
Toby akhirnya sudah siuman dan bersandar di kepala ranjang yang merasa kondisinya jauh lebih baik. Toby hanya memeriksa hanphonenya melihat panggilan-panggilan masuk di handphonenya. Sementara suster sedang membuka infus Toby.
" Kalau pak Toby ingin kekamar mandi maka silahkan!" ucap suster.
" Baiklah," sahut Toby dengan perlahan duduk. Suster mencoba untuk membantunya.
" Tidak usah, saya bisa sendiri," ucap Toby menolak.
" Baik pak," sahut suster mengangguk. Toby pun perlahan bangkit dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi. Sementara suster membersihkan tempat tidur Toby dan segala yang berantakan.
Tidak lama akhirnya Toby pun keluar dari kamar mandi. Kamarnya sudah kosong tidak ada suster lagi. Kamar itu sudah rapi. Toby berjalan dengan perlahan dengn hembusan napasnya yang berat. Toby tidak berjalan menuju tempat tidur melainkan berjalan menuju jendela kamarnya itu.
Dari atas sana Toby tidak sengaja melihat Sasy yang berbincang dengan Dokter Arif di samping mobil terlihat Sasy begitu bahagia bahkan tersenyum saat berbincang dengan Dokter Arif. Melihat Sasy sebahagia itu membuat Toby tersenyum.
" Aku sangat berharap kamu bisa bahagia Sasy. Kamu tidak akan merasa beda dengan orang lain. Karena aku yakin Dokter Arif perlahan akan jatuh hati padamu. Dia laki-laki yang baik, dewasa dan sangat cocok untukmu. Aku sangat percaya itu. Kamu akan bahagia dengan laki-laki yang tepat sepertinya. Pasti Sasy," batin Toby dengan air mata nya yang keluar.
Air mata itu menetes bukan karena sedih, atau cemburu. Tetapi dia sangat bahagia dan begitu lempang. Walau dia merasa sedikit cemburu. Tetapi tetap itu yang di ingin Kat Toby.
Sementara di bawah sana Sasy dan Arif memang mengobrol sangat asyik.
" Kita kelamaan bicara. Bukannya kamu mau meneraktir saya," sahut Arif mengingatkan membuat Sasy menepuk jidatnya.
" Astaga Dokter saya lupa. Ya sudah kalau begitu kita pergi. Dokter jangan khawatir saya pasti meneraktir," sahut Sasy.
" Baiklah, saya pikir kamu sengaja mengukur waktu," sahut Dokter Arif.
" Ya nggak lah Dokter ada-ada aja," sahut Sasy tertawa kecil.
" Ya sudah ayo masuk. Nanti kita kelamaan," sahut Dokter Arif membukakan pintu mobil Sasy tersenyum mengangguk. Namun saat ingin masuk. Sasy merasa ada yang melihat tinta dan melihat spontan ke atas jendela di mana Toby yang langsung menutup tirai jendela.
" Kenapa aku merasa seperti melihat Toby ya. Tidak mungkin kan dia ada di atas sana. Mau ngapain coba," batin Sasy yang merasa jika ada Toby di sana.
" Ada apa Sasy?" tanya Arif heran melihat Sasy bengong.
" Oh tidak apa-apa Dokter," sahut Sasy yang akhirnya memasuki mobil. Setelah itu Arif pun menyusul. Sasy terlihat begitu berpikir keras yang pasti masih penasaran yang di lihatnya benar atau tidak tadi.
" Kita jalan?" tanya Arif yang memakai sabuk pengamannya.
" Oh. Iya Dokter," sahut Sasy yang berusaha tenang.
" Come on Sasy apa yang kamu pikirkan. Kenapa kamu tiba-tiba mikirin dia," batin Sasy geleng-geleng dengan napasnya yang berusaha di aturnya.
Toby yang di atas sana yang memang dengan cepat bersembunyi membalikkan tubuhnya yang tidak ingin terlihat oleh Sasy.
" Berbahagialah Sasy. Aku akan semakin lega jika kamu sudah bahagia. Aku sangat mencintaimu dan melihatmu bahagia sebelum aku pergi adalah kebahagian yang terbesar dalam hidupku. Karena kamu cinta pertama dan terakhirku," batin Toby tersenyum dengan menutupi kesedihannya.
