukan apapun dan mungkin tidak akan bisa menyadari sakit yang aku derita," sahut Fiona dengan linangan air mata.
" Maksud kamu?" tanya Verro.
" Verro, aku menerima jika kamu ingin mengontrol diriku, dalam penyuluhan dan pemberian obat tanpa aku harus di rawat di rumah sakit. Aku tidak ingin tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin hanya diam menunggu kematian. Hiks," ucapnya dengan menarik isak tangisnya.
" Verro, aku mendengar kamu punya yayasan untuk anak-anak penderita kanker. Jika kamu mengijinkan biarkan aku di sana. Aku ingin saling memberi semangat untuk orang-orang yang sama seperti ku yang sedang berjuang. Aku merasa akan lebih tenang jika bersama orang-orang yang sama dengan ku dan mungkin itu bisa membuatku memahami kehidupan sesungguhnya," jelas Fiona yang menolak untuk menjalani pengobatan.
" Apa dia putus asa dengan sakitnya. Sampai tidak ingin melakukan operasi dan lainnya," batin Verro yang merasa simpatik dengan Fiona. Penderita kanker seperti Fiona memang sering di temuinya yang terkadang sering putus asa.
__ADS_1
" Jadi biarkan aku mengabdikan sisa hidupku untuk tempat itu," ucap Fiona.
Fiona dan Verro yang berbicara berduaan dengan Fiona yang berlinang air mata ternyata mendapat pengawasan dari Sasy dan Raquel di sudut sana dengan serius melihat Fiona dengan tangan sama-sama di lipatkan di dada.
" Apa itu air mata asli?" tanya Sasy.
" Entah,lah, kayaknya dia serius amat bicara sama Verro sampai nangis-nangis nggak jelas gitu," sahut Raquel sewot.
" Lagian yah, sih Cherry mau-mau aja ngebantuin dia. Sekali-kali kalau mau ngebantuin orang lain, pilih-pilih kek siapa orangnya," ucap Sasy tampak kesal.
" Biarin ajalah, yang penting kita pantau aja terus si Fiona jangan sampai terdapat gudang di balik batu," sahut Raquel menegaskan.
" Hmmm, benar, kita sebaiknya pantau terus wanita itu. Aku mencium aroma-aroma yang tidak sedap pada Fiona," sahut Sasy yang setuju. Karena seperti katanya masalah memaafkan akan di maafkan.
Untuk percaya atau menjalin pertemanan itu tidak akan mungkin dan belum saatnya jadi dia dan Raquel memang sepertinya punya pikiran yang sama.
" Hmm, sama, aku juga sih," sahut Raquel yang langsung setuju.
" Ya namanya juga hati beda-beda. Jadi biarkan saja. Yang penting seperti yang tadi kita sepakati. Jika kita berdua hanya perlu memantau wanita itu,"ucap Raquel menegaskan. Sasy mengangguk-angguk.
**********
Sementara di sisi lain. Vandy dan Azizi berada di kanan Iqbal. Di mana Iqbal sudah sadar dan sekarang Vandy sedang duduk di sampingnya menyuapinya dan Azizi juga di samping putranya mengajak Iqbal bicara agar makannya lebih lancar.
" Ayo, kapalnya akan masuk," ucap Vandy dengan semangat memasukkan sendok berisi bubur kemulut Iqbal dan Iqbal ketawa-ketawa sambil makan.
" Bagaimana apa pesawatnya enak?" tanya Vandy. Iqbal mengangguk.
" Hmmm, sangat enak, Iqbal menjadi orang yang pertama memakan kapal," sahut Iqbal dengan senyum cerianya.
" Iya sayang, kamu harus makan lagi kapalnya," sahut Azizi mengusap-usap kepala pucuk kepala Iqbal.
__ADS_1
" Iya ma," sahut Iqbal.
" Ma, pa, kata Dokter Verro. Iqbal akan di operasi, apa itu benar?" tanya Iqbal melihat ke arah mama dan papanya secara bergantian.
" Memang kenapa kalau di operasi, Iqbal takut?" tanya Vandy. Iqbal terlihat diam.
" Papa tidak tau. Kalau anak tampan ini ternyata seorang penaku. Memakan pesawat berani. Operasi tidak berani, dasar cemen," sahut Vandy dengan mengejek.
" Tidak kok pa, siapa yang takut. Iqbal berani kok," sahut Iqbal dengan cepat.
" Benarkah?" tanya Vandy tidak percaya. Iqbal mengangguk-angguk dengan semangat. Azizi mendengarnya tersenyum. Di mana dia melihat cara Vandy dalam mengarahkan Iqbal.
" Sayang memang tidak ada yang perlu di takuti. Kan Iqbal akan sembuh. Istri Dokter Verro juga pernah di operasi dan dia sekarang sembuh. Dan Iqbal juga akan sembuh. Makanya Iqbal tidak boleh takut," ucap Azizi dengan pelan.
" Apa itu, artinya kalau Iqbal selesai operasi Iqbal akan keluar dari rumah sakit?" tanya Iqbal. Azizi mengangguk.
" Iya kamu akan keluar dari rumah sakit dan kita akan main-main bareng," sahut Azizi.
" Yeeeeeeeeeee," sahut Iqbal dengan cerianya sampai-sampai mengangkat tangannya.
" Iqbal memang selalu berdoa, supaya cepat sembuh. Supaya Iqbal bisa dekat dengan mama dan papa. Kita ber-3 bisa sama-sama dan lihat mama dan papa bersama terus," ucap Iqbal dengan polosnya yang memang ingin mama dan papanya bersama selalu.
" Amin," sahut Vandy melihat kearah Azizi. Namun Azizi tampak gugup dan tidak berani menatap Vandy.
" Ya sudah Iqbal makan lagi," ucap Azizi.
" Mama dan papa, cium Iqbal dulu. Baru Iqbal akan makan," sahut Iqbal menunjuk ke-2 pipinya. Azizi dan Vandy tertawa kecil.
" Baiklah," sahut Vandy dan sama-sama serentak ingin mencium sebelah-sebelah pipi Iqbal. Vandy kanan dan Azizi kiri. Tetapi tampaknya Iqbal sangat jahil ketika mama dan papanya ingin menciumnya. Iqbal langsung menjatuhkan diri ketempat tidur.
" Iqbal sudah kenyang," ucap nya santai dan alhasil bibir Vandy dan Azizi saling bertemu di tengah-tengah Iqbal yang terbaring santai menutup matanya. Tidak ingin melihat mama dan papanya yang mesra di hadapannya.
__ADS_1
Bersambung