
Setelah selesai membuka tenda Raquel berjongkok ingin mengangkat nya menggabungkan dengan kumpulan tenda yang di susun Aldo.
Pasti Aldo yang paling banyak dalam membuka tenda di bandingkan Raquel. Maklum lah Raquel lebih banyak mengoceh dari pada menggerakkan tangannya.
" Kenapa berat sekali," keluh Raquel yang berusaha mengangkat tetapi tidak bisa juga.
" Aaaaaa," Raquel mengumpulkan tenaganya untuk mengangkatnya. Di tengah Raquel yang terus berusaha. Tiba-tiba Aldo datang dan langsung mengangkatnya.
" Tidak perlu," tolak Raquel yang tetap tidak butuh bantuan dari Aldo.
" Aku melakukannya bukan untukmu. Tetapi agar cepat selesai. Karena aku sudah capek dan mau kembali," ucap Aldo ketus dan langsung mengangkat tenda itu. Lalu pergi tanpa mempedulikan Raquel yang pasti tidak menyukai.
" Ishhhh, dia pikir dia siapa, sekali bicara sok baik. Tetap saja tidak ada gunanya jika tidak mau mengakui kesalahan. Hanya caper saja," Raquel masih saja mengoceh walau pekerjaan sudah selesai.
" Raquel," panggil Selina.
Raquel menoleh kebelakang dan melihat yang datang Selina bersama Mitha yang sekarang menghampirinya.
" Sudah selesai?" tanya Mitha.
" Iya," jawab datar Raquel.
" Ya sudah ayo buruan, kita harus pulang, bayi ketinggalan yang lainnya," ajak Selina
Raquel mengangguk. Ke-2 temannya itu membantunya berdiri.
" Kasian banget harus mendapat hukuman," ucap Selina membantu Raquel membersihkan pakaian Raquel yang kotor karena rumput.
" Sekali-kali kita harus kasih pelajaran untuk Aldo. Gara-gara dia kamu jadi ikutan di hukum," sahut Mitha.
" Sudahlah Mitha nggak usah di bahas. Itu bukan salahnya. Itu salahku," ucap Raquel yang mengakui kesalahannya. Membuat Raquel dan Mitha melihat kaget ke arah Raquel.
" Salah kamu gimana?" tanya Selina tidak yakin.
" Aku membuang bendera jatuh ke jurang yang sudah kami dapat," jawab Raquel. Selina dan Mitha tambah kaget lagi.
" Serius," pekik Selina schok.
" Kok bisa sampai seperti itu?" tanya Mitha.
" Aku kesal dengannya karena dia..." Raquel tidak melanjutkan kalimatnya.
Dia memang selau menahan mulutnya untuk tidak mengatakan jika Aldo yang membuat mereka di permalukan.
" Karena dia apa?" tanya Mitha yang masih menunggu jawaban.
" Ya karena dia selalu caper. Aku hanya ingin dia mendapat hukuman, itu aja," jawab Raquel memberi alasan.
" Tapi dia kok nggak kasih tau sama guru kalau kamu yang salah?" tanya Selina heran.
Raquel tidak menjawab. Karena matanya fokus pada Fiona yang ternyata ada di sekitar situ yang sedang mengikat tali sepatu.
Raquel baru menyadari wanita itu berada di sana dan tidak tau entah sudah berapa lama dia ada di sana. Raquel langsung melangkahkan kakinya menghampiri Fiona.
" Mau kemana?" tanya Selina melihat Raquel menghampiri Fiona. Selina dan Mitha heran dan mengikuti Raquel.
Fiona yang mengikat tali sepatunya. Melihat sepasang kaki di depannya. Perlahan-lahan Fiona mengangkat kepalanya dan melihat Raquel berdiri dengan ke-2 tangan di silangkan di dadanya. Wajah Raquel jelas terlihat tidak suka dengan Fiona.
" Lo ngapain di sini, nguping," ketus Raquel menuduh Fiona.
Fiona kembali menundukkan kepalanya. Mengikat tali sepatunya sampai selesai. Lalu berdiri. Fiona yang tidak mau meladeni Raquel memilih untuk pergi. Jelas membuat Raquel tambah kesal.
" Pengecut," kecam Raquel menghentikan langkah Fiona.
" Apa maksud kamu?" tanya Fiona sembari membalikkan tubuhnya.
" Kenapa? apa sekarang sekolah ini punya mata-mata yang suka mencampuri urusan orang lain. Kau sengajakan berada di sini ingin mendengar apa yang aku bicarakan dan teman-teman ku," ucap Raquel sinis.
