
Pak Sony sedang memberi arahan kepada para murid-murid di meja makan yang sedang menunggu makan siang.
Semua makanan sudah berada di meja masing-masing dengan di penuhi lauk. Sementara Pak Sony terus mengoceh memberi arahan.
" Lama banget sih pak, perut sudah keroncongan ini," ucap pelan Toby yang tidak sabaran untuk makan.
" Cherry mana ya?" tanya Sasy dengan kepala berkeliling mencari Cherry yang tak kelihatan dari tadi.
Ternyata bukan hanya Sasy, tetapi Verro juga sedari tadi mencari keberadaan Cherry yang tidak di lihatnya.
" Kemana dia, apa dia di kamar dan tidak ikut makan siang?" tanya Verro di dalam hatinya.
" Baik anak-anak sekian dulu, kalian bisa nikmati makan siangnya," ucap Pak Sony menutup arahannya.
" Iya Pak," jawab semuanya serentak.
" Kamu kenapa Sasy?" tanya Azizi yang melihat Sasy kebingungan.
" Aku tidak melihat Cherry, mungkin ada di kamar aku akan lihat ke atas dulu," sahut Sasy yang langsung meninggalkan makanannya.
" Oh ya sudah makanan kamu akan aku jaga," sahut Azizi.
" Oke," sahut Sasy yang langsung pergi kekamar mengecek siapa tau ada Cherry di dalam sana.
Verro yang tiba-tiba merasa cemas bangkit dari duduknya dan menghampiri meja Azizi. Varell yang makan di depannya hanya melihatnya saja.
" Mana Cherry? tanya Verro.
" Nggak tau, tadi Sasy juga nyari dan lagi ngecek ke kamar," jawab Azizi yang sudah mulai memakan makanannya.
" Kemana sih dia ,apa tidak bisa diam sebentar," desis Verro kesal dan langsung pergi dari meja Azizi dan mungkin menyusul Sasy mencari Cherry.
Sementara Fiona yang juga sedang makan melihat gerak-gerik Verro yang sangat khawatir pada Cherry.
" Selalu mencari perhatian," batin Fiona melihat sinis Verro.
Fiona yang seperti itu. Tetapi Raquel yang sedari tadi ternyata melihat ke arah Fiona bahkan memperhatikan gerak-gerik Fiona.
__ADS_1
" Cewek ini benar-benar, diam ternyata sangat sadis," batin Raquel yang terus melihat ke arah Fiona sampai Fiona melihat kearah Raquel. Sehingga pandangan mereka saling bertemu.
" Kenapa dia melihatku seperti itu?" batin Fiona heran.
" Apa dia ingin menantangku," batin Raquel.
" Dia pikir dia siapa," batin Fiona lagi.
" Sangat berani," batin Raquel sinis.
" Raquel kenapa?" tanya Mitha heran kenapa temannya melihat ke arah Fiona terus.
" Tidak, aku hanya melihat ada wanita munafik," jawab Raquel. Mitha heran dan akhirnya melihat arah pandang Raquel.
" Kenapa dia, cari masalah sama lo?" tanya Mitha.
" Aku yang akan membuat masalah besar padanya," ucap Raquel membuat Mitha bingung, tidak mengerti apa yang di katakan Raquel.
***********
Sementara Cherry duduk di salah satu kursi di bawah pohon rindang dengan menangis tersedu-sedu dengan tangannya yang terus memegang dadanya yang semakin sesak.
" Tetapi dia memang benar, tidak seharusnya aku bertingkah, orang-orang hanya kasihan kepadaku. Apa memang benar aku hanya menyusahkan. Aku mengambil semua kebahagian orang-orang. Lalu kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja. Aku juga tidak ingin sakit terus. Aku juga tidak ingin seperti ini," Cherry terus mengeluhkan ke adaannya dengan suara deru napas yang tidak beraturan.
" Jika dia menyukai Verro kenapa harus mengatakan hal itu kepadaku. Kenapa dia harus mengingatkanku tengtang penyakit ku. Kalau di kasih mati sekarang aku juga mau mati. Tetapi kenapa nyawaku tidak di cabut sekarang," Cherry kembali putus asa karena sangat lelah dengan keadaannya.
Tiba-tiba dari ujung sana Vandy yang selesai menikmati makan siangnya ke luar dari Villa dan tidak sengaja menemukan Cherry.
" Itu bukannya Cherry?" gumam Vandy bingung.
" Ngapain dia di sana?" tanya lagi heran yang bisa melihat dari jauh kalau Cherry sedang menangis. Vandy yang tidak mau berpikir banyak langsung menghampiri Cherry yang masih menangis.
" Cherry?" tegur Vandy yang melihat Cherry dengan jelas bercucuran air mata. Cherry yang mendengar namanya di panggil mengangkat kepalanya ke atas dan melihat ke arah Vandy.
" Apa yang terjadi kenapa kau menangis?" tanya Vandy heran sambil memegang bahu Cherry. Cherry langsung memeluk pinggang Vandy. Hal itu membuat Vandy heran dengan tangan Cherry yang sudah melingkar di pinggangnya dan wajah Cherry yang menempel di perutnya dan Cherry semakin menangis terisak-isak.
" Ada apa Cherry, kenapa kau menangis?" tanya Vandy bingung.
__ADS_1
" Apa benar aku menyusahkan, apa benar kalian berteman kepadaku. Karena kalian hanya kasihan kepadaku. Karena aku memiliki penyakit jantung. Kalian sebenarnya tidak mau berteman denganku. Kalian hanya ingin membuatku senang hiks, hiks," ucap Cherry yang menanyakan pada Vandy.
Vandy heran kenapa Cherry tiba-tiba bicara seperti itu. Selama ini dia tidak pernah mendengarkan Cherry yang berbicara seperti itu.
" Aku tau Verro tidak menyukaiku. Aku juga tau dia hanya di paksa papanya. Tapi aku tidak pernah memanfaatkannya, aku juga tidak ingin dia dekat-dekat dengan ku. Aku juga tidak ingin dia terus menerus menghabiskan waktu bersamaku. Tapi aku juga bingung harus berbuat apa. Aku tidak tau harus melakukan apa," lanjut Cherry terus menangis.
" Cherry apa yang terjadi, apa yang kamu katakan?" tanya Vandy belum mengerti juga.
" Kalau aku memang menyusahkan jangan berteman dengan ku. Aku tidak pernah memanfaatkan sakitku untuk mencari perhatian orang-orang, aku tidak pernah melakukannya, aku juga ingin seperti orang-orang hidup normal tanpa obat dan tanpa rumah sakit aku juga ingin seperti itu,"
" Cherry aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Siapa yang berteman denganmu hanya karena kasihan?" tanya Vandy bingung.
" Vandy aku tidak pernah bermaksud untuk membuat semua orang susah, membuat kamu, Sasy, Verro, Vandy, dan yang lainnya aku tidak pernah ada niat untuk memanfaatkan kalian. Vandy kenapa aku harus terlahir berbeda. Kenapa aku tidak seperti kalian saja. Kenapa tuhan jahat kepadaku. Kenapa dia terus memberiku kehidupan kalau hanya untuk menyusahkan orang-orangnya," Tanya Cherry dalam rengekannya.
" Kenapa Vandy, Kenapa?
" Apa yang terjadi dengan Cherry, apa dia ribut sama Verro. Dia berbicara seperti wanita yang kehilangan semangat hidup. Apa dia sedang mendengarkan sesuatu, atau ada yang berbicara buruk kepadanya. Kenapa dia jadi seperti ini," batin Vandy yang bertanya-tanya dengan sikaf Cherry yang sangat aneh.
Ternyata di sisi lain Verro terus mencari Cherry. Di juga sudah berada di luar villa tetapi tidak menemukan Cherry. Sampai Verro berpapasan dengan Aldo. Langkah Aldo dan Verro sama-sama berhenti.
" Cherry tidak bersamanya. Jadi di mana Cherry?" batin Verro yang berpikiran Cherry bersama Aldo.
" Kenapa dia melihatku," batin bingung.
Verro yang malas berbicara dengan also atau sekedar menanyakan Aldo memilih pergi, melewati Aldo tanpa menegurnya.
" Aneh," batin Aldo bingung.
Verro kembali mencari keberadaan Cherry dan akhirnya menemukan Cherry yang sekarang masih memeluk Vandy. Dari kejauhan 15 meter Verro harus melihat hal yang mengesalkan itu. Bagaimana Cherry memeluk Vandy.
" Di cari-cari, ternya malah asyik-asyik kan," desis Verro kesal yang sudah mengepal tangannya.
" Tidak di Jakarta, tidak di sini. Kenapa dia terus membuat masalah. Bukannya makan, malah berpelukan. Apa memang itu menjadi hobi barunya," batin Verro semakin kesal.
Verro dengan wajah kemarahannya memilih pergi dengan kemarahan melihat Cherry yang memeluk erat Vandy. Tanpa Verro menghampiri Cherry seperti biasa yang langsung mengomeli.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya