DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 162 Mencoba mencari tahu.


__ADS_3

Kondisi Clara belum pulih sama sekali. Dengan kondisinya seperti itu menjadi keuntungan baginya untuk membuat Bayu tidak jadi menyuruhnya kembali Ke Jerman.


Bahkan mamanya juga sudah selesai di operasi dan masih tetap di rumah sakit pertama Bayu menempat kan mamanya. Bayu memang tidak punya pilihan lain selain menetapkan mamanya di rumah sakit itu.


Karena Clara yang juga di rawat harus membuatnya tetap melanjutkan perawatan mamanya di rumah sakit yang tidak di sukainya dan pasti Bayu tidak menyukainya. Bukan karena rumah sakitnya melainkan karena Dokter yang dekat dengan Clara


Meski mamanya sudah di operasinya. Ternyata mamanya belum siuman juga. Padahal Clara ingin sang mama sembuh. Agar Clara tidak terus-menerus di atur oleh Bayu yang membuatnya muak dengan sikaf kekanak-kanakan Bayu.


Tetapi dengan kondisinya yang seperti itu menguntungkan baginya. Dan bahkan Clara sengaja melemahkan kondisinya. Agar Bayu kasihan kepadanya dan tidak berbicara atau melakukan seenaknya kepadanya.


Karena Clara tau Bayu sangat peduli kepadanya dan tidak ingin membuatnya kenapa-napa. Jadi Clara memanfaatkan situasi itu. Karena dia tidak akan kembali ke Jerman sebelum dia mengetahui sesuatu hal yang membuatnya penasaran.


Siang ini Clara berada di depan mini market dengan jeans biru Aqua dan blouse coklat. Kepalanya masih terlihat ada perban seperti awal kondisinya. Karena memang luka di kepalanya belum sembuh.


Clara nekat keluar dari rumah sakit tanpa ada yang mengetahui demi mengetahui sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya. Dan tujuannya adalah mini market itu.


" Semoga saja dia masih ada di sana," batin Clara dengan harapan yang banyak.


Clara memberi ongkos Taxi dan langsung turun dari Taxi. Setelah mengucapkan Terimah kasih. Langkahnya langsung memasuki mini market tersebut dan melihat ke arah kasir. Clara terlihat mencari seseorang dan sepertinya belum menemukannya.


" Kemana dia. Apa dia sudah tidak bekerja di sini lagi," batinya dengan kepala berkeliling yang terus mencari-cari seseorang dengan wajahnya yang sangat sendu.


Sampai akhirnya matanya terfokus pada wanita yang menyusun barang-barang kedalam rak dengan serius.


" Itu dia," ucap Clara yang ternyata mencari Selina.


Tidak tau kenapa. Clara memang mendatangi mini market itu untuk menemui Selina. Wanita yang tempo lalu membuatnya kesal karena di katai hantu oleh Selina.


Selina memang memikirkan hal itu semalaman dia merasa wanita itu akan menjawab rasa penasarannya. Dia hanya berusaha agar dia mengetahui apa yang mengganjal di dalam pikirannya.


" Syukurlah dia masih bekerja di sini," batin Clara yang langsung melangkah cepat menghampiri Selina.


" Na-na-naTuhan, kapan hidupku akan berubah, kenapa nasipku hanya seperti ini, la la-la-la-la- laaaaaa,"


Terdengar suara pas-pasan Selina yang bernyanyi mengeluhkan keadaanya. Untungnya dia masih PD bernyanyi dengan suara ala kadarnya.


Clara sudah berada di belakangnya. Tangan Clara memegang pundak Selina yang masih sibuk bernyanyi dengan percaya diri. Selina yang merasa ada yang tangan di pundaknya dan membalikkan badannya masih dengan nada na-na-na-nanya.

__ADS_1


" Na-- hantuuuu," teriak Selina langsung terduduk membuat Clara kaget dan melihat di sekitarnya. Takut teriakan Selina akan mengganggu orang-orang.


" Aku sudah bilang tolong jangan ganggu aku. Aku tidak pernah mengganggu mu. Aku mohon pergi! pergi dari sini. Jangan menggangguku," ucap Selina yang menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan ketakutan karena kembali bertemu Clara yang di anggapnya Cherry teman 1 kelasnya yang sudah meninggal.


Sementara Clara menjadi panik. Takut orang-orang kembali mengerumuni mereka. Karena teriakan Selina yang histeris. Clara duduk dan memegang tangan Selina.


" Aku bukan hantu, aku Clara," ucap Clara yang berusaha menenagkan orang yang di carinya.


" Jangan menyentuhku, pergilah, jangan menyentuhku," ucap Selina yang ketakutan dan mungkin bisa-bisa dia akan kencing di celana. Suaranya bahkan bergetar menunjukkan betapa takutnya dia.


" Kenapa wanita ini susah sekali dia ajak kompromi, yang ada orang-orang akan kemari jika dia terus berteriak histeris seperti ini," batin Clara yang bingung cara mengatasi Selina harus seperti apa lagi.


