
Hujan berhenti setelah 1 jam dan selama itu juga mereka di bawah guyuran hujan dan mungkin setelah ini akan bengek karena mandi hujan.
Para murid-murid itu kembali melanjutkan langkah mereka menuju perkemahan. Mereka tidak tau mereka di cari atau tidak.
Aldo yang memandu jalan berada paling depan. Sementara yang lain berada di belakang sambil menyenter-nyenter. Untung saja senter mereka tidak mati karena air hujan.
Di belakang Aldo Verro dan Cherry berjalan berdampingan. Tangan Cherry terus memegang jaket Verro. Karena lumayan takut. Melihat sudah pukul 11 malam.
Verro yang melihat Cherry seperti tidak nyaman langsung meraih tangan Cherry dan menggengam nya era.
" Tidak apa-apa," ucap Verro menenagkan. Cherry mengangguk dengan tubuh yang bergetar. Karena pasti kedinginan.
" Apa masih lama sampai?" tanya Cherry pelan.
" Sebentar lagi," jawab Verro, " sabarlah," ucap Verro. Cherry kembali mengangguk.
Sementara Toby dan Sasy yang berada di belangkang Cherry dan Verro. Sasy terus melihat keatas, kiri dan kanannya seperti ketakutan dan memiliki rasa penasaran yang tinggi.
" Sebentar lagi mereka akan berkeliaran," bisik Toby pada Sasy membuat Sasy merinding.
" Serius?" tanya Sasy memegang memegang lengan Toby. Perkataan Toby membuat bulu kuduknya merinding.
" Iya," jawab Toby menahan senyum.
Toby jika tidak mengerjai Sasy tidak akan puas. Apalagi sekarang Sasy sangat ketakutan.
" Memang kamu pernah melihat mereka?" tanya Sasy dengan suara pelan. Toby mengangguk seakan apa yang di katakannya benar.
" Wujudnya seperti apa?" tanya Sasy yang penasaran.
" Sangat banyak, ada berbadan besar dengan lidah keluar memanjang, ada juga yang berterbangan dengan pakaian putih, dan ada kepala yang terbang tanpa badan," jawab Toby dengan serius. Membuat Sasy semakin takut dan memegang lengan Toby semakin kuat.
" Apa mereka akan mengganggu kita?" tanya Sasy. Takut-takut tapi masih aja bertanya ya semakin di kerjain Verro.
" Iya mereka akan menunjukkan wujud mereka. Ketika jam 12 malam," jawab Toby. Sasy langsung melihat jam tangan Toby yang sebentar lagi jam 12 malam.
Sasy mengusap belakang lehernya seakan ketakutan dengan perkataan Toby. Sementara Toby menahan tawa melihat Sasy di sampingnya.
" Apa kita masih lama sampai?" tanya Sasy semakin takut. Toby mengangguk.
" Sasy itu dia," teriak Toby.
" Aaaaaaa," teriak Sasy dengan sekencang-kencangnya menutup matanya. Membuat semua orang heran.
" Pergi jangan ganggu kami. Pergi!" teriak Sasy sementara Toby tertawa terbahak-bahak.
" Sasy kamu kenapa?" tanya Cherry memegang lengan Sasy.
__ADS_1
" Aaaaaaa," teriak Sasy lagi membuat Cherry kaget. Sasy berdiri dengan tubuh bergetar ketakutan.
" Apapan sih ni anak," desis Verro kesal dengan tingkah Sasy.
" Eh Sasy, apaan sih lo berisik banget," sambar Varell.
" Sasy ada apa, ini aku Cherry," sahut Cherry. Dengan perlahan Sasy membuka matanya. Dan memang melihat Cherry.
" Ada_ ada_ada_ hantu," jawab Sasy dengan gagap.
" Hantu, Ihhhh jangan ngomong gitu, merinding tau," sahut Azizi mengusap tangannya yang bukunya mulai naik.
Sasy melihat Toby di sampingnya malah tertawa terbahak-bahak. Sasy merapatkan giginya seakan tau kalau dia dikerjain.
" Toby," pekik Sasy, Toby tanpa berdosa tertawa terbahak-bahak sangat puas melihat Sasy dengan keadaan seperti itu.
" Lo ngerjain gue, dasar," kesal Sasy langsung menghantam tubuh Toby memukulnya dengan kuat dengan semua tenaga. Yang lain hanya geleng-geleng.
" Sakit Sasy, sakit, ampun," keluh Toby.
" Syukurin, aku sudah sampai mau kencing gara-gara kamu. Benar-benar kamu kelewatan, kamu pikir lucu ha!" oceh Sasy terus memukuli Toby.