__ADS_1
" Supaya apa supaya buat kehebohan," lanjut Raquel kesal.
" Ada apa Raquel?" tanya Mitha yang sudah berada di dekat Raquel bersama Selina.
" Nih, sih tukang nguping," jawab Raquel.
" Berani lo ya nguping pembicaraan kita," sahut Mitha langsung emosi.
" Memang dasar lo ya. Lo pikir kita tandingan lo. Kesabaran kita ada batasnya ya. Jadi jangan cari masalah sama kita," sambar Selina emosian.
" Sorry ya gue nggak punya waktu buat ladeni orang-orang kayak kalian. Mending kalian urus diri sendiri dan aku lihat kalian belum..." Fiona menjeda omongannya dan melihat ke arah Raquel, " belum melakukan apa-apa untuk orang yang sudah mempermalukan kalian," lanjutnya menatap Raquel sinis.
Raquel mengepal tangannya dengan omongan Fiona.
" Apa maksud mu?" tanya Mitha.
" Tanya saja sama teman kalian, bukannya dia sudah tau," sahut Fiona langsung pergi.
" Sialan dia benar-benar sangat berani," batin Raquel geram dengan Fiona yang terus menerus menang darinya.
" Raquel maksudnya apaan?" tanya Mitha. Raquel menjadi gugup tidak bisa menjawab Mitha.
" Sudahlah! Ngapain juga kita pikiran omongannya, sebaiknya kita pergi nanti kita ketinggalan," sahut Selina. Hal itu membuat Raquel bernapas lega. Untung Selina menginkan semuanya.
" Iya benar kata Selina, ayo kita pergi," ucap Raquel berjalan terlebih dahulu. Mitha yang masih penasaran mengikuti Raquel. Begitupun dengan Selina yang juga menyusul.
***********
Semua murid-murid akhirnya berjalan menuju Villa mereka. Yang pasti perjalanan akan memakan waktu hampir 3 jam. Mereka memang berjalan santai mengikuti guru yang berada pada barisan paling depan sebagai pemandu jalan.
Seperti biasa Cherry akan berjalan berdampingan bersama Verro. Di tengah-tengah barisan. Di belakang Cherry ada Fiona yang berjalan dengan ke-2 tangan di masukkan kedalam sweater nya.
Tangan Cherry yang mengayun menganggur langsung di tangkap Verro dan di genggamnya erat. Cherry langsung menoleh ke arah Verro dan tersenyum.
" Apa tidak apa-apa?" tanya Cherry berbisik pelan. Verro menggeleng.
" Bukannya dari dulu, mereka sudah tau," ucap Verro.
" Benar sih. Mereka dari dulu selalu mengira kalau kita berpacaran. Mereka berpikiran jika aku yang mengejar-ngejar mu," ucap Cherry jika mengingat hal itu dia sangat kesal. Verro mendengus tersenyum melihat wajah Cherry yang berubah menjadi merengut.
" Kamu kesal dengan hal itu?" tanya Verro.
" Iya, sangat menyebalkan," jawab Cherry.
" Sudahlah! sekarang mereka sudah tau. Jika aku yang mengejar-ngejar mu," ucap Verro.
" Benarkah?" tanya Cherry dengan senyum simpul di wajahnya. Verro menganggukkan kepalanya.
Cherry akhirnya menyenderkan kepalanya di bahu Verro. Berjalan dengan keadaan seperti itu. Memang romantis membuat orang-orang itu saja.
Tidak sengaja Vandy yang berjalan bersama Azizi di depan mereka menoleh kebelakang dan melihat pemandangan itu.
" Dunia bukan cuma milik kalian," ketus Vandy geleng-geleng melihat keromantisan itu.
" Syirik aja, sana fokus jalan," sahut Verro.
Azizi juga menoleh kebelakang dan hanya tersenyum lalu kembali mengalihkan pandangannya kedepan.
Sementara Fiona yang berada di belakang Verro dan Cherry pasti menatap dengan sinis hal itu. Hal keromantisan yang paling di bencinya.
Sementara Raquel terus melamun dalam setiap langkahnya. Dia terus memikirkan kata-kata Fiona.
" Benar-benar semakin lama dia semakin berani. Bahkan terlihat mengancam,"
" Kenapa aku tidak memberitahu. Selina dan Mitha tentang Aldo. Apa seharunya aku memberitahu saja. Agar si Fiona sialan itu tidak berani mengancam ku,"
" Haaaa. Tetapi apa pentingnya mengatakannya. Bukan nya hanya akan memperkeruh suasana.
