DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Epiosede 286. Pertemuan yang canggung.


__ADS_3

Raquel sedang berjalan keluar dari rumah sakit dengan memutar-mutarkan kunci mobilnya.


" Ishhhh, Sasy benar-benar bisa-bisanya hanya menyuruh- menyuruh saja. Memang dia tidak bisa apa beli sendiri. Apa dia tidak punya kaki. Atau dia tidak punya mobil sama sekali. Apa gunanya dia punya pacar kalau makanannya aku juga yang beli. Mau jomblo atau tidak dia tetap saja merepotkan. Pacarnya tidak bisa di andalkan," geram Raquel yang terus mengoceh sambil berjalan dengan mulutnya yang tidak henti-hentinya komat-kamit.


Karena terus mengoceh sampai akhirnya Raquel tidak fokus berjalan, sementara di depan sana Dokter Arif tampak serius berjalan yang juga terlihat buru-buru. Sampai akhirnya mereka berdua saling bertabrakan.


" Auhhh," lirih Raquel yang hampir jatuh dan untung saja Dokter Arif memegang ke-2 tangannya dan agak menariknya sedikit ketubuhnya sehingga Raquel tidak jadi jatuh dan wajah mereka yang tampak berdekatan dengan mata mereka yang akhirnya saling beradu pandang.


Wajah Raquel masih terlihat panik dan shock mungkin karena tadi ingin terjatuh. Napasnya juga naik turun dan mungkin rasa dek-dekannya bertambah ketika ada Dokter Arif di dekatnya dan bahkan Dokter Arif menatapnya dengan dalam membuat jantungnya tidak bisa di kondisinkan.


" Ya ampun kenapa perasaanku jadi seperti ini. Ya Allah, Dokter ini begitu tampan. Apa mungkin dia jodohku, dia sangat lembut dan sangat manis. Jantungku begitu tidak aman saat tangannya menyentuhku," batin Raquel yang tidak henti-hentinya menatap Arif dengan tersenyum. Perasaannya juga semakin menjadi-jadi.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Arif lembut. Mendengar suara itu membuat Raquel semakin dek-dekan. Perasaannya semakin tidak karuan.


" Raquel!" tegur Arif.


" Hah! iya Dok," sahut Raquel.


" Saya bertanya apa kamu baik-baik saja?" tanya Arif dengan suaranya yang lembut yang belum melepas tangannya dari Raquel.


" Saya tidak apa-apa, hanya saja jantung saya tidak aman," jawab Raquel keceplosan membuat Arif heran.


" Maksudnya?" tanya Arif dengan mengkerutkan dahinya.


" Ya Allah, aku tidak tau harus memulai dari mana. Kenapa juga aku harus menjawab seperti itu. Wajahnya memang mengalihkan fokusku. Aku seperti orang gila saja," batin Raquel yang merasa dia bodoh sekali karena tidak fokus yang hanya mendapat tatapan dari Arif.


" Raquel," sapa seorang suara wanita yang membuat Raquel tersentak kaget dan melihat wanita itu yang membuat Raquel melepas dari Arif. Raquel seketika salah tingkah ketika melihat yang memanggilnya wanita yang berusia 50 tahunan bersama Pria di sampingnya yang tak lain adalah Aldo mantan kekasihnya.


" Tante, Sofia," sahut Raquel gugup. Arif langsung membalikkan tubuhnya dan Aldo menundukkan kepalanya kepada Arif.


" Aldo," sapa Arif. Aldo hanya mengangguk.


" Tante ngapain kemari?" tanya Raquel yang terlihat canggung. Namun Aldo terlihat canggung juga dan Arif hanya santai santai saja.

__ADS_1


" Hmmm, ini. Tante lagi cek kedalam," sahut Sofia.


" Begitu rupanya," sahut Raquel


" Ehemmm, kalau begitu saya pamit kedalam dulu," sahut Arif tiba-tiba yang sepertinya merasa tidak enak.


" Ha, iya kak," sahut Raquel. Aldo langsung melihat Raquel terlihat asing untuk panggilan yang tidak biasa itu. Apa lagi dia melihat Raquel tampak dekat dengan Arif dan bahkan berpelukan.


" Mari Aldo, mari Bu," sahut Arif dengan ramah. Aldo dan mamanya hanya mengangguk dan Raquel terlihat semakin canggung.


" Raquel, kamu sudah jarang tidak main Kerumah apa kamu sangat sibuk?" tanya Sofia yang tampaknya tidak tau, kalau anaknya sudah putus dengan gadis yang di ketahuinya menjadi kekasih anaknya selama bertahun-tahun.


" I-iya Bu, Raquel memang sangat sibuk," jawab Raquel yang begitu gugup.


" Hmmm, begitukah, Kalau ada waktu senggang main ya kerumah," ucap Sofia degan tersenyum.


" Pasti Tante," sahut Raquel.


" Mah, ayo kita masuk, Dokter sudah menunggu di dalam," sahut Aldo yang tampak tidak ingin mamanya berbicara terlalu banyak dengan Raquel yang membuat Raquel tidak nyaman.


" Hmmm, i-iya Tante," sahut Raquel. Sofia mengusap lengan Raquel dan langsung pergi Aldo, juga tampak tidak menyapa Raquel dan lewat begitu saja.


Kepergian 2 orang itu membuat Raquel menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dengan wajahnya yang terlihat sendu yang tidak bisa di artikan apa maksud dari wajahnya itu.


" Tante, Sofia tampaknya tidak tau hubungan dengan Aldo seperti apa," batin Raquel yang tampak resah.


**************


Malam hari tiba. Terlihat Verro dan Cherry sedang menikmati makan malam di rumah dengan makanan yang menunya tidak banyak yang di siapkan bibi di rumah itu.


Cherry terlihat makan tidak tenang dan beberapa kali melihat Verro seperti ada yang ingin di katakannya kepada Verro.


" Hmmm, sayang," tegur Cherry.

__ADS_1


" Hmmm, kenapa?" tanya Verro minat istrinya sambil mengunyah makanannya.


" Sayang, aku kasihan deh melihat Fiona," sahut Cherry tiba-tiba membawa-bawa nama Fiona yang membuat Verro heran.


" Fiona, memang ada apa dengannya," sahut Verro.


" Ternyata selama ini. Fiona tidak di tangani oleh dokter spesialis. Dia hanya berobat seperti-seperti itu saja. Sampai divonis kanker darah stadium akhir," ucap Cherry.


" Bukannya Dokter Arif, Dokter yang menanganinya?" tanya Verro heran. Cherry menggeleng.


" Dokter Arif ternyata hanya membantunya saja. Karena Dokter Arif juga banyak pasien dan bolak balik keluar Negri," jelas Cherry.


" Lalu jika seperti itu. Kenapa dia tidak mencari Dokter yang tepat?" tanya Verro.


" Ternyata Raquel terkendala dengan masalah biaya. Kemarin aja Raquel ke Jepang itu batuan Dokter Arif dan untuk berobat lebih serius dia sudah tidak memiliki biaya, karena menurut ceritanya banyak yang biaya yang sudah di keluarkan," jelas Cherry. Dan Verro menanggapi masalah itu dengan serius.


" Sayang," sahut Cherry memegang tangan Verro.


" Aku ingin membiayai semua pengobatan Raquel. Aku ingin Raquel sembuh. Walau stadium akhir tetapi semua orang punya kesempatan. Paling tidak dia sudah berusaha dan kita membantunya. Lagian papa juga dulu sering membantu- bantu orang penyakit kanker dan aku ingin melanjutkan apa yang sering papa lakukan dulu," ucap Cherry dengan hatinya yang mulia.


Kekayaan warisan dari sang papa memang tidak akan habis jika hanya untuk membantu pengobatan orang lain. Verro tersenyum pada istrinya mendengar niat baik istrinya.


" Kamu lakukan lah, bukankah kamu mengatakan. Jika Fiona adalah temanmu dan lakukanlah. Kamu bisa membantu pengobatannya. Karena tidak ada yang terlambat dalam sebuah usaha," sahut Verro yang pasti mendukung niat mulia sang istri yang membuat Cherry tersenyum.


" Kamu juga maukan membantunya. Kamu adalah Dokter spesialis kanker. Kamu akan membantunya kan?" tanya Cherry. Verro menganggukkan matanya.


" Kita akan membantunya. Dia masih punya banyak kesempatan untuk melanjutkan hidupnya. Selagi aku dan kamu bisa. Maka kita berdua akan membantunya. Agar dia bisa sembuh," sahut Verro yang setuju.


" Aku yakin dia akan sembuh jika Dokter hebat seperti kamu yang menanganinya," sahut Cherry dengan yakin.


" Aku tidak hebat, aku hanya menjalankan apa yang menjadi kewajibanku," sahut Verro merendah diri.


" Tetap saja bagiku kamu sangat hebat," sahut Cherry.

__ADS_1


" Terserah kamu saja. Sekarang ayo lanjutkan makannya," ucap Verro. Cherry mengangguk dan melanjutkan makannya yang merasa lega. Dengan dukungan suaminya kepadanya.


Bersambung


__ADS_2