" Sasy, sudah kasihan Toby," sahut Cherry melerai temannya sampai akhirnya Sasy yang belum merasa puas menghentikan pukulannya karena Cherry.
" Urusan kita belum selesai," ucap Sasy mengepal tangannya ingin menonjok Toby.
" Lagi pula kamu sih Toby, jangan kayak gitu, kan tau Sasy bagaimana," tegur Cherry pada Toby.
" Kalian ber-2 bikin ulah aja," kesal Vandy.
" Sorry," sahut Toby.
" Sudah, kita lanjutkan lagi, kita hampir mau sampai," sahut Aldo yang langsung berjalan.
" Ayo Sasy," ajak Cherry. Sasy langsung menggandeng tangan Cherry, menjulurkan lidahnya pada Toby.
Semua kembali melanjutkan perjalanan mengikuti Aldo sang petunjuk jalan. Nadya dan Varell yang berjalan paling belakang.
Nadya heran melihat Varell yang hanya diam. Biasanya Varell akan mengajaknya bicara. Tetapi sekarang seperti cuek kepadanya.
" Apa Varell marah kepadaku," batin Nadya yang merasa jika sikap Varell berubah pasti karena dirinya yang tidak memberikan jawaban apa-apa kepada Varell.
" Varell! tegur Nadya.
" Kenapa?" jawab Varell ketus.
" Kau marah kepadaku?" tanya Nadya membuat Varell menoleh.
__ADS_1
" Marah, kenapa harus marah, memang kau melakukan sesuatu yang salah?" tanya Varell.
" Aku hanya heran saja, kamu diam dan bicara. Tidak seperti biasanya," ucap Nadya pelan.
" Aku hanya lelah, lagi pula apa ada yang harus di bahas," jawab Varell berjalan tanpa melihat ke arah Nadya.
" Iya memang tidak ada, aku hanya berpikiran lain saja, maaf jika aku membuat mu marah," sahut Nadya.
" Iya aku memang marah, aku tidak percaya, jika kamu menolakku Nadya, aku sangat kesal, di tolak olehmu. Memang kamu belum menolakku. Tetapi mengatakan nanti itu sangat menyebalkan. Apa kamu sengaja membuatku terus menunggumu," batin Varell yang ternyata benar-benar kesal dengan Nadya.
" Jika benar dia marah, karena kejadian tadi. Bukankah itu lebih baik. Lagi pula siapa aku harus menjalin hubungan dengannya. Dia sangat berbeda denganku. Bahkan langit dan bumi pun melebihi batas perbedaan itu, mungkin memang lebih baik dia seperti itu. Agar dia tidak mendekatiku," batin Nadya.
Nadya memang menyadari dirinya yang tidak pantas untuk Varell. Dia hanya gadis miskin yang sekolah di tempat bagus. Karena sebuah beasiswa. Berteman dengan orang-orang seperti Cherry saja membuatnya minder. Apa lagi harus menjalin hubungan dengan Varell.
Belum lagi dia akan menjadi bahan tertawaan murid-murid lain termasuk geng Raquel yang selalu menindasnya. Pasti apa yang di lakukannya akan membuat skandal hebat.
Nadya bersekolah saja sudah syukur. Jangan mencari gara-gara yang lain yang akhirnya akan masalah dan berpengaruh pada sekolahnya.
" Apa masih lama sampai?" tanya Azizi yang sudah merasa lelah berjalan.
" Sebentar lagi, kamu capek?" tanya Vandy. Azizi mengangguk.
" Kita istirahat saja," saran Vandy.
" Tidak usah, bukannya kamu bilang sebentar lagi akan sampai," tolak Azizi.
" Kamu yakin, bukannya kamu kelelahan?" tanya Vandy.
" Hmmm, tidak apa-apa, lagian yang lainnya kuat kok, masa aku nggak," ucap Azizi dengan semangat. Vandy tersenyum melihat Azizi.
" Seharusnya tadi jangan ikut," ucap Vandy.
" Kenapa, aku justru senang bisa ikut, merasa lebih puas. Karena menemukan Cherry," ucap Azizi.
" Benarkah?" tanya Vandy. Azizi mengangguk tersenyum.
" Ya sudah kamu pelan-pelan aja jalannya, Kiara akan sampai sebentar lagi," ucap Vandy. Azizi mengangguk.
" Kamu tidak takut?" tanya Vandy.
" Ishhhh, Vandy jangan menyinggung hal itu," sahut Azizi memegang baju Vandy. Jelas dia juga takut. Bahkan mungkin lebih penakut dari pada Sasy. Vandy mendengus tersenyum.
" Kamu jangan seperti Toby, suka mengerjai," ucap Azizi.
" Oke baiklah," sahut Vandy geleng-geleng.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.