DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 124 Mengantarkan.


__ADS_3

Verro langsung melihat cepat ke belakangnya saat mendengar suara jatuh dan betapa terkejutnya Verro saat istrinya sudah duduk di lantai dengan bersandar ke kulkas.


" Cherry!" teriak Verro langsung berlari dan menghampiri Cherry.


" Cherry kamu kenapa?" tanya Verro yang sudah memegang istrinya membawa istrinya kedalam pelukannya.


Cherry masih sadarkan diri. Matanya masih terbuka. Tetapi suara hembusan napas yang tidak beraturan itu terdengar sangat jelas. Bahkan 1 tangan Cherry meremas pakaiannya yang mungkin sedang kesakitan yang luar biasa.


" Aku tidak apa-apa Verro tolong bantu aku berdiri," ucap Cherry dengan suara seraknya. Suara yang kesulitan berbicara.


Dia masih bisa mengatakan tidak apa-apa. Padahal jelas wajah itu sudah entah seperti apa. Bibir Cherry yang sangat memucat. Verro memegang ke-2 bahu Cherry melihat istrinya yang benar-benar sangat lemah.


" Jangan berbohong Cherry. Jangan terus berbohong kepadaku. Aku tidak buta aku tau kamu sedang sakit. Katakan kepadaku. Jika kau kesakitan. Katakan Cherry. Jika itu sangat sakit," ucap Verro dengan linangan air matanya Cherry tetap menggeleng bersih keras mengatakan dia baik-baik saja.


" Cherry aku mohon. Katakan jika kau sangat kesakitan. Jangan menyiksaku Cherry. Jangan menyiksaku dengan pura-pura mu. Kau tidak boleh menahannya. Katakan jika itu sangat sakit. Iya kan!" ucap Verro lagi.


" Hey dengarkan aku. Jika kamu kesakitan maka katakan jangan menahannya. Aku ingin berbagi sakit dengan mu. Aku ingin tau rasanya. Aku ingin merasakannya," ucap Verro dengan memegang ke-2 pipi istrinya.


" Eghhekk, Ehgk," Cherry tiba-tiba batuk dan menyemburkan darah. Membuat Verro semakin panik.


" Cherry," lirih Verro dengan matanya melihat wajah istrinya mulut istrinya yang keluar darah yang membuat Verro sangat takut.


Verro yang dengan tangannya yang bergetar langsung mengusap darah dari mulut Cherry.


" Aku tidak apa-apa, jangan menangis Verro," ucap Cherry yang terus mengatakan tidak apa-apa walau sudah sangat sekarat.


Verro yang ketakutan geleng-geleng dan terus me lap darah istrinya yang semakin banyak keluar


" Jangan berbohong kepadaku. Katakan jika sakit, kau sudah seperti ini, kau tidak boleh berbohong lagi. Katakan Cherry," ucap Verro yang terus berderai air mata suaranya bahkan ikut serak karena tangisannya.


" Sakit Verro, sangat sakit, aku tidak kuat, sakit, sakit, sangat sakit," jawab Cherry yang memang sangat kesakitan.


uhuk-uhuk Cherry terus batuk dan dan darah terus keluar dari mulutnya. Verro berdiri dan buru-buru mengambil air putih tangannya yang bergetar menuang air kedalam gelas. Untung tidak jatuh lagi.


Verro kembali kedekat Cherry, baju Cherry dan baju Verro sudah di terkena darah.


" Sayang ayo minum," Verro mencoba memberi Cherry minum. Cherry meminum dengan perlahan. Tetapi air putih itu berubah menjadi merah karena darahnya yang mengalir.


" Kamu akan sembuh. Sakit itu akan hilang percaya kepadaku. Kamu tidak akan merasakan sakit itu lagi," ucap Verro berbicara terbata-bata dengan suaranya yang serak.


Cherry tersenyum dan memegang pipi Verro. Menghapus air mata yang ada di pipi suaminya.


" Verro katakan kepadaku kenapa kamu mencintaimu?" tanya Cherry kesulitan bicara.


" Aku tidak perlu alasan untuk mencintaimu. Yang jelas kamu harus tau aku sangat mencintaimu dan perasaanku tidak akan pernah hilang. Aku tidak pernah menggantikan posisimu dengan orang lain sampai kapanpun," jawab Verro yang kepanikan melihat kondisi Cherry yang benar-benar sangat sekarat. Cherry tersenyum mendengar kata-kata itu.


" Tetap lah hidup. Masa depan kamu masih panjang. Kamu hanya boleh menangis 1 hari setelah kepergian ku. Setelah itu kamu harus kembali seperti awal. Kamu harus melanjutkan sekolahmu. Kamu harus tetap beraktivitas seperti biasanya. Kamu harus menjadi Dokter. Maaf aku tidak bisa menjadi pasienmu. Karena aku akan pergi terlebih dahulu," ucap Cherry. Verro geleng-geleng tidak ingin mendengarkan kata-kata itu.

__ADS_1


" Aku akan sangat bahagia. Jika kamu mengantarkan ku ke tempat terakhirku. Aku ingin kamu ada di sana, aku ingin kamu menabur kelopak mawar di atas pusaran makamku," ucap Cherry yang berbicara sangat pelan sebagai pesan untuk Verro.


" Terima kasih Verro untuk semua yang kamu berikan kepadaku. Aku sangat bahagia bisa bersamamu. Aku sangat bahagia selalu di jaga dari kecil oleh mu. Aku sangat bahagia bisa menjadi kekasihmu. Menghabiskan banyak waktu bersamamu dan pada akhirnya kamu mewujudkan impianku untuk menikah, terima kasih Verro," ucap Cherry.


" Tidak Cherry kamu jangan bicara lagi. Kamu akan sembuh. Masih banyak yang harus kita lakukan bersama. Kamu akan kembali. Kita akan hidup sampai tua," ucap Verro yang tidak ingin kehilangan Cherry. Cherry tersenyum mendengarnya.


" Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan itu. Maaf kan aku. Jika hanya sampai sini. Aku bisa bersamamu. Tetapi waktu yang sangat singkat ini membuatku sangat bahagia karena di beri banyak kesempatan untuk bersamamu. Walaupun itu masih kurang," ucap Cherry.


" Aku sangat mencintai mu, aku sangat mencintaimu. Jika aku hidup di kemudian hari aku bisa menjamin perasaanku tidak akan hilang. Aku ingin tetap menjadi istrimu di kehidupan selanjutnya," ucap Cherry mendekatkan wajahnya pada Verro.


" Aku mencintaimu," lirih Cherry.


Cherry mencium pipi Verro dengan lembut. Mata Cherry turun pada bibir Verro yang bergetar.


Dia ingin mencium bibir Verro. Belum sempat itu terjadi matanya tertutup dan langsung jatuh di pangkuan Verro. Tangannya juga lepas dari pipi Verro dan tergelatak dilantai.


" Cherry, Cherry," panggil Verro dengan mata Verro terbuka lebar kaget dengan kondisi Cherry


" Bangun sayang, bangun, Cherry, bangun, Cherry, Cherryyyyy," teriak Verro memeluk Cherry sekuat-kuatnya.


Ketika itu teman-temannya tiba di rumah Cherry. Mendengar teriakan Verro membuat mereka semua berlari masuk.


Saat kedapur mereka begitu terkejut saat melihat lantai penuh darah dan Cherry sudah tidak sadarkan diri di pangkuan Verro dengan memeluk Kepala Cherry.


" Cherry," lirih Sasy melihat temannya dengan tangan tergeletak di lantai. Mereka langsung berlari mengerumuni Verro dengan kepanikan masing-masing.


Sementara Varell mengecek nadi Cherry. Dia ingin memastikan Cherry masih hidup atau tidak.


" Cherry, bangun kamu kenapa, Cherry," Sasy juga sudah menangis panik dengan kondisi Cherry.


" Ayo kita bawa kerumah sakit," ucap Toby. Yang lain mengangguk. Verro dengan tangisannya yang buru-buru menggendong Cherry ala bridal style dan mereka membawa Cherry kerumah sakit.


*************


Rumah Sakit.


Dokter sedang menangani Cherry yang kritis Kondisi Cherry yang semakin memburuk. Jantung Cherry semakin lemah. Bahkan darah terus keluar dari mulutnya. Beberapa Dokter di dalam sana terus berusaha menyelamatkan Cherry.


Sementara di luar yang lainnya panik. Varell dan Vandy terus berada di kiri dan kanan Verro memberikan Verro kekuatan agar Verro tenang. Verro yang sedari tadi hanya menangis.


Bahkan seragam sekolahnya masih penuh darah. Dia memang sangat berantakan. Dia tidak peduli dengan apapun. Dia hanya ingin Cherry hidup.


Sementara Laskarta lebih kuat dari pada Verro. Dia duduk dengan menahan air matanya. Karena dia benar-benar siap dengan apapun.