***********
Arif dan Sasy terlihat begitu bahagia. Di mana mereka minum cofee berduaan dengan bercanda bersamaan. Dari pemandangan yang indah terlihat ke-2nya sama-sama nyaman sih. Bahkan ke-2nya begitu nyambung saat bicara.
" Dokter sok tau. Aku tidak seperti itu," sahut Sasy.
" Ya saya hanya mengingat saja dulu saat pertama bertemu kamu. Kalau tidak salah saat saya mengantarkan Vandy ke acara keberangkatan Study tour kalian waktu SMA dan di sana saya melihat kamu. Gadis kecil yang pecicilan," ucap Dokter Arif jujur ala adanya.
" Isssss, Dokter Arif ini masa iya saya itu pecicilan," sahut Sasy.
" Saya hanya melihatnya. Kalau Azizi lebih pendiam saat itu. Dia masih memakai kaca mata dengan rambut di kelabang 2 dan kalau Cherry saya sudah mengenalnya dia anaknya santai dan sangat ceria dan Raquel tidak terlalu mengenalnya saat itu. Tapi dengar-dengar dia itu tukang Bully dulu. Dan kami sendiri yang paling pecicilan," ucap Arif yang mengingat masa beberapa tahun lalu.
" Dokter masa iya kesan Dokter sama saya seperti itu pertama kali," sahut Sasy dengan manyun.
__ADS_1
" Ya mau gimana lagi. Itu saya ingat. Setelah beberapa tahun saya melihat semuanya berubah. Azizi tidak di sangka sangat dewasa dan keibuan dan berjodoh dengan Vandy adik saya. Sementara Cherry dia masih sama, masih sangat santai dan jauh lebih dewasa dan baiknya tidak pernah berubah dari dulu. Sementara Raquel selama bekerja di rumah sakit terlihat sangat bucin waktu pacaran dengan Aldo dan dia juga sangat bijak menghadapi setiap masalah. Tapi yang anehnya itu kamu," ucap Aldo membuat Sasy mengkerutkan dahinya.
" Saya aneh. Memang aneh kenapa?" tanya Sasy heran.
" Kamu tidak dewasa. Kamu masih merasa jika kamu masih anak SMA yang sangat pecicilan dan kekanak-kanakan," ucap Arif yang bicara to the point.
" Terserah Sasy kamu sakit hati atau tidak dengan kata-kata saya. Tapi saya tidak bisa berpura-pura untuk menilai kamu. Saya mengagumi kamu yang selalu punya insting tinggi untuk sahabat-sahabat kamu. Saya sangat mengagumi kamu dengan kamu yang selalu memprotistas orang lain. Saya masih ingat kamu menjodoh-jodohkan saya dengan Raquel karena begitu kepadanya. Saya juga mengingat kamu adalah salah satu orang yang menjadi jembatan untuk hubungan Azizi dan Vandy dan pasti saya mengingat kamu yang mati-matian membela Cherry dan bahkan bertengkar dengan teman-teman mu. Karena mereka menganggap kamu berlebihan karena masalah Fiona. Padahal sangat kenyataan insting kamu begitu kuat dan terbukti siapa sebenarnya Fiona. Ya meski saya tidak setiap hari, setiap moment bersama kalian. Tetapi saya saya tau siapa kamu," ucap Arif yang membuat Sasy terdiam yang tidak bisa membantah atau mencela ucapan itu.
" Tapi jujur saya sangat kecewa dengan wanita yang di hadapan saya ini. Kenapa untuk dirinya sendiri. Insting tidak ada. Sangat mudah memutuskan sesuatu tanpa berpikir seperti biasanya. Bahkan memutus persahabatan hanya karena ego yang terlalu besar. Maaf Sasy jika saya menceramahi kamu. Maaf kelancangan saya. Tetapi semua yang saya bicarakan. Jelas karena saya peduli sama kamu," ucap Dokter Arif terang-terangan.
" Apa aku benar-benar kelewatan," batin Sasy yang mulai pikirannya terbuka setelah mendengar kata-kata Arif.
