
Hasil tes Cherry yang di kirim Dokter Arif ikut dengan paket pengiriman papanya. Hasil tes pemeriksaan terakhir Cherry 1 hari sebelum mengadakan study tour.
Verro membaca dengan teliti hasil laporan tes itu. Wajah Verro berubah menjadi sangat serius ketika membaca hasil tes itu seperti berita buruk untuknya sehingga wajah yang tadi senyum menjadi sangat tegang.
Tangannya bahkan sangat bergetar dengan hasil tes itu. Baru dia yang melihat sudah bergetar. Bagaiman dengan Cherry yang nanti akan melihatnya mungkin akan lebih parah dengannya.
" Apa ini, apa artinya ini, tidak mungkin," gumam Verro geleng-geleng tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tetapi jantungnya semakin berdebar kencang saat membaca seluruh hasil tes itu.
Dengan cepat Verro mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Verro langsung mencari kontak dari Dokter Arif kakak dari Vandy yang pasti Dokter pribadi Cherry.
Tidak menunggu lama Verro yang sudah menemukannha langsung menghubungi Dokter Arif
" Hallo Dok, maaf mengganggu," ucap Verro yang sudah menyambung dengan Dokter Arif.
" Ada apa Verro?" tanya Dokter Arif.
" Saya ingin bertanya dengan hasil tes Cherry,
, saya menerima paketan Cherry dan melihat hasil tesnya apa maksudnya," Verro berbicara dengan bibirnya yang terus bergetar.
Dokter Arif pun menjelaskan dengan detail mengenai hasil tes itu kepada Verro. Sepanjang mendengarnya napas Verro semakin naik turun dengan matanya yang bergenang dengan semua penjelasan yang seharusnya tidak di dengarnya.
" Verro tolong kamu bujuk Cherry untuk operasi. Dia harus secepatnya operasi agar kondisinya tidak semakin parah," ucap Dokter Arif di akhir dari penjelasannya.
" Semua ini demi kebaikannya, tolonglah hanya kamu yang bisa membujuknya untuk melakukan operasi," lanjut Dokter Arif lagi.
" Berapa persen kemungkinannya?" tanya Verro dengan bibir bergetar. Verro bahkan menahan napasnya untuk menanyakan hal itu. Dokter Arif diam cukup lama.
" Dokter?" tegur Verro karena belum mendapatkan jawaban apa-apa.
" 20%," jawab Dokter Arif dengan suara lemas.
Air mata Verro jatuh melihat kemungkinan besar hanya 20% untuk hidup.
" Hanya 20 %," lirih Verro.
Ponsel Verro langsung terjatuh dari telinganya dengan kenyataan kemungkinan untuk Cherry.
Napasnya semakin turun. Pantas Cherry sangat takut Operasi. Karena jika itu terjadi belum tentu dia sembuh dan yang adanya dia akan lebih cepat mati.
Walau kematian sudah di atur oleh tuhan. Tetapi Cherry memang tidak ingin mati di meja operasi hal yang paling di takutkannya.
Lintasan ucapan Cherry yang mengatakan kepada Verro alasannya takut operasi kembali membayangi pikiran Verro. Yang pasti membuat Verro jauh lebih ketakutan di bandingkan Cherry.
Sangat tidak ingin kehilangan Cherry. Dia tidak mau hal itu terjadi. Verro hanya memijat kepalanya dengan air matanya yang mengalir di pipinya bahkan kertas hasil tes rumah sakit itu sudah basah.
" Verro aku takut operasi, aku takut tidak bangun lagi nanti," kata-kata Cherry terus melintas dipikirannya membuat Verro menjadi lebih ketakutan.
*********
Di sisi lain Nadya dan Varell ternyata sedang berada di taman belakang. Meraka duduk berdua dengan santai di salah satu kursi sambil menikmati eskrim yang dibelikan oleh Varell tadi.
" Bagaiman enak?" tanya Varell menoleh kearah Nadya.
" Iya enak, terima kasih sudah membelikanku," sahut Nadya tersenyum.
" Sama-sama itu hanya eskrim, tidak perlu sampai berterima kasih seperti itu?" sahut Varell. Nadya tersenyum mendengarnya.
" Tidak terasa ya Varell sebentar lagi kita akan kembali kesekolah. Pelaksanaan Study tour akan segera selesai, waktu sangat cepat berputar," ucap Nadya.
" Iya kamu benar dan aku berharap sebelum kegiatan Study tour selesai kamu bisa memberiku kepastian," sahut Varell yang masih menunggu jawaban Nadya.
" Kepastian, kepastian untuk apa?" tanya Nadya bingung.
" Jangan pura-pura mendadak lupa, kamu tau apa yang ku maksud," ucap Varell tersenyum miring.
" Apa maksudnya tentang menjadi pacarnya. Bukannya dia sudah menciumku. Apa itu belum jelas untuknya, kenapa dia meminta kepastian kepastian lagi apa dia mau aku harus mengatakan iya," batin Nadya kebingungan.
__ADS_1
" Apa itu perlu, apa itu tidak berlebihan," Nayra terus bergerutu di dalam hatinya sambil menikmati eskrimnya.
Varell menoleh ke arah Nadya dan melihat bibir Nadya yang belepotan karena menekan eskrim. Mungkin karena Nadya melamun.
Varell langsung mendekat kan kepalanya dan jarinya jempolnya langsung mengusap ujung bibir itu. Sontak hal itu membuat Nadya kaget dengan dengan debaran jantungnya yang tidak beraturan.
" Kamu seperti anak kecil makan belepotan," ucap Varell dengan suara lembut menatap Nadya dalam.
Nadya bahkan kesulitan menelan salavinanya saat mendapatkan tatapan itu. Mata ke-2nya saling menatap dengan dalam seakan mata itu sedang bercerita.
Ceklek Ceklek Ceklek
Sinar kamera berkali-kali mengagetkan ke-2nya serentak menoleh kearah yang mengambil gambar itu. Yang ternyata Toby yang sampai sekarang masih memotret mereka berdua.
" Kalian boleh lanjutkan ke bucinan kalian," ucap Toby dengan santai langsung pergi setelah mendapat Foto 2 insan yang di mabuk cinta itu.
" Dasar si tukang rusuh," desis Varell kesal. Namum Nadya memandang lurus kedepan dengan tersenyum.
" Kenapa aku malah yang grogi," batin Nadya.
***************
Cherry sekarang sedang menjemur pakaiannya dengan mengibas-ngibaskan bajunya lalu di jemurnya.
" Apa akan kering," gerutu Cherry melihat matahari yang cerah. Tetapi tidak memungkinkan akan panas.
" Bisa-bisanya aku kelupaan, dasar Cherry ceroboh," Cherry terus bergerutu dengan keteledorannya.
" Akhirnya selesai," walau mengoceh terus menerus. Tetapi pada akhirnya Cherry selesai menjemur pakaiannya yang memang tidak seberapa. Cerocos lebih banyak dari pada pakaiannya.
Cherry mengangkat ember kosong dan langsung berjalan meninggalkan tempat penjemuran.
ting-ting-ting-ting.
Langkah Cherry terhenti ketika tangannya memegang dadanya meremas dengan kuat dengan napasnya yang seketika sesak dan alarmnya yang terus berbunyi.
Cherry hampir saja jatuh untung tiba-tiba Raquel yang lewat dari tempat itu langsung berlari menghampiri Cherry.
" Cherry!" teriak Raquel menahan tubuh Cherry. Tetapi karena dia tidak kuat mereka terduduk di tanah.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Raquel panik dengan kondisi Cherry yang pertama kali di lihatnya.
Wajah itu memucat dengan tangan yang terus meremas dadanya. Cherry tidak menjawab. Napasnya terus naik turun sampai tidak bisa menjawab lagi.
" Apa yang harus aku lakukan katakan?" tanya Raquel panik dengan kondisi Cherry yang membuatnya gemetaran. Tidak tau dia harus melakukan apa.
Cherry menunjuk bunga yang terdapat kantung hitam. Obat yang selalu di bawanya. Raquel melihat apa yang di maksud Cherry langsung berlari mengambil kantung itu dan kembali berlari kedekat Cherry.
Raquel langsung membuka kantung itu melihat banyak botol obat. Raquel yang panik langsung membuka nya.
" Apa semuanya?" tanya Raquel panik melihat banyak macam botol obat.
Cherry mengangguk pelan. Tanpa basa-basi Raquel membuka 1per 1 botol itu dan memberikan kepada Cherry.
Setelah itu Raquel berlari ke arah dapur yang memang dekat dengan penjemuran. Dengan buru-buru Raquel menuang air putih dan berlari kembali menghampiri Cherry dengan lari yang cepat sampai air yang digelar berjatuhan ketanah.
" Ini minumnya," ucap Raquel memberikan langsung. Cherry yang selesai menelan pil itu langsung meneguk habis.
Cherry membuang napasnya perlahan. Seakan kondisinya sudah jauh baik-baik saja.
" Terima kasih," ucap Cherry yang memang harus mengakui Raquel telah menyelamatkannya.
" Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Raquel melihat keringat Cherry bercucuran di dahinya.
" Tidak aku baik-baik saja," jawab Cherry walau sebenarnya dia masih belum se fit tadi.
" Ayo aku antar kekamarmu!" ajak Raquel Cherry mengangguk. Raquel mencoba membantu Cherry untuk duduk.
__ADS_1
" Cherry," teriak Verro yang berlari kencang. Dengan cepat Verro Mendoring Raquel dari Cherry sehingga Raquel bergeser dengan terduduk.
" Auhhhh," keluh Raquel saat pantatnya sakit gara-gara Verro. Cherry kaget melihat Verro melakukan itu.
" Apa yang kau lakukan kepada Cherry, kenapa dia seperti ini, kenapa kau selalu berbuat sesukamu," ucap Verro yang langsung marah-marah tanpa mengetahui apa yang terjadi dulu.
" Apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan apa-apa, jangan menuduh yang aneh-aneh," sahut Raquel kesal menahan sakit.
" Kalau tidak kau jadi siapa yang melakukannya," tuduh Verro lagi.
" Verro apa yang kamu lakukan, Raquel tidak salah, dia tidak melakukan apa-apa," ucap Cherry.
" Jangan membelanya," tegas Verro.
" Aku tidak membelanya itu kenyataan," sahut Cherry mencoba berdiri dan menolong Raquel untuk duduk.
" Maaf, kau tidak apa-apa kan?" tanya Cherry merasa bersalah.
" Jelas aku sangat apa-apa, gara-gara dia," sahut Raquel kesal berdiri dengan membersihkan bajunya dengan tangannya.
" Verro kamu salah paham, Raquel tadi menolongku. Kalau tidak ada dia aku tidak tau bagaimana aku," jelas Cherry.
" Benarkah!" sahut Verro yang juga sudah berdiri. Dia sangat mengkhawatirkan Cherry jadi wajar emosinya tidak bisa di kendalikannya.
" Minta maaf lah kepadanya, kamu sudah mendorongnya dan juga menuduhnya," ucap Cherry.
" Baiklah, aku minta maaf aku tidak tau, aku hanya panik," ucap Verro mengakui kesalahannya.
" Issssss, lo terlalu lebay, makanya kalau tidak tau apa-apa jangan asal main dorong sakit tau," oceh Raquel masih tidak terima.
" Sekali lagi maaf ya Raquel," ucap Cherry.
" Sudahlah, makan tu cewek lo," Raquel yang kesal langsung pergi dengan sewot.
" Verro kamu sih," ucap Cherry. Verro mendekati Cherry dan langsung memeluknya.
" Maaf aku hanya takut kamu kenapa-kenapa," ucap Verro memeluk dengan erat.
" Aku tidak apa-apa. Tadi jantung aku kumat saat selesai menjemur. Untung ada Raquel yang menolongku. Dia bahkan berlari kedapur membawaku minuman jadi dia tidak salah," jelas Cherry sekali lagi.
" Iya aku. Aku yang salah," sahut Verro.
Ceklek suara kamera terdengar membuat mereka saling melepas pelukannya dan melihat Toby yang ternyata memotret mereka.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Verro sinis.
" Hanya memotret keromantisan s
kalian," sahut Toby dengan santai kembali memotret.
" Kau ini," desis Verro kesal.
" Lanjutkan, astaga ini seperti hari Valentine banyak orang-orang yang bermesraan seperti dunia milik berdua," oceh Toby langsung pergi.
" Kau tidak apa-apa kan?" tanya Verro yang masih khawatir.
" Tidak apa-apa," jawab Cherry.
" Ya sudah ayo kita masuk. Kamu harus banyak istirahat," ucap Verro. Cherry mengangguk.
Verro menyusun obat-obatan Cherry. Setelah selesai Verro meraih tangan Cherry dan membawanya pergi.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.