Sasy terus menangis di tenangkan Nadya dan Raquel. Mereka pasti sangat sedih dengan kondisi Cherry yang benar-benar sangat buruk. Pikiran mereka pasti sudah kemana-mana.


Tidak berapa lama akhirnya Dokter Arif keluar. Verro langsung menghampirinya dengan wajah Verro yang panik penuh harapan.

__ADS_1


" Bagaimana Cherry?" tanya Verro panik. Laskarta juga menghampiri Dokter Arif ingin mengetahui kondisi putrinya.


" Kondisi nya semakin memburuk. Cherry harus segera di operasi. Maka dari itu. Cherry akan berangkat sekarang juga," ucap Arif dengan berat hati.


" Baiklah, saya akan urus semuanya. Kita akan memberangkatkan Cherry," sahut Laskarta.


" Boleh saya melihatnya sebelum dia pergi," ucap Verro benar-benar ingin melihat wajah istrinya untuk yang terakhir kalinya.


Arif melihat Laskarta. Sebenarnya kondisi seperti itu Cherry tidak bisa di lihat. Apa lagi para Dokter sedang memasangkan alat mesin untuk Cherry agar bertahan.


Laskarta menganggukkan matanya. Bagaimana pun Verro suami putrinya dan Puttrinya sangat mencintai Verro. Putrinya pasti bahagia. Jika ada Verro di sampingnya.


" Baiklah, tapi jangan lama-lama," ucap Arif. Verro mengangguk.


Verro langsung memasuki ruang operasi. Di sana masih ada beberapa Dokter dan Suster yang memasang beberapa alat ke tubuh Cherry. Yang pasti Verro tidak tau apa itu.


Memang Dokter tidak punya waktu untuk memberikan Verro waktu berdua dengan Cherry. Karena mereka harus buru-buru agar pasien mereka tertolong.


Dokter sibuk dengan pekerjaannya dan Verro sudah berdiri di samping Cherry Verro menundukkan tubuhnya agar wajahnya mendekat pada Cherry yang sama sekali tidak sadarkan diri.


Tangannya mengusap rambut Cherry dengan air matanya yang pasti tidak akan berhenti menetes.


" Pergilah, jika ingin pergi. Jika sakit kamu sangat menyiksamu. Aku ikhlas jika harus melepasmu. Tapi kamu harus berjanji akan bahagia di sana. Aku juga akan bahagia. Aku mencintaimu Cherry. Sangat mencintaimu. Kau adalah wanita yang pertama dan pasti yang terakhir di dalam hidupku," ucap Verro yang berbisik di telinga Cherry.


" Maafkan aku jika aku tidak bisa menemanimu di hari-hari terakhirmu, maaf kan aku Cherry," ucap dengan suaranya yang benar-benar hilang.


Verro mencium lembut kening Cherry yang sangat dingin. Mencium pipinya kiri dan kanannya dan mencium bibir Cherry.


" I Love you," ucap Verro terus menatap dalam-dalam wajah itu.


Beberapa Dokter yang ada di dalam ruangan itu ikut haru. Ketika beberapa kali mendengar suara Verro. Dari kata-kata Verro memang terlihat Verro sangat mencintai wanita yang tidak sadarkan diri itu.


**************


Bandara


Verro, Vandy, Varell, Nadya, Aldo, Raquel, Sasy, dan Toby. Sedang berada di lapangan penerbangan.


Tiupan angin yang kencang membuat rambut mereka menari-nari. Kepala orang-orang itu melihat ke atas sana. Melihat pesawat yang baru terbang. Dengan tangan mereka yang melambai.


Mereka semua mengantarkan Cherry untuk penerbangan ke Jerman melakukan operasi. Mata mereka tidak lepas dari atas sana karena pesawat pribadi di mana temannya yang sekarat di sana masih terlihat. Walau pesawat itu semakin lama semakin tinggi dan tidak terlihat lagi.


Pecah tangis pun terdengar saat pesawat itu sudah tidak terlihat lagi. Nadya, Sasy, dan Raquel saling berpelukan dengan tangisan mereka yang terdengar kuat memang hanya menangis yang bisa meluapkan isi hati mereka.


Toby juga menangis Sengugukan melihat keberangkatan temannya yang sedang berjuang di meja operasi. Vandy langsung memeluk Toby. Mereka harus saling menguatkan


Sementara Verro yang pasti berlinang air mata. Juga langsung di peluk Varell. Hanya pelukan yang bisa menguatkan sahabatnya itu. Yang pasti sangat ketakutan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2