" Tolong! tolong! jangan ganggu aku. Aku tidak salah. Aku mohon tolong pergi! aku sudah mengatakan aku tidak pernah mengganggumu. Aku tidak jahat padamu," Selina malah sudah menangis karena ketakutan.


" Aku yang meminta tolong kepadamu. Ayo buka matamu. Lihat aku. Aku bukan hantu!" ucap Clara yang berusaha menjelaskan.


" Tidak kau hanya mengganggu ku," sahut Selina yang masih tidak percaya.


" Aku serius, aku Clara, aku tidak ada niat mengganggumu. Aku hanya ingin meminta bantuanmu," ucapnya lagi.


" Aku tidak mau. Aku tidak mau membalaskan dendammu. Ini bukan Drama horor yang kau meminta bantuan padaku untuk dendammu," sahut Selina bicara mengada-ada.


" Baiklah! jika kau tidak mau membantuku. Aku benar-benar akan membunuhmu sekarang juga," ucap Clara menegaskan. Dia tidak tau harus mengatakan apa dan mungkin itu bisa mempan.


" Aaaaaaa, tidak jangan ampun-ampun!" yang ada Selina semakin takut.


" Jika kau masih histeris sekarang aku membunuhmu, aku akan menusukmu," tegas Clara lagi dengan mengancam.


" Jangan," sahut Selina memelankan suaranya. Dia sepertinya takut dengan ancaman Clara.


" Makanya jangan sembarangan bicara, ayo buka matamu. Lihat aku," ucap Clara.


Dengan napas tersengal-sengal. Selina yang masih ketakutan memberanikan diri Menyinggirkan tangannya perlahan dari matanya dan melihat Clara yang berada di depannya dengan rasa takut-takut.


" Wajahnya pucat sekali," batin Clara yang kasihan dengan Clara.


" Aku bukan hantu, kalau aku hantu aku tidak mungkin bisa memegang ini, ini, ini," ucap Clara kesal dengan memegang-megang makanan yang ada di sekitarnya meyakinkan Selina.

__ADS_1


" Benar kamu bukan hantu?" tanya Selina.


" Iya aku bukan hantu," jawab Clara menegaskan.


" Tetapi kenapa wajahmu mirip dengan Ch...."


" Cherry maksudmu," sahut Clara langsung menyambung kalimat Selina.


" Kamu mengenalnya?" tanya Selina yang masih dengan wajah takutnya.


" Aku menemuimu karena urusan itu. Jadi aku bukan hantu. Aku justru membutuhkan bantuanmu," ucap Clara menjelaskan pada Selina.


" Bantuan apa. Aku tidak bisa membantumu," ucap Selina langsung menolak.


" Aku mohon bantu aku," ucap Clara dengan wajah memohonnya.


*************


Malam hari tiba. Taxi berhenti di depan di rumah petak yang kecil yang seperti kos-kosan dan keluar 2 wanita dari dalam Taxi itu yang tak lain adalah Selina dan Clara.


Demi tujuannya. Clara rela menunggu Selina selesai bekerja. Selina sudah mengatakan berkali-kali tidak mau tetapi Clara memaksa dan akhirnya Selina mengalah Dan Selina membawanya kerumahnya.


" Ayo masuk!" ajak Selina.


Clara mengangguk dan mengikuti Selina memasuki rumah itu. Saat memasuki rumah yang sepetak itu. Kepala Clara berkeliling melihatnya. Hanya kasur kecil, lemari kecil dan dapur yang menyatu dalam 1 ruangan itu.


" Aku tau kau akan mengejekku. Memang seperti ini keadaanku. Aku tidak sekaya dulu. Tidak seperti mu. Ya sekarang aku baru menyadari. Begitu pentingnya belajar dengan benar. Agar tidak melarat ketika sudah dewasa," ucap Selina yang melihat Clara tampak menilai tempat tinggalnya.


" Aku tidak mengatakan apa-apa. Lagi pula aku tidak tau dirimu sebelumnya. Jadi apa yang harus ku ejek. Kamu sangat berlebihan menanggapinya," sahut Clara bingung dengan pemikiran Selina.


" Ahhhh, sudahlah, kau duduk saja dulu," ucap Selina. Clara mengangguk dan duduk di lantai yang tidak di alasi apapun dan pantatnya sampai terasa dingin.


Sementara Clara melihat Selina tampak membuat minuman dan setelah selesai Selina langsung memberikan pada Clara meletakkan di atas meja yang di depan Clara.


" Hanya ada ini, aku belum gajian. Jadi tidak ada uang," ucap Selina yang memberikan air putih. Clara mengangguk dan meminumnya. Dia juga haus. Selina memperhatikan Clara yang minum sampai habis.


" Apa dia benar-benar bukan Cherry. Tapi masa iya ada yang mirip dengannya. Dia juga bukan hantu," batin Selina yang masih ragu dengan wanita yang di hadapinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2