__ADS_1
Raquel terus bergerutu di dalam hatinya. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Di sisi lain dia takut Selina dan Mitha mengetahui hal itu dari mulut Fiona.
Selina dan Mitha pasti berpikiran buruk tentangnya. Kenapa menyembunyikan hal itu. Tetapi di sisi lain dia juga tidak ingin Aldo menjadi bulan-bulanan teman-temannya.
************
Vila.
Murid-murid sudah sampai siang hari setelah melakukan perjalanan cukup jauh untuk pejalan kaki. Mereka juga sudah merapikan kembali barang-barang mereka.
Dan sekarang giliran mereka tidur untuk beristirahat. Agar besok kembali beraktifitas seperti biasanya. Tetapi Cherry malah asik menelpon di belakang Villa dekat kolam renang.
Verro yang ingin kedapur melihat kekasihnya yang menelpon dengan asyik sambil tertawa-tawa. Dan sepertinya sangat serius. Verro yang penasaran pun langsung menghampiri Cherry.
" Ehemm," Verro berdehem. Cherry tersentak kaget dan menoleh kebelakang melihat Verro.
" Nanti aku telpon lagi," ucap Cherry mengakhiri panggilannya, menutup telponnya saat ada Verro. Verro pun semakin mendekatinya.
" Siapa?" tanya Verro.
" Siska," jawab Cherry. Verro mengkerutkan dahinya seperti mengingat orang itu.
" Siska yang di rumah sakit itu?" tanya Verro memastikan, Cherry mengangguk membenarkan.
" Aku tidak pernah mengabarinya, jadi aku menelponnya," ucap Cherry.
" Kamu memberitahu kalau kita pacaran?" tanya Verro.
" Belum, nanti saja aku beritahu kalau kita sudah pulang," jawab Cherry.
" Lagi pula tidak perlu juga dia tau," sahut Verro datar.
" Kamu ini," kesal Cherry.
" Oh iya Verro besok kamu ingatin aku ya sebelum jam 10. Dia akan operasi besok, aku pengen menelponnya memberi semangat sebelum operasinya di laksanakan," jelas Cherry.
" Dia sering sekali operasi," sahut Verro yang setiap Cherry membahas teman barunya pasti kalau tidak selesai operasi atau tidak akan menjalani operasi.
" Kamu benar," sahut Cherry sedih Verro melihat wajah Cherry yang berubah menjadi sedih.
" Ada apa?" tanya Verro melihat wajah itu tidak tersenyum lagi.
" Sakitnya Siska sudah stadium akhir makanya dia terus operasi dia bilang sudah tidak tau rasa sakit itu seperti apa. Karena sudah kebal dengan rasa sakit. Makanya saat operasi dia tidak takut lagi,"
" Verro bagaimana denganku, aku dari dulu tidak mau operasi karena takut tidak bangun lagi. Bagaimana jika pada akhirnya kondisiku mengharuskan ku untuk operasi," ucap Cherry tiba-tiba yang menyadari dirinya juga punya penyakit.
Verro menarik napas napasnya membuangnya perlahan, mengusap pipi Cherry lembut.
" Kamu tidak perlu takut, aku akan selalu ada di sisimu. Jika operasi itu baik untuk kesehatanmu jangan takut," ucap Verro lembut melihat ke-2 bola mata Cherry yang sudah bergenang.
" Tetapi walaupun tidak bangun lagi. Aku sudah sangat bahagia. Karena hubungan kita sudah baik seperti awal lagi," ucap Cherry tiba-tiba. Verro geleng-geleng cepat.
Tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Cherry.
" Cherry, jangan pernah membicarakan hal itu. Kamu akan akan tetap bangun. Akan tetap bersamaku. Kita lulus sama. Kita juga akan mencari kampus sama-sama. Kuliah di tempat yang sama. Kamu akan tetap bersamaku. Kamu tidak akan pergi dariku," ucap Kevin dengan matanya berkaca-kaca.
Hal itu tidak dapat di pungkiri nya. Jika dia sangat menakutkan hal itu. Dia sangat takut jika akan kehilangan Cherry.
" Verro. Tapi apapun itu. Bukankah semua itu akan terjadi," ucap Cherry.
" Tidak akan terjadi pada kamu. Tidak akan," sahut Verro yakin. Langsung memeluk Cherry dengan erat.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.