DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 194 Memasangkan kalung.


__ADS_3

" Ya sudah Verro, kalau begitu kami kembali dulu," ucap Toby yang pamitan setelah berdiskusi dengan Verro dan yang juga lainnya.


" Iya, sekali lagi terima kasih, kalian sudah datang kemari," ucap Verro yang mengucapkan terima kasih kepada teman-teman.


" Tidak ada yang perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban kita semua saling membantu, lagian kita melakukan semuanya demi kesembuhan Cherry," sahut Toby.


" Ya sudah, kita kembali saja, sudah malam juga," ucap Sasy. Verro mengangguk. Mereka semua pun mulai bergerak dan pergi dari tempat duduk mereka masing-masing. Verro juga ikut berdiri.


" Kita balik ya," sahut Vandy menepuk bahu Verro.


" Iya," jawab Verro.


Akhirnya mereka berpamitan dan pergi satu persatu dari rumah Verro. Di luar mereka masih berkumpul ingin memasuki mobil masing-masing.


" Ya sudah, aku sama Raquel balik duluan," ucap Aldo pamit.


" Iya soalnya sudah malam, aku sudah capek plus ngantuk banget," sahut Raquel mulai menguap karena memang sangat mengantuk.


" Ihhhh, manja amat lo, biasa aja kali," sambar Sasy.


" Syirik aja lo," sahut Raquel.


" Sudahlah sayang jangan ribut lagi. Sekarang kita pulang saja, katanya sudah ngantuk," sahut Aldo.


" Iya sayang," sahut Raquel. Membuat Sasy langsung sewot melihat temannya itu.


" Ya sudah kita balik dulu ya," ucap Aldo.


" Iya hati-hati ya," sahut Varell. Aldo menganggu dan langsung pergi dan pasti Raquel akan menggandeng tangan pacarnya itu.


" Byeee," sahut Raquel melambaikan tangannya.


" Hati-hati," ucap Nadya.


Setelah pasangan itu kembali memasuki mobil. Tinggal Sasy, Varell, Vandy, Nadya dan Toby.


" Ya sudah Nadya, ayo kita pulang?" ajak Sasy.


" Iya," jawab Nadya.


" Kalian pulang naik apa?" tanya Vandy.


" Naik Taxi, mobil ku, masih di rumah sakit, jadi jemput mobil dulu baru pulang," Jawa Sasy.


" Sekalian aja pulang sama mobil ku. Soalnya aku juga harus ngantar Vandy ke rumah sakit juga," sahut Varell.

__ADS_1


" Iya sekalian aja, ngapain naik Taxi segala," sahut Vandy setuju.


" Oke tidak masalah," sahut Sasy yang setuju-setuju saja. Tetapi berbeda dengan Nadya yang sepertinya tidak nyaman dengan tawaran Varell.


" Hmmm, tapi aku ingin bicara sebentar sama Sasy," sahut Toby tiba-tiba. Sasy mendengarnya tercengang saat Toby ingin bicara dengannya.


" Aku. Memang ingin bicara apa?" tanya Sasy gugup.


" Nanti saja, kamu pulang sama aku saja, aku akan antar kamu Kerumah sakit," sahut Toby.


" Sudahlah sana jangan basa-basi mulu," sahut Varell asal main sambar saja.


" Apaan sih Varell. Memang suka banget cari gara-gara," batin Sasy kesal.


" Bagaimana Sasy, kamu bisa ikut?" tanya Toby seakan memastikan.


" Hmmm, tapi Nadya bagaimana?" tanya Sasy gugup.


" Biar aku saja yang antar," sahut Vandy.


" Nggak usah aku pulang sendiri saja," sahut Nadya yang langsung menolak.


" Tidak apa-apa, Nadya," sahut Vandy.


" Tapi," sahut Nadya yang masih ragu.


" Hmmm, ya sudah kita langsung pergi saja, soalnya sudah larut juga, nanti ibu kamu mencari kamu," sahut Varell yang baru mengeluarkan suara.


" Ya sudah kalau begitu," sahut Nadya yang akhirnya mengalah.


" Ya sudah kita balik duluan dulu," ucap Vandy pamit. Toby dan Sasy mengangguk.


" Hati-hati Nadya?" ucap Sasy.


Nadya mengangguk dan masuk mobil bersama Varell dan Vandy. Walau ragu. Tetapi karena ada Vandy jadi dia tidak terlalu canggung dengan Varell. Tangan Sasy masih melambai walau mereka sudah masuk kedalam mobil.


" Ayo Sasy," ajak Toby.


" Ha iya, ayok," sahut Sasy gugup dan terlihat membuang napasnya perlahan.


