
Acara makan malam mereka pun akhirnya berakhir dan mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Vandy juga mengantarkan Azizi pulang. Sementara Sasy pasti pulang dengan Toby.
Mobil Vandy sudah berhenti di depan rumah Sasy dan Azizi langsung turun dan Vandy juga ikut turun mengantarkan Azizi sampai kedepan pintu rumah.
" Makasih, sudah mengantarkanku," ucap Azizi.
" Aku yang makasih dengan semua waktu yang kamu berikan hari ini," sahut Vandy tersenyum tipis. Azizi hanya mengangguk.
" Mama!" panggil Iqbal yang berlari tiba-tiba yang menghampiri Azizi dan juga Vandy.
" Sayang," ucap Azizi memegang tangan Iqbal.
" Hay, Dokter Vandy," sapa Iqbal. Vandy berjongkok di depan Iqbal dan mengacak-acak rambut Iqbal.
" Hay sayang," sahut Vandy dengan tersenyum lebar.
" Dokter, Vandy habis antar mama pulang?" tanya Iqbal.
" Iya sayang," sahut Vandy.
" Dokter tidak mau masuk dulu?" tanya Iqbal dengan ramah menawarkan masuk. Padahal bukan rumahnya, " Kita main bareng," sahut Iqbal yang ingin bermain bersama Vandy.
" Sayang, kamu jangan gitu, ini sudah malam, Dokter Vandy harus pulang," tegur Azizi dengan lembut dan wajah Iqbal langsung cemberut.
" Hmmm, iya sayang, kamu harus istirahat, besok pagi, kita akan main bareng," ucap Vandy memegang pipi Iqbal berjanji pada anaknya.
" Benarkah?" tanya Iqbal memastikan dengan semangat.
" Iya, asalkan mama kamu mengijinkan," sahut Vandy yang melihat ke arah Azizi dan Azizi langsung membuang pandangannya.
" Boleh mah?" tanya Iqbal. Azizi juga bingung harus menjawab apa.
" Iya sayang, boleh," sahut Azizi mengijinkan.
" Horeeee," sahut Iqbal kesenangan dengan mengangkat tangannya. Yang membuat Vandy tersenyum.
" Makasih ma," ucap Iqbal, Azizi mengangguk saja.
" Ya sudah, sekarang kamu harus istirahat, biar besok kita bisa main bareng," ucap Vandy mengacak pucuk kepala Iqbal.
__ADS_1
" Iya Dokter," sahut Iqbal. Vandy pun berdiri.
" Ya sudah, aku pulang dulu," ucap Vandy pamit.
" Iya, hati-hati," sahut Azizi. Vandy mengangguk dan langsung pergi, sementara Iqbal melambaikan tangannya untuk Dokter yang di sukainya itu. Azizi melihat dalam-dalam putranya yang tampak bahagia itu.
" Andai kamu tau Iqbal, jika dia adalah papamu," batin Azizi mengusap-usap pucuk kepala sang anak.
" Ayo sayang kita masuk!" ajak Azizi.
" Iya ma," jawab Iqbal yang masuk bersama mama dan dengan gandengan tangannya.
Ternyata mobil Toby juga sudah sampai dan Toby dan Sasy yang masih berada di dalam mobil melihat Vandy, Azizi, dan juga Iqbal.
" Hubungan mereka tampak dekat," ucap Toby.
" Ya kita doakan saja. Semoga mereka memang benar-benar akan menikah," sahut Sasy. Sasy tidak menceritakan apa-apa tentang masa lalu, Azizi dan Vandy. Karena itu sebuah aib. Jika dia Taulah biarlah dia menyimpan tanpa mengumbar aib itu.
" Hmmmm, semoga saja. Vandy juga semoga saja menerima Iqbal dengan baik dan menganggap sebagai anaknya sendiri," sahut Toby dengan penuh harapan.
" Memang itu anak dia," batin Sasy. Tidak mendapat respon dari Sasy membuat Toby melihat ke arah Sasy dan melihat wajah murung Sasy.
" Tidak, kok kamu bisa berpikiran kayak gitu," sahut Sasy dengan cepat.
" Ya kan aku bisa melihat kamu tampak tidak menyukainya. Mungkin saja perasaan kamu dan Toby berlebihan," ucap Toby yang menunjukkan cemburuannya.