" Sasy kamu harus tau mana yang benar dan tidak. Kamu bukan anak kecil Sasy. Kamu sudah dewasa dan kamu seorang Dokter," ucap Dokter Arif lagi.
" Apa sudah selesai menceramahi pacar saya," tiba-tiba Bagas datang yang tidak tau kapan dan sudah berdiri di dekat Arif dan Sasy.
Sasy terkejut melihat kedatangan Bagas. Sementara Dokter Arif hanya terlihat santai.
" Bagas!" lirih Sasy.
" Ayo kita pergi dari sini!" ajak Bagas yang langsung meraih lengan Sasy yang ingin membawa paksa Sasy. Namun Arif berdiri dan mencegah Bagas dengan menahan tangan Bagas yang memegang tangan Sasy.
" Tolong sopan sedikit. Kami sedang minum," ucap Arif dengan dingin yang membuat Bagas mendengus kasar.
" Siapa lo, dia ini pacar gue," sahut Bagas.
" Itu bukan urusan saya yang paling terpenting kami sedang minum dan mengobrol. Jadi lepaskan dia!" sahut Arif dengan serius.
" Bangsat!" sahut Bagas emosi yang ingin memukul Arif. Namun Arif menahan tangan itu. Yang membuat Bagas geram dan Sasy yang ada di sana begitu schok.
" Jangan kurang ajar!" ucap Arif dengan tenang.
" Kau yang kurang ajar. Sudah tau pacar orang. Masih di tahan-tahan," sahut Bagas emosi.
" Kamu lihat siapa yang membuat ribut dan kamu sendiri. Kenapa bisa bersama dia. Ayo kita pulang!" ajak Bagas lagi dengan mencengkram tangan Sasy.
" Kamu masih di sini!" bentak Bagas.
" Kamu jangan membentak wanita," sahut Arif.
" Ini bukan urusanmu," sahut Bagas bertambah emosi.
" Baiklah ayo pergi!" sahut Sasy, " Dokter maaf saya pulang dulu," sahut Sasy yang merasa tidak enak. Arif hanya menganggukkan matanya dan Bagas menariknya paksa. Di mana memang Sasy di perlakukan sangat kasar.
Arif sebenarnya tidak tega melihat Sasy dan dia juga punya insting Bagas memang bukan laki-laki yang baik. Namun Arif tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat Sasy yang di paksa masuk kedalam mobil bahkan terlihat di dorong.
" Bisa-bisanya kamu tidak bisa membedakan mana Pria yang baik dan yang tidak," batin Arif geleng-geleng.
**********
Mobil Bagas berhenti di pinggir jalan yang terlihat sepi. Di mana ternyata mereka terlihat berdebat.
" Kamu itu bisa-bisanya sudah punya pacar. Masih aja jalan dengan orang lain," ucap Bagas yang memarahi Sasy.
" Dia bukan orang lain. Dia Dokter senior di rumah sakit dan aku juga sudah kenal lama dengan Dokter Arif," jelas Sasy membela diri.
" Jadi kalau kamu sudah kenal lama. Kamu mau gitu suka-suka hati kamu. Kamu tidak pikirin tentang hubungan kita," ucap Bagas bertambah emosi.
" Bukan begitu Bagas, aku hanya minum. Aku ada hutang dan meneraktirnya. Kita juga hanya ngobrol biasa saja," sahut Sasy.
__ADS_1
" Biasa saja apanya. Dia jelas-jelas ingin mempengaruhi kamu," sahut Bagas emosi nya semakin naik.
" Kamu itu apa-apaan sih Bagas. Siapa yang mempengaruhi aku. Kamu jangan berlebihan," sahut Sasy.
" Kamu yang berlebihan!" bentak Bagas, membuat Sasy tersentak kaget.
" Kamu membentakku," sahut Sasy terlihat begitu emosi yang begitu schok yang tiba-tiba di bentak. Bagas terdiam yang.
" Aku tidak bermaksud Sasy, aku hanya kesal dengan mu," sahut Bagas yang merendahkan suaranya. Sasy terlihat diam saja yang seolah tidak percaya jika dia mendapatkan bentakan seperti itu. Selama ini pacarnya Toby memang sangat baik kepadanya dan bahkan begitu lembut.
" Sasy maafkan aku," sahut Bagas yang membujuk Sasy dengan memegang ke-2 tangan Sasy. Sasy hanya diam.
" Sasy aku cemburu dan apa salah aku marah. Karena aku cemburu. Aku menyayangi kamu makanya aku cemburu," ucap Bagas yang terus membujuk Sasy.
" Tapi apa harus kamu seperti ini kepadaku," sahut Sasy dengan wajahnya yang marah.
Bagas mendekatinya dengan memegang bahu Sasy agar menghadap dirinya.
" Aku tidak bermaksud maafkan aku," sahut Bagas dengan memegang pipi Sasy.
" Hey, kamu jangan marah lagi ya, kamu terlihat sangat jelek saat marah," ucap Bagas dengan membujuk-bujuk Sasy mengusap-usapnya lembut pipi Sasy.
" Ya sudah tapi kamu jangan ulangi lagi ya," sahut Sasy.
" Makasih ya sayang kamu memang yang terbaik," ucap Bagas. Sasy mengangguk dengan tersenyum tipis. Bagas pun mencium lembut kening Sasy.
" Aku mencintaimu," ucap Bagas.
" Aku juga mencintaimu," sahut Sasy. Bagas tersenyum dan mencium pipi Sasy. Sasy terlihat tidak nyaman namun membiarkan saja. Bagas ingin meraih bibir Sasy, namun Sasy mengelak.
" Kita pulang saja ini sudah malam," sahut Sasy menolak.
" Kenapa kamu selalu menolak. Jika aku ingin menciummu. Bukannya kita sudah pacaran," ucap Bagas yang terlihat kes.
" Bukan begitu Bagas. Aku hanya ingin pulang," sahut Sasy mencari alasan.
" Kamu hanya alasan saja," ucap Bagas yang kembali kesal.
" Tidak Bagas, bukan begitu. Sudahlah kita jangan membahas masalah itu, sebaiknya kita pulang," sahut Sasy. Bagas menahan kekesalannya dengan Sasy yang menolaknya.
" Aku naik taksi saja," sahut Sasy mengambil keputusan yang ingin naik Taxi karena merasa kurang nyaman dengan Bagas. Sasy membuka pintu mobil. Namu di tahan oleh bagus dan dengan berutal Bagas meraih bibir Sasy.
Sasy yang schok langsung mendorong Bagas.
Plakkk.
Satu tamparan langsung melayang ke pipi Sasy.
" Apa yang kamu lakukan!" bentak Sasy yang penuh kemarahan dan membuka pintu mobil kembali. Namun ternyata Bagas mengkunci mobil tersebut.
" Apa yang kamu lakukan Bagas, buka pintunya!" gertak Sasy yang terus membuka pintu pintu. Bagas tidak peduli menarik tangan Sasy dan menindihnya di jok mobil yang membuat Sasy benar takut. Di mana Bagas dengan liar yang berusaha menciumi lehernya.
" Bagas apa yang kamu lakukan! lepaskan aku. Lepaskan aku Bagas," berontak Sasy yang berusaha mendorong Bagas. Namun tenaga Bagas lebih kuat dan menjalankan aksinya.
" Kau itu sangat sombong. Kau harus menjadi milikku!" ucap Bagas dengan wajahnya yang penuh gairah.
" Apa yang kau katakan, jangan begini. Aku mohon lepaskan aku!" teriak Sasy yang terus memberontak yang sudah meneteskan air mata. Namun Bagas tidak peduli dan karena marah dengan penolakan Sasy. Bagas sampai bermain tangan dengan Sasy. Menampar Sasy tanpa ampunan.
" Jangan pikir kau akan lolos. Kau harus tau, jika aku berpacaran hubungan seperti ini adalah wajib dan kau banyak tingkah yang menolakku dan terima akibatnya," ucap Bagas.
__ADS_1
" Kurang ajar kamu Bagas. Aku tidak percaya jika kamu seperti ini. Lepaskan aku bajingan! lepaskan aku!" teriak Sasy yang terus memberontak dengan air matanya yang menetes yang berusaha menjaga kehormatannya dari Bagas yang benar-benar sudah kesetanan yang ingin memperkosanya.
Bersambung