" Ya ampun kira-kira, Toby mau bicara apa ya," batin Sasy penasaran dengan apa yang nantinya akan di bicarakan oleh Toby.


**********


Setelah bersama teman-temannya mengobrol dan berdiskusi hal yang lainnya. Verro yang juga sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai kembali ke kamarnya. Di mana terdapat Cherry istrinya yang konon adalah Clara.

__ADS_1


Verro membuka pintu perlahan dan memperlihatkan istrinya yang masih tertidur. Verro tersenyum tipis dan langsung melangkah menghampiri Cherry.


Verro duduk di samping Chery di bagian kepala Cherry. Mengusap pipi Cherry lembut, menundukkan kepalanya mencium kening Cherry dengan lembut.


" Aku tidak percaya. Jika aku akan kembali, maaf Cherry kalau aku lebih percaya pada kematian kamu yang tidak jelas. Dari pada meyakini jika kamu masih hidup," batin Verro yang terus menatap Cherry dalam-dalam.


Dia masih melepas rindu pada istrinya itu sehingga matanya tidak lepas untuk menatap Cherry. Sambil tangannya mengusap-usap lembut pipi Cherry dengan jarinya, juga Menyinggirkan anak rambut Cherry dari dari wajah cantik itu.


Suatu keajaiban dan pasti tidak pernah terpikirkan oleh Verro bisa melihat dan menyentuh Cherry. Wanita yang sedari kecil bisa bersamanya. Walau Cherry lupa ingatan. Tetapi untuk kenangan Verro ada yang masih teringat dan pasti akan mengingat terus.


Mata Verro turun tangan Cherry yang mengepal yang ternyata dia masih saja memegang kalung itu. Kalung yang di dapatkannya dari kamar Bayu. Dengan perlahan Verro membuka kepalan tangan itu dan mengambil lembut kalung itu.


Tetapi Cherry langsung terbangun ketika apa yang mungkin sangat berharga baginya telah di ambil. Cherry membuka matanya dan melihat ke atas yang ternyata Verro. Wajah Cherry menunjukkan ke tidak inginnannya untuk kalung itu di ambil.


" Untuk apa?" tanya Cherry panik. Verro tersenyum tipis.


" Aku hanya ingin memakaikannya?" jawab Verro dengan lembut. " Sini biar aku pasangkan kalungnya," ucap Verro lagi. Cherry mengangguk.


Lalu perlahan duduk. Verro tersenyum mengarahkan tangannya untuk mengambil kalungnya. Verro pun akhirnya memberikan kalung itu kepada Verro. Orang yang sudah memberikannya kepadanya.


Cherry membelakangi Verro dan membuat rambutnya kesamping dan Verro langsung memakaikan kalung itu pada Cherry.


Cherry menundukkan kepalanya dan tersenyum saat kalung itu terpasang di lehernya. Dia memegang kalung itu seakan merasa paling bahagia. Lalu kembali membalikkan tubuhnya menghadap Verro tangannya masih memegang kalung itu. Verro merapikan rambut Cherry.


" Kamu memberikannya kepadaku di saat kita kencan pertama kali di atas kapal," ucap Cherry. Verro mendengarnya tersenyum dengan kata-kata Cherry.


" Kamu mengingatnya?" tanya Verro. Cherry mengangguk. Verro semakin melebarkan senyumnya. Lalu tangannya kembali mengusap lembut pipi Cherry dengan jarinya.


" Kamu akan mengingat semuanya secara perlahan. Karena tidak akan ada kenangan yang akan kamu lupakan," ucap Verro. Cherry mengangguk-angguk tersenyum.


" Aku yakin dengan perlahan kamu akan sembuh Cherry," batin Verro berharap banyak pada istrinya.


" Apa kepalamu masih sakit?" tanya Verro. Dia jelas sangat mencemaskan sakit pada istrinya. Dia takut istrinya memaksakan diri untuk mengingat-ingat.


" Tidak sakit separah awal. Hanya debyut-denyut sedikit," jawab Cherry.


" Besok pagi kita akan kerumah sakit. Kita akan periksa lagi," ucap Verro.


" Bukannya kamu Dokter. Kamu kan bisa memeriksaku. Jadi untuk apa Kerumah sakit," jawab Cherry.


" Aku bisa memeriksamu. Tetapi lebih baik jika Kerumah sakit," sahut Verro.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu," sahut Cherry.


" Ya sudah kamu tidur lagi ya. Kamu harus istirahat yang banyak," ucap Verro lembut. Cherry mengangguk dan Verro langsung membantu Cherry untuk rebahan kembali.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2