" Ishhh, kamu ini langsung cemburuan aja, nggak seperti itu juga kali," sahut Sasy.
" Lalu seperti apa?" tanya Toby dengan menatap horor.
" Kamu ini selalu berpikiran seperti itu. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Vandy. Vandy hanya minta tolong padaku masalah Azizi. Bisa di katakan seperti matcomblang untuk mereka," ucap Sasy menjelaskan dengan tersenyum.
" Kamu jangan cemburuan, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," ucap Sasy memegang pipi Toby, sedikit mencubit lembut. Karena gemas dengan wajah Toby yang terlihat marah.
" Hmmm, aku tau, kamu pasti tiba-tiba pulang, karena takutkan aku macam-macam," tebak Sasy.
" Tidak! jelas aku tidak peduli," sahut Toby mengelak dengan suara ketusnya.
" Lalu kenapa pulang tiba-tiba. Perasaan baru kemarin kita telponan dan kamu bilang belum ada rencana pulang?" tanya Sasy.
__ADS_1
" Aku ingin membawa semua pakaian ku ke Itali, aku ingin menetap di sana," jawab Toby. Sasy mendengarnya kaget, dan langsung panik bahkan terlihat takut.
" Serius?" tanya Sasy. Toby mengangguk memastikan.
" Nggak-nggak, mana mungkin," sahut Sasy yang langsung memeluk pinggang Toby seakan menahannya dan membuat Toby tersenyum miring melihat Sasy yang menempel di dadanya memeluknya erat.
" Kamu bilang waktu itu di Bandara, kamu hanya pergi sebentar dan tidak akan menetap. Lalu kenapa tiba-tiba berubah pikiran. Aku tidak mau kamu pergi begitu saja, kamu sudah janji," rengek Sasy seperti anak kecil yang tidak mau di tinggal.
Toby hanya tersenyum melihat Sasy yang takut di tinggal olehnya. Sasy tadi senyum-senyum karena membuat Toby kesal dengan kecemburuan dan sekarang mewek dengan perkataan Toby.
" Pokoknya kamu nggak boleh pergi. Aku benar-benar akan selingkuh kalau kamu menetap di Itali," ucap Sasy memberikan ancaman.
" Aku tidak akan pergi, aku hanya bercanda," sahut Toby yang tidak tega melihat Sasy menangis. Sasy mengangkat kepalanya dan melihat Toby. Baru beberapa menit wajah Sasy sudah di penuhi air mata.
" Kamu serius tidak jadi pergi?" tanya Sasy dengan meyakinkan, wajahnya yang sudah memerah karena menangis. Toby mencium keningnya dengan lembut.
" Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap tinggal di sini untuk mengawasimu," ucap Toby mencolek hidung Sasy.
" Benar?" tanya Sasy lagi. Toby mengangguk. Sasy Kembali memeluknya dengan erat.
" Pokoknya kamu tidak boleh pergi," ucap Sasy.
" Iya," sahut Toby, " sudah sana masuk, kamu harus istirahat, besok harus bekerja kembali," ucap Toby. Sasy mengangguk dan melepas pelukan itu lalu menyeka air matanya.
" Ya sudah aku masuk dulu," ucap Sasy pamit sambil membuka seat beltnya. Toby mengangguk.
" Bye," ucap Sasy pamit membuka pintu mobil. Toby menahan tangannya.
" Ada apa?" tanya Sasy. Toby menunjuk pipinya. Sepertinya ingin di cium membuat Sasy malu.
" Ishhh, kamu," desis Sasy malu. Namun Toby tersenyum.
" Sekarang?" tanya Sasy. Toby mengangguk. Sasy melihat di sekitarnya dan langsung mencium pipi Toby. Cup. Toby tersenyum menerimanya.
" Sudah," ucap Sasy pelan dengan wajahnya yang sangat dekat dengan Toby.
" Belum," jawab Toby membuat Sasy heran dan di tengah keheranannya. Toby memiringkan kepalanya dan langsung meraih bibir Sasy dan dengan perlahan Sasy memejamkan matanya, ketika sang kekasih menciumnya.
Ciuman yang semakin dalam membuat ke-2nya sama-sama terbang ke atas angkasa dan melayang-layang tinggi dan pasangan itu berciuman panas di dalam mobil dengan menumpahkan kerinduan mereka. Maklumlah ke-2nya sama-sama bucin.
__ADS_1